WELCOME! Salam Sejahtera! Senang sekali mendapat kunjungan dari Anda. Berikan komentar Anda di akhir setiap posting (klik link: write your comment here!), komentar Anda sangat berharga bagi saya. Terima Kasih. Please Enjoy...

HOT Search

HOT Translate

Showing posts with label pendidik. Show all posts
Showing posts with label pendidik. Show all posts

THE FIRST EDUCATOR_PART THREE

>> Sunday, February 28, 2010

Ini adalah bagian terakhir tulisan saya tentang Pendidik Utama...

__________

Orangtua yang Berfungsi
Kegagalan pendidikan anak bukan hanya diakibatkan karena ketiadaan atau ketidakhadiran orangtua, tetapi juga karena adanya orangtua ‘mandul’ di dalam keluarga. Orangtua memang hadir secara fisik dan berada di dekat anak, tetapi mereka tidak berfungsi menjalankan tugas pendidikan pada anak-anaknya.

Orangtua memang berada di dekat anak saat di rumah, tetapi baik anak maupun orangtua melakukan aktifitasnya masing-masing. Sang anak bermain games, sang ayah sibuk dengan laptop-nya dan sang ibu tidak bisa lepas dari Blackberry-nya. Orangtua memang duduk satu meja di restoran, tetapi hampir tidak ada pembicaraan berkualitas di meja makan. Masing-masing sibuk dengan makanannya, handphone-nya atau majalahnya. Orangtua memang hadir secara fisik, tetapi tidak berfungsi.

Memang, tidak sedikit anak-anak yang lahir tanpa orangtua atau anak-anak yang ditinggalkan orangtuanya, berhasil dalam hidupnya dan unggul dalam kepribadiannya. Hal ini dimungkinkan karena berbagai faktor, salah satunya adalah adanya karunia khusus Tuhan atas hidup anak itu. Namun, secara umum sebagian besar anak-anak lahir dari orangtua yang lengkap dan mereka dibesarkan dengan ayah dan ibu yang sama sejak mereka lahir.

Orangtua tidak berfungsi dalam tugas-tugas pendidikan, karena mereka cenderung belajar dari kesalahan masa lalu, Thomas Gordon, seorang psikolog Amerika, dengan tepat menggambarkannya:

Para orangtua masa kini hampir selalu percaya pada metode yang sama dalam membesarkan anak-anak dan menyelesaikan masalah-masalah dalam keluarga, metode yang telah digunakan oleh orangtua mereka, oleh kakek dan nenek mereka, oleh orangtua dari kakek nenek mereka. (Gordon:1975)

Orangtua perlu meningkatkan kemampuannya dan pemahamannya mengenai pendidikan anak secara konsisten. Menjadi orangtua memang secara alamiah terjadi ketika seseorang memiliki anak, tetapi menjadi orangtua yang berfungsi membutuhkan usaha.

Orangtua yang berfungsi adalah orangtua yang setidaknya melakukan dua hal. Pertama, ia adalah yang mengerti betul mengelola pernikahannya, yaitu hubungannya dengan pasangannya. Kedua, ia adalah orangtua yang terus menerus belajar dan mempraktekkan apa yang ia telah pelajari mengenai pendidikan anak.

Orangtua Pemelihara Pernikahan
Orangtua adalah otoritas di dalam keluarga dan anak adalah wujud kasih suami isteri dan objek kasih orangtua. David Code menyatakan pesan yang jelas isi bukunya melalui judulnya: To Raise Happy Kids, Put Your Marriage First (Untuk Membesarkan Anak yang Bahagia, Utamakanlah Pernikahan Anda). Anak tidak boleh menjadi pusat dalam keluarga.

Keberadaan suami dan isteri mendahului keberadaan anak. Hubungan suami isteri adalah sumber kehidupan anak. Tanpa hubungan yang kuat antara suami isteri, bagaimanapun kerasnya orangtua mendidik anak, anak-anak tidak akan bertumbuh secara maksimal dan sehat.

Suami isteri yang tidak harmonis akan dengan mudah dilihat oleh anak. Walau mereka tidak dapat mengatakannya, namun mereka mampu menerjemahkannya sebagai: ayah dan ibuku tidak sayang padaku lagi. Ya, anak-anak akan tergoncang jiwanya melihat orang tuanya yang tidak sejalan. Saat suami memarahi isteri, atau saat isteri mengacuhkan perkataan suami, anak-anak akan menjadi bingung dan mereka akan berusaha keras memahami dan memaklumi kejadian itu. Tetapi pada dasarnya mereka mulai mengurangi kepercayaan, hormat dan cinta mereka pada orang tua.

Berdamai dengan dengan pasangan sebelum meminta anak melakukan sesuatu adalah hal yang bijak yang orangtua dapat lakukan. Melakukanlah terlebih dahulu pada pasangan hal-hal yang ingin anak lakukan juga merupakan hal yang baik untuk dipraktekkan. Orangtua adalah mata air bagi anak. Anak adalah seperti sungai. Jika mata airnya kotor, kotor pula sungai yang mengaliri airnya, tapi bila mata airnya bersih, jernih pula air yang melalui sungai itu.

Bayangkan sebuah payung dengan tudung bocor atau tangkai yang patah, percumalah siapapun yang berteduh di bawah payung itu. Anak-anak akan diserang oleh hujan dan terik panas tantangan dunia ini bila suami isteri tidak sepakat, sehati dan intim. Oleh karena itu, dengan mengevaluasi secara terus menerus dan memastikan hubungan antara suami isteri telah kokoh, Orangtua dapat mulai mendidik anak dengan penuh integritas dan percaya diri.

Orangtua Pembelajar
Orangtua yang berhenti belajar adalah orangtua yang ‘mandul’, tidak efektif. Orangtua kerap disalahkan atas keabnormalan perilaku anak, tetapi orangtua tidak pernah belajar dari kesalahan, seperti yang ditandaskan Thomas Gordon:
Orangtua disalahkan, tetapi tidak dilatih...(Gordon:1975)

Ya, orangtua perlu dilatih. Orangtua bukanlah pribadi yang maha tahu, maha mampu atau maha segalanya, sehingga ia tidak pernah belajar menjadi orangtua yang berfungsi. Berapa jumlah waktu yang orangtua sediakan untuk belajar ‘menjadi orangtua’ tiap harinya? Hampir tidak ada. Hal ini sangat memprihatinkan.

Pembelajaran dapat dimulai dari diskusi bersama pasangan. Diskusi mengenai pandangan masing-masing dalam mendidik anak sangatlah bernilai. Diskusi ini akan bermuara pada kesatuan dan kesepakatan pandangan dalam mendidik anak. Pandangan akan bertambah kaya dengan berkonsultasi dengan rohaniwan, pakar pendidikan anak atau lainnya.

Setelah kesepakatan dicapai, orangtua perlu membuat cetak biru pendidikan anaknya. Hal ini amat jarang dilakukan orangtua pada umumnya. Cobalah bertanya pada pasangan, teman dekat, tetangga atau saudara yang telah menikah, berapa banyak di antara mereka yang memiliki tujuan, visi dan misi, rencana atas pendidikan anak-anak mereka. Sebagian besar dari mereka membutuhkan waktu lama untuk menjawabnya dan tidak sedikit yang menjawab “Hmm, apa ya?”

Seorang ayah atau suami yang menjabat sebagai manajer di perusahaan tentunya tahu benar bahwa tanpa perencanaan yang matang, analisa potensi yang jeli dan pemahaman yang tajam akan konsumen, perusahaan dapat bangkrut dalam waktu singkat. Untuk pekerjaan atau profesi di perusahaan yang bukan milik sendiri, seorang ayah dapat membuat rencana atas perusahaan itu; tidakkah untuk keluarganya sendiri ia perlu melakukan hal yang sama?

Seberapa banyak waktu dalam setahun yang digunakan orangtua untuk duduk bersama pasangannya berdiskusi dan bahkan berdoa mengenai rencana pendidikan anak mereka di tahun itu. Seberapa banyak waktu dalam sebulan yang digunakan orangtua untuk mengadakan evaluasi atau refleksi dari perkembangan anak-anak mereka. Seberapa banyak waktu dalam seminggu yang orangtua sediakan untuk belajar menjadi orangtua yang lebih baik, yang lebih berfungsi. Seberapa banyak waktu dalam sehari yang orangtua sediakan untuk berada bersama-sama anaknya.

Saya mengusulkan, setidaknya orangtua perlu menyediakan waktu untuk mempelajari ketiga area berikut:
1. Pondasi Menjadi Orang Tua (Parenting Foundation), yang meliputi tujuan pernikahan, tujuan pendidikan anak, ilmu komunikasi dan nilai-nilai berkeluarga
2. Pengelolaan Sumber Daya Keluarga (Resources Management), yang meliputi pengelolaan waktu, pengelolaan keuangan, dan pengelolaan keahlian dan potensi
3. Strategi Perawatan dan Pengembangan Diri Anak (Child Nurturing and Development Strategies), bagian yang satu ini sangatlah luas, namun bagian ini dapat difokuskan kepada dua hal yaitu tentang perawatan tumbuh kembang anak dan pengembangan pola pikir, mental dan karakter anak.

Dengan menguasai ketiga area di atas bukan berarti orangtua telah menjadi orangtua yang sempurna, karena memang tidak ada orangtua yang sempurna. Berikut pernyataan Steve Chalke, seorang praktisi pelatih orangtua:

Namun, sebenarnya keluarga bahagia yang sempurna benar-benar tidak ada… bahkan tidak ada jaminan bahwa keberhasilan pada satu anak di suatu waktu akan berhasil di waktu lain pada anak yang sama atau anak lainnya. Menjadi orangtua lebih seperti berimprovisasi dalam musik, tidak seperti matematika. Ada prinsip-prinsip umum yang sangat penting, tetapi sebagian besar adalah masalah bakat dan gaya individu…
Menjadi orangtua sempurna tidak hanya di luar kemampuan Anda, tetapi di luar kemampuan semua orang. Secara sederhana, untuk menjadi orangtua yang sempurna, Anda haruslah orang sempurna dan tidak seorang pun yang seperti itu di dunia ini. (Chalke:2009)


Dengan memahami bahwa tidak ada orangtua yang sempurna, orangtua di manapun dapat dengan penuh percaya diri terus menerus belajar hanya untuk menjadi orangtua yang lebih baik dari hari sebelumnya. Inilah makna sesungguhnya dari pendidikan dalam keluarga: orangtua yang belajar dan anak yang terdidik dalam keluarga.
Semakin dini orangtua menerima anak apa adanya dan menjadi teladan bagi mereka, semakin banyaklah kesempatan orangtua untuk menemukan, membentuk dan mengembangkan jati diri atau karakter anak. Saat anak harus terjun ke dunia luar, baik itu di sekolah atau di lingkungan sekitar dan saat anak bertumbuh dewasa, ia menjadi anak panah yang siap melesat menuju sasaran yang Tuhan telah tetapkan, karena mereka telah dididik dengan benar oleh pahlawan mereka, orangtua.

Referensi:
• Chalke, Steve. How To Succeed as a Parent: Panduan Praktis Mengasuh Anak dengan Sukses. Yogyakarta: Penerbit ANDI, 2009.
• Drost, SJ. Proses Pembelajaran sebagai Proses Pendidikan. Jakarta: Penerbit Grasindo, 1999.
• Drost, SJ. Reformasi Pengajaran: Salah Asuhan Orangtua? Jakarta: Penerbit Grasindo, 2000.
• Gordon, Thomas. P.E.T. Parent Effectiveness Training. New York: A Plume Book, 1975.
• Harefa, Andrias. Menjadi Manusia Pembelajar. Jakarta: Penerbit Buku Kompas, 2000.
• Harefa, Andrias. Pembelajaran di Era Serba Otonomi. Jakarta: Penerbit Buku Kompas, 2001.
• Knight, George H. Philosophy Education. Michigan: Andrews University Press, 1998.
• Wolterstoff, Nicholas P. Educating For Life. Michigan: Baker Publishing Group, 2002.
• www.tamansiswa.org
• www.detik.com
• www.ycab.org
• www.google.co.id/trends
• catatan-guru.blogspot.com

THE FIRST EDUCATOR_PART TWO

>> Sunday, February 21, 2010

Ini adalah bagian kedua tulisan saya dengan judul Pendidik Utama.

__________

Batu Penjuru Pendidikan dalam Keluarga
Pendidikan yang dijalankan oleh orangtua haruslah bersumber dari pengertian yang benar. Pendidikan yang educere atau membawa keluar adalah pendidikan yang menerima anak apa adanya dan yang memberi teladan. Pengingkaran akan dua hal ini akan berdampak buruk pada diri anak saat dewasa.

Pater Drost menyatakan bahwa kebanyakan orangtua tidak menerima anak apa adanya. Anak telah dipaksakan untuk seperti yang orangtua mau. Harus begini dan begitu, dileskan ini dan itu. Orangtua terlambat menyadari bahwa anak harus diterima apa adanya.

Masalah-masalah dalam pendidikan anak dimulai dengan kenyataan bahwa orang tua pada umumnya tidak menerima kenyataan dari anaknya sendiri… jadi orang tua itu tidak menerima anak mereka sebagaimana adanya. Anak dipaksa menjadi manusia rekaan orang tua. (Drost:1999)

Tuhan telah menjadikan pribadi anak yang demikian adanya, karena itu anak harus diterima apa adanya oleh orangtua. Anak adalah pemberian Tuhan. Setelah anak diterima apa adanya, barulah dimulai proses pendidikan. Orangtua harus memfasilitasi dan mendidik anak bukan seperti yang ia mau, tetapi seperti yang Tuhan mau. Tentang bagaimana mengetahui apa yang Tuhan mau bagi anak, perlu disampaikan dalam tulisan tersendiri atau dengan merujuk pada buku-buku yang sesuai.

Hal yang kedua adalah menjadi teladan. Orangtua yang menabur teladan yang baik pada anak-anaknya akan menuai anak-anak yang berbahagia. Orangtua yang membuang sampah pada tempatnya, tanpa harus berbicara, memberi pesan kepada anaknya: “Nak, beginilah kamu harus menjaga kebersihan.” Orang tua yang mengaku merusak barang pecah belah di toko swalayan memberi pesan kepada anaknya: “Nak, kejujuran itu penting.” Orangtua yang meminta maaf pada orang yang dirugikan olehnya, memberi pesan kepada anaknya: “Hormatilah hak orang lain dan peliharalah hubungan baik.” Tanpa perlu kata-kata, anak merekam semua itu dalam memorinya dan ia akan meniru apa yang telah mengesankan hatinya dari teladan yang dilihatnya setiap hari.

Kebalikannya, bila anak melihat orangtua yang senantiasa saling bertengkar satu sama lain, maka anak mendapat pesan: “Perasaanmu tidak sepenting rasa berharga kami.” Bila orangtua menggosipi tetangganya dan bermuka manis di depan mereka, mengirimkan pesan pada anak: “Nak, menjadi munafik adalah hal yang biasa.” Orangtua yang terlalu sibuk mencari uang dan tidak memiliki waktu berkualitas bersama anak, mengirim pesan pada anaknya: “Uang lebih penting dari kamu, kehadiran saya dapat diganti oleh uang.” Rekaman video kehidupan ini tersimpan baik dalam pikiran anak-anak, di mana suatu saat nanti ia akan melakukan hal yang sama, bahkan lebih buruk dari yang ia alami.

Menjadi teladan adalah yang tersulit. Bila anak berbuat kesalahan atau kegagalan, marilah dengan besar hati, orang tua mengaku: “Ini terjadi karena saya tidak menjadi teladan yang terbaik.” Bila anak cenderung nakal, bersikap tidak sopan, berkarakter buruk, malas, atau lainnya: “Ini terjadi karena saya tidak tekun memberi contoh dengan tekun.” Orangtua adalah teladan pertama dan yang paling berpengaruh. Oleh karena itu, orang tua perlu berusaha keras menjadi teladan terbaik bagi anaknya, bahkan hingga orangtua dapat menjadi cerminan pribadi Tuhan bagi anak-anaknya.

Jika orangtua gagal menerima anak apa adanya dan gagal menjadi teladan yang terbaik bagi anaknya, orangtua sedang menambahkan jumlah kerusakan generasi penerus bangsa. Telah banyak korban berjatuhan akibat orangtua yang secara sengaja ataupun tidak menjadi perusak diri dan masa depan anak. Perhatikan data berikut ini:

1. Kidia mencatat bahwa pada tahun 2004, hanya terdapat 15% acara yang aman untuk anak-anak. Padahal anak-anak menghabiskan waktu 30-35 jam minggu atau 4-5 jam per hari untuk menonton TV.
2. Lyto, sebuah penerbit game online di Indonesia menyatakan bahwa penggunanya telah melebihi angka enam juta orang pada tahun 2009. Dari keterangan siswa-siswa saya, seorang anak dapat menghabiskan waktu rata-rata 3 jam untuk bermain dengan mengeluarkan uang Rp 4000 per jamnya.
3. Yayasan Cinta Anak Bangsa (YCAB), sebuah LSM yang bergerak dalam bidang pencegahan penggunaan narkoba, melakukan penelitian pada tahun 2007 di enam kota di Indonesia. Usia rata-rata pengguna narkoba ternyata adalah 14 tahun! Dan alasan terbesar mengapa mereka mengunakannya hanya karena untuk coba-coba (72%), sisanya karena frustrasi dalam masalah keluarga dan hubungan.
4. Google, sebuah mesin pencari tersohor di dunia maya menyatakan data yang mencengangkan pada tahun 2009. Indonesia adalah Negara peringkat keempat terbesar di dunia pencari konten seksual atau pornografi. Bahasa Indonesia juga merupakan bahasa terbanyak yang digunakan dalam pencarian situs-situs porno.
5. Komnas Perlindungan Anak menyatakan hasil yang mengejutkan dalam penelitiannya tentang seks bebas di 33 provinsi pada tahun 2008. Sebanyak 63% remaja wanita SMP sudah tidak perawan, bahkan sebanyak 21% telah mengaku melakukan aborsi. Bahkan WHO menyatakan telah terjadi setidaknya dua juta kasus aborsi per tahun di Indonesia!
Serangan-serangan televisi, permainan elektronik, narkoba, pornografi dan seks bebas akan mudah mempengaruhi dan merasuki anak-anak, bila orangtua tidak menyadari dan mengambil komitmen untuk menerima anak mereka apa adanya dan menjadi teladan bagi mereka. Generasi muda yang hancur selalu dengan mudah diketahui akar persoalannya, yaitu orangtua tidak menerima anak apa adanya dan tidak menjadi teladan terbaik bagi anaknya.

