WELCOME! Salam Sejahtera! Senang sekali mendapat kunjungan dari Anda. Berikan komentar Anda di akhir setiap posting (klik link: write your comment here!), komentar Anda sangat berharga bagi saya. Terima Kasih. Please Enjoy...

HOT Search

HOT Translate

Showing posts with label anak. Show all posts
Showing posts with label anak. Show all posts

Kill Your Children 'Sweet'-ly!

>> Thursday, January 26, 2012

Judul di atas memang provokatif, saya sengaja menuliskannya, karena ini adalah propaganda dari hampir semua industri makanan di jaman ini. Walau mereka tidak menyatakannya secara langsung, tapi ini adalah fakta yang sebenarnya: mereka ingin membunuh pelan-pelan anak Anda dengan cara yang 'manis'!

Sebuah media cetak nasional kemarin menerbitkan suplemen mengenai gizi anak. Hal ini amat langka dilakukan oleh media, karena topiknya kurang menggigit dan menjual. Namun saya sangat mengapresiasi penerbitan ini; dikarenakan isu nutrisi, khususnya pada anak, di negeri ini telah kalah pamor dengan berita-berita korupsi, politik dan lainnya.


fattest man in the world, 600kg
Ada apa dengan nutrisi anak di Indonesia? Saya akan mulai dari fakta berikut: fenomena kebanyakan negara maju adalah berkembangnya populasi orang-orang obesitas atau kelebihan berat badan. Menurut Wikipedia, Seseorang yang memiliki berat badan 20% lebih tinggi dari nilai tengah kisaran berat badannya yang normal dianggap mengalami obesitas. Misalnya, anak usia 10 tahun normalnya memiliki berat badan sekitar 30 kg, namun bila ia memiliki berat 40kg ia sudah tergolong memiliki obesitas ringan.


Nah, gejala anak-anak obesitas mulai muncul di kota-kota besar di Indonesia, padahal negara ini belum dikategorikan negara maju! Mengapa bisa demikian? Ini karena pola makan, gaya hidup dan sikap konsumtif sebagian mansyarakat kita yang belum disiplin. Gempuran makanan yang dibumbui gengsi dengan mudah mempengaruhi sebagian masyarakat. Saya teringat ketika sebuah gerai fast food terkemuka dibuka di dekat tempat saya tinggal. Gerai itu menawarkan diskon 50% untuk semua pengunjung yang membeli salah satu produknya,, sontak antrian panjang mengular di gerai tersebut sepanjang hari pertamanya buka di wilayah kami. Di Indonesia sendiri, menurut data tahun 2004, jumlah obesitas para pria 9% (sekitar 19 juta jiwa), sedangkan wanita 11% (sekitar 23 juta jiwa); jumlah ini terus meningkat setiap tahun. Sedangkan pada tahun 2007, penduduk diatas 15 tahun yang mengalami obesitas mencapai 19% (sekitar 30 juta jiwa)

Mengapa obesitas jadi sorotan para pakar nutrisi dan medis? Obesitas bisa dikatakan sebagai 'pintu' masuk penyakit-penyakit berbahaya seperti diabetes, darah tinggi, gangguan penafasan dan jantung, bahkan bisa berujung pada stroke atau kanker. semua penyakit tersebut adalah penyakit pembunuh umat manusia paling berbahaya saat ini menurut WHO. Bila anak-anak tidak mendapatkan nutrisi yang terbaik, kita akan kehilangan sebuah generasi, atau setidaknya kehilangan generasi yang bermutu. Sayangnya, sebagian besar masyarakat belum paham benar mengenai obesitas ini, khususnya penyebab dan penanggulangannya.

Tidak sedikit faktor penyebab obesitas, diantaranya adalah pola makan yang tidak disiplin, kandungan gizi dalam makanan yang dikonsumsi tidak seimbang, hingga anak-anak yang semakin jauh dari aktifitas fisik dan lebih memilih sebagai 'couch potato'. Anak-anak sekarang lebih banyak duduk dan menikmati tontonan atau bermain permainan elektronik, dari pada kegiatan yang melibatkan seluruh fisiknya. Satu hal yang saya ingin saya soroti saat in adalah tentang asupan, khususnya GULA sebagai pelaku utama bertambahnya berat tubuh. Mungkin Anda bertanya, lho bukannya LEMAK? Lemak, khususnya yang jenuh memang juga berbahaya bagi tubuh, tapi tidak sejahat gula. Pasokan energi yang pertama kali diolah tubuh untuk semua aktifitas kita adalah gula. Bila gula bertumpuk, maka lemak pun bertumpuk; inilah yang mengakibatkan orang lebih menyalahkan lemak dari pada gula. Padahal oleh karena gula yang terlalu banyak dalam tubuhlah yang mengakibatkan lemak tak diproses secara seharusnya.

Gula adalah bahan bahan tambahan pangan (food additive) terbesar yang digunakan dalam makanan. Garam menempati posisi nomor dua, namun jumlahnya tidak sampai 1/3 gula. Gula tidak hanya ditemui pada bentuknya yang umum, yaitu gula pasir, tetapi gula banyak tersembunyi pada makanan atau minuman yang dikonsumsi sehari-hari. Tidak heran mengapa orang tidak bisa mengerti anaknya menjadi obesitas padahal sedikit sekali mengkonsumsi gula (gula pasir). Padalah karena minimnya pengetahun, ternyata gula jaman ini telah berubah bentuk dan bersembunyi dengan baik di hampir setiap makan terproses (processed food).

Idealnya, konsumsi gula harian untuk anak adalah 12 gr/ 3 sendok teh per hari. Sedangkan untuk dewasa bisa hingga 3 kalinya. Namun coba kita lihat contoh kasus si Dodo yang berusia 5 tahun, pagi hari ibunya membuatkan susu yang ditambah gula 2 sendok makan (16 gr), ibunya juga memberikan sebungkus biskuit sebagai teman sarapan yang di kemasannya tertulis mengandung gula 11 gr. Menjelang siang yang panas terik, Dodo mampir ke warung untuk membeli sekaleng minuman ringan yang mengandung gula 40gr dan meminumnya sampai habis. Ia kurang tertarik dengan makan siangnya, sehingga makan sedikit. Karenaya dua jam kemudian ia kembali lapar dan mengambil dua bungkus coklat di kulkas, yang masing-masing mengandung gula setidaknya 10gr.

Saat makan malam ia menikmati fast food yang mengandung gula setidaknya 15gr. Sebelum Dodo terlelap ia telah mengkonsumsi setidaknya 120gr atau 30 sendok teh gula!!! Gula ini sebagian terpakai untuk diolah menjadi energi dengan kerja yang sangat keras dari hati dan pankreas, sisanya disimpan di otot dan hati sebagai cadangan. Jika Dodo melakukannya setiap hari sepanjang 365 hari setahun, apakah Anda bisa membayangkan berapa berat tubuhnya di akhir tahun? Terlebih lagi, gula yang tersimpan di tubuhnya akan berpengaruh banyak pada aktifitasnya dan kerja otaknya. Dodo akan menjadi 'malas' untuk beranjak dari sofa tau ranjangnya, ia lebih memilih menonton TV atau bermain PC games, cenderung malas untuk berpikir dalam belajar karena selalu mengantuk dan lemas akibat gula yang berlebih dalam tubuhnya.

