A National Challange: Scientific Journal
>> Wednesday, February 8, 2012
I'm an ordinary man with a calling to be a teacher for my family, my students and my community. Here are my notes as I travel through my goal fulfillment...
Saya hampir tidak bersemangat untuk mengulas topik ini. Nadanya cenderung hampir sama dari tahun ke tahun. Mulai perencanaan, penyelenggaraan dan pengumuman hasil, isu seputar UN ini selalu disorot berbagai media dan cenderung bernada pesimis, negatif dan buruk.
Khusus untuk UN SMA, yang pesertanya lebih dari 1,5 juta siswa lebih dari 10%-nya tidak lulus. Ketidak lulusan 100% terjadi di 267 sekolah. Respon birokrat di bidang pendidikan cenderung aneh, setidaknya menurut Anita Lie (Kompas, 2010), pemerintah mendikotomikan kejujuran dan ketidaklulusan UN. "Jadi, kalau hasil ujian para siswa gagal dianggap jujur, sementara kalau hasilnya bagus menjadi tidak jujur, buat saya itu aneh. Maunya apa sebenarnya dengan UN ini?" ujar Anita Lie kepada Kompas.com di Jakarta.
Walaupun Menteri Pendidikan Nasional, Muhamad Nuh, menyatakan UN tidak akan mempengaruhi kelulusan karena ada faktor lainnya, namun di lapangan, setidaknya secara psikologis telah mempengaruhi kepala sekolah, guru dan siswa itu sendiri terhadap UN. Menurut beberapa pakar pendidikan, yang saya juga setuju, memang sebaiknya UN tidak dimasukkan sebagai satu-satunya atau salah satu faktor dalam kelulusan siswa. Saat ini, masih terjadi dualisme, disatu sisi UN dipakai sebagai salah satu instrumen kelulusan, di sisi lain dipakai sebagai alat pemetaan. Menurut saya hal ini tidak bisa berjalan dengan baik.
Sebagai guru, saya mengenal betul psikologis para siswa dalam menghadapi UN. Mereka berharap lulus, orang tua mereka pun demikian. Harapan ini begitu tinggi sehingga mereka dianggap perlu untuk dimasukkan ke dalam program drilling atau latihan soal-soal UN. Ini adalah sebuah pembodohan. Siswa datang ke sekolah bukan untuk bisa mengerjakan soal, tapi lebih dari itu. Di titik inilah banyak siswa dan guru di berbagai sekolah berkompromi dengan dosa. Demi kelulusan yang telah ditarget oleh atasan masing-masing, mereka melakukan berbagai cara yang tidak etis. Mulai dari pembocoran soal hingga penyuapan.
Pada artikel saya di bulan Januari 2009, saya merujuk laporan hasi UN tahun 2008 dari puspendik (yang kini tidak lagi bisa diakses, entah kenapa). Di sana tercatat denagn jelas bahwa ada satu sekolah di kabupaten Bekasi ini yang hasil nilai UN-nya mencengangkan. Saya sendiri baru mengenal nama sekolah tersebut dari rekan saya. Hasil UN-nya lebih tinggi daripada beberapa sekolah favorit di Jakarta. Apa yang sebenarnya terjadi?
Hasil UN cenderung tidak valid dan memiliki latar belakang pencapaian yang tidak jujur. Saya berharap Pak Nuh mau berbesar hati dan berpikir lebih luas untuk meniadakan saja UN ini atau setidaknya tidak menjadikan UN sebagai salah satu faktor kelulusan apalagi satu-satunya. Biarlah kita kembali pada pola EBTANAS dahulu, dimana nilai hasil ujian dipakai sebagai salah satu faktor penerimaan siswa baru di jenjang pendidikan berikutnya. Dengan cara yang demikian pun, sekolah dapat berlomba-lomba meningkatkan kualitasnya untuk membawa siswanya ke sekolah favorit. Tujuan pemetaan pun masih dapat dilakukