WELCOME! Salam Sejahtera! Senang sekali mendapat kunjungan dari Anda. Berikan komentar Anda di akhir setiap posting (klik link: write your comment here!), komentar Anda sangat berharga bagi saya. Terima Kasih. Please Enjoy...

HOT Search

HOT Translate

Showing posts with label artikel. Show all posts
Showing posts with label artikel. Show all posts

THE CENTER OF EDUCATION

>> Wednesday, December 10, 2014

Tulisan Acep Iwan Saidi (Kompas, 2 Desember 2014) dalam responnya terhadap pidato Mendikbud, Anies Baswedan pada hari Guru, memaknai pesan Mendikbud dengan memposisikan Guru sebagai pusat dalam pendidikan.

Guru merupakan bagian yang penting dalam suatu sistem pendidikan, bahkan menjadi sangat penting dalam keberadaannya di antara para anak didiknya. Guru, ia memberikan teladan di hadapan para siswanya, dari belakang ia memberikan dorongan dan di antara mereka ia memberikan membangun semangat, demikian kata Bapak Pendidikan Nasional, Ki Hajar Dewantara. Tanpa guru pemimpin-pemimpin bangsa ini tidak akan pernah lahir. Sungguh mulia panggilan seorang guru. Memang tepat langkah Mendikbud untuk menempatkan ulang profesi guru pada tempat yang seharusnya baik oleh pemerintah maupun masyarakat luas. Hanya saja, kita semua juga perlu berhati-hati mengenai posisi guru ini.

Walaupun guru merupakan faktor penting dalam pendidikan tetapi ia bukan merupakan pusat dalam pendidikan. Jika pusat berarti salah satu dari fokus, inti, induk atau pokok, maka tidaklah tepat menempatkan guru sebagai pusat dari pendidikan. Guru bukanlah fokus pendidikan, ia juga bukan inti pendidikan, bukan juga induk atau pokok pendidikan. Guru sangat penting, tetapi ia tidak seharusnya diposisikan sebagai pusat pendidikan. Sebuah sistem pendidikan yang berpusat kepada guru akan membawa arah pendidikan ke arah yang tidak semestinya.

Guru memang harus sejahtera. Kesejahteraan guru, terutama di daerah, memang belum mencukupi; tetapi tidak berarti kita harus memposisikan guru sebagai pusat pendidikan. Guru tidaklah pernah dididik untuk memiliki mental dilayani, melainkan melayani. Guru yang bekerja di bawah UMR tidak pernah mogok demi uang semata, tetapi ia tahu ada sejumlah anak di sana yang membutuhkan teladannya saat masa sulit menerpa. Guru tetap melayani. Inilah salah satu kemuliaan profesi guru. Namun sekali lagi, guru bukanlah pusat pendidikan.

Guru memang harus ditingkatkan kualitasnya, baik secara pedagogis maupun secara kepribadian. Namun sekali lagi guru bukanlah barang pabrikan yang perlu dicekoki banyak pelatihan dan pendidikan. Dengan segala keterbatasan, penulis sangat menaruh hormat dan keseganan yang besar pada guru yang penuh dengan keterbatasan di ujung pelosok negeri ini. Mereka mengajar dengan hati, bukan dengan metodologi terkini atau kecakapan dari bangku kuliah. Guru tetap mengabdi. Inilah juga kemuliaan profesi guru, tetapi hal ini juga tidak cukup untuk menjadikannya sebagai pusat pendidikan.

Guru memang harus dihargai. Pekerjaan memuliakan anak didik dari nothing into something hanya dapat dilakukan oleh seorang berhati guru dalam arti luas. Suatu saat dalam masa dewasa seseorang, ia akan kembali mengingat sentuhan, perkataan dan teladan gurunya. Tidak bisa tidak, ia akan mengenangnya sebagai sebentuk penghargaan pada gurunya. Seumur hidupnya sang guru melihat anak-anak didiknya menjadi orang yang berhasil, dan ia tetap di sana, mendidik hingga waktunya usai. Guru tetap memberi. Penghargaan kepada guru untuk menjadikannya sebagai pusat pendidikan, sekali lagi tidak tepat untuk diberikan kepadanya.

Dalam masa datang penulis berharap, baik pemerintah maupun masyarakat tidak menjadikan guru sebagai pusat dari pendidikan, tetapi cukup sebagai bagian penting dari sistem dan proses pendidikan. Mengapa? Karena guru juga manusia, ia masih bisa gagal, salah, menyimpang bahkan berdosa. Celakahlah bila kita menjadikan pusat pendidikan bangsa yang besar ini pada sebuah profesi yang notabene diemban oleh manusia. Pusat pendidikan tidak boleh gagal, salah, menyimpang bahkan berdosa; karena ia akan menjadi fokus, inti, induk atau pokok dari keseluruhan sistem dan proses pendidikan. Jadi apakah yang layak menjadi pusat suatu sistem pendidikan? Tidak bisa tidak, pusat pendidikan haruslah sesuatu yang tidak bisa gagal, salah, menyimpang dan berdosa; dan kita tidak dapat berdalih lagi bahwa semua atribut itu hanya melekat kepada yang Ilahi dan bukan yang manusiawi.

Sebagai bangsa yang majemuk, kita patut bersyukur dengan landasan negara kita, yang menjadikan Ketuhanan Yang Maha Esa sebagai salah satu sila dalam Pancasila. Hal ini jugalah yang perlu merasuk ke dalam filsafat, cara pandang, sistem dan praktik pendidikan di bangsa ini, menjadi pusat dari pendidikan di Negara Indonesia.

Di sinilah pekerjaan terberat Mendikbud dimulai, bagaimana landasan negara yang menjadi pengikat kemajemukan bangsa dapat diamalkan dengan baik dan tepat tanpa menimbulkan dampak negatif akibat kesalahkaprahan penerjemahan sila pertama itu. Peran guru sangat penting, namun peran Yang Ilahi adalah yang terpenting dan tidak tergantikan dalam sebuah sistem pendidikan. Pekerjaan rumahnya adalah: bagaimanakah pemerintah akan menerjemahkan hal ini di dalam Sistem dan Kurikulum Pendidikan dengan tepat?

Finland Phenomenon vs Kurikulum 2013

>> Wednesday, April 24, 2013

Telah beberapa tahun terakhir ini, arah jarum mata angin dunia pendidikan menuju ke salah satu negara di wilayah balkan, Finlandia.


Negara yang berpenduduk hanya 5,4 juta jiwa ini terlihat kecil dibanding negara Indonesia yang jumlahnya menjelang 250 juta jiwa. Sebagian besar warganya tinggal di wilayah selatan karena di bagian utara banyak wilayahnya ditutupi es dan bersuhu sangat dingin. Secara umum masyarakat dunia lebih mengenal Finlandia melalui produk telepon genggam kenamaan, NOKIA. Firma Pendidikan Pearson mendapuk Finlandia sebagai negara terbaik dalam bidang pendidikan (sumber), di antara negara-negara maju, sedangkan negara super power, Amerika Serikat berada pada urutan ke 17 dari 20 negara

Menurut Pearson, Finlandia memiliki nilai atau kepercayaan yang berbeda dalam menerapkan sistem pendidikannya, setidaknya terangkum dalam lima temuan berikut (sumber):
1. Tidak ada Resep Mujarab, sistem dijalankan secara sederhana.
2. Rasa hormat pada Guru
3. Budaya dapat diubah
4. Orang Tua bukanlah hambatan ataupun penyelamat dalam pendidikan
5. Mendidik untuk masa depan dan bukan hanya masa kini.

Beberapa hal penting dan menarik lainnya dari pendidikan di Finlandia adalah:
1. Hampir sama dengan Korea Selatan, yang berada pada urutan kedua terbaik, sistem pendidikan tidak didasarkan pada jumlah anggaran yang besar, tetapi pada kepercayaan dan kesepakatan yang besar bahwa pendidikan adalah hal yang sangat penting dan berlandaskan tujuan moral.
2. Tidak ada tes atau ujian standarisasi apapun bagi siswa.
3. Siswa diberikan dukungan sosial yang sangat memadai seperti makanan dan pelayanan kesehatan gratis.
4. Calon guru diberikan beasiswa penuh plus biaya hidup selama tiga tahun menempuh kuliah.
5. Sebanyak setengah waktu kerja yang dihabisan guru di sekolah adalah untuk pengembangan profesi, perencanaan pembelajaran dan bekerjasama dengan orangtua.
6. Dari 700 halaman panduan kurikulum nasional yang pernah ada, kini rujukan kurikulum bagi sekolah-sekolah tersebut hanya berisi 10 lembar saja.
7. Sekolah memiliki tingkat otonomi yang relatif rendah.
(sumber1, sumber 2)

Film dokumenter berikut ini mungkin dapat merangkum dan menjelaskan apa yang sedang sebenarnya terjadi di Finlandia:



Di tengah-tengah kekaguman negara-negara maju atas kemajuan pendidikan di Finlandia, sebuah negara di Tenggara Asia tengah bergulat untuk menebus kekacauan penyelenggaraan UN 2013. Proses tender pencetakan soal, distribusi naskah soal hingga kecurangan 'berjamaah' yang dilaksanakan di sekolah-sekolah di Indonesia menjadi sorotan media masa. Ujian Nasional, yang dilaksanakan pemerintah ini memiliki kekuatan yang luar biasa untuk meluluskan siswa ke jenjang berikutnya. Hal ini berdampak pada perilaku siswa peserta UN yang tiba-tiba menjadi religius, walaupun pada prakteknya tidak sedikit yang justru menunjukkan perilaku yang bertentangan.

Belum tuntas dengan UN, tentunya wacana kurikulum 2013 masih menjadi topik hangat. Saya telah membahasnya pada posting sebelumnya, ada banyak penerapan pelaksanaan kurikulum yang bertolak belakang dari apa yang dikerjakan di Finlandia, misalnya:
1. Jam belajar siswa. Di Finlandia, jam belajar relatif lebih pendek dari negara-negara maju lainnya (sumber). Pada kurikulum 2013, pemerintah menyatakan akan menambah jam belajar anak!
2. Pelatihan guru. Di Finlandia, seperti disebutkan di atas, kehidupan dan profesionalitas guru sangat dinomorsatukan dan terjamin. Di Indonesia, kehidupan guru, apalagi yang di pelosok sangat menyesakkan dada dan nyaris tidak mengikuti pelatihan-pelatihan yang bermutu dan relevan.
3. Mata pelajaran. PISA, sebuah lembaga assessment internasional menunjukkan Finlandia berada pada rangking ke 3 dalam kemampuan membaca (2009) dan Indonesia ke 57. Sedangkan Sains, Finlandia di urutan ke 2 dan Indonesia ke 58. Finlandia membedakan kedua mata pelajaran tersebut dan memiliki jam pelajarannya masing-masing. Indonesia? Bahasa Indonesia dan Sains digabung menjadi satu kesatuan. Setidaknya ada dua persoalan muncul dari keputusan ini: Guru yang mengajar harus seorang guru bahasa atau guru sains? kedua indikator penilaian yang digunakan bahasa atau sains? atau gabuangan keduanya? membingungkan...

;dan masih banyak hal lainnya.

Kalau anggota DPR rajin menyambangi negara-negara Eropa demi 'studi banding' untuk kasus pasal tentang santet, mengapa mereka atau kemdiknas tidak mengunjungi Fnlandia sebagai benchmark bidang pendidikan yang tentunya lebih bermanfaat.

Apa komentar Anda tentang hal ini?




POSITIVISM IN STUDENT'S REPORT CARD

>> Tuesday, December 4, 2012

Posting kali ini adalah sebuah paper yang saya kumpulkan untuk memenuhi tugas mata kuliah Filsafat Ilmu, semoga bermanfaat buat para pembaca...

KRITIK TERHADAP BENTUK LAPORAN EVALUASI HASIL BELAJAR PESERTA DIDIK DI INDONESIA

Abstrak
Tujuan dari tulisan ini adalah untuk menyelidiki laporan evaluasi hasil belajar siswa atau lebih dikenal dengan rapor. Tulisan ini akan mencari tahu apakah rapor di Indonesia ini telah secara efektif menjawab esensi dari peran evaluasi dalam sistem pendidikan dan apakah jawaban atas problematikanya. Pembahasan terlebih dahulu dilakukan dengan memberikan uraian atas pandangan yang mendasari Undang-undang dan aturan pemerintah lainnya mengenai tujuan evaluasi pendidikan di Indonesia. Selanjutnya dipaparkan mengenai persoalan yang terdapat dalam aturan-aturan tersebut yang berdampak pada bentuk rapor saat ini. Secara umum, format rapor yang digunakan saat ini dianggap belum mampu memenuhi esensi dari evaluasi secara utuh, karenanya rapor perlu diberikan pelengkap. Pelengkap rapor ini akan memberikan pemahaman lebih mendalam atas proses belajar siswa.

Pendahuluan
Di Indonesia, evaluasi atau penilaian dipahami sebagai salah satu bagian dari rangkaian proses belajar peserta didik atau siswa di sekolah (UU No.20/2003). Proses dan kemajuan belajar siswa dievaluasi melalui beragam alat evaluasi pada periode-periode tertentu di sekolah. Pendidik di sekolah atau guru melakukan evaluasi atas proses belajar siswa, mendokumentasikan dan melaporkan hasilnya kepada orang tua. Pada penghujung semester siswa akan menerima laporan hasil belajar atau rapor yang berisi pencapaian-pencapaian siswa selama satu semester pada mata pelajaran-mata pelajaran yang mereka ikuti.

Pada siswa kelas akhir di setiap jenjang, yaitu kelas 6, 9 dan 12; evaluasi juga diselenggarakan oleh pemerintah dalam bentuk Ujian Nasional. Evaluasi ini menentukan kelulusan siswa untuk masuk ke jenjang selanjutnya. Hasil evaluasi tahap akhir ini dituangkan ke dalam SKHTB atau Surat Keterangan Hasil Tamat Belajar.

Secara sepintas, sistem pelaporan evaluasi peserta didik yang dijalankan di Indonesia ini terlihat baik adanya. Namun bilamana dipahami lebih dalam, baik format rapor atau SKHTB yang digunakan saat ini mengandung persoalan yang menyangkut esensi dari tujuan evaluasi. Apakah format rapor dan SKHTB yang berisi angka-angka telah cukup mampu menjelaskan atau tepatnya memberikan makna pada proses pembejalaran yang telah siswa lalui.

Tulisan ini akan memaparkan dan menguraikan tujuan evaluasi dan bentuk pelaporan hasil evaluasi peserta didik di Indonesia. Setelah itu, kedua hal tadi akan direfleksikan secara epistemologis, dan apakah prinsip-prinsip pada metode hermeneutik dapat diterapkan dalam pelaporan hasil evaluasi peserta didik.

Positivisme
Sebelum membahas lebih jauh kepada esensi tujuan evaluasi peserta didik di Indonesia. Kita akan memahami sebuah pandangan epistemologis yang diduga kuat melatar belakangi tujuan evaluasi ini, yaitu Positivisme.

Positivisme merupakan pandangan yang lahir pada abad ke-19. Istilah ini diperkenalkan oleh seorang filsuf bernama Auguste Comte (1789-1857), yang berkebangsaan Perancis (Hardiman, 2011). Menurut Hardiman (2003), sederhananya Positivisme berpandangan bahwa pengetahuan adalah apa yang berdasarkan fakta objektif. Dengan kata lain, Positivisme sebenarnya merupakan paham empirisme yang diradikalkan, maksudnya paham ini tidak lagi bisa menerima hal-hal yang melampaui hal-hal yang faktual seperti seni, etika, spiritualitas, dll. Dalam semua wilayah pengetahuan, hal-hal yang faktuallah yang dapat disebut pengetahuan.

Dengan demikian terhadap ilmu-ilmu atau ‘wilayah’ sosial, positivisme juga menggunakan pengandaian dasar dari penelitian ilmu-ilmu alam seperti: pengambilan distansi penuh antara objek yang diteliti dan peneliti; objek merupakan fakta netral yang bersih dari unsur-unsur perasaan, moral, dll; kemampuan untuk memanipulasi objek; dan hasil manipulasi yang dapat dijadikan sebuah pengetahuan tentang hukum-hukum yang niscaya (Hardiman, 2003).

Dengan kata lain positivisme sangat menekankan sisi metodologis. Pengandaian-pengandaian dasar di atas oleh para positivis berusaha untuk diterapkan ke dalam ilmu-ilmu sosial. Metode ini digunakan agar ‘wilayah’ sosial dapat dikendalikan dan dimanipulasi sebagaimana diterapkan dalam ilmu-ilmu alam sehingga dapat menghasilkan pengetahuan yang bersifat teknis.

Kritik atas Positivisme
Dalam perkembangannya, Posistivisme mengalami kritik. Salah satu kritik epistemologis yang paling keras disuarakan oleh Juergen Habermas, seorang filsuf Jerman, melalui Teori Kririknya yang juga sebenarnya memiliki keterkaitan dengan metode Hermeneutik dan fenomenologi. (Hardiman 2003).

Untuk sampai pada metode hermeneutik, kita perlu memahami terlebih dahulu teori Wilhem Dilthey (1833-1911) mengenai ekspresi pemahaman dan ilmu-ilmu budaya. Dalam kritiknya ia menyampaikan bahwa  tidaklah mungkin ilmu atau ‘wilayah’ sosial dipahami dengan menggunakan metode ilmu-ilmu alam.

Hal ini dikarenakan ‘wilayah’ sosial memiliki kepentingan praktis dan berparadigma komunikasi yang berorientasi untuk pemahaman (Verstehen); sedangkan ‘wilayah’ alam memiliki kepentingan teknis dan berparadigma kerja yang berorientasi untuk keberhasilan. Oleh karenanya, ilmu-ilmu sosial, menurut Dilthey tidak dapat menggunakan metode ilmu-ilmu alam. Ia menyuguhkan metode Hermeneutik yang terinspirasi dari Friedrich Schleiermacher untuk diterapkan ke dalam ilmu-ilmu sosial (Hardiman, 2004).

Hermeneutik secara bebas diartikan sebagai penafsiran atas sebuah teks yang kurang jelas untuk mendapatkan pemahaman yang lebih jelas. Teks di sini bukan hanya dalam arti harafiah berupa tulisan, tetapi juga segala sesuatu yang bersinggungan dengan kehidupan sosial manusia, seprti fenomena-fenomena, lingkungan, situasi, hubungan, maupun manusia itu sendiri. Manusia cenderung melakukan penafsiran terus menerus dan cenderung untuk memberi makna, inilah yang disebut memahami(Hardiman, 2003).

Metode Hermeneutik ini mengalami perkembangan yang menarik, mulai dari hermeneutik romantis hingga kontemporer:

…Hermeneutik romantis Schleiermacher dan Dilthey berusaha mencapai identifikasi, sehingga menafsirkan tes merupakan tugas reproduktif: menghadirkan kembali seluruh perasan, pikiran, kehendak pengarang seasli mungkin lewat empati dan rekonstruksi. Gadamer memperlihatkan bahwa pandangan ini tidak tepat. Ia melihat menafsirkan diri mengalami perbenturan antara cakrawala kita dan cakrawala pengarang, dan dengan cara ini pemahaman kita diperkaya dengan unsur-unsur yang tak terduga.
... suatu teks perlu dipahami dalam cakrawala masa lampau dan masa depan demi manfaatnya untu masa kini. (Hardiman 2003)

Dengan demikian, dalam wilayah ilmu-ilmu sosial akanlah lebih tepat bilamana metode hermeneutik ini diterapkan untuk memperoleh pengetahuan, dalam hal ini makna.

Positivisme dalam Tujuan Evaluasi Peserta Didik di Indonesia
Dengan memahami adanya pandangan positivisme beserta problematikanya dalam ilmu sosial, termasuk pendidikan, sekarang dapatlah kita melihat lebih jeli tentang tujuan evaluasi peserta didik di Indonesia. Pemahaman akan tujuan evaluasi ini akan berdampak pada sistem pelaporannya.

Berdasarkan Permendiknas No. 20 tahun 2007 pada Lampiran bagian F dan G, praktek evaluasi yang berjalan saat ini setidaknya tergambar sebagai berikut: peserta didik yang telah mengalami proses pembelajaran di dalam kelas dalam rentang waktu tertentu akan dievaluasi proses belajarnya oleh sang guru dengan menggunakan berbagai alat tes. Mulai dari kuis, pekerjaan rumah, tugas, ulangan harian, ulangan tengah semester hingga ulangan akhir semester; bilamana ada, juga ulangan kenaikan kelas atau ujian nasional.

Pada akhirnya didapatlah hasil belajar siswa yang kemudian dilaporkan dalam berbagai bentuk pelaporan kepada orang tua. Secara tipikal, bentuk laporan evaluasi hasil belajar atau rapor siswa mengandung angka-angka atau nilai-nilai pencapaian per mata pelajaran.
Sesuai dengan UU no.20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Bab XVI, bagian kesatu, pasal 57-59 mengenai evaluasi, di sana tertera kebijakan mengenai Penyelenggaraan Evaluasi bagi peserta didik:
 
Pasal 57
(1) Evaluasi dilakukan dalam rangka pengendalian mutu pendidikan secara nasional sebagai bentuk akuntabilitas penyelenggara pendidikan kepada pihak-pihak yang berkepentingan.
(2) Evaluasi dilakukan terhadap peserta didik, lembaga, dan program pendidikan pada jalur formal dan nonformal untuk semua jenjang, satuan, dan jenis pendidikan.
Pasal 58
(1) Evaluasi hasil belajar peserta didik dilakukan oleh pendidik untuk memantau proses, kemajuan, dan perbaikan hasil belajar peserta didik secara berkesinambungan.
(2) Evaluasi peserta didik, satuan pendidikan, dan program pendidikan dilakukan oleh lembaga mandiri secara berkala, menyeluruh, transparan, dan sistemik untuk menilai pencapaian standar nasional pendidikan.
Pasal 59
(1) Pemerintah dan Pemerintah Daerah melakukan evaluasi terhadap pengelola, satuan, jalur, jenjang, dan jenis pendidikan.
(2) Masyarakat dan/atau organisasi profesi dapat membentuk lembaga yang mandiri untuk melakukan evaluasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 58.
(3) Ketentuan mengenai evaluasi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah.


Dalam kesempatan ini, kita akan menyoroti dua pasal pertama, yaitu pasal 57 dan 58, karena kedua pasal ini berhubungan langsung dengan sistem evaluasi dan bentuk pelaporannya.

Dari kedua pasal di atas setidaknya kita dapat mengetahui tujuan evaluasi. Evaluasi bertujuan mengandalikan mutu pendidikan secara nasional (57 ayat 1) dan untuk memantau proses, kemajuan dan perbaikan hasil belajar peserta didik (58 ayat 1).

Dengan mencermati produk-produk perundangan yang menyangkut sistem evaluasi, baik UU No.20/2003, PP No.19/2005 atau Permendiknas No. 20/2007, aturan-aturan ini cenderung merujuk kepada ciri-ciri pandangan positivistik:
1.    Tujuan Evaluasi: evaluasi belajar siswa dimanfaatkan untuk mengendalikan mutu pendidikan.
2.    Bentuk Laporan Evaluasi: Bentuk pelaporan evaluasi hasil belajar siswa (rapor atau SKHTB) yang direduksi pada dimensi kognitif dan diukur secara kuantitatif pada setiap mata pelajaran.
Pada kedua temuan di atas, telihat jelas, bahwa baik tujuan evaluasi belajar maupun bentuk laporan evaluasi belajar sangat dekat dengan metodologi yang digunakan pada ilmu-ilmu alam (Eklaren) dibandingkan ilmu-ilmu sosial (Verstehen).

Hasil evaluasi lebih condong digunakan untuk bagaimana mengendalikan mutu pendidikan daripada menafsirkan dan memahami apa yang sedang terjadi pada peserta didik. Hal ini sangat dimungkinkan karena bentuk laporan evaluasi terdiri atas angka-angka yang ‘mewakili’ hasil dari proses belajar siswa. Dengan kata lain evaluasi lebih berorientasi pada pemanfaatan hasil dari pada proses belajar.

Melalui rapor, hasil belajar siswa direduksi kepada ranah kognitif yang sebenarnya tidak mampu mencerminkan siswa dan kemampuan siswa yang seutuhnya.  Demikian juga pada hasil UN, keberhasilan siswa melampaui suatu jenjang pendidikan diukur melalui suatu alat tes di akhir jenjang pendidikannya. Orientasi pada keberhasilan adalah salah satu ciri pandangan positivisme.

Alternatif Pendekatan dalam Pelaporan Evaluasi Hasil Belajar Siswa
Penjelasan pada bagian ini tidak akan berujung pada saran perombakan total tujuan sistem evaluasi maupun penghapusan bentuk laporan hasil evaluasi belajar yang selama ini telah ada. Namun bagian ini akan lebih menunjukkan bahwa tujuan dan bentuk laporan hasil evaluasi siswa saat ini belum cukup dan perlu mengalami perbaikan.

Tujuan evaluasi yang bermuara pada peran pengendalian dan laporan evaluasi hasil belajar siswa (rapor) yang tereduksi hanya di ranah kognitif belum cukup untuk menjelaskan secara memadai perkembangan dan kemajuan pembelajaran siswa. Padahal informasi mengenai perkembangan dan kemajuan siswa sangatlah penting dalam proses evaluasi. Informasi ini akan menolong baik siswa maupun orangtua dan guru mengenai hal apa yang masih perlu diperbaiki dan hal yang perlu mengalami perhatian khusus.

Sudah selayaknya  rapor memberikan penjelasan yang lebih utuh dari rapor tradisional yang hanya berupa angka atau huruf. Angka dan huruf tidak mampu menjelaskan perkembangan dan kemajuan siswa, ia hanya menjelaskan pencapaian akhir belajar siswa. Tidak salah jika sekarang ini tujuan evaluasi adalah untuk pengendalian, dalam hal ini pengendalian atas hasil belajar siswa atau nilai; karena tanpa data kuantitatif tersebut, pengendalian akan sulit untuk dilakukan.

Satu hal penting yang dilupakan untuk dipahami adalah, evaluasi bukan semata-mata ditujukan untuk fungsi pengendalian, tetapi juga sebagai alat untuk memahami perkembangan dan kemajuan siswa dalam proses belajarnya. Pemahaman terhadap proses belajar siswa dari pada pengendalian hasil belajar siswa akan memberikan keuntungan yang besar baik bagi siswa maupun orangtua dan guru. Setidaknya, tindakan remediasi dan perbaikan dapat dilakukan dengan tepat sasaran sehingga siswa dan orangtua dapat mengambil langkah-langkah yang diperlukan demi kemajuan dan perkembangan belajar siswa.

Di sinilah peran metode hermeneutik menjadi sangat penting dipahami oleh guru. Siswa sebagai teks, perlu dipahami secara menyeluruh melalui komunikasi dan penafsiran atas tingkah laku maupun sikap yang ditunjukkan di dalam kegiatan pembelajaran, atau seperti yang dikatakan Dilthey sebagai empati dan rekonstruksi. Guru perlu menguasai teori-teori belajar dan psikologi perkembangan dasar yang diperlukan untuk memberikan laporan yang mendekati kondisi sebenarnya. Bentuk laporan tidak lagi diwakilkan dalam bentuk angka atau huruf, tetapi bersifat naratif. Pada rapor ini akan dilaporkan perkembangan dan kemajuan siswa. Grant Wiggins (1994) menamakannya Rapor Longitudinal.

Rapor Longitudinal
Grant Wiggins, seorang pakar assessment menyatakan pentingnya unsur perkembangan (growth) dan kemajuan (progress) di dalam bentuk rapor longitudinal:

Progress is an objective measure of performance gains made over time on a standard-referenced longitudinal scale. It is measured “backwards” from a desirable destination—the standard... Growth, by contrast, represents a judgment about whether current performance falls short of, meets, or exceeds our expectations for that particular student at that time. In a sense we look to the past, not forward to the destination (standard). (Wiggins, 1994)

Oleh karena Rapor Longitudinal ini berisi perkembangan dan kemajuan, maka bentuk rapor tidaklah mungkin hanya berisi angka dan huruf, tetapi harus lebih banyak berisi narasi mengenai perkembangan dan kemajuan siswa. Di sinilah peran guru sebagai pencatat sekaligus penafsir proses pembelajaran siswa secara tidak langsung menggunakan metode hermeneutik.
Metode hermeneutik, yang diwujudnyatakan pada pendekatan kualitatif dalam pelaporan evaluasi hasil belajar siswa ini dipertegas kepentingannya oleh Jon E. Travis:

What is needed, essentially, is a new paradigm of student assessment that incorporates the four criteria of knowledge, skills, behavior, and attitudes and emphasizes the multiple measurement approach, which is basic to sound evaluation and qualitative research. (Travis, 1996)

Lebih rincinya, Wiggins menambahkan tentang apa yang harus dilaporkan dalam Rapor Longitudinal:

What should we report ? We should relate disaggregated achievements, progress, intellectual character, and specific successes or weaknesses that are highly illustrative of overall performance. “Disaggregated” means, above all else, not using a single grade, score, or description to characterize performance in an entire subject area. Rather, what is wanted, … is the breakdown of (inherently) complex performance into its many subelements, similar to what we find on the baseball card. (Wiggins, 1994)

Singkatnya, rapor tidak lagi diisi oleh angka atau huruf, tetapi juga penjelasan mendetail atas pencapaian siswa. Bahkan ia menambahkan, perlunya dilampirkan hasil kerja, rubrik atau karya tulis siswa dalam bentuk portofolio:

Is a report card self-sufficient? No, it is not. Grades are symbols for verifiable performance and product evaluations. Thus, for the report card to be maximally informative, it must be backed up with work samples, rubrics, anchor papers, and commentary. (Wiggins, 1994)

Dengan dilengkapinya rapor dengan laporan naratif dan portofolio, orangtua dan siswa tidak lagi terpaku pada hasil akhir tanpa mendapatkan informasi untuk merefleksikan dan mengevaluasi proses pembelajaran sedang yang terjadi. Orangtua dan siswa dapat dengan lebih mudah dan lebih tepat dalam menilai dan mengambil keputusan setelah mendapatkan laporan naratif atas proses pembelajaran yang terjadi di kelas. Angka-angka yang muncul di dalam rapor tidaklah menjadi sulit lagi untuk ditafsirkan, karena terdapat laporan naratif sebagai pendamping yang menjelaskan mengenai proses pembelajaran yang terjadi pada siswa sehingga mendapatkan hasil akhir seperti demikian.

Bilamana rapor siswa berisi laporan naratif atas perkembangan dan kemajuan siswa, maka tujuan evaluasi tidaklah perlu sesempit peran pengendalian mutu pendidikan saja. Tujuan sistem evaluasi hasil belajar siswa dapat dikembangkan kepada peran pemahaman mutu siswa itu sendiri.

Kesimpulan
Tujuan evaluasi yang tercantum pada undang-undang mengenai Sistem Pendidikan Nasional bersifat positivistik, hal ini setidaknya terlihat dari tujuan untuk mengendalikan mutu pendidikan. Oleh karenanya, bentuk pelaporan hasil belajar siswa terwujud hanya dalam bentuk angka dan huruf. Rapor ini tidak memadai untuk digunakan sebagai alat memperbaiki dan meremediasi proses belajar siswa.

Proses Belajar siswa meliputi perkembangan dan kemajuannya dalam kegiatan pembelajaran di kelas. Hal ini hanya dapat dilaporkan dalam bentuk naratif melalui metode hermeneutik. Guru berempati dan merekonstruksi tingkah laku dan sikap siswa dalam kegiatan pembelajaran, dan mendokumentasikannya secara naratif. Laporan naratif ini dirangkum dalam Rapor Longitudinal, yang tidak hanya melaporkan pencapaian siswa, tetapi juga proses belajarnya.

Tujuan evaluasi yang tidak hanya berorientasi pada pengendalian mutu pendidikan tetapi pemahaman mutu siswa, akan berujung pada bentuk laporan evaluasi hasil dan proses belajar siswa.

Bibliografi
•    Hardiman, F. Budi. Kritik Ideologi. Penerbit Kanisius. Yogyakarta. 2004.
•    Hardiman, F. Budi. Melampaui Moderintas dan Positivisme. Penerbit Kanisius. Yogyakarta. 2003.
•    Hardiman, F. Budi. Pemikiran-pemikiran yang Membentuk Dunia Modern. Penerbit Erlangga. Jakarta. 2011.
•    LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL. NOMOR 20 TAHUN 2007 TANGGAL 11 JUNI 2007: STANDAR PENILAIAN PENDIDIKAN.
•    Travis, Jon E.. Meaningful Assessment. The Clearing House, Vol. 69, No. 5 (May - Jun., 1996), pp. 308-312. ylor & Francis, Ltd. 1996.
•    UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2003: SISTEM PENDIDIKAN NASIONAL.
•    Wiggins, Grant. Toward Better Report Cards. Educational Leadership, October 1994, Volume 52, Number 2, Pages 28-37. ASCD. 1994.
•    Wiggins, Grant. Defining Assessment. www.edutopia.org/grant-wiggins -assessment. Edutopia. 2002


Left and Right Brain: We've Been Deceived!

>> Monday, October 8, 2012

Sejak awal tahun 200-an, saya adalah salah satu penganut teori peran belahan otak kiri dan kanan. Hal ini dimulai dari buku yang saya baca Quantum Learning karangan Bobbi DePorter yang diterbitkan oleh Kaifa. Teori ini menyatakn bahwa otak kiri lebih berperan pada fungsi logika dan otak kiri pada fungsi kreatif. Tidak hanya sampai menjadi penganut yang setia, tidak sedikit pelatihan yang saya pernah berikan kepada siswa atau orang dewasa mengenai topik ini dalam hubungannya dengan pendidikan dan pembelajaran. Saya sangat menyukai topik ini, bahkan boleh dikatakan cukup fanatik. Saya membaca buku-buku, mendengarkan seminar-seminar dan mengumpulkan artikel-artikel yang berhubungan dengannya, sungguh sesuatu yang menyenangkan mempelajarinya. Hingga suatu saat...

Saya membaca buku karangan Margaret E. Gredler, Learning and Instruction dan saya menjadi sangat terkejut. Pemahaman saya mengenai kerja otak belahan kiri dan kanan yang sangat populer itu, ternyata hanyalah sebuah isapan jempol belaka, atau dalam dunia neurologi disebut neuromythology, sebuah mitos! Tapi, mengapa bisa sedemikian populernya teori peran belahan otak ini?

Ternyata, beginilah kisahnya,
Pada tahun 60-an dilakukan penelitian terhadap pasien pengidap epilepsi yang mengalami putusnya corpus callosum (jaringan yang menghubungkan otak belahan kanan dan kiri). Peneliti ini akhirnya hanya dapat memberikan rangsangan kepada salah satu belahan otak saja pada saat yang sama. Pada akhirnya mereka menyimpulkan bahwa dua belahan otak ini bertindak secara independen untuk proses-proses tertentu, yang pada penelitian lanjutan digolongkan dengan otak kiri untuk memproses logika dan otak kanan proses kreatif. Hasil ini kemudian dikuatkan oleh media yang terlalu menyederhanakan dan menggeneralisasi temuan-temuan ini secara sembrono.