Sangat sulit untuk membatasi konsumsi gula di jaman ini. Kita sebagai orang tua telah dikepung dengan makanan pabrikan yang dengan gencar dan ngotot membombardir pikiran anak-anak agar menikmati produknya. Tidak ada jalan lain selain mengikuti nasihat orang tua jaman dulu: kita perlu tegas demi masa depan anak yang sehat dan berkualitas. Sebisa mungkin mereka tidak mengkonsumsi makan mengandung gula tinggi tapi tidak mengenyangkan. Menyiapkan makanan ringan / snack alternatif rendah gula atau gula sederhana, seperti buah-buahan atau jus. Menjauhkan lidah anak dari restoran siap saji dan minuman ringan (soft drink).

Anak saya sampai hari ini tidak saya ijinkan mengkonsumsi permen dan soft drink dalam bentuk apa pun. Kami pergi ke restroran siap saji kurang dari sebulan sekali. Memberikan makanan ringan dlam jumlah yang sangat terbatas. Dan anak saya masih hidup bahkan menjalani hidup dengan ceria. Kami melakukannya demi umur panjangnya dan kualitas hidupnya di masa datang.

Bagaimana pengalaman Anda?

Parentless Children of the 21st Century - PART 1

>> Wednesday, January 11, 2012

Dalam pengamatan saya, tidak sedikit ibu, khususnya kaum kelas menengah, yang turut berkarir atau bekerja. Jabatan ibu rumah tangga semakin sedikit ditemui tercantum di KTP perempuan yang sudah menikah. Banyak alasan yang dikemukakan, mulai dari ingin membantu suami meningkatkan taraf dan gaya hidup keluarga, hingga alasan tak betah atau tak kuat di rumah mengurus rumah tangga dan anak.

Fenomena abad 21 ini patut dicermati. Di satu sisi, kedua orang tua yang bekerja patut di acungi jempol. Hal ini salah satunya berangkat dari keinginan untuk memberikan kehidupan yang lebih baik bagi keluarga, khususnya anak. Namun hal ini menjadi persoalan besar bila dilihat dari sisi peran orangtua dalam mendidik anak. Sepanjang anak membuka mata dalam tiap harinya, mereka nyaris tidak bertemu dengan orangtua atau bila pun bertemu waktu efektif yang tercipta nyaris tidak ada. Masalah ini menjadi semakin buruk ketika usia anak masih tergolong balita, di mana pembentukan pola pikir, tingkah laku dan sikap dasar terbentuk.

Para ahli pendidikan anak menyatakan usia balita adalah usia emas. Di usia ini, anak sangat membutuhkan peran orangtuanya secara nyata. Kehadiran adalah satu hal dan berfungsi atau berperan sebagai orangtua adalah hal lain.Anak usia ini membutuhkan orang tua yang hadir dan berfungsi. Pengalihan peran kepada pihak lain, baik itu pembantu atau anggota keluarga lain akan berdampak pada perbedaan signifikan atas tumbuh kembang anak. Saya mempercayai anak yang bertumbuh dan berkembang dengan baik hanya diperoleh dari kerja keras orangtuanya dalam mendidik anak.

Tidak sedikit orangtua yang bekerja keras dalam mencari nafkah, tetapi sedikit orangtua yang bekerja keras dalam mendidik anaknya. Mungkin Anda bertanya, bukankah dengan bekerja orangtua juga sedang memberikan kehidupan bagi anaknya? Saya berpikir, bekerja adalah bukan tujuan dalam mendidik anak, tetapi hanya salah satu jalan dalam mendidik anak. Anak memang perlu melihat teladan orangtuanya dalam bekerja dengan rajin dan pantang menyerah. Tapi tentunya bukan hanya itu teladan yang ia perlu lihat. Ia juga perlu melihat dan mengalami kepedulian orangtuanya secara langsung dan nyata.

Ada tarik menarik yang sangat kuat bagi sebagian orangtua di jaman ini. Apakah salah satu orangtua saja yang bekerja dan satunya di rumah; atau keduanya bekerja dan berharap dapat berperan sebagai orangtua sepulang kerja atau di akhir minggu. Salah satu orangtua di rumah tidak menjamin anak terdidik dengan seharusnya. Adakalanya orangtua yang bekerja bersikap lepas tangan terhadap pendidikan anak dan menyerahkan tanggung jawab pada pasangannya yang di rumah. Di samping itu orangtua yang keduanya bekerja berharap dengan uang yang dimilikinya bisa mengganti peran atau memenuhi kebutuhan ekstra bagi anaknya. Anak diserahkan pada anggota keluarga yang dipercaya atau pada pembantu yang berusia remaja. Hal ini menimbulkan dilema, karena di lain pihak sebagian orangtua merasa sangat bahagia bisa melihat perkembangan anaknya tahap demi tahap atau menyirami anak dengan nilai-nilai hidup yang akan menjadi bagian hidupnya dimasa datang.

Jadi hal apa yang paling bijaksana yang harus diputuskan sebagai orangtua muda di jaman ini?

(Future) Parents Course: Saves Indonesian Children!

>> Monday, February 21, 2011

Tulisan Bapak Sayidiman Suryohadiprojo di harian Kompas edisi Jumat, 18 Februari 2011 dengan tajuk ‘Mendidik untuk Kuat Bersaing’ perlu diapresiasi dan ditindaklanjuti. Perhatian masyarakat kini teralih oleh masalah-masalah  yang harus diselesaikan di masa sekarang, sedangkan untuk mencegah apa yang akan terjadi nanti dan membangun masa depan bangsa tidak dilakukan seksama.

Sejalan dengan buku yang diangkat oleh Pak Sayidiman, sebuah film dokumenter mengenai perkembangan terakhir pendidikan di Amerika juga perlu dicermati. ‘Waiting for Superman’ yang disutradarai oleh Davis Guggenheim (2010) mengupas tentang merosotnya kualitas pendidikan akademis di negeri Paman Sam ini. Jika di negara maju seperti Amerika saja pendidikan menjadi masalah besar, apa yang mungkin terjadi dengan negara-negara berkembang sepeti Indonesia?

Walaupun telah banyak gagasan dan wacana dari esai, seminar hingga buku mengenai bagaimana pendidikan karakter dilaksanakan di sekolah, kita tidak dapat memungkiri dan mengesampingkan peran besar keluarga dalam mendidik karakter anak. Keluarga adalah tempat pertama dan utama karakter manusia Indonesia harus dibentuk. Sekolah dan guru tidak memiliki otoritas dan pengaruh sebesar keluarga atu orang tua dalam menanamkan nilai-nilai moral dan karakter pada diri anak sejak dini. Kisah Amy Chua dalam buku Battle Hymn of the Tiger Mother telah menjadi contoh bagaimana efektifnya pendidikan moral dan karakter di dalam keluarga.

Dalam tulisannya mengenai tahapan-tahapan dalam pendidikan moral, Lawrence Kholberg menyatakan bahwa anak-anak usia dini bertumbuh dari tahap pra-konvensional. Pada tahap ini mereka akan bertanya apakah untungnya mengikuti nilai-nilai moral yang ada di sekitarnya. Jika orangtua pada tahap usia emas ini gagal mendidik, maka tidak heran saat mereka dewasa, pemikiran mengenai apa untungnya buat saya ini terus terbawa.

Oleh karena itu masyarakat luas dan khususnya pemerintah perlu campur tangan demi penyelamatan kualitas sumber daya manusianya di masa datang. Anggaran untuk pendidikan sebesar 20% dari APBN seharusnya tidak hanya diperuntukan untuk pendidikan formal. Para orangtua Indonesia juga seharusnya mendapatkan pendidikan yang cukup tentang bagaimana mereka harus mendidik anak-anak mereka di rumah mereka sendiri secara informal.

Melalui situsnya, BKKBN mempublikasikan berita yang diliput oleh harian Kompas mengenai kursus pranikah. Para calon orang tua tentunya akan mendapatkan banyak manfaat melalui persiapan menjadi orangtua, salah satunya adalah bagaimana mendidik karakter anak. Sistem kursus dapat dibuat sedemikian rupa, sehingga orang tua dapat dibimbing secara terus menerus dari anak mereka kecil hingga besar. Dengan anggaran pendidikan yang tidak hanya masuk ke kantong kementrian pendidikan, maka visi pendidikan nasional akan lebih cepat tercapai karena kementrian lain turut membantu dalam mewujudkannya.

Kursus-kursus bagi orangtua dan calon orangtua ini pun dapat dilaksanakan oleh masyarakat luas yang berkompeten. Dengan mengacu pada nilai-nilai universal dan kebangsaan, kursus-kursus bagi ini dapat ditumbuhkan dan diatur pelaksanaannya dengan bantuan pemerintah. Kesadaran bahwa orangtua memerlukan pengetahuan dan keetrampilan dalam membangun keluarga dan mendidik anak sangat perlu ditumbuhkan. Sejauh ini pengetahuan dan keterampilan tersebut diturunkan secara informal dari orangtua kepada anak-anaknya.

Sebagai seorang guru, penulis menyadari benar bahwa anak-anak yang berasal dari keluarga yang menekankan pendidikan moral dan karakter mengalami banyak kemudahan dalam pembelajaran saat mereka duduk di bangku sekolah. Tidak sedikit pakar manajemen kelas menyatakan, bahwa masalah-masalah akademik siswa sebenarnya berasal dari dari karakter siswanya. Pendidikan karakter yang telah matang cenederung berbanding lurus dengan peningkatan sisi akademiknya.

Manusia Indonesia yang ada sekarang ini beserta dengan segala persoalannya adalah produk dari pendidikan puluhan tahun yang lalu. Sekarang kita sedang menyaksikan anak-anak kita yang sedang bertumbuh dan juga melihat dengan samar persoalan-persoalan yang mungkin muncul akibat pendidikan saat ini. Maka itu, mari kita selamatkan generasi yang akan datang dari keterpurukan moral dan persoalan bangsa yang rumit dengan mencurahkan segenap pemikiran, tenaga dan dana sejak sekarang!

Shout, Sweat and Sweet...

>> Wednesday, October 13, 2010

Anak muda itu sedang membacakan buku seri Olivia (seekor babi), anak-anak terlihat antusias mendengarkan walaupun saya pikir mereka agak terganggu dengan proses penterjemahan yang berulang-ulang antara bahasa Inggris dan bahasa Indonesia. Sang pembaca terus membacakan dengan antusias denagn keringat bercucuran dan hiruk pikuk suara orang dewasa yang mengelilingi dan menunggui anak-anak yang sedang mendengarkan cerita itu. Sang penerjemah pun seperti sudah kehabisan suara dan tenaga untuk menterjemahkan cerita dari buku tesebut. Saya pikir ia telah atau nyaris berteriak dalam membacakan buku. Ketika buku selesai dibacakan, ia menyerahkan 'tugas' pada saya. "Gantian pak, capek nih!" katanya. Saya hanya tersenyum, dan menyambut tugas itu dengan senang hati. Dan selama lima belas menit berikutnya saya melakukan hal yang sama seperti yang ia lakukan dengan buku bertajuk Pesawat Terbang. Berteriak dan berkeringat...

Sudah lebih dari tujuh bulan kegiatan membaca ini berjalan dan sepanjang waktu itu begitu banyak kejadian menarik yang terjadi. Saya masih ingat betul ketika satu kali saya membacakan buku hanya kepada dua orang anak balita, teman-temannya kebetulan sedang dibawa oleh orangtuanya plesir. Saya berpikir ini adalah tantangan dan dinamika yang harus dilalui. Mereka berdua pulang dengan gembira setelah mendengarkan cerita. dan saya pun puas. Pada kesempatan yang lain, anak-anak yang lebih besar menonton versi film dari buku yang telah selesai kami baca: The Tale of Desperaux. Mereka sangat gembira. Saya lebih gembira lagi, karena seorang dari mereka bertutur ia lebih menyukai versi bukunya dari pada versi film.

Kejadian diawal tulisan ini terjadi hari minggu lalu, kami kedatangan tamu dari Amerika. Mereka mampir di lingkungan kami untuk melakukan kerja sosial. Dan teman saya mendaftarkan kegiatan membaca yang biasanya kami lakukan dalam jadwal kegiatan mereka. Setelah selesai kegiatan membaca hari itu, mereka membagi-bagikan buku cerita secara gratis. Anak-anak tentu saja langsung kalap mengambil buku pilihannya.

Satu hal yang paling berkesan dari semua kegiatan membaca ini adalah keterlibatan para orangtua. Tidak sedikit mereka yang menyumbangkan makanan kecil untuk dinikmati setelah selesai membaca. Bahkan baru-baru ini seorang tetangga saya, yang anaknya aktif menjadi anggota di Bee Readers Club membuatkan sebuah papan nama, lengkap dengan jadwal kegiatan dan tempatnya. Sangat manis dan menyentuh. Saya sangat terkejut dan tidak menyangka. Hal-hal seperti ini menjadi sebuah bensin untuk saya secara pribadi meneruskan apa yang saya percaya: mencetak pemimpin adalah menabur kecintaan pada membaca pada anak-anak...

A Porridge Pot, A Mouse and A Habit

>> Monday, May 24, 2010

Langit mendung, waktu menunjukkan kira-kira pk.15.30, saya agak cemas. Berharap hujan tidak datang berujung pada kenyataan: hujan! Memang bukan hujan deras, tapi cukup membuat seseorang malas beranjak dari tempat tidur. Satu SMS masuk berkata: maaf anak saya tidak bisa datang hari; membuat pertanyaan semakin tajam, akankah anak-anak datang hujan-hujan begini. Bersiap-siap dan menunggu hingga hampir pk.16.30, belum ada satu orang anak pun yang datang, sedang anak saya telah duduk manis siap menyambut teman-temannya datang. Saya duduk di sofa, sambil menunggu saya mengobrol dengan anak saya yang berusia 4 tahun bulan Juli nanti.