Di dalam proses pendidikan, orangtua dapat berperan sebagai pelatih dan pengajar anaknya. Di sinilah pengajaran dan pelatihan mendapat bentuk sebagai bagian integral dari pendidikan. Di irisan ini pulalah, orangtua berinteraksi dengan guru. Mengingat keterbatasan orangtua dalam mengajar dan melatih anaknya, guru dapat menjadi mitra orangtua dalam ‘mendidik’ anak, yaitu dalam memfasilitasi aplikasi dan refleksi proses pendidikan orangtuanya dan dalam mengajar dan melatih anak-anak dalam pengetahuan dan keterampilan.

Setelah membuat komitmen untuk menerima anak apa adanya dan menjadi teladan bagi mereka, inilah saatnya orangtua untuk mulai berfungsi dalam mendidik anak. Saya memperhatikan beberapa orangtua saat di pusat perbelanjaan. Mereka menemani anaknya bermain di arena bermain, makan bersama di restoran capat saji atau sekedar berkeliling sambil menuntun anak mereka. Apakah hal ini telah menunjukkan perhatian orangtua pada pendidikan anak? Saya pikir mungkin juga demikian, tetapi pendidikan anak yang sebenarnya tidak hanya melulu berada di dekat anak.

Berada di dekat anak adalah hal yang baik dan penting. Namun, apa yang orangtua katakan, lakukan dan teladankan saat bersama anak, itu jauh lebih penting.

THE FIRST EDUCATOR_PART ONE

>> Sunday, February 14, 2010

Ini adalah essay saya tentang Pendidikan Keluarga yang saya kirim ke Lomba penulisan tentang pendidikan di SDH Daan Mogot, Jakarta. Silahkan menikmati bagian pertama tulisan ini...
__________

Pendidik utama ialah orangtua dan mereka mendidik anak muda lewat proses yang dinamakan pendidikan dan semua pendidikan adalah proses informal, tidak ada pendidikan formal. (Drost:2000)

Sebagian besar masyarakat masih mengasosiasikan pendidikan dengan sekolah atau guru. Hal ini tidaklah salah, tetapi mengapa pendidikan tidak lebih dulu diasosiasikan dengan keluarga? Pendidikan atau education dalam bahasa Inggris berasal dari bahasa Latin educere, yang secara bebas bermakna membawa keluar. Pendidikan dapat berarti membawa keluar jati diri atau karakter yang Tuhan telah tetapkan secara istimewa pada diri anak. Pengertian ini menjadi kontras dengan apa yang sekolah dan khususnya guru lakukan di dalam kelas. Guru cenderung melakukan yang sebaliknya dengan apa yang disebut educere atau membawa keluar. Di ruang-ruang kelas, tugas utama guru adalah ‘membawa masuk’ ilmu pengetahuan dan keterampilan ke dalam diri anak.

Belajar dari Sejarah
Sepanjang sejarah, sekolah tidak pernah diperuntukkan terutama sebagai lembaga pendidikan. Sekolah adalah lembaga pengajaran dan pelatihan terbaik yang pernah ada. Perhatikanlah sekelumit sejarah sekolah berikut.

Plato, yang disebut sebagai pendiri sekolah pertama dengan Akademos-nya, menempatkan matematika, humanity (kemanusiaan) dan kesusasteraan sebagai pusat kurikulumnya (Knight: 1998). Sedangkan muridnya, Aristoteles, yang mendirikan sekolah Lyceum, menempatkan lebih banyak bidang ilmu dalam kurikulumnya, khususnya bidang sains dan matematika (Knight: 1998). Di Timur, Konfusius menempatkan kebijaksanaan dan aturan ketatalaksanaan sebagai pusat kurikulumnya (Sathern: 1997). Sekolah formal menemukan bentuk seperti yang sekarang ini dimulai kira-kira sejak abad ke 13 di Eropa oleh kaum skolastik (Harefa: 2001). Sekolah mulai memiliki standar kelas, kurikulum, pengajar dan fasilitas.

Di Indonesia sendiri, khususnya di Jawa, Padepokan, Pawiyatan dan Paguron telah dikenal sebagai tempat belajar para siswa pada waktu itu. Adapun kurikulum inti yang diajarkan lebih banyak kepada keterampilan dalam tugas hidup sehari-hari, seperti mencuci piring, menghidangkan makanan dan melayani guru bagi siswi dan keterampilan yang lebih sentral dalam kehidupan waktu itu bagi para siswa, mulai dari mencari kayu bakar, asisten guru, hingga bertapa/semedi. Selain itu materi pelajaran dalam pendidikan tradisi di Nusantara umumnya secara lisan dan bersifat umum meliputi antara lain perihal kejiwaan, kefilsafahan, kesusasteraan, kanuragan, kaprajuritan, pertanian, titi mongso, pananggalan, adat istiadat, tata krama dan perbintangan (Dwiarso: 2008).

Sekarang, sekolah formal Indonesia menerjemahkan kurikulumnya ke dalam sejumlah mata pelajaran. Sekolah Dasar setidaknya memiliki 5 mata pelajaran, SMP 10 mata pelajaran dan SMA 14 mata pelajaran. Dari sekian banyak mata pelaajran itu, saya bisa kelompokan menjadi lima bidang pelajaran: bahasa, ilmu eksakta (sains), ilmu sosial, Agama & Kewarganegaraan, dan Seni & Teknologi. Semua mata pelajaran di sekolah adalah bidang ilmu dan keterampilan yang hanya menyentuh ranah kognitif dan psikomotorik.

Dari riwayat sekolah ini, kita dapat melihat bahwa sekolah selalu membimbing siswanya untuk menguasai pengetahuan dan keterampilan tertentu. Sekolah selalu dimaksudkan sebagai lembaga pengajaran dan pelatihan untuk memperlengkapi siswanya agar dapat bereksistensi secara sosial dan menjadi profesional dalam dunia usaha, karir dan kerja mereka nanti.

Pendidikan, Terjadi dalam Sekolah atau Keluarga?
Adapun sekolah terus menerus berusaha untuk masuk dalam ranah afektif ditengarai karena keprihatinan atas mutu siswa dan lulusan yang kurang bermoral dan berakhlak mulia. Pelaksanaan berbagai program dan pelajaran karakter atau budi pekerti oleh sekolah sebenarnya kurang tepat dan sudah terbukti kurang efektif. Anak yang taat, disiplin dan sopan hampir tidak pernah datang dari pengajaran di ruang kelas. Demikian juga dengan inisiatif, kerendahan hati atau keberanian.

Guru dan lingkungan sekolah dapat menjadi sumber inspirasi pembentukan karakter anak. Namun, seberapa banyak guru yang memiliki kemampuan untuk mendidik anak dengan baik di saat ia harus mengajar? Guru cenderung telah dipenjara oleh kurikulum dan rutinitasnya dalam sekolah.

Karakter atau budi pekerti tidak dapat dipelajari secara formal seperti mata pelajaran sekolah pada umumnya. Karakter atau budi pekerti hanya diperoleh melalui jalur pendidikan, dan bukan pengajaran. Dengan kata lain, anak akan beroleh pendidikan di dalam keluarga. Sedangkan di sekolah, anak-anak lebih banyak mempraktekkan dan merefleksikan hasil didikan orangtua mereka itu.

Seperti yang dikatakan oleh Pater Drost, sekolah sebenarnya tidak bisa menjadi lembaga pendidikan. Hal ini dikarenakan pendidikan tidak pernah menempuh proses yang formal di ruang-ruang kelas dengan mata pelajaran tertentu dan dengan bentuk ujian tertentu. Pendidikan selalu mengambil tempat yang Andrias Harefa menamainya sebagai Universitas atau Sekolah Besar Kehidupan (Harefa:2000).

Sekolah dapat dikatakan sebagai lembaga pendidikan hanya karena ia bermitra dengan orangtua. Orangtua memberikan pada guru dan sekolah sebagian dari tanggung jawabnya sementara anak berada di sekolah. Bahkan kalimat ini pun kurang tepat, karena orangtua selalu menjadi pendidik anak kapan dan di mana pun. Sekolah tidak pernah menjadi penanggung jawab utama pendidikan anak. Orangtualah penanggung jawab utamanya.

Nicholas P. Wolterstoff, professor filsafat dari Calvin College menyatakan:

Guru-guru memang mempunyai hak terkait pendidikan anak – menurut saya terutama hak untuk menerapkan kompetensi profesional mereka dalam mengajar. Tetapi guru tidak mempunyai hak apapun untuk menentukan ciri-ciri pendidikan anak. Orangtualah yang mempunyai hak dan tanggung jawab itu. (Wolterstoff:2007)

Pernyataan Wolterstoff ini adalah penegasan, bahwa orangtualah kepala dari lembaga pendidikan anak dan keluarga adalah lembaga utama pendidikan anak, bukan sekolah. Oleh karena itu, perlu usaha besar untuk mengembalikan asosiasi dan peran pendidikan kepada keluarga dan orangtua di dalam masyarakat.

Kini, kita dapat sepakat bahwa pendidikan adalah hak dan tanggungjawab orangtua. Pendidikan dimaksudkan untuk menemukan, membentuk dan mengembangkan jati diri atau karakter anak.

Another Bed Talk

>> Wednesday, April 1, 2009

Semalam saya dan istri terlibat pembicaraan mengenai kesannya terhadapa gurunya.

Ia berkisah tentang satu orang guru yang berkesan padanya dibanding sekian puluh guru yang pernah mengajarnya dari TK. Seorang ibu guru ini sangat menyentuh hatinya. Apa yang dikatakannya dan dilakukannya sangat berdampak bagi hidup istri saya. Ia sangat menghargai istri saya saat di bangku SD dulu. Pernah satu kali, sang ibu guru meminta anak-anak untuk menghentikan waktu belajarnya sejenak untuk berdoa bagi seorang anak yang kedua orang tuanya mau bercerai. Semua anak dengan sungguh-sungguh berdoa bersama. perhatiannya tidak putus sampai di sana.

Saat SMA, isteri saya bertemu dia kembali di sekolah. Ia menutup pembicaraan singkat itu dengan berpesan untuk menjaga diri baik-baik. Beberapa hari kemudian istri saya terkena kecelakaan. Dari lima orang yang berada di mobil, satu orang meninggal, sisanya luka-luka, sedangkan istri saya hanya lecet. Ia teringat akan sang ibu guru, mungkinkah ini karena doanya?

Saat istri saya dewasa, pernah ia berjumpa di sebuah toko buku. Ia menyebut nama istri saya dan menepuk punggungnya. Ia masih ingat. ia mengeluarkan uang Rp 25.000 sebelum ia pergi untuk istri saya membeli buku. Bukunya masih tersimpan sampai sekarang di rak buku kami.

Siswa tidak akan ingat apa yang guru ajarkan, hanya apa yang guru teladankan...

UU BHP Part Four

>> Monday, March 23, 2009

Ini adalah bagian paling menarik dan saya pikir merupakan kekhasan UU BHP dari UU yang sejenis. Bagian ini, BAB IV - VI, memaparkan tentang kekayaan dan pendanaan BHP serta akuntabilitas dan pengawasannya.

Kekayaan BHP berasal dai kekayaan pendiri yang dipisahkan dan menjadi kekayaan BHP. Seluruh sisa hasil kegiatan yang berasal dari subsidi pemerintah tidak akan dikenakan pajak.

Secara umum pemerintah bertanggung jawab atas biaya penyelenggaraan pendidikan, baik itu pusat maupun daerah. Pemerintah pusat dan daerah akan menanggung 100% biaya operasional BHPP dan BHPPD, investasi, beasiswa dan biaya pendidikan peserta didik. Sedangkan untuk tingkat SMP hingga PT pemerintah hanya menggung 2/3-nya saja. Namun demikian, peserta didik juga dapat menanggung biaya pendidikan dengan catatan sesuai kemampuan orang tuanya dan sebanyak-banyaknya 1/3 dari seluruh biaya pendidikan. Khusus bagi BHPM, pemerintah hanya akan menanggung 100% biaya pendidikan dasar saja. Seluruh bantuan dana dari pemerintah tersebut berbentuk hibah. BHP dapat membentuk unit-unit usaha untuk membiayai kegiatan BHP dan semua laba yang diperoleh adalah untuk memajukan satuan pendidikan.

Adapun masyarakat dapat pula berperan serta membiayai BHP untuk biaya investasi, operasional, beasiswa atau bantuan pendidikan bagi peserta didik. Pembiayaan ini dapat berupa hibah, pinjaman, sumbangan, dll. Yang menarik adalah, setiap masyarakat yang memberikan dana bagi pendidikan akan menerima kemudahan atau insentif pajak.

BHP harus mengalokasikan dana untujk beasiswa bagi siswa yang kurang mampu atau siswa berprestasi secara akademik minimal 20% dari jumlah siswa di satuan pendidikan terkait. Seluruh pembiayaan besasiswa tersebut akan ditanggung oleh pemerintah pusat atau daerah.

Khusus mengenai pendirian unit usaha untuk kepentingan pembiayaan BHP memang sangat menimbulkan polemik. Salah satu yang bisa menjadi catatan adalah aksi demonstrasi mahasiswa mengenai akuntabilitas rektor IPB (IPA adalah salah satu dari lima PT yang berubah status menjadi Perguruan Tinggi Berbadan Hukum, yang tidak lagi dibiayai pemerintah). Saat itu, sang rektor memutuskan menggunakan lahan kampusnya di Jl. Pajajaran Bogor untuk menjadi sebuah pusat perbelanjaan. Setelah melewati polemik dan demonstrasi panjang, sekarang telah berdiri salah satu mal termewah di Bogor di lahan tersebut. Bahkan, baru-baru ini telah diresmikan sebuah Hotel bintang lima di samping mal tersebut. Alasannya adalah untuk pembiayaan operasional. Nyatanya, biaya SPP dan SKS, tetap naik...

Pada Bab VI mengenai kuntabilitas dan pengawasan, UU ini menyatakan bahwa setiap BHP dan satpen wajib menmberikan laporan tahunan baik secara akademik maupun non-akademik. Laporan akademik terdiri dari laporan penyelenggaraan pendidikan, penelitian dan pengabdian pada masyarakat. SEdangkan laporan non-akademik terdiri dari laporan manajemen dan keuangan. Laporan dari satuan pendidikan ditujukan kepada BHP, sedangkan laporan BHP ditujukan kepada Menteri, Gubernur, Bupati atau pendiri BHP bagi BHPM. Khusus untuk laporan keuangan, BHP harus menyatakan laporannya dengan mengikuti standar akuntasi yang berlaku dan melaporkannya kepada publik melalui pemuatan di media cetak dan papan pengumuman resmi di satuan pendidikannya. Laporan keuangan ini sebelumnya harus diaudit oleh akuntan publik.

Ini adalah hal yang baik, mengingat liberalisasi atau industrialisasi institusi pendidikan, maka pertanggung jawaban kepada publik sangat dituntut seperti layaknya perusahaan. Hal ini dikarenakan, BHP atau satuan pendidikan diberikan hak istimewa untuk memperoleh dan mengelola sumber keuangannya sendiri (khususnya sekolah negeri). Sedangakan bagi sekolah swasta, sebagian besar telah mempraktekan hal ini walaupun belum dilaporkan di media cetak atau papan pengeumuman sekolah. Pengawasan publik akan semaik meningkat, hal ini baik. Namum, bila tidak hati-hati dan bijaksana akan menimbulkan campur tangan yang tidak perlu dari pihak-pihak yang tidak mengerti, yang justru mengganggu proses pendidikan.

A Must Read Book for Christian Educator

>> Tuesday, March 17, 2009

Satu tulisan yang padat dan berisi tentang dasar dan fondasi pendidikan kristiani ini mengupas banyak hal mengenai bagaimana pendidikan secara umum bahkan ateis tidak dapat menjawab kebutuhan para anak didik dan bagaimana kekristenan menjawab kebutuhan itu secara utuh.

Satu hal menarik yang tertanam dalam benak saya setelah membaca buku ini adalah bahwa tidak ada pendidikan yang netral. Setiap pendidikan yang dijalankan berakar dari suatu fondasi filsafat dan akar prinsip-prinsip pendidikan tertentu. Sekolah negeri di Amerika cenderung berpaham liberalis-humanis, di Eropa juga mungkin demikian. Di China sekolah negerinya cenderung berpaham komunis-sosialis. Di Indonesia sendiri perpaduan antara agamis, otoriter dan sedikit humanis.

Sejarah telah membuktikan bahwa ada dua kutub yang terus menerus berperang hingga kini dalam domain pendidikan ini. Pendidikan berlatar kristiani dan humanis. Para peletak dasar lembaga pendidikan terkemuka saat ini berasal dari dua kutub tersebut: Harvard, Princeton, Yale, MIT, Stanford, Berkeley, dll.

Kumpulan essay dalam buku ini menyatakan bagaimana pendidikan kristen pada mulanya dan seharusnya dibangun. Apa pemikiran-pemikiran yang ditawarkan, baik dari sisi orientasi fundamental hingga apa peran dan tugas guru dalam kelas.

Buku ini layak menjadi bahan acuan para guru, administrator dan stake-holder dalam dunia pendidikan.