Dalam forum-forum neurosains yang disponsori oleh Organization for Economic Co-operation and Development, keyakinan atas temuan-temuan sembrono ini disebut neuromythologies atau sebuah mitos belaka. Nah, untuk menjawab pertanyaan mengapa teori belahan otak ini menjadi sangat populer adalah karena kesederhanaan teori ini dan pengaruh media yang meledakkan hasil temuan.

Dengan adanya informasi baru mengenai teori ini, saya terus terang harus 'bertobat' dari pengertian saya yang salah. Sebagai bukti keinsyafan, saya sedang mempelajari lebih jauh mengenai akibat dari adanya belahan otak ini dan hubungannya terhadap pembelajaran. Hingga saat ini setidaknya saya menemukan dua hal:

1. Michael S. Gazzaniga dari Harvard University, menemukan bahwa belahan otak kiri cenderung bersifat menemukan dan menafsirkan sedangkan otak kanan bersifat meyatakan kebenaran dan harafiah:
"the left hemisphere is "inventive and interpreting", whilst the right brain is "truthful and literal."
2. Elkhonon Goldberg, seorang neuroscientist menjelaskan bahwa asosiasi antar belahan dalam hubungannya dengan bahasa adalah relasi antar belahan bersifat dinamis, tugas-tugas baru ditangani otak kanan dan kontrol beralih ke otak kiri setelah tugas-tugas itu menjadi sebuah rutinitas. Lebih jauh ia mengungkapkan bahwa perbedaan biokimia dan struktural antara kedua belahan tidak cukup untuk menyimpulkan ada yang berbeda di antara keduanya.

Dengan demikian sebaiknya teori peran belahan otak yang independen (kanan dan kiri) sudah saatnya dikuburkan dengan melakukan upacara yang sehikmat mungkin.Karena setidaknya teori ini telah berhasil menghipnotis jutaan orang dan ribuan pendidik untuk mengajarkan pada anak-anak, termasuk saya...


Quo Vadis UKG?

>> Wednesday, October 3, 2012

"...peserta UKG 2010 harap mengambil nomor peserta tgl 1 Okt ..."
Itu adalah sepenggal bunyi sms yang saya terima dari rekan saya sehari sebelumnya. Teman saya ini juga memberitahukan bahwa saya akan menempuh Ujian Kompetensi Guru pada tanggal 2 Oktober.

Pada tanggal yang telah ditentukan, saya bersama-sama lima rekan lain berangkat ke lokasi pelaksanaan UKG. Perjalanan tidak terlalu lama, mungkin sekitar 30 menit sampai di lokasi. Berduyun-duyun, kami segera menuju ruangan yang ditunjuk. Setelah sejenak mengalami kebingungan, kami mendapat pembertahuan bahwa ujian akan dilangsungkan 1,5 jam lagi, mengingat peserta gelombang satu baru memulai ujiannya 30 menit yang lalu dikarenakan gangguan pada server.

Kami akhirnya memutuskan untuk mencari makan dahulu. Kami berjalan pergi untuk makan di warteg dekat lokasi pelaksanaan UKG. Kira-kira 1 jam kemudian kami kembali di depan ruangan dan kami harus menunggu 30 menit lagi untuk dapat masuk rungan. Kami mengisi waktu dengan mengobrol sesama rekan dan kolega dari sekolah lain.

Tibalah akhirnya saat yang ditunggu-tunggu, akhirnya kami dipersilahkan masuk ke dalam ruangan. Menjelang masuk, salah satu peserta yang baru saja ujian mengeluhkan proses ujian yang tidak sesuai harapannya. Kami juga diberitahu bahwa nilai minimal yang harus diraih adalah 40, yang bagi saya cukup aneh: >40 = LULUS?

Segera setelah kami duduk di hadapan komputer, kami diminta untuk berlatih terlebih dahulu. Dengan bantuan operator, kami dibimbing untuk melakukan latihan menggunakan aplikasi. Aplikasi cukup sederhana dan mudah untuk dilakukan. Setelah latihan dirasa cukup, akhirnya saya memutuskan untuk memulai ujian. Dari sinilah, hal yang menarik terjadi...

Dimulai dengan pengisian profil peserta ujian, saya sendiri relatif mengisinya dengan mudah, walaupun ada sedikit kebingungan di awal, namun pengisian data relatif lancar, sehingga ujian dapat dimulai. Namun, salah seorang teman saya yang S-1 terpaksa harus mengisi data sebagai lulusan D-3 supaya ia dapat melanjutkan pada soal ujian.

Soal pertama saya dapat jawab dengan baik, namun pada soal kedua dan sebagian besar soal seterusnya saya menemukan kesulitan. kesulitan ini bukan karena saya tidak mampu menjawab soal, melainkan karena soal TIDAK ADA! Yang terdapat di layar hanyalah pilihan jawaban! dari 80 soal, 43 soal tidak lengkap atau tidak ada dan 2 soal tidak ada pertanyaannya. Pengawas dan operator di ruang UKG menyarankan untuk kami tetap menjawab alias melakukan tebak kancing! Apa yang saya alami ini ternyata dialami juga oleh semua peserta UKG di ruangan itu. Salah seorang teman saya lebih parah lagi, pada layar tidak terdapat soal dan tidak terdapat jawaban!

Saya segera menyelesaikan ujian sesegera mungkin dengan menebak jawaban. Sementara saya menebak, sang pengawas berulang kali menelpon seseorang (mungkin petugas server atau panitia UKG) menyampaikan hal-hal yang terjadi di ruangan kami. Alhasil saya mendapat nilai 37! Nilai yang sangat memalukan. Nilai teman-teman saya tidak ada yang melampaui 62. Akhirnya kami pulang sambil menertawakan semua hal yang terjadi selama UKG...

...

"Uji Kompetensi Guru (UKG) bertujuan untuk pemetaan kompetensi, sebagai dasar kegiatan pengembangan keprofesian berkelanjutan (continuing professional development) serta sebagai bagian dari proses penilaian kinerja untuk mendapatkan gambaran yang utuh terhadap pelaksanaan semua standar kompetensi."
Begitulan bunyi tujuan diadakannya UKG, kata Bpk.Syawal Gultom.

Bagi saya, dari apa yang saya dan teman-teman di ruang pelaksanaan UKG alami, dua tujuan UKG ini GATOT, alias gagal total! Secara ilmiah, dari ciri-ciri ujian yang baik: Validitas, Reliabilitas, Objektifitas, Praktikabilitas dan Ekonomis; tidak terpenuhi.Dan secara finansial, pelaksanaanya telah merugikan negara setidaknya Rp 50 miliar:

"Sekretaris Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pendidikan dan Penjaminan Mutu Pendidik (Kepala BPSDMP-PMP) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) menyampaikan, anggaran yang dikeluarkan pemerintah untuk menggelar Uji Kompetensi Guru (UKG) mencapai Rp 50 miliar."

Saya juga menilai, pelaksanaan UKG ini terkesan terburu-buru dan dipaksakan. UKG dilaksanakan tanpa kesiapan yang matang dan bermuara pada hasil yang sangat tidak memadai untuk memetakan kompetensi guru dan penilaian kinerja. Hal ini menjadi bumerang bagi Kementrian Pendidikan Nasional, yang sedang diuji kompetensi dan kinerjanya melalui pelaksanaan UKG ini.

Lebih jauh dari itu, saya juga mempertanyakan validitas penyelenggaraan UKG dalam bentuk menjawab soal pilihan ganda. Saya berpikir, pemetaan kompetensi guru tidak dapat dilakukan dengan menjawab soal pilihan ganda, tetapi ada hal yang jauh lebih luas dari itu. Analoginya, saya tidak bisa menilai kompetensi bersepeda seseorang dengan meminita orang itu menjawab soal pilihan ganda...

Quo Vadis UKG?


FOOD MATTERS

>> Wednesday, March 7, 2012

Kanker dapat disembuhan! Penyakit jantung dapat dipulihkan sempurna! demikian jaminan yang disampaikan oleh para nara sumber dalam film dokumenter asal Australia ini. Film Food Matters yang berdurasi 80 menit ini sarat dengan fakta-fakta yang hampir tidak dapat dipercaya, seperti ternyata penyembuhan kanker telah dan dapat disembuhkan sejak tahun 1930-an hanya dengan mengkonsusi vitamin C berdosis tinggi!

Saya sendiri hampir tidak bisa mempercayai fakta-fakta yang dituturkan di sini, it's too good to be true... Jika memang kenyataannya adalah demikian, betapa pemerintah dan semua kalangan yang berkepentingan dapat mengambil manfaat atas penemuan dan berita ini tidak hanya bagi kepentingan orang dewasa sekrang, tetapi juga generasi yang akan datang, yaitu anak-anak kita.

Berbeda dengan cara-cara penyembuhan alternatif yang banyak kita dengar di media Indonesia saat ini, sesungguhnya film ini tidak melulu menyodorkan cara menyembuhkan penyakit, tetapi lebih kepada bagaimana makanan mempengaruhi kesehatan seseorang dan mengapa banyak hal mengenai manfaat nutrisi selama ini ditutupi oleh propaganda pabrik obat secara internasional! Judul film ini juga dijadikan nama aktivitas yang mereka lakukan sebagai sebuah lembaga konsultasi kesehatan.

'You are what you eat' (Anda adalah apa yang Anda makan) demikian tagline yang diusung oleh film yang diproduksi tahun 2008 ini. Dalam film ini ditunjukkan pembongkaran konspirasi pabrik obat senilai US$ 0.5 trilliun di dunia dan mengapa setelah 75 tahun lebih para ilmuwan tidak dapat menemukan cara menyembuhkan penyakit mematikan seperti kanker, jantung, diabetes atau depresi. Para penggiat Food Matters ini berpijak pada pernyataan Bapak Kedokteran Hipokrates (400 SM): Let thy food be thy medicine (Biarkan makanan Anda menjadi Obat Anda). James Colquhoun, salah satu produser dan sutradara film ini juga membukakan fakta-fakta ilmiah tentang bagaimana nutrisi dapat meningkatkan kualitas hidup dan bagaimana nutrisi dapat menangkal serta menyembuhkan penyakit-penyakit kronis dengan tingkat keberhasilan 100% dengan biaya murah! Bandingkan dengan tingakat keberhasilan usaha penyembuhan kanker yang hanya 30% dengan biaya yang sangat tidak terjangkau.

Film ini diawali dengan fakta bahwa makanan yang kita konsumsi saat ini telah mengalami defisiensi atau pengurangan kualitas. Tidak hanya karena proses pengolahannya, yang mengurangi setidaknya 50% kandungan nutrisi, tetapi juga dari kualitas makanan mentah yang hanya tinggal 40% saat berada di dapur rumah kita. Dengan kata lain, nutrisi yang terserap oleh tubuh kita kurang dari 20% dari kandungan sebenarnya. Belum lagi ditambah dengan resapan pestisida dan racun lainnya yang melekat dalam makanan mentah itu.

Fakta lain yang diungkapkan adalah hampir tidak pernah dokter meresepkan nutrisi dalam resepnya saat kita berobat. Hal ini terjadi karena nutrisi atau vitamin tidak pernah dipercaya oleh dokter dan sebagian besar masyarakat sebagai penyembuh penyakit. Hal ini diperparah oleh berbagai penelitian, jurnal ilmiah dan artikel media bahwa vitamin yang terlalu banyak dikonsumsi akan mematikan. Hal ini merupakan kesalahan kata Andrew Saul, PhD., salah seorang narasumber yang diwawancarai dalam film ini. Di Amerika serikat sendiri sebanyak hampir 2,5 juta orang (kira-kira 160.000 orang/tahun) meninggal akibat efek samping atau reaksi obat-obatan dan hanya 10 orang (kira-kira 1/2 orang/tahun) meninggal karena vitamin dalam 23 tahun terakhir!. Perlu diperhatikan, obat-obatan ini dikonsumsi sesuai aturan dan anjuran dosis yang tepat.