Tiba-tiba anak saya berkata, "Jessica!", saya menengok keluar. Seorang anak, ditemani pembantunya datang ke rumah kami. Sambil membawa payung dan sebuah tempat pinsil, ia melangkah terburu-buru masuk ke rumah kami. Pembantunya meminta agar payungnya digunakan dengan semestinya dan bukan hanya dijinjing. Namun sang anak tetap menjinjing payungnya sampai di muka pintu dan segera berbincang-bincang dengan kami, mempromosikan isi tempat pinsilnya.

Tidak lama, beberapa anak lain menyusul. Saya tidak menyangka, ruang tamu kami yang sempit, kini dipenuhi dengan setengah selusin anak usia TK dan beberapa anak usia SD. Anak-anak yang lebih besar ini seharusnya datang 30 menit kemudian, tapi mereka meminta untuk diijinkan mengikuti sesi membaca untuk adik-adik mereka. Walu di luar hujan dan terasa dingin, temperatur udara di ruangan kami berkumpul terasa seperti di atas panci. Saya mulai membacakan buku "The Magic Porridge Pot" dengan bertanya siapa yang suka bubur. Semua mengangkat tangan, kecuali satu, katanya dia lebih suka ayam. Lalu saya bertanya siapa yang sedang lapar, semua mengangkat tangan, kecuali satu, katanya dia sudah makan. Setelah itu saya mengajak anak-anak untuk membaca cerita dan bertanya apakah mereka sudah siap. Semua menjawab sudah, dan satu anak yang tadi menyatakan, "Cerita nenek sihir ya?" Lalu kami tertawa, sebab minggu lalu sepanjang saya membacakan cerita, ia kerap kali mengalihkan pertanyaan saya dengan bercerita tentang Buto Ijo. Anak sang penjinjing payung ini memang seorang pemecah suasana.

Setelah selesai bercerita, semua anak bertepuk tangan dan saya membagikan beberapa makanan ringan hasil sumbangan salah satu orang tua. Mereka pun meninggalkan rumah kami dan kini giliran anak yang lebih besar untuk dibacakan cerita. Kali ini adalah pertemuan ketiga bagi mereka. Kisah tentang seekor tikus yang jatuh cinta pada seorang putri raja manusia ternyata membuat mereka tertarik. Saya tidak menyangka kisah "The Tale of Desperaux" ini membuat mereka selalu penasaran di akhir sesi. Buku setebal 200-an halaman saya bacakan dengan berkeringat, tentu saja saya harus membaginya menjadi beberapa kali pertemuan. Kali itu cerita dimulai dari sang tikus yang sedang beretmu dengan sang putri raja dan bagaiamana orang tua sang tikus tepaksa menghukum anaknya sendiri karena telah melanggar peraturan masyarakat tikus, bertemu dengan manusia.

"Yaaah!" seru mereka saat saya menyatakan cerita ini harus berhenti sampai di sini. Mereka pun meninggalkan rumah saya dengan membawa rasa penasaran kelanjutan cerita ini. Satu demi satu dari hampir sepuluh anak usia SD ini meninggalkan rumah dengan berkeringat. Salah seorang ibu yang ikut hadir menemani anaknya mendengarkan cerita berkisah. Ia mengenal seseorang yang mengeluh padanya mengapa anaknya tidak suka membaca. Ia mengetahui belakangan ternyata orang tua itu tidak suka membaca. Ia menandaskan bagaimana meminta anak suka membaca bila orangtuanya tidak memberikan teladan? Ini juga adalah pertanyaan bagi Anda, orangtua. Warisan paling berharga yang harus ditinggalkan pada anak-anak kita adalah teladan, salah satunya adalah kebiasaan membaca.

Salah satu dari anggota klub membaca kami dengan polos menyatakan bahwa dia tidak memiliki sebuah buku pun di rumah dan ia hampir tidak pernah membaca. Saya bersyukur dia salah satu anggota yang paling rajin hadir. Saya berharap membaca menjadi kebiasaanya di waktu-waktu mendatang. Karena membaca adalah jantung dari pendidikan dan pembelajaran, demikian kata Jim Trellease, seorang penulis buku "Read Aloud Handbook". Dengan berinvestasi waktu untuk membacakan buku bagi anak, seseorang sedang mengumpulkan 'makanan' untuk masa depan anak-anaknya. Seperti seekor lebah yang rajin mencari madu dan mengumpulkannya demi kelangsungan hidup koloninya. Bee Readers, demikian saya menamai kelompok ini.

THE FIRST EDUCATOR_PART THREE

>> Sunday, February 28, 2010

Ini adalah bagian terakhir tulisan saya tentang Pendidik Utama...

__________

Orangtua yang Berfungsi
Kegagalan pendidikan anak bukan hanya diakibatkan karena ketiadaan atau ketidakhadiran orangtua, tetapi juga karena adanya orangtua ‘mandul’ di dalam keluarga. Orangtua memang hadir secara fisik dan berada di dekat anak, tetapi mereka tidak berfungsi menjalankan tugas pendidikan pada anak-anaknya.

Orangtua memang berada di dekat anak saat di rumah, tetapi baik anak maupun orangtua melakukan aktifitasnya masing-masing. Sang anak bermain games, sang ayah sibuk dengan laptop-nya dan sang ibu tidak bisa lepas dari Blackberry-nya. Orangtua memang duduk satu meja di restoran, tetapi hampir tidak ada pembicaraan berkualitas di meja makan. Masing-masing sibuk dengan makanannya, handphone-nya atau majalahnya. Orangtua memang hadir secara fisik, tetapi tidak berfungsi.

Memang, tidak sedikit anak-anak yang lahir tanpa orangtua atau anak-anak yang ditinggalkan orangtuanya, berhasil dalam hidupnya dan unggul dalam kepribadiannya. Hal ini dimungkinkan karena berbagai faktor, salah satunya adalah adanya karunia khusus Tuhan atas hidup anak itu. Namun, secara umum sebagian besar anak-anak lahir dari orangtua yang lengkap dan mereka dibesarkan dengan ayah dan ibu yang sama sejak mereka lahir.

Orangtua tidak berfungsi dalam tugas-tugas pendidikan, karena mereka cenderung belajar dari kesalahan masa lalu, Thomas Gordon, seorang psikolog Amerika, dengan tepat menggambarkannya:

Para orangtua masa kini hampir selalu percaya pada metode yang sama dalam membesarkan anak-anak dan menyelesaikan masalah-masalah dalam keluarga, metode yang telah digunakan oleh orangtua mereka, oleh kakek dan nenek mereka, oleh orangtua dari kakek nenek mereka. (Gordon:1975)

Orangtua perlu meningkatkan kemampuannya dan pemahamannya mengenai pendidikan anak secara konsisten. Menjadi orangtua memang secara alamiah terjadi ketika seseorang memiliki anak, tetapi menjadi orangtua yang berfungsi membutuhkan usaha.

Orangtua yang berfungsi adalah orangtua yang setidaknya melakukan dua hal. Pertama, ia adalah yang mengerti betul mengelola pernikahannya, yaitu hubungannya dengan pasangannya. Kedua, ia adalah orangtua yang terus menerus belajar dan mempraktekkan apa yang ia telah pelajari mengenai pendidikan anak.

