WELCOME! Salam Sejahtera! Senang sekali mendapat kunjungan dari Anda. Berikan komentar Anda di akhir setiap posting (klik link: write your comment here!), komentar Anda sangat berharga bagi saya. Terima Kasih. Please Enjoy...

HOT Search

HOT Translate

Showing posts with label kualitas. Show all posts
Showing posts with label kualitas. Show all posts

Taekwondo

>> Friday, March 20, 2009

Surat Pembaca Kompas hari ini memunculkan keluhan orang tua murid yang cukup menarik. Ortu ini mengeluhkan keputusan sebuah sekolah internasional di tangerang berinisial SMI yang menjadikan taekwondo sebagai mata pelajaran intra kurikuler.

Saya pikir keluhan ini cukup beralasan. Ibu ini mendasarinya dengan alasan bahwa keluhannya tidak pernah dijawab dengan memuaskan dan hanya bersifat satu arah. Berikutnya adalah pihak sekolah hanya menunjukkan alasan untuk meningkatkan sportifitas siswanya, maka 'mata pelajaran' ini dianggap perlu. Tetnu saya ibu ini berang dengan menyatakan bahwa, ada ratusan jenis olahraga lain, dan mengapa harus taekwondo. Apakah karena 'secondary principal'-nya berlatar belakan demikian, sehingga kegiatan ini diistimewakan. Ia juga menambahakn bahwa banyak keluhan dari teman-temannya yang menyatakan bahwa nilai anak-anak mereka banyak yang 'merah' karena gagal untuk menguasai mapel ini, khususnya para siswi. Nilai ini mengganggu nilai kumulatif di rapor karena telah menjadi mapel intra kurikuler.

Hal ini memang sangat menarik. Di mulai dari mengapa taekwondo dimasukkan kedalam mapel intra kurikuler dan mengapa harus tekwondo? Setahu saya di sekolah internasional lain yang justru taekwondo ini berasal (JIKS, cibubur), kegiatan ini tidak dijadikan mapel intra kurikuler, tetapi ekstra kurikuler. Apakah ini buah dari kebijakan sekolah yang para pembuat kebjakannya telah kehabisan akal untuk memunculkan 'nilai lebih' sekolah? Sangat disayangkan bila keputusan tersebut dibuat tanpa riset dan pertimbangan yang matang. Ujung-ujungnnya siswalah yang dikorbankan demi idealisme pribadi, dan orang tua pun dirugikan. Maka itu orang tua perlu juga dengan bijaksana memilih sekolah. Bukan hanya karena berlabel internasional dan berfasilitas lengkap. Isi adalah yang utama...

UU BHP Part Two

>> Monday, February 23, 2009

Fiuuh... akhirnya seluruh rangkaian kegiatan Book Week selesai sudah! kegiatan yang sangat menguras dan memeras energi... Bayangkan, mengurusi 800an siswa selama lima hari berturut-turut ditambah dengan mengelola keuangan yang terbatas dan membangun hubungan dengan pihak ketiga. Sangat merepotkan. Namun semuanya telah dilalui, semuanya berkat Tuhan dan kerjasama semua guru. Saya menaruhkan penghargaan besar pada rekan-rekan guru saya, mereka semua kompak dan bekerja dengan sungguh-sungguh. Tanpa mereka acara ini tidak akan jalan... Thanks a million... :D

Kembali lagi ke UU BHP...
Saya telah membaca dan berusaha mempelajarinya, sepintas lalu UU ini sangat baik, bila tidak bisa disebut istimewa. Roh yang diusung oleh UU ini adalah semangat kemandirian dan otonomi lembaga pendidikan. Hal ini termasuk dalam pengelolaan SDM, keuangan dan juga kurikulum.

Badan Hukum Pendidikan akan menaungi satu atau lebih satuan pendidikan, baik itu tingkat SD, SMP, SMA maupun perguruan tinggi. Khusus bagi sekolah negeri atau sekolah yang dibiayai oleh negara akan terhisap dalam BHP dan tidak lagi secara langsung dibawah garis komando pemerintah, dalam hal ini depdiknas. BHP memiliki otoritas penuh untuk mengembangkan satuan pendidikannya mulai dari tujuan, keuangan, hingga teknis implementasi kurikulum di sekolah. Setiap satuan pendidikan akan dinaungi oleh sebuah BHP pusat (BHPP) atau BHP pemda (BHPPD). Hal ini seolah-olah menempatkan seluruh sekolah dan perguruan tingi negeri di bangsa ini menjadi 'sekolah swasta', karena seluruh kebijakan dan pengelolaan sekolah dan PT negeri dialihkan dari pemerintah kepada BHPP atau BHPPD. Dari sisi ini, sekolah swasta yang sekarang sedang berjalan tidak mendapatkan perubahan terlalu signifikan akibat adanya UU BHP ini, mengingat sekolah swasta telah memiliki Yayasan yang fungsi dan keberadaannya tidak jauh berbeda dengan BHP. Ada pun BHP yang dikelola oleh masyarakat ini di beri nama BHPM.

Sampai di sini, saya pikir peng-otonomi-an sekolah atau pengalihtugasan pengelolaan sekolah dari negara ke BHP cukup baik, khususnya bagi sekolah negeri. Sekolah negeri atau Perguruan Tinggi Negeri akan lebih memiliki ciri khasnya masing-masing dan para stake-holder di BHP akan berpikir dan berjuang keras untuk meningkatkan kualitas satuan pendidikannya.

Namun, dibalik itu semua, perlu dipertanyakan kesiapan para guru dan pengelola sekolah yang berstatus PNS. Apakah mereka siap untuk mandiri dalam hal pembiayaan, perencanaan kurikulum dan peningkatan mutu pendidikan, yang notabene selama ini dikerjakan oleh pemerintah, dalam hal ini Depdiknas.

Pembentukan BHP ini saya pikir baik untuk satuan pendidikan, namun perlu dikaji lebih jauh apakah BHP sangat efektif untuk menjangkau lebih banyak generasi muda untuk bersekolah dan bersekolah dengan mutu yang lebih baik.

Say No! To Local School!

>> Saturday, January 10, 2009

Pria ini adalah teman sekolah saya sejak SD, bahkan mungkin TK. Hingga SMP kami berada di satu sekolah yang sama. Sebuah sekolah swasta yang dulunya populer di Bogor. Secara akademis ia tidak menunjukkan hasil yang menonjol, bahkan cenderung digolongkan kepada kelompok siswa yang 'nakal'. Di jenjang SMA dan perguruan tunggi, kami berpisah. Saya memilih sekolah negeri dan PTS di Bogor, sedangkan dia pergi ke luar negeri: Singapura, Australia dan AS.

Beberapa tahun kemudian saya mendengar bahwa dia telah menjadi pengelola restaurant milik orang tuanya yang cukup maju di Bogor. Kami sempat bertemu di beebrapa kesempatan. Namun pertemuan kami di akhir tahun lalu menorehkan beberapa poin penting mengenai sisi-sisi pendidikan.

Ia memiliki tiga orang anak, anak pertamanya akan menginjakkan kaki di bangku SD. Beberapa bulan sebelumnya Ia sempat menanyakan informasi seputar sebuah sekolah nasioal plus yang cukup terkenal, karena ia tertark untuk mendaftarkan anaknya ke sana. Dalam pertemuan sian itu, ia menegaskan kembali keinginannya. Ia menilai sekolah di Indonesia ini tidak ada yang bagus, tidak mengajarkan cara berpikir kritis, memecahkan masalah dan menelurkan gagasan-gagasan segar dari para pelajarnya. Sekolah lokal cenderung mencatat, menghafal dan terlalu santai. Ia membandingkan dengan apa yang dialaminya ketika bersekolah di luar negeri. Setiap anak dihargai pribadi dan pekerjaannya. Semua dituntut untuk bekerja keras bila ingin mendapatkan hasil yang terbaik dengan serangkaian penelitian, studi pustaka dan pembuatan paper yang tidak ada habis-habisnya. Bahkan , ia menambahkan ia dituntut untuk bekerja selama ia bersekolah. Puncaknya ia mengerjakan skripsi di dapur sebuah restauran.

Ia adalah anak orang kaya di Bogor, namun di sana, katanya, ia tidak lebih dari seorang jongos. Namun ia menyatakan apa yang dia alami amatlah berharga dalam usaha yang ditekuninya sekarang ini. Orang tuanya mendidik amat keras dalam hal uang dan pendidikan, tambahnya. Sekolah di negeri ini hanya berfokus pada nilai, tidak pada kualitas manusia yang ingin dibentuknya, maka itu tidak heran kita kalah dengan negeri lain.

Ia juga bercerita tentang bagaimana ia mendidik anaknya. Ia tidak ingin anaknya mendapat sesuatu dengan mudah. Ia mendapatkan permintaan dari anaknya untuk pergi ke Disneyland di Hongkong. Ia tidak segera mengiyakan, namun memberi syarat yang menantang pada anaknya, agar ia dilatih sejak dini untuk bekerja keras. Ia juga berusaha mengenali kemampuan anak-anaknya. Meurutnya, anaknya yang pertama ini cukup pintar dan mau bekerja keras. Maka sejak usia dini ia memasukkannya ke sekolah internasional di Bogor yang memiliki guru ekspatriat. Menurutnya, guru-guru ekspatriat memiliki metode mengajar yang berbeda dengan guru-guru lokal. Anak-anak menjadi lebih percaya diri dan mempu menunjukkan potensinya. Tidak seperti sekolah lokal. Guru selalu berusaha memtikan percaya diri anak dengan membuat pelajarannya susah dan ditakuti oleh siswa. Oleh karena itulah hingga saat ini ia tetap berusaha sebisa mungkin untuk tidak menyekolahkan anaknya di sekolah lokal, apalagi almamaternya dulu.