Hal lainnya adalah dikarenakan hanya kurang dari 6% dokter yang menerima pelatihan dan pembelajaran mengenai nutrisi. Tidak mengherankan tentunya mengapa dokter meresepkan obat dan bukan nutrisi/vitamin. Yang lebih mencengangkan adalah konspirasi pabrik obat! Mereka membungkam setiap penelitian dan program yang berhubungan dengan penggunaan nutrisi atau vitamin bagi pasien. Mengapa? Bayangkan seseorang berpenyakit kanker disembuhkan secara total dalam waktu hanya 3 bulan hanya dengan memasukan vitamin C dosis tinggi ke dalam tubu melalui selang infus. Biayanya sangat rendah, usahanya sangat mudah, semua oarang bisa melakukannya. Bandingkan dengan kerumitan proses kemoterapi, radiasi atau operasi yang memakan biaya ratusan juta hingga miliran rupiah! Pabrik obat akan kehilangan pemasukan terbesarnya!

Adapun pernah dipublikasikan bahwa vitamin tidak berguna atau berbahaya bagi tubuh adalah lebih tidak masuk akal kata mereka. Andrew Saul, PhD. meminta mahasiswanya untuk mencari bahaya dari vitamin bagi tubuh selama lebih dari 30 tahun dan tidak menghasilkan apa-apa. Teori yang mengatakan vitamin tidak terlalu bermanfaat dalam menyembuhkan penyakit dikarenakan sampel penggunaan dalam penelitian tidak menggunakan dosis tinggi.

Film ini juga menuturakan cara-cara yang amat sederhana dan jauh dari biaya tinggi untuk mengatasi penyakit jantung, diabetes, depresi dan yang lebih penting bagaimana menjaga tubuh tetap sehat. David Wolfe, nara sumber lainnya memberikan pencerahan mengenai pentingnya mengkonsumsi makanan organik mentah yang dijuliki superfood. Biji buah Kakao misalnya, biji yang dikonsumsi mentah ini memiliki kandungan antioksidan dan mineral tertinggi dari jenis makanan lain. Bagaimana dengan detoksifikasi atau pengeluaran racun dari tubuh? Ternyata hanya dengan meminum 1-2 liter air di pagi hari sebelum makan akan melenyapkan segala racun yang menempel di dalam hati, racun akan dikeluarkan melalui urin. Prof. Ian Brighthope menambahkan dengan mengkonsumsi 60 mg vitamin C per hari membuat tubuh menjadi lebih kuat dalam menangkal berbagai penyakit.

Biarkan Makanan Anda Menjadi Obat Anda. Saat Anda sekedar pilek atau demam, Mengapa Anda memilih obat dan bukan nutrisi/vitamin untuk menangkalnya? Ini adalah tantangan jaman ini, dimana makanan bukanlah lagi menjadi makanan tetapi gaya hidup. Fakta-fakta dalam film ini tidak hanya sulit dipraktekan tapi juga mungkin sulit diterima, tapi layak untuk dicoba...

Kill Your Children 'Sweet'-ly!

>> Thursday, January 26, 2012

Judul di atas memang provokatif, saya sengaja menuliskannya, karena ini adalah propaganda dari hampir semua industri makanan di jaman ini. Walau mereka tidak menyatakannya secara langsung, tapi ini adalah fakta yang sebenarnya: mereka ingin membunuh pelan-pelan anak Anda dengan cara yang 'manis'!

Sebuah media cetak nasional kemarin menerbitkan suplemen mengenai gizi anak. Hal ini amat langka dilakukan oleh media, karena topiknya kurang menggigit dan menjual. Namun saya sangat mengapresiasi penerbitan ini; dikarenakan isu nutrisi, khususnya pada anak, di negeri ini telah kalah pamor dengan berita-berita korupsi, politik dan lainnya.


fattest man in the world, 600kg
Ada apa dengan nutrisi anak di Indonesia? Saya akan mulai dari fakta berikut: fenomena kebanyakan negara maju adalah berkembangnya populasi orang-orang obesitas atau kelebihan berat badan. Menurut Wikipedia, Seseorang yang memiliki berat badan 20% lebih tinggi dari nilai tengah kisaran berat badannya yang normal dianggap mengalami obesitas. Misalnya, anak usia 10 tahun normalnya memiliki berat badan sekitar 30 kg, namun bila ia memiliki berat 40kg ia sudah tergolong memiliki obesitas ringan.


Nah, gejala anak-anak obesitas mulai muncul di kota-kota besar di Indonesia, padahal negara ini belum dikategorikan negara maju! Mengapa bisa demikian? Ini karena pola makan, gaya hidup dan sikap konsumtif sebagian mansyarakat kita yang belum disiplin. Gempuran makanan yang dibumbui gengsi dengan mudah mempengaruhi sebagian masyarakat. Saya teringat ketika sebuah gerai fast food terkemuka dibuka di dekat tempat saya tinggal. Gerai itu menawarkan diskon 50% untuk semua pengunjung yang membeli salah satu produknya,, sontak antrian panjang mengular di gerai tersebut sepanjang hari pertamanya buka di wilayah kami. Di Indonesia sendiri, menurut data tahun 2004, jumlah obesitas para pria 9% (sekitar 19 juta jiwa), sedangkan wanita 11% (sekitar 23 juta jiwa); jumlah ini terus meningkat setiap tahun. Sedangkan pada tahun 2007, penduduk diatas 15 tahun yang mengalami obesitas mencapai 19% (sekitar 30 juta jiwa)

Mengapa obesitas jadi sorotan para pakar nutrisi dan medis? Obesitas bisa dikatakan sebagai 'pintu' masuk penyakit-penyakit berbahaya seperti diabetes, darah tinggi, gangguan penafasan dan jantung, bahkan bisa berujung pada stroke atau kanker. semua penyakit tersebut adalah penyakit pembunuh umat manusia paling berbahaya saat ini menurut WHO. Bila anak-anak tidak mendapatkan nutrisi yang terbaik, kita akan kehilangan sebuah generasi, atau setidaknya kehilangan generasi yang bermutu. Sayangnya, sebagian besar masyarakat belum paham benar mengenai obesitas ini, khususnya penyebab dan penanggulangannya.

Tidak sedikit faktor penyebab obesitas, diantaranya adalah pola makan yang tidak disiplin, kandungan gizi dalam makanan yang dikonsumsi tidak seimbang, hingga anak-anak yang semakin jauh dari aktifitas fisik dan lebih memilih sebagai 'couch potato'. Anak-anak sekarang lebih banyak duduk dan menikmati tontonan atau bermain permainan elektronik, dari pada kegiatan yang melibatkan seluruh fisiknya. Satu hal yang saya ingin saya soroti saat in adalah tentang asupan, khususnya GULA sebagai pelaku utama bertambahnya berat tubuh. Mungkin Anda bertanya, lho bukannya LEMAK? Lemak, khususnya yang jenuh memang juga berbahaya bagi tubuh, tapi tidak sejahat gula. Pasokan energi yang pertama kali diolah tubuh untuk semua aktifitas kita adalah gula. Bila gula bertumpuk, maka lemak pun bertumpuk; inilah yang mengakibatkan orang lebih menyalahkan lemak dari pada gula. Padahal oleh karena gula yang terlalu banyak dalam tubuhlah yang mengakibatkan lemak tak diproses secara seharusnya.

Gula adalah bahan bahan tambahan pangan (food additive) terbesar yang digunakan dalam makanan. Garam menempati posisi nomor dua, namun jumlahnya tidak sampai 1/3 gula. Gula tidak hanya ditemui pada bentuknya yang umum, yaitu gula pasir, tetapi gula banyak tersembunyi pada makanan atau minuman yang dikonsumsi sehari-hari. Tidak heran mengapa orang tidak bisa mengerti anaknya menjadi obesitas padahal sedikit sekali mengkonsumsi gula (gula pasir). Padalah karena minimnya pengetahun, ternyata gula jaman ini telah berubah bentuk dan bersembunyi dengan baik di hampir setiap makan terproses (processed food).

Idealnya, konsumsi gula harian untuk anak adalah 12 gr/ 3 sendok teh per hari. Sedangkan untuk dewasa bisa hingga 3 kalinya. Namun coba kita lihat contoh kasus si Dodo yang berusia 5 tahun, pagi hari ibunya membuatkan susu yang ditambah gula 2 sendok makan (16 gr), ibunya juga memberikan sebungkus biskuit sebagai teman sarapan yang di kemasannya tertulis mengandung gula 11 gr. Menjelang siang yang panas terik, Dodo mampir ke warung untuk membeli sekaleng minuman ringan yang mengandung gula 40gr dan meminumnya sampai habis. Ia kurang tertarik dengan makan siangnya, sehingga makan sedikit. Karenaya dua jam kemudian ia kembali lapar dan mengambil dua bungkus coklat di kulkas, yang masing-masing mengandung gula setidaknya 10gr.

Saat makan malam ia menikmati fast food yang mengandung gula setidaknya 15gr. Sebelum Dodo terlelap ia telah mengkonsumsi setidaknya 120gr atau 30 sendok teh gula!!! Gula ini sebagian terpakai untuk diolah menjadi energi dengan kerja yang sangat keras dari hati dan pankreas, sisanya disimpan di otot dan hati sebagai cadangan. Jika Dodo melakukannya setiap hari sepanjang 365 hari setahun, apakah Anda bisa membayangkan berapa berat tubuhnya di akhir tahun? Terlebih lagi, gula yang tersimpan di tubuhnya akan berpengaruh banyak pada aktifitasnya dan kerja otaknya. Dodo akan menjadi 'malas' untuk beranjak dari sofa tau ranjangnya, ia lebih memilih menonton TV atau bermain PC games, cenderung malas untuk berpikir dalam belajar karena selalu mengantuk dan lemas akibat gula yang berlebih dalam tubuhnya.

Sangat sulit untuk membatasi konsumsi gula di jaman ini. Kita sebagai orang tua telah dikepung dengan makanan pabrikan yang dengan gencar dan ngotot membombardir pikiran anak-anak agar menikmati produknya. Tidak ada jalan lain selain mengikuti nasihat orang tua jaman dulu: kita perlu tegas demi masa depan anak yang sehat dan berkualitas. Sebisa mungkin mereka tidak mengkonsumsi makan mengandung gula tinggi tapi tidak mengenyangkan. Menyiapkan makanan ringan / snack alternatif rendah gula atau gula sederhana, seperti buah-buahan atau jus. Menjauhkan lidah anak dari restoran siap saji dan minuman ringan (soft drink).

Anak saya sampai hari ini tidak saya ijinkan mengkonsumsi permen dan soft drink dalam bentuk apa pun. Kami pergi ke restroran siap saji kurang dari sebulan sekali. Memberikan makanan ringan dlam jumlah yang sangat terbatas. Dan anak saya masih hidup bahkan menjalani hidup dengan ceria. Kami melakukannya demi umur panjangnya dan kualitas hidupnya di masa datang.

Bagaimana pengalaman Anda?

(Future) Parents Course: Saves Indonesian Children!

>> Monday, February 21, 2011

Tulisan Bapak Sayidiman Suryohadiprojo di harian Kompas edisi Jumat, 18 Februari 2011 dengan tajuk ‘Mendidik untuk Kuat Bersaing’ perlu diapresiasi dan ditindaklanjuti. Perhatian masyarakat kini teralih oleh masalah-masalah  yang harus diselesaikan di masa sekarang, sedangkan untuk mencegah apa yang akan terjadi nanti dan membangun masa depan bangsa tidak dilakukan seksama.

Sejalan dengan buku yang diangkat oleh Pak Sayidiman, sebuah film dokumenter mengenai perkembangan terakhir pendidikan di Amerika juga perlu dicermati. ‘Waiting for Superman’ yang disutradarai oleh Davis Guggenheim (2010) mengupas tentang merosotnya kualitas pendidikan akademis di negeri Paman Sam ini. Jika di negara maju seperti Amerika saja pendidikan menjadi masalah besar, apa yang mungkin terjadi dengan negara-negara berkembang sepeti Indonesia?

Walaupun telah banyak gagasan dan wacana dari esai, seminar hingga buku mengenai bagaimana pendidikan karakter dilaksanakan di sekolah, kita tidak dapat memungkiri dan mengesampingkan peran besar keluarga dalam mendidik karakter anak. Keluarga adalah tempat pertama dan utama karakter manusia Indonesia harus dibentuk. Sekolah dan guru tidak memiliki otoritas dan pengaruh sebesar keluarga atu orang tua dalam menanamkan nilai-nilai moral dan karakter pada diri anak sejak dini. Kisah Amy Chua dalam buku Battle Hymn of the Tiger Mother telah menjadi contoh bagaimana efektifnya pendidikan moral dan karakter di dalam keluarga.

Dalam tulisannya mengenai tahapan-tahapan dalam pendidikan moral, Lawrence Kholberg menyatakan bahwa anak-anak usia dini bertumbuh dari tahap pra-konvensional. Pada tahap ini mereka akan bertanya apakah untungnya mengikuti nilai-nilai moral yang ada di sekitarnya. Jika orangtua pada tahap usia emas ini gagal mendidik, maka tidak heran saat mereka dewasa, pemikiran mengenai apa untungnya buat saya ini terus terbawa.

Oleh karena itu masyarakat luas dan khususnya pemerintah perlu campur tangan demi penyelamatan kualitas sumber daya manusianya di masa datang. Anggaran untuk pendidikan sebesar 20% dari APBN seharusnya tidak hanya diperuntukan untuk pendidikan formal. Para orangtua Indonesia juga seharusnya mendapatkan pendidikan yang cukup tentang bagaimana mereka harus mendidik anak-anak mereka di rumah mereka sendiri secara informal.

Melalui situsnya, BKKBN mempublikasikan berita yang diliput oleh harian Kompas mengenai kursus pranikah. Para calon orang tua tentunya akan mendapatkan banyak manfaat melalui persiapan menjadi orangtua, salah satunya adalah bagaimana mendidik karakter anak. Sistem kursus dapat dibuat sedemikian rupa, sehingga orang tua dapat dibimbing secara terus menerus dari anak mereka kecil hingga besar. Dengan anggaran pendidikan yang tidak hanya masuk ke kantong kementrian pendidikan, maka visi pendidikan nasional akan lebih cepat tercapai karena kementrian lain turut membantu dalam mewujudkannya.

Kursus-kursus bagi orangtua dan calon orangtua ini pun dapat dilaksanakan oleh masyarakat luas yang berkompeten. Dengan mengacu pada nilai-nilai universal dan kebangsaan, kursus-kursus bagi ini dapat ditumbuhkan dan diatur pelaksanaannya dengan bantuan pemerintah. Kesadaran bahwa orangtua memerlukan pengetahuan dan keetrampilan dalam membangun keluarga dan mendidik anak sangat perlu ditumbuhkan. Sejauh ini pengetahuan dan keterampilan tersebut diturunkan secara informal dari orangtua kepada anak-anaknya.

Sebagai seorang guru, penulis menyadari benar bahwa anak-anak yang berasal dari keluarga yang menekankan pendidikan moral dan karakter mengalami banyak kemudahan dalam pembelajaran saat mereka duduk di bangku sekolah. Tidak sedikit pakar manajemen kelas menyatakan, bahwa masalah-masalah akademik siswa sebenarnya berasal dari dari karakter siswanya. Pendidikan karakter yang telah matang cenederung berbanding lurus dengan peningkatan sisi akademiknya.

Manusia Indonesia yang ada sekarang ini beserta dengan segala persoalannya adalah produk dari pendidikan puluhan tahun yang lalu. Sekarang kita sedang menyaksikan anak-anak kita yang sedang bertumbuh dan juga melihat dengan samar persoalan-persoalan yang mungkin muncul akibat pendidikan saat ini. Maka itu, mari kita selamatkan generasi yang akan datang dari keterpurukan moral dan persoalan bangsa yang rumit dengan mencurahkan segenap pemikiran, tenaga dan dana sejak sekarang!

LETTERS TO GOD

>> Tuesday, January 11, 2011

Film yang diangkat dari kisah nyata ini menembus keunungan hampir 3juta dollar. Kisah ini berpusat pada seorang anak bernama Tyler yang mengalami kanker otak. Tyler yang hidupnya bergantung hanya kepada ibunya nyaris tidak menunjukkan sikap yang pesimis terhadap hidup ini. Ia justru memberikan inspirasi kepada banyak orang termasuk saya, bahwa hidup hari ini adalah untuk memberi arti dan hidup ini adalah milik Sang Pencipta.

Dalam mengisi hari-hari setelah operasi pengangkatan tumornya, ia berusaha untuk hidup normal seperti anak lainnya. Satu kebiasaan menarik yang ia lakukan adalah menulis surat setiap hari kepada Tuhan. Ia menulis seperti layaknya kepada temannya, memasukkannya ke dalam amplop lalu memberikannya kepada petugas pos untuk dikirimkan. Tentu saja hal ini membuat kebingungan di antara staf kantor pos. Sang kepala kantor pos hanya dapat menyimpan, membaca dan berefleksi atas surat-surat tersebut.

Kisah hidup Tyler menjadi berdampak saat seorang pengantar surat baru, Brady McDaniels, bertugas di lingkungannya. Brady, yang mengalami depresi akibat berpisah dari isteri dan anaknya, hidup dalam kekacauan. minuman keras menjadi teman baiknya saat ia merasa sendiri. Diterima sebagai karyawan kantor pos, memaksa dia untuk bertugas di lingkungan di mana Tyler berada. Lambat laun Brady mengenal Tyler dan dipengaruhi oleh ketulusan dan ketegaran Tyler menghadapi tantangan hidup.

Brady, yang akhirnya juga menerima surat kepada Tuhan dari Tyler, mengalami pertobatan hidup dari kehidupannya yang  sia-sia setelah membaca dan bergaul dengan Tyler. Sayangnya, dalam masa-masa persahabatan yang manis antara tukang pos dan anak laki-laki itu, mereka harus menerima kenyataan bahwa waktu juga yang memisahkan mereka.

Kisah hidup yang sangat mengharukan dan menginspirasi ini layak untuk ditonton oleh segala usia. Hidup, bagaimana pun keadaanya, khususnya dalam masa sukar, adalah hidup milikNya. Bagian kita adalah mensyukuri kesempatan hidup, bergaul dengan Sang Pencipta dan memberi arti bagi orang lain...

Happy New Year: Hot News in The Early 2011

>> Wednesday, January 5, 2011

Selamat tahun baru!

Tahun 2011 di awali dengan isu hangat mengenai pengelolaan dana abadi pendidikan sebesar 1 trilliun rupiah. Pencairan dana sebesar 30 milliar rupiah tahun ini perlu diperhatikan pengelolaanya. Sedianya dana ini akan dikelola oleh Komite Pendidikan Indonesia yang akan menylurkannya dalam bentuk beasiswa S2, S3 dan penelitian. Mari kita bersama-sama mengawasi pengelolaannya.

Isu berikutnya adalah mengenai kekukuhan Kementrian Pendidikan Nasional untuk menyelenggarakan UN. Info terakhir mengenai hal ini adalah mengenai dihapuskannya UN ulangan dan 'penyesuaian' bentuk soal UN. Salah satu proyek Diknas terbesar ini akan dilangsungkan mulai akhir maret 2011. Kita tunggu baagimana media menyoroti hal ini, mengingat sudah beebrpa tahun lamanya berita miring dan negatif media tidak berkeputusan mengenai penyelengaraan UN ini.

Lambok P. Tampubolon, We Honor You...

>> Thursday, May 27, 2010

Kira-kira dua bulan yang lalu, saat saya baru menyelesaikan makan siang, seorang sahabat datang menyapa dan kami berbincang-bincang ringan. Perbincangan menuju pada apa jenis kelamin anak dalam kandungan isteri saya. "Laki-laki," jawab saya. Dia tersenyum dan menceritakan harapannya bahwa ia juga menginginkan seorang anak laki-laki. Dua anak perempuan yang dimilikinya sekarang bukan membuat dia tidak bahagia, tapi sebagai seseorang bersuku Batak, anak laki-laki memang tetap menjadi kebanggaan. "Nanti dua atau tiga tahun lagi lah," katanya, saat saya mendesak dia untuk segera memiliki anak lagi. Itu adalah perbincangan terakhir kami...

Belum sempat impiannya terwujud, ia telah dipanggil Tuhan pada hari Rabu 26 Mei 2010 pk. 07.50. Dalam usianya yang masih 35 tahun, ia meninggalkan isteri dan dua orang anaknya yang baru berusia 3 dan 1 tahun. Komplikasi penyakit paru dan hati menyerangnya dengan hebat, sehingga ia harus menderita dan berjuang melawan penyakit ini selama dua bulan.

Sepanjang yang saya tahu ia terkenal pekerja keras. Tidak cukup ia menafkahi keluarganya di sekolah tempat kami bekerja, ia mengajar les di beberapa tempat. Ia berharap dapat membahagiakan isteri dan anak-anaknya. Pergi ke kantor pagi-pagi dan pulang malam hanya dengan kendaraan roda dua, rutinitas ini tidak pernah ia keluhkan, setidaknya pada saya. Rokok dan kopi menjadi penopangnya untuk dapat mempertahankan aktifitasnya ini.Dan mungkin ini juga yang menjadi penyebab penyakitnya.

Rutinitas dan kebiasaan ini saya duga berbahan bakar kecintaan pada anaknya. Dalam album foto di akun Facebook-nya, hampir semuanya adalah foto Indah, anaknya yang paling besar. Kami, para sahabatnya senag menggodanya saat Indah masih dalam kandungan. Saat almarhum sedang mencari nama untuk anaknya, beberapa teman kami mengusulkan beberapa nama, salah satu yang paling sering kami usulkan adalah Bella karena dapat berakronim Betty (nama isterinya) dan Lambok. Namun saat bayi lahir, ia puas dengan nama Indah dan bangga atasnya.

Saya terharu dan simpati pada kedua anaknya yang masih kecil. Mereka masih belum mengerti bahwa papanya yang sangat menyayangi mereka telah pergi. Saat berada di rumah duka kemarin, teman saya menggendong Indah, dan ia bertanya, "Papaku ada di situ?" sambil menunjuk ke peti mati dengan foto papanya di depan peti. "Iya, papa lagi bobo" jawab salah seorang teman kami. "Papaku di dalam situ?" tanyanya sekali lagi, saya melihat dengan jelas sorot matanya yang penuh kebingungan. Teman-teman kami yang berkerumun di sekitar Indah dan Helga tidak bisa berkata apa-apa. Salah satu orang tua murid yang kebetulan berada di dekat kami menyatakan,"Iya, papa lagi bobo sama Tuhan Yesus, ya?" "kenapa begitu?" tanyanya.Sekali lagi kami terdiam. Dada saya agak sesak menyaksikan pemandangan ini. Segera teman-teman kami mengalihkan pembicaraan dan mengganti pakaiannya yang basah karena keringat.

Banyak cerita mengharukan lainnya yang saya tidak bisa sampaikan di sini, namun di balik semua kisah yang memancing simpati, banyak pelajaran yang saya amati dapat diambil dari hidupnya dari perbincangan dengan teman-teman. Yang pertama, saya dan teman-teman mengakui bahwa sahabat kami ini adalah sosok guru yang dicintai oleh murid-muridnya. Sejak jenasah belum masuk ke dalam peti di rumah duka, gelombang siswa berdatangan. Bukan hanya mereka yang masih menjadi siswanya saat ini, tetapi juga para alumni dari berbagai daerah menyempatkan diri untuk memberikan penghormatan terakhir pada guru kesayangan mereka ini. Bahkan ada satu orang siswa yang baru tahu kabar duka ini di sore hari memutuskan untuk langsung meninggalkan kotanya di Bandung dan berangkat menuju rumah duka di Cikini, Jakarta. Ratusan siswa yang datang menunjukkan totalitasnya dalam mengajar anak-anak dengan penuh ketulusan.


Almarhum juga saya kenal sebagai seseorang yang murah hati. Tidak sedikit teman-temannya yang diajak untuk mengajar di sekolah kami sebagai guru part-timer. Ia memberikan kesempatan untuk meraih taraf hidup yang lebih baik. Tidak hanya itu, seorang teman saya bercerita, suatu hari tiba-tiba ia mendapatkan kiriman mie ayam dari almarhum. Sesaat sebelumnya mereka terlibat perbincangan di kantin bersama teman-teman lain. Teman saya menggodanya untuk mentraktir mie ayam. Ternyata, ia memang mengirimkan tiga mangkok mie untuk makan siang mereka.

Rasa Humornya yang unik, membuat kami terkadang geli, sebal tetapi juga senang. Ada beberapa orang tertentu yang mejadi sasaran empuk bercandaanya. Bahkan di saat-saat yang sangat serius dalam rapat atau pertemuan lainnya, ia menyempatkan diri melontarkan celetukan-celetukan yang memecahkan suasana yang beku dan tegang. Kini, humor-humor itu tiada lagi...

Selamat jalan Lae, seperti kata teman saya di status Facebooknya: Anda telah mengakhiri pertandingan... Istri dan anak-anak yang ditinggalkan tidak akan menunjukkan penyesalan, tetapi syukur, karena mereka memiliki suami dan ayah yang dapat mereka teladani. Demikian juga dengan kami para sahabat, rekan sekerja dan siswanya menaruh rasa syukur dan hormat atas hidup yang telah dibagi...

Enterpreneurship In Indonesia

>> Tuesday, September 1, 2009

Pengusaha Ciputra mengatakan, akar musabab kemiskinan di Indonesia bukan semata akibat akses pendidikan, karena hal itu hanya sebagian, melainkan karena negara tidak menumbuhkembangkan entrepreneurship dan jiwa entrepreneur dengan baik pada masyarakatnya (Kompas, 2009). Dalam artikel yang sama, pengusaha di Indonesia hanyalah berjumlah 0,18 persen dari jumlah penduduknya. Bandingkan dengan AS 11,5 persen dan Singapura 7,2 persen (data tahun 2007). Untuk menjadi sebuah negara yang lebhi baik, ilmuwan AS mengatakan sebuah negara harus memiliki setidaknya 2 persen pengusaha dalam negaranya.

Dengan data di atas dapatlah kita simpulkan bahwa arah pendidikan di bangsa ini harus mengalami perubahan mendasar. Pendidikan haruslah juga berorientasi mengambangkan kewirausahaan. Pendidikan saat ini memang cenderung mengembangkan sisi pengetahuan dan keterampilan. Jiwa kewirausahaan sangat sedikit sekali di pupuk sejak dini. Sekolah cenderung menegmbangkan keterampilan-keterampilan berpikir untuk mengembangkan jiwa keilmuan.

Ini menjadi sebuah pekerjaan rumah yang besar bagi menteri pendidikan selanjutnya. Akankah wajah sistem pendidikan Indonesia mengalami perubahan mendasar pada masa jabatan kedua SBY? Kita akan cermati langkah-langkahnya. Mengingat departemen pendidikan nasional menajdi salah satu departemen berbujet sangat besar (20 persen dari total APBN), ada kemungkinan permainan politik dibalik pemilihan menteri di departemen ini. Mari kita berharap dan terus berdoa untuk yang terbaik...

A Priority: Mother Language

>> Thursday, May 14, 2009

JAKARTA, KOMPAS.com - Institusi pendidikan yang menggunakan konsep dwibahasa (bilingual) harus didukung penuh oleh sekolah, guru, serta kurikulum dan metode pengajaran yang tepat. Jika tidak, selain berakibat pada sisi akademis dan keterampilan siswa, longgarnya ikatan terhadap penggunaan bahasa nasional bisa berpengaruh buruk pada nasionalisme mereka.

Hal tersebut dikatakan oleh Antarina S.F. Amir, Ketua High/Scope Indonesia, kemarin (13/5) dalam jumpa pers dan seminar "Dual Language Essentials for Teachers and Administrastors" di Jakarta. Acara sosialisasi konsep dual language tersebut menghadirkan pembicara Dr. David Freeman dan Dr. Yvone Freeman, "pasutri linguistik" dari Universitas Arizona, Amerika Serikat.

Untuk itulah, tambah Antarina, keinginan orang tua membekali anak-anaknya dengan Bahasa Inggris sebaiknya harus dengan berbagai pertimbangan matang. Khususnya, ketika mereka membidik sekolah-sekolah favorit yang menawarkan konsep tersebut. Alasannya, konsep dwibahasa tidak sekedar mengubah bahasa pengantar dari Bahasa Indonesia ke Bahasa Inggris.

Antarina mengatakan, aplikasi konsep tersebut harus didukung penuh oleh sekolah, guru, serta kurikulum dan metode pengajaran yang tepat. "Kalau tidak akibatnya bisa berpengaruh besar pada sisi akademis dan keterampilan siswa. Selain itu, kian minimnya penggunaan bahasa nasional atau Indonesia juga akan berpengaruh buruk pada nasionalisme siswa terhadap bahasa ibunya sendiri," tandas Antarina.


Saya sendiri setuju dengan pernyataan sang nara sumber pada berita di atas. Tanpa penguasaan yang kuat terhadap bahasa ibu, anak akan mengalami kesulitan dalam masa dewasanya nanti.

Contohnya saya sendiri, saya teringat dengan kejadian beebrapa tahun lalu. Saya dan beberapa orang teman yang berada dalam forum 'think tank', bermaksud mendirikan sebuah organisasi nirlaba untuk kemajuan lingkungan kami. Dalam masa-masa perumusan visi dan misi, kami banyak sekali mengalami benturan dengan penggunaan bahasa. Apa yang ada di benak kami dan apa yang menjadi cita-cita kami, kami coba tuangkan dalam rumusan visi, misi dan strategi. Ternyata pekerjaan ini tidak mudah. Membutuhkan waktu berminggu-minggu sampai akhirnya rumusan visi dan misi ini tertulis dengan baik.

Dalam kesempatan lain saya dipercaya oleh atasan untuk memimpin sebuah kegiatan. Dalam kegiatan ini kami ingin melibatkan pihak ketiga sebagai sponsor acara ini. Saya pun akhirnya tidak bisa menunjuk orang lain untuk membuat isi proposal kegiatan. Saya harus mengerjakannya sendiri. Saya mendapati, ternyata ntuk memnyusun kata-kata dan kalimat-kalimat yang efektif dan formal tidaklah mudah. Proposal bisa diselesaikan dalam waktu beberapa hari.

Walaupun saya adalah seorang yang mampu berbahasa inggris, bahkan sebagai guru bahasa inggris, namun penguasaan bahasa ibu tidak bisa dikesampingkan. Saya masih harus banyak belajar. Dengan menulis di blog ini saya harap pembelajaran saya dapat terus berlangsung.

The Post Modern Impulse

>> Wednesday, May 6, 2009

Philosohpy Education: Bab 1 - Bab 2 - Bab 3 - Bab 4 - Bab 5 - Bab 6 - Bab 7

Bab ini secara khusus membahas tentang postmodernisme, apa penyebab munculnya dan hal-hal apa saja yang terkait di dalamnya. Ini adalah bab ke lima dari buku Philosophy Education oleh George R. Knight.

Hati dari modernisme adalah keinginan untuk memahami dunia melalui akal budi. Asumsi dasar dari para modernis awalnya adalah dunia merupakan tempat yang masuk akal dan realitas yang ada hanya dapat dipahami oleh pikiran manusia. Modernisme juga memandang pengetahuan adalah hal yang baik secara alamiah.

Postmodernisme adalah bagian besar dari penolakan terhadap bagaimana modernisme melihat sesuatu. Dari permukaan, dapatlah dilihat bahwa Postmodernisme bukan merupakan wawasan yang memiliki kesatuan, namun Postmodernisme memiliki kesatuan dalam hal penolakannya terhadap modernisme. Sebagian orang percaya bahwa Postmodernisme mewakili sebuah periode sejarah yang orang hadapi, sedangkan lainnya memandang bahwa Postmodernisme adalah perpanjangan dari beebrapa konsep dasar modernisme itu sendiri.

Postmodernisme bukanlah sebuah produk dari para filsuf, tetapi lebih banyak berasal dari berbagai rentang bidang dari seni, kesusastraan hingga arsitektur. Menurut Friedrich Nietzsche, yang mencetuskan dasar Postmodernisme, tidak ada dasar untuk meletakkan kepercayaan. Kebenaran sudah mati dan orang tidak memiliki pilihan selain menciptakan dunianya sendiri. Tiga gerakan filsafat yang mempengaruhi Postmodernisme adalah pragmatisme, eksistensialisme dan pikiran-pikiran Marxis. Perlu dikenali bahwa gerakan-gerakan ini mewakili penolakan atas behaviorisme, posistivisme dan analisis filsafat. Di samping itu teori-teori Postmodernisme sangat mendukung analisis filsafat tertentu yang berhubungan dengan bahasa dan pemahaman atas makna bahasa.

Landasan bagi semua filsafat pendidikan Postmodernisme melingkupi hal-hal berikut:
1. Adalah tidak mungkin utnuk menentukan kebenaran obyektif
2. Bahasa tidak menolong kita bersentuhan dengan realitas
3. Bahasa dan makna dikonstruksi secara sosial
4. cerita
5. pengetahuan adalah kekuatan
6. Sekolah telah berperan secara trasional sebagai agen kekuasaan untuk kontrol sosial dengan memanipulasi penegtahuan
7. Pentingnya pemahaman atas pluralitas dari perspektif yang berbeda.

Sekolah tidaklah menjadi agen penyimpan dan penerus masa lalu, seperti yang disarankan filsafat tradisional, tetapi sebagai agen perubahan. Tujuan kurikulum dari pandangan Postmodernisme adalah rekonstruksi pengetahuan sebagai sebuah dasar untuk merekonstruksi budaya yang lebih besar dan kekuatan hubungannya. Sebuha konsensus umum bagi para teoritis Postmodernisme mengatakan, pendidikan di masa datang tidak berdasar pada kurikulm dan metode masa lalu. Mereka menyarankan bahwa siswa dan guru harus belajar untuk membuat pengetahuannya sendiri.

John Zahorik menunjukkan pengajaran teori konstruktivisme didasarkan pada tiga proposisi:
1. Pengetahuan dikonstruksi oleh manusia
2. Pengetahuan bersifaat dugaan dan dapat salah/keliru
3. Pengetahuan bertumbuh melalui penelaahan
Poin ketiga memunculkan dua isu yang berhubungan dengan banyak perhatian para teoris Postmodernisme. yang pertama adalah pentingnya bahasa dalam semua aspek dan yang kedua adalah penuhnya potensi kurikulum postmodern merupakan ide penelaahan.

Pendidikan Postmodernisme secara umum memandang guru sebagai aktivis sosial yang keluar untuk mengubah status quo dengan menolong siswa mengambil tanggung jawab pribadi dan sosial untuk masa depannya. Guru haruslah menjadi seseorang ayng dapat merespon dalam konteks yang selalu berubah-ubah. Jadi, pelatihan guru harus menghasilkan 'guru pemikir' dan bukan teknisi.

Modern Philosophy

>> Friday, May 1, 2009

Philosohpy Education: Bab 1 - Bab 2 - Bab 3 - Bab 4 - Bab 5 - Bab 6 - Bab 7

Setelah melihat perkembangan filsafat tradisional di Bab Tiga buku "Philosohpy Education" karangan George R. Knight, berikut ini akan dipaparkan perkembangan filsafat di era modern.

Filsafat tradisional sanagt memperhatikan aspek metafisik, yaitu isu realitas. Filsafat modern tidaklah demikian. Hal ini dipicu dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan diikuti oleh terobosan revolusi industri. Oleh karena itu, banyak orang di abad ke 19 dan 20 menolak realitas absolut yang statis. Dari sisi kemanusiaan, kelihatan bagi banyak orang bahwa kebenaran, juga pengetahuan manusia atas kebenaran menjadi relatif dan tidak terdapat ketentuan yang universal.

Kesimpulan ini memimpin filsafat modern menghindari isu realitas dan berfokus pada relativitas kebenaran dan nilai dari sudut pandang kelompok-kelompok sosial (pragmatisme) dan individu (eksistensialisme). Pada tahapan metafisik, pragmatisme lebih mengarahkan epistemology sebagai pusat persoalan filsafat dan eksistensialisme berfokus pada aksiologi.

PRAGMATISME
Pragmatisme adalah kontribusi Amerika pada sejarah pemikiran filsafat. Hal ini menjadi menonjol pada 100 tahun terakhir dan diasosiasikan dengan mana-nama seperti charles s. Pierce, William James dan John Dewey. Pragmatisme (disebut juga eksperimentalisme, dan instrumentalisme) adalah reaksi filosofis pada perubahan dunia. William James mendefinisikan pragmatisme sebagai sebuah sikap memalingkan diri dari hal yang utama, prinsip-prinsip, kategori,kebutuhan yang seharusnya dan mengarahkan diri pada hasil akhir, buah-buah, konsekuensi dan fakta-fakta.

Beberapa pragmatis menyangkal bahwa filsafat mereka memiliki sebuah metafisika. Mereka menyatakan bahwa jika ada keteraturan realitas seperti filsafat traditional, orang tidak memiliki jalan untuk mengetahuinya. DAri sudut pandang mereka, pikiran dan zat bukanlah dua hal yang terpisah dan substansi yang berdiri sendiri. Orang mengetahui zathanya jika mereka mengalaminya dan mencerminkan pengalamannya di pikiran mereka. Realitas bukanlah sebuah hal yang abstrak. Tetapi adalah sebuah pengalaman transaksional yang secara tetap mengalami perubahan. Maka itu, realitas tidaklah tetap tetapi berada dalam sebuah kondisi perubahan terus menerus selama pengalaman kemanusiaan semakin meluas. Apa yang nyata hari ini bisa menjadi tidak nyata di masa datang.

Pragmatisme pada dasarnya adalah suatu pelaku epistemologi. Pengetahuan berakar pada pengalaman. Individu tidak dapat secara langsung menerima pengetahuan, mereka membuatnya saat mereka berhubungan dengan lingkungan. Menurut Dewey, proses pemikiran reflektif dapat dilihat dalam lima tahap:
1. Individu menjumpai masalah atau situati yang mengganggu yang secara sementara menghalangi kemajuan mereka.
2. Intelektualisasi dari apa yang pada awalnya sebuah respon emosional untuk menrintangi aktifitas.
3. Penyimpanan solusi-solusi yang memungkinkan
4. Latihan mempertimbangkan solusi-solusi di tahap tiga dengan menduga kemungkinan konsekuensi yang terjadi bila dilakukan.
5. Mencoba hipotesa yang paling masuk akal dengan melihat konsekuensi yang telah diduga memang terjadi.
Bila seseorang tidak dapat membuktikan atau menjalankan hipotesanya, maka orang tersebut harus kembali lagi setidaknya ke tahap empat dan mencari kebenaran bagi hipotesa lainnya.

Sampai di sini, sangatlah penting untuk mengenal bahwa pengetahuan dalam perspektif pragmatisme harus dibedakan dengan kepercayaan. Kepercayaan adalah hal yang pribadi sedangkan pengetahuan selalu menjadi hal yang umum.

Nilai-nilai dalam pragmatisme sangatlah relatif dan tidak ada prinsip absolut yang mana kita dapat bersandar. Sebagaimana kebudayaan berubah demikian juga nilai-nilai. Apa yang secara etika baik adalah yang 'bekerja'. Harus di catat, sama seperti ujian pada epistemologi harus dilakukan oleh publik secara alamiah, demikian juga ujian terhadap etika berdasarkan pada apa yang baik dalam masyarakat dan tidak pada apa yang baik pada individu. Konsep keindahan bergantung pada apa yang seseorang rasakan ketika mereka mendapatkan pengalaman estetika.

Dalam pendidikan, pragmatisme menganggap siswa adalah individu yang 'mengalami' yang berkemampuan untuk menyelesaikan masalah. Menurut mereka, pengalaman dalam sekolah adalah bagian dari kehidupan dari pada sebuah persiapan kehidupan. Guru dapat dipandang sebagai rekan siswa dalam pengalaman kependidikan, sebgaimana seluruh kelas mereka menghadapi dunia yang terus berubah. Namun demikian guru adalah 'petualang' yang lebih berpengalaman dan karenanya dapat dipandanga sebagai pemandu atau pengarah proyek. siswa dan minatnya diletakkan sebagai pusat pendidikan, mata pelajaran sebaiknya ditentukan dengan pandangan untuk memenuhi kebutuhan siswa. Menurut Dewey, kurikulum seharusnya tidak dipisahkan menjadi wilayah-wilayah pokok yang terbatas dan tidak alamiah. Metode yang terbaik adalah bagaimana memberikan siswa suatu kebebasan memilih yang besar untuk mendapatkan situasi pengalaman belajar yang bermakna bagi mereka. Field Trip dan metode 'project' adalah teknik favorit para pragmatis.

Lagi menurut Dewey, anak-anak ahrus secara bertahap berpindah dari pembelajaran yang berdasar pada pengalaman langsung kepada metode pengalaman pembelajaran. tujuan sekolah adalah bukan untuk meminta siswa menghafalkan isi, tetapi meminta mereka belajar cara belajar, sehingga mereka dapat menyesuaikan diri pada dunia yang berubah secara konsta di masa kini dan masa datang. Dari sudut pandang ini, dapatlah di katakan bahwa kurikulum sekolah pragmatik lebih memperhatikan proses dari pada isi.

Sudut pandang politik pragmatisme adalah demokrasi. Mereka melihat sekolah sebagai lingkungan ideal untuk kehidupan dan pembelajaran demokratis, dimana setiap orang berpartisipasi dalam proses pembuatan keputusan dalam mempersiapkan partisipasi yang lebih besar dalam masyarakat yang lebih luas.

EKSISTENSIALISME
Eksistensialisme tidak diragukan lagi sangat memperhatikan emosi individu dari pada sisi intelektual. Walter Kaufmann mengidentifikasi eksistensialisme sebagai:
1. Penolakan terhadap penggolongan bentuk pemikiran apapun.
2. Penyangkalan terhadap kecukupan sistem filsafat dan kerangka kepercayaan
3. Menandai ketidakpuasan atas filsafat tradisional sebagai kepalsuan, akademis dan jauh dari kehidupan.
Individualisme adalah pilar utama eksistensialisme. Eksistensialism tidak mencari tujuan dari alam semesta, hanya individu yang memiliki tujuan. Eksistensialisme tidak mengkomunikasikan pada pendidik seperangkat aturan untuk dikuasai atau sebuah program yang dilembagakan. Melainkan ia menyediakansebuah semangat dan sikap yang dapat diterapkan dalam dunia pendidikan. Mereka juga tidak merumuskan pemikiran mereka dalam istilah-istilah metafisik, epistemologi dan aksiologi.

Keberadaan individu merupakan pusat utama pandangan eksistensialisme atas realitas. Keberadaan mendahului esensi atau hakikat. Seseorang ada dahulu baru kemudian ia dapat mendefinisikan ke-apa-annya dan esensinya. Tindakan dalam keseharian adalah proses untuk mendefinisika esensi pribadi. Saat individu menjalani kehidupan, ia membuat pilihan-pilihan dan mengembangkan kesukaan dan ketidaksukaan. Melalui kegiatan inilah seseorang akan merealisasi apa yang ia pilih akan menjadi. Bagi mereka kehidupan tidak harus memenuhi unsur intelektual, bahkan boleh dikatakan absurd.

Orang memiliki keinginan ntuk mempercayai makna eksternal dan sebagai hasilnya, individu memilih untuk mempercayai apa yang mereka mau percaya. Jika keberadaan mendahului esensi, maka muncullah seorang individu dan kemudian datanglah gagasan yang diciptakan oleh individu itu.

Individu masuk ke dalam kehidupan tanpa persetujuan sang individu dan setiap mereka bebas untuk menjadi apapun yang mereka inginkan. Individu tidaklah memutuskan atau menetapkan sesuatu. Karena kemerdekaan ini, setiap orang bertanggungjawab atas semua pilihan dan tindakannya. SEtiap orang memiliki pengalaman sendiri untujk membuat keputusan pribadi yang berwewenang. Dalam wilayah etika, tidak ada hal yang absolut dan tidak ada orang yang dapat menyatakan kelakuan yang baik dengan alamiah. Adalah penting untuk bertindak tanpa memperhatikan konsekuensinya. Tidak bertindak adalah menjadi tidak bertanggung jawab.

DAlam hubungannya dengan pendidikan eksistensialisme tidak banyak menyinggung wilayah ini. Mereka menyatakan apa yang telah berjalan saat ini dalam pendidikan adalah sangat berbahaya, karena sekolah mempersiapkan siswa untuk konsumerisme dan membuat mereka menjadi roda penggerak dalam mesin teknologi industri dan birokrasi modern. Sebagi ganti menolong orang mengeluarkan individualitas dan kreatifitasnya, banyak pendidikan mencurangi dan merusak atribut manusia yang hakiki ini.

Van Cleve Morris menyatakan pendidikan eksistensialis berfokus pada menolong individu menjadi penuh dalam perealisiasian hal-hal berikut:
1. Sebagai Agen Pemilih (Choosing Agent); tidak dapat menghindar dari memilih jalan hidupnya sendiri
2. Sebagai Agen Kebebasan (Free Agent); sangat bebas untuk menetapkan tujuan hidupnya
3. Sebagai Agen yang Bertanggung jawab (Responsible Agent); bertanggung jawab secara pribadi atas pilihan-pilihan bebasnya sebagaimana tercermin di dalam bagaimana ia menjalani hidupanya

Guru menjadi seseorang yang berkeinginan untuk menolong siswa menjelajahi jawaban-jawaban yang mungkin. Ia akan memeperhatikan keunikan individu dari setiap siswa. Ia memperlakukan siswa sebagai individu yang dapat dikenalinya dari pada menjadi sesuatu yang harus di arahkan dan diisi oleh pengetahuan. guru disebut sebagai fasilitator. dalam perannya ini guru akan menghormati emosi dan aspek-aspek irasional individu dan akan berusaha keras untuk memimpin siswa kepada pemahaman diri mereka yang lebih baik. Kurikulum dalam sekolah eksistensialis sangat terbuka terhadap perubahan, karena konsep kebenaran eksistensialisme selalu berkembang dan berubah. Eksistensialisme sejalan dan sepakat dengan dasar-dasar pendidikan tradisional, seperti sains, ilmu sosial, harus dipelajari. Metode pengajaran yang digunakan sangatlah bervariasi. Mereka menentak keseragaman materi, kurikulum dan pengajaran dan menyatakan bahwa seharusnya terdapat banyak pilihan terbuka bagi siswa yang ingin belajar. Metode berpusat pada konsep 'ketidakpaksaan' dan metode itu dapat menolong siswa untuk menemukan dan menjadi diri sendiri.