Orangtua Pemelihara Pernikahan
Orangtua adalah otoritas di dalam keluarga dan anak adalah wujud kasih suami isteri dan objek kasih orangtua. David Code menyatakan pesan yang jelas isi bukunya melalui judulnya: To Raise Happy Kids, Put Your Marriage First (Untuk Membesarkan Anak yang Bahagia, Utamakanlah Pernikahan Anda). Anak tidak boleh menjadi pusat dalam keluarga.

Keberadaan suami dan isteri mendahului keberadaan anak. Hubungan suami isteri adalah sumber kehidupan anak. Tanpa hubungan yang kuat antara suami isteri, bagaimanapun kerasnya orangtua mendidik anak, anak-anak tidak akan bertumbuh secara maksimal dan sehat.

Suami isteri yang tidak harmonis akan dengan mudah dilihat oleh anak. Walau mereka tidak dapat mengatakannya, namun mereka mampu menerjemahkannya sebagai: ayah dan ibuku tidak sayang padaku lagi. Ya, anak-anak akan tergoncang jiwanya melihat orang tuanya yang tidak sejalan. Saat suami memarahi isteri, atau saat isteri mengacuhkan perkataan suami, anak-anak akan menjadi bingung dan mereka akan berusaha keras memahami dan memaklumi kejadian itu. Tetapi pada dasarnya mereka mulai mengurangi kepercayaan, hormat dan cinta mereka pada orang tua.

Berdamai dengan dengan pasangan sebelum meminta anak melakukan sesuatu adalah hal yang bijak yang orangtua dapat lakukan. Melakukanlah terlebih dahulu pada pasangan hal-hal yang ingin anak lakukan juga merupakan hal yang baik untuk dipraktekkan. Orangtua adalah mata air bagi anak. Anak adalah seperti sungai. Jika mata airnya kotor, kotor pula sungai yang mengaliri airnya, tapi bila mata airnya bersih, jernih pula air yang melalui sungai itu.

Bayangkan sebuah payung dengan tudung bocor atau tangkai yang patah, percumalah siapapun yang berteduh di bawah payung itu. Anak-anak akan diserang oleh hujan dan terik panas tantangan dunia ini bila suami isteri tidak sepakat, sehati dan intim. Oleh karena itu, dengan mengevaluasi secara terus menerus dan memastikan hubungan antara suami isteri telah kokoh, Orangtua dapat mulai mendidik anak dengan penuh integritas dan percaya diri.

Orangtua Pembelajar
Orangtua yang berhenti belajar adalah orangtua yang ‘mandul’, tidak efektif. Orangtua kerap disalahkan atas keabnormalan perilaku anak, tetapi orangtua tidak pernah belajar dari kesalahan, seperti yang ditandaskan Thomas Gordon:
Orangtua disalahkan, tetapi tidak dilatih...(Gordon:1975)

Ya, orangtua perlu dilatih. Orangtua bukanlah pribadi yang maha tahu, maha mampu atau maha segalanya, sehingga ia tidak pernah belajar menjadi orangtua yang berfungsi. Berapa jumlah waktu yang orangtua sediakan untuk belajar ‘menjadi orangtua’ tiap harinya? Hampir tidak ada. Hal ini sangat memprihatinkan.

Pembelajaran dapat dimulai dari diskusi bersama pasangan. Diskusi mengenai pandangan masing-masing dalam mendidik anak sangatlah bernilai. Diskusi ini akan bermuara pada kesatuan dan kesepakatan pandangan dalam mendidik anak. Pandangan akan bertambah kaya dengan berkonsultasi dengan rohaniwan, pakar pendidikan anak atau lainnya.

Setelah kesepakatan dicapai, orangtua perlu membuat cetak biru pendidikan anaknya. Hal ini amat jarang dilakukan orangtua pada umumnya. Cobalah bertanya pada pasangan, teman dekat, tetangga atau saudara yang telah menikah, berapa banyak di antara mereka yang memiliki tujuan, visi dan misi, rencana atas pendidikan anak-anak mereka. Sebagian besar dari mereka membutuhkan waktu lama untuk menjawabnya dan tidak sedikit yang menjawab “Hmm, apa ya?”

Seorang ayah atau suami yang menjabat sebagai manajer di perusahaan tentunya tahu benar bahwa tanpa perencanaan yang matang, analisa potensi yang jeli dan pemahaman yang tajam akan konsumen, perusahaan dapat bangkrut dalam waktu singkat. Untuk pekerjaan atau profesi di perusahaan yang bukan milik sendiri, seorang ayah dapat membuat rencana atas perusahaan itu; tidakkah untuk keluarganya sendiri ia perlu melakukan hal yang sama?

Seberapa banyak waktu dalam setahun yang digunakan orangtua untuk duduk bersama pasangannya berdiskusi dan bahkan berdoa mengenai rencana pendidikan anak mereka di tahun itu. Seberapa banyak waktu dalam sebulan yang digunakan orangtua untuk mengadakan evaluasi atau refleksi dari perkembangan anak-anak mereka. Seberapa banyak waktu dalam seminggu yang orangtua sediakan untuk belajar menjadi orangtua yang lebih baik, yang lebih berfungsi. Seberapa banyak waktu dalam sehari yang orangtua sediakan untuk berada bersama-sama anaknya.

Saya mengusulkan, setidaknya orangtua perlu menyediakan waktu untuk mempelajari ketiga area berikut:
1. Pondasi Menjadi Orang Tua (Parenting Foundation), yang meliputi tujuan pernikahan, tujuan pendidikan anak, ilmu komunikasi dan nilai-nilai berkeluarga
2. Pengelolaan Sumber Daya Keluarga (Resources Management), yang meliputi pengelolaan waktu, pengelolaan keuangan, dan pengelolaan keahlian dan potensi
3. Strategi Perawatan dan Pengembangan Diri Anak (Child Nurturing and Development Strategies), bagian yang satu ini sangatlah luas, namun bagian ini dapat difokuskan kepada dua hal yaitu tentang perawatan tumbuh kembang anak dan pengembangan pola pikir, mental dan karakter anak.

Dengan menguasai ketiga area di atas bukan berarti orangtua telah menjadi orangtua yang sempurna, karena memang tidak ada orangtua yang sempurna. Berikut pernyataan Steve Chalke, seorang praktisi pelatih orangtua:

Namun, sebenarnya keluarga bahagia yang sempurna benar-benar tidak ada… bahkan tidak ada jaminan bahwa keberhasilan pada satu anak di suatu waktu akan berhasil di waktu lain pada anak yang sama atau anak lainnya. Menjadi orangtua lebih seperti berimprovisasi dalam musik, tidak seperti matematika. Ada prinsip-prinsip umum yang sangat penting, tetapi sebagian besar adalah masalah bakat dan gaya individu…
Menjadi orangtua sempurna tidak hanya di luar kemampuan Anda, tetapi di luar kemampuan semua orang. Secara sederhana, untuk menjadi orangtua yang sempurna, Anda haruslah orang sempurna dan tidak seorang pun yang seperti itu di dunia ini. (Chalke:2009)


Dengan memahami bahwa tidak ada orangtua yang sempurna, orangtua di manapun dapat dengan penuh percaya diri terus menerus belajar hanya untuk menjadi orangtua yang lebih baik dari hari sebelumnya. Inilah makna sesungguhnya dari pendidikan dalam keluarga: orangtua yang belajar dan anak yang terdidik dalam keluarga.
Semakin dini orangtua menerima anak apa adanya dan menjadi teladan bagi mereka, semakin banyaklah kesempatan orangtua untuk menemukan, membentuk dan mengembangkan jati diri atau karakter anak. Saat anak harus terjun ke dunia luar, baik itu di sekolah atau di lingkungan sekitar dan saat anak bertumbuh dewasa, ia menjadi anak panah yang siap melesat menuju sasaran yang Tuhan telah tetapkan, karena mereka telah dididik dengan benar oleh pahlawan mereka, orangtua.

Referensi:
• Chalke, Steve. How To Succeed as a Parent: Panduan Praktis Mengasuh Anak dengan Sukses. Yogyakarta: Penerbit ANDI, 2009.
• Drost, SJ. Proses Pembelajaran sebagai Proses Pendidikan. Jakarta: Penerbit Grasindo, 1999.
• Drost, SJ. Reformasi Pengajaran: Salah Asuhan Orangtua? Jakarta: Penerbit Grasindo, 2000.
• Gordon, Thomas. P.E.T. Parent Effectiveness Training. New York: A Plume Book, 1975.
• Harefa, Andrias. Menjadi Manusia Pembelajar. Jakarta: Penerbit Buku Kompas, 2000.
• Harefa, Andrias. Pembelajaran di Era Serba Otonomi. Jakarta: Penerbit Buku Kompas, 2001.
• Knight, George H. Philosophy Education. Michigan: Andrews University Press, 1998.
• Wolterstoff, Nicholas P. Educating For Life. Michigan: Baker Publishing Group, 2002.
• www.tamansiswa.org
• www.detik.com
• www.ycab.org
• www.google.co.id/trends
• catatan-guru.blogspot.com

Children Literature: A Dream...

>> Monday, February 22, 2010

Sabtu kemarin, saya terpaku di depan layar notebook, tidak tahu lagi apa yang harus saya ketik untuk melanjutkan penyelesaian makalah saya bertemakan ‘Membaca pada anak-anak’. Saya membutuhkan referensi lebih banyak mengenai topik yang saya coba tulis.

Tepat di sebelah kiri saya berdiri satu-satunya rak buku di rumah saya. Saya menoleh dan mencoba memperhatikan satu demi satu buku yang tersusun di rak itu. Pandangan saya tertuju pada buku ‘Membuka Masa Depan Anak-anak Kita’, sebuah kumpulan essay mengenai pendidikan terbitan Kanisius. Saya telah lama memiliki buku itu. Kira-kira sepuluh tahun lalu saya membelinya dan membacanya hingga habis dalam waktu yang cukup singkat. Isinya sangat berbobot, karena para penulis adalah pakar pada bidangnya masing-masing. Saya tidak pernah membacanya lagi sejak saat itu.

Saya mulai melihat-lihat lagi daftar isi buku itu. Mata saya langsung tertuju pada judul esai Murti Bunanta berjudul ‘Perjuangan untuk Bacaan Anak yang Layak’. Beliau adalah seorang doktor yang berkonsentrasi pada isu sastra anak. Saya mulai membuka halaman yang terkait. Entah mengapa tulisan ibu Murti yang sepuluh tahun lalu saya baca, saat itu seperti membelah isi kepala saya dan membanjiri dengan jawaban segala pertanyaan yang ada di benak saya selama ini. Bahkan tidak berhenti sampai di sana, hati saya merasa antara terkoyak, tersulut dan ingin meledak saat membaca tiap baris tulisannya.

Apa yang ibu Murti tuliskan sepuluh tahun lalu, itulah yang saya rasakan saat ini. Saya sangat bisa memahami kerisauan sang penulis mengenai kondisi bahan bacaan atau ia menyebutnya sastra anak di Indonesia. Bukan hanya sastra anak secara sempit berupa buku bacaan anak, tetapi secara menyeluruh, mulai dari penulis naskah anak, proses produksi  hingga kritikus sastra anak.

Perhatikan beberapa petikan dari tulisannya ini yang menunjukkan kerisauannya:
-    Gerakan meningkatkan dan memelihara kebiasaan dan minat membaca masyarakat belum dikonsep dengan baik oleh pemerintah yang terdahulu maupun pemerintah yang sekarang yang sedang mengatur negara ini. Kalau tumbuh minat membaca pada bangsa Indonesia, itu karena dia tumbuh sendiri melalui pengalaman dan kesadaran pribadi.
-    Saya tidak sepaham dengan pendapat yang menyatakn bahwa seorang pengarang cerita anak harus mempertimbangkan tingkat intelektualitas dan daya imajinasi anak-anak sebagai pembacanya.
-    …tema-tema (sastra anak) yang ditulis masih diutamakan untuk kepentingan ‘mendidik’ saja (dalam arti sempit), kepentingan financial, dan kepentingan ideologis.
-    …perpustakaan sekolah, apalagi perpustakaan umum, bukanlah akses bagi anak untuk mendapatkan dan membaca cerita. Paling banyak adalah yang membeli buku sendiri, termasuk pula bagi mereka yang jarang-jarang dibelikan buku.
-    Penelitian saya menunujukkan bahwa waktu luang atau libur kebanyakan digunakan untuk pergi ke mal dari pada ke toko buku atau ke perpustakaan. Orang tua belum menjadi idola sebagai pembaca buku sastra. Ibu membaca buku masak dan majalah, sedangkan ayah membaca koran.
-    Jadi, tidaklah heran kalau sejak 2 April 1966 sampai dengan 13 Februari 2000, saya dapat mengumpulkan 40 artikel tentang komik, tetapi tidak satu pun artikel mengenai ilustrasi (untuk sastra anak).


Mengapa saya tertarik untuk menulis makalah tentang membaca pada anak-anak, karena saya bekerja dalam lingkungan yang justru kaya akan karya sastra anak, tetapi semuanya adalah produk impor. Setelah kurang lebih 5 tahun saya bergulat dengan sastra anak, saya menyadari bahwa masyarakat Indonesia telah tertinggal jauh dalam hal minat dan kebiasaan membaca. Saya memiliki impian yang boleh dikatakan kebetulan hampir sama dengan apa yang tertulis dalam esai ibu Murti:
“Saya berandai-andai. Setiap hari, di semua saluran televise dan radio di Indonesia ada cerita-cerita yang dibacakan dan dibahas. Cerita yang dipentaskan oleh teater anak dan sinetron diambil dari buku sastra anak. Penghargaan untuk penulisan dan penelitian sastra anak diselenggarakan oleh banyak lembaga yang bergengsi untk menghargai pengarang. Media masa banyak yang membuat resensi buku yang kritis. Universitas pendidikan menyelenggarakan kuliah sastra anak untuk calon guru yang diberikan oleh pengajar yang berkualitas. Ada jurnal ilmiah dan seminar akademis yang cukup. Ada lomba untuk meningkatkan gairah membaca anak didik. Ada pelatihan untuk para pengarang. Ada cukup dana untuk membeli buku-buku lokal yang bermutu dan menerjemahkan buku asing berkualitas yang dipilih oleh tim ahli di bidang sastra anak untuk mengimbangi buku-buku yang ada di pasaran yang kurang layak dikonsumsi.”

Saya sampai berdoa, dari mana saya bisa memulai? Sekali lagi, sang penulis memberikan jawaban: dari mana saja. Yang penting, memulainya.

Meet The Reading Bug-gers...

>> Monday, February 15, 2010

Sambil menyeruput jus alpukat, saya duduk menunggu tamu terhormat. Agak sedikit gugup, karena tidak bisa membayangkan perbincangan seperti apa yang akan terjadi setelah saya bertemu mereka. Tidak lama, sebuah pesan singkat masuk dan menyatakan bahwa mereka telah tiba di lokasi. Saya pun semakin tidak sabar.

Perbincangan selama dua jam terasa kurang. Sebenarnya masih banyak yang dapat dibicarakan, tapi waktu memang terbatas. Saya sangat terkesan dengan tim dari Reading Bug yang memulai karyanya di bangsa ini sejak 2008 lalu. Hampir semuanya adalah ibu yang telah memiliki anak. dalam kesibukan dalam ruamah tangga dan karirnya, mereka masih menyempatkan diri untuk berbagi pada anak-anak bangsa ini. Saya telah bertemu dengan orang-orang hebat di negeri ini yang serius untuk berpikir mengenai peningkatan SDM Indonesia. Ini adalah sebuah kehormatan bagi saya.

Pertemuan sabtu lalu mencatatkan beberapa hal penting:
1. Membaca mudah ditularkan kepada anak-anak, khususnya usia di bawah 12 tahun.
2. Membacakan buku sulit ditularkan pada orangtua dan guru.
3. Orangtua cenderung berkata tidak ada waktu saat diminta untuk membacakan buku pada anak. Hal ini sebenarnya adalah bentuk halus dari keegoisan orangtua.
4. Tidak ada buku yang terlalu 'berat' bagi anak untuk dibacakan, yang ada hanyalah guru atau orangtua yang terlalu 'berat' untuk mencoba membacakan.
5. Membacakan buku pada anak adalah hal yang penting dan bernilai yang dapat orang tua lakukan untuk perkembangan anak baik dari sisi pengetahun, sosial maupun kepribadian anak.
6. Untuk 'menyelamatkan' anak Indonesia dari kekurangan pembaca, perlu dibentuk lembaga-lembaga dan komunitas-komunitas sebagai katalisator atau pemicu kebiasaan membaca.
7. Kepala Sekolah berperan penting dalam meningkatkan kebiasaan membaca para siswanya.
8. Jumlah buku karangan penulis Indonesia yang bermutu masih berjumlah sedikit, ini mengakibatkan buku impor masih menjadi pilihan utama.
9. Read Aloud (membaca lantang) adalah salah satu cara yang paling efektif untuk membentuk independent reader (pembaca mandiri).
10. Pekerjaan Rumah yang harus dilakukan orang atau kelompok yang memahami pentingnya membaca ini masih besar dan perlu bersinergi untuk membuat strategi yang lebih efektif.

Start With Pigs!

>> Monday, February 8, 2010

Saya pikir acara bakal batal. Ini gara-gara hujan! Sampai pk.16.00, waktu yang telah ditentukan untuk kumpul, belum ada satu orang anak pun yang datang. Saya mulai pesimis. Sambil membaca majalah pendidikan dan ngemil buah manggis, saya mencoba bersabar, siapa tahu sebentar lagi ada yang datang. Lima belas menit sudah berlalu, saya beranjak dari kursi saya dan menuju kamar. Isteri dan anak saya masih tertidur lelap. Tiba-tiba, saya mendengar suara kendaraan sedang parkir di depan rumah! Saya segera membangunkan isteri saya, :Bangun mam, mama Gendis datang!" Segera isteri saya bangun dan mencoba membangunkan anak saya. Saya sendiri seperti orang bingung, keluar masuk kamar. Gugup...

Saya dan isteri telah merencanakan hal ini dari bulan lalu. Kami ingin membuka rumah kami bagi anak-anak tetangga untuk datang dan dibacakan buku. Ya, kami membuat sebuah klum membaca balita. Anak-anak yang kami undang masih berusia kira-kira tiga tahun, seumur dengan anak kami. Saya membagikan keinginan saya untuk menumbuhkan minat dan kebiasaan membaca pada anak-anak. Saya memahami bahwa orangtua di bangsa ini dan termasuk di lingkungan tempat saya tinggal mungkin sedang 'sibuk' dengan urusannya, sehingga mereka belum memiliki waktu untuk membacakan buku pada anak-anaknya. Padahal kegiatan yang satu ini sangatlah penting bagi tumbuh kembang anak dan merupakan investasi terbaik bagi orang tua pada anaknya, agar anaknya dapat memiliki kepribadian yang kuat, pengetahuan yang luas dan pikiran yang kreatif. Oleh karenanya saya mencoba membantu.

Ibu Kristin dan suaminya memang sangat perhatian pada anak-anak mereka, jadi tidak kebetulan kalau mereka datang lebih awal. Ia tidak hanya membawa anaknya Gendis, tetapi juga kakaknya, Dio untuk bergabung. Saya sangat senang. Dlam keadaan yang masih linglung, karena baru bangun tidur, saya meminta isteri saya untuk berkeliling, memanggil anak-anak lainnya. Setelah perjuangan menembus hujan rintik, berkumpullah lima orang anak usia tiga tahun (termasuk anak saya) dan satu anak usia enam tahun untuk mengikuti kegiatan membaca. Hadir juga di sana oma regi, 'oma' semua anak di lingkungan kami dan ibu Kristin beserta suami.

Dalam ruang tamu kami yang sebenarnya tidak terlalu nyaman, saya berusaha menarik perhatian mereka pada buku. Kali pertama ini saya menyiapkan buku bergambar (picture book) berjudul The Three Little Pigs. Saya juga telah menyiapkan sehelai rumput (straw) dan batu bata (brick). Awalnya saya melihat kebingungan di mata anak-anak itu. Mungkin mereka berpikir, mengapa tiba-tiba mereka diantar menerobos hujan ke rumah yang kecil ini.

Saya memulai dengan menunjukkan rumput yang saya bawa dan mulai menanyakan beberapa hal tentang rumput, kayu, bata, babi dan hal-hal lainnya. Kemudian saya mulai mengambil buku menunjukkan gambar sampulnya, bertanya dan bercerita sedikit tentang gambar pada sampul buku itu. Tak lama, saya mulai membacakan (Reading Aloud) kisah di buku itu. Anak-anak yang tadinya duduk diam di karpet, di akhir cerita mereka sudah berdiri dengan hidung hampir menyentuh buku yang saya pegang. Mereka bertepuk tangan, gembira menyaksikan sang srigala direbus oleh ketiga ekor babi.

Saya pun gembira, pertemuan 30 menit itu telah menjadi awal yang baru bagi saya. Saya sangat berharap ini dapat menjadi efek bola salju yang dapat membawa dampak bagi masa depan anak-anak ini dan lingkungan sekitar.

Saya tidak sabar untuk bertemu mereka hari Sabtu ini. Hmmm, buku apa kira-kira yang saya akan bacakan ya? Apakah anak-anak yang datang akan bertambah? Apakah mreka semakin antusias? We'll see about that...

C665HZTTGS9Y

My Daughter's First Day Of School

>> Monday, July 27, 2009

Aahhh, tiba juga hari pertama sekolah, First Day of School!

Di hari ini pun anak saya masuk sekolah, kelompok bermain tepatnya. Dia sangat bersemangat sekali. Bahkan ia sempat sedikit merajuk ketika orang tuanya berlama-lama untuk berangkat dari rumah. Seragam lengkap dari topi hingga sepatu telah dipakaikan. Tas barunya telah melekat dipunggung. Dengan malu-malu ia menjawab pertanyaan tetangga sebelah yang bertanya padanya tentang hari pertama sekolahnya.

Tiba di sekolah, ia terlihat sangat bersemangat. Matanya bersinar, mukanya cerah, senyum tergantung di wajahnya sepanjang kami berjalan dari tempat parkir menuju kelasnya. Setibanya di sana, ia bertemu dengan temannya yang juga adalah tetangga kami. Ia segera menghampirinya, sayang sang teman tidak mau diajak bersama-sama. Baru habis menangis, kata bapaknya.

...

Sepulang sekolah, isteri saya bercerita tentang betapa anak kami sangat senang berada di lingkungannya yang baru, sekolah. sebgaian dari teman-teman sekelasnya memang masih ada yang belum bisa di tinggal oleh orang tuanya. Ada juga beberapa yang menangis karena orang tuanya tidak bersama mereka. namun, secara umum mereka menyukai lingkungan barunya ini.

Ini adalah fenomena umum anak masuk sekolah usia dini, mereka masih sangat bergantung pada orang tuanya di hari-hari awal pembelajaran mereka. Biasanya di minggu kedua atau setidaknya di akhir bulan pertama mereka sekolah, semua siswa sangat menyukai 'temapat bermain' mereka yang baru ini.

Sayangnya menurut penelitian, semakin anak bertumbuh besar, mereka cenderung mengaggap sekolah sebagai suatu beban. Apalagi bila ditambah guru, pelajaran atau suasana sekolah yang tidak mendukung, siswa akan cenderung malas belajar. Mungkin ada benarnya bila belajar dan bermain itu harus menjadi satu paket. Dengan kata lain belajar harus dibuat menyenangkan, agar siswa dapat terus termotivasi.

Our Children Challenges

>> Wednesday, July 15, 2009

Liburan yang memabukkan dan menyibukkan, maaf kepada para pembaca setia blog ini, saya tidak konsisten mempostingkan tulisan baru. mudah-mudahan tulisan berikut memenuhi rasa 'lapar' Anda...

Saya berusaha mendapatkan data-data mengenai kehidupan remaja dan anak-anak untuk memberikan kepada Anda gambaran yang lebih jelas mengenai tantangan-tantangan apa yang sedang digumuli oleh generasi muda kita. Sebagian data yang saya tampilkan ini adalah bukan berasal dari Indonesia. Namun saya telah memilah hal-hal yang memiliki kesesuain yang kuat dengan apa yang terjadi di bangsa kita.

Saya akan memulai dengan mengajak Anda mengingat beberapa film. Film telah menjadi sebuah monumen dan cermin bagi realita sosial yang terjadi pada jamannya. Film seringkali dipakai sebagai kritik sosial atau pengungkapan hal-hal yang mungkin tidak disadari terjadi di masyarakat.



Masihkah Anda ingat sebuah film yang diangkat dari kisah nyata seorang anak yang teraniaya oleh ibu tirinya di tahun 1980an? Ya, Arie Hanggara. Kisahnya begitu memilukan dan menggegerkan di tahun 1980an, sehingga kisahnya perlu diangkat sebagai sebuah film yang mencerminkan realita sosial pada jaman itu. Apakah menurut Anda kekerasan kepada anak tidak terjadi lagi hingga saat ini? Anda bisa bertanya kepada Komnas Perlindungan Anak. Dan Anda akan terkejut, bahwa kasus-kasus serupa, bahkan lebih parah semakin banyak. Anda juga dapat membaca buku MIF. Baihaqi, Anak Indonesia Teraniaya. Saya merinding dan sedih mendengar kisah-kisahnya.

Berikutnya adalah film Virgin di tahun 2004, sebuah kisah pergulatan remaja putri yang ingin menunjukkan eksistensinya dengan cara menjual diri. Koran-koran lokal dan beberapa surat kabar beroplag kecil tidak sedikit mengangkat berita-berita mengenai remaja-remaja SMA atau ‘ayam-ayam’ kampus dengan pesan berita serupa film ini. Pada Majalah Tempo, Ketua Perhimpunan Obsterik dan Ginekolog Indonesia Nurdadi Saleh berkata, menurut penelitian WHO, di Indonesia telah terjadi 2.500.000 kasus aborsi per tahun! Yang tidak terdata tentunya lebih banyak lagi.

Belum lagi kisah ‘perdagangan’ anak yang diangkat di layar lebar dengan judul Sepuluh di tahun 2008. Kita dapat melihat bahwa anak-anak menjadi korban dalam peradaban masyarakat yang katanya semakin maju.


Pada tahun 1980an, saat saya masih di bangku sekolah. Kenakalan anak dan remaja yang umum terjadi adalah membolos untuk nongkrong bareng teman, berkelahi (satu lawan satu), makan permen karet, ngobrol di dalam kelas, menyontek, dll. Bandingkan dengan apa yang terjadi setelah dekade itu: tawuran, pornografi, membolos untuk main PS atau permainan games on-line, penganiayaan (senior pada yunior), menyogok guru untuk hasil UN yang baik, seks bebas, aborsi, dll.

Mari kita bandingkan dengan data statistik tahun 1992 di majalah Fortune mengenai apa yang terjadi di Amerika setiap hari:

· 1.000 remaja wanita menjadi ibu tanpa nikah

· 1.106 remaja wanita melakukan aborsi

· 4.219 remaja mengidap penyakit yang tertular secara seksual

· 500 remaja mulai memakai narkoba

· 1.000 remaja mulai mengkonsumsi alkohol

· 135.000 anak-anak membawa sebuah pistol atau senjata lain ke sekolah

· 3.610 remaja dilecehkan; 80 diperkosa

· 2.200 remaja berhenti dari sekolah menengah

· 7 remaja dibunuh

· 7 remaja ditangkap karena pembunuhan

· 6 remaja bunuh diri

Dengan data-data di atas dapatkah kita berkata, memang benar generasi anak muda kita berada dalam bahaya? Tidak! Generasi kita tidak sedang dalam bahaya, tetapi SANGAT BAHAYA!