Konon menurut pengamatannya, tidak ada alumni dari sekolah almamaternya ini yang menjadi 'orang', kebanyakan semua menjadi 'orang susah' atau 'jongos'. Ia tidak mau hal ini terjadi pada anaknya. Berbeda dengan almamaternya di luar negeri, hampir semua teman-temannya sekarang ada yang memiliki perusahaan, presdir, GM atau setidaknya manager dari perusahaan multinasional. Katanya, hanya dia saja yang paling apes mengelola restauran orang tuanya dan masih berkutat pada jeruk 10 kg yang raib, karyawan yang bandel, dll.

Dari pertemuan dengannya, saya merenungkan sebuah pertanyaan. Jika para orang tua di indonesia ini memiliki uang yang berlebih, akankah mereka tetap menyekolahkan anaknya di sekolah negeri atau setidaknya sekolah di dalam negeri? jika tidak, mengapa?

No Best School, only Best Student

>> Monday, December 15, 2008

Well, liburan dua hari cukup menyegarkan setelah melalui minggu tersibuk di akhir tahun ini. ngorbol denga istri dan bermain dengan anak, walau diselingi dengan aktifitas meeting di gereja, tapi cukup puas dengan weekend kemarin. Next week end, tetangga ngajakin liburan bareng ke gunung bunder... hmmm... nostalgia. Dulu pernah ke sini tapi untuk sebuah acara penyiksaan: pelantikan anggota pencinta alam...

Jumat lalu, waktu komsel ada seorang ibu anggota komsel yang juga orang tua siswa mengeluh tentang anaknya. Anaknya akan segera melanjutkan ke SMA, namun dia tidak mau meneruskan di sekolahnya yang sekarang, karena dia berpikir sekolahnya kurang pas dengan maunya dia. Ia cenderung anak yang pintar dengan IQ kira-kira 135. Sangat kompeten dalam kemampuan matematika dan visual. Dalam pelajaran saya sendiri ia dapat mengikuti walau tidak sangat menonjol. Secara kasat mata, di dalam kelas ia selalu terlihat lesu, tidak bersemangat. Cenderung terlihat mengantuk dan tidak antusias. Penilaian ini ternyata tidak hanya saya yang membuat, beebrapa guru lain turut memberikan konfirmasi. Ibunya menjelaskan, dia menyatakan ketidakpuasannya belajar di sekolah ini, singkatnya, kamampuannya tidak tertantang. Anak ini mengikuti sejenis kelas pembinaan iman di salah satu gereja berlairan reformed, kata ibunya ia sangat rajin mengikutinya. Bahkan marah jika waktunya diganggu di saat itu. Ia pun sering bersoal jawab dengan ibunya dan membuat ibunya agak kewalahan menjawab pertanyaan dan pernyataan anaknya ini. Di ujung keluhannya ia menyatakan kebingungannya untuk mengikuti keinginan anaknya ini. Karena ia sudah mencoba mendaftakan anaknya ke sekolah favorit di kelapa gading agar anakny ini dapat tersalurkan bakat dan minatnya.

Saya sendiri hanya menyarankan agar pertimbangan untuk memindahnkan anaknya itu sungguh-sungguh diputuskan dengan matang. Mengingat pengalaman dua orang mantan siswa saya yang kasusnya mirip:
Anak yang pertama ber-IQ tinggi juga, kreatif, supel, dan cenderung aktif dan yang kedua IQ-nya biasa saja, namun rajin, tekun, pendiam dan cenderung emosional. Ketika keduanya pindah ke SMA favorit yang sama di jakarta, yang konon berisi anak-anak berkemampuan di atas rata-rata, siswa yang ber-IQ tinggi tidak dapat mengikuti pelajaran di sana, karena sangat disiplin dan padat drilling, sedangkan yang satunya dengan ebrmodalkan ketekunan mampu mengikuti, bahkan ranking di sekolah tersebut.
Anak sang ibu teman komsel saya ini berada di keduanya: ber-IQ tinggi, pendiam dan cenderung emosional. Saya menyarankan agar dia mempertimbangkan kemabali masak-masak. Saya sendiri tidak bisa menahannya di sekolah yang sekarang, karena memang ia memiliki kemampuan di atas rata-rata dalam bidang tertentu. Ia perlu mencari sekolah yang beriklim kondusif bagi dirinya.

Sekolah tempat saya mengajar bukannya tidak bagus, kurang prestasidan berkualitas lulusan rendah, tetapi saya percaya, seperti kata kepala sekolah saya, setiap anak memiliki gaya belajarnya dan minatnya masing-masing. Anak akan berkembang bila ia berada dalam atmosfir yang tepat di sekolah yang tepat. Tidak sedikit siswa di sekolah saya yang berkembang dan berprestasi, namun bagi anak-anak tertentu tidak.

Pada intinya orang tua adalah pribadi yang bertanggung jawab untuk menolong perkembangan anaknya. Karena ia adalah titipan Tuhan. Orang tua harus senantiasa mencari kehendak Tuhan bagi anaknya. Agar rencanaNya terjadi pada diri anak tersebut.

"Parent, not School who is responsible to children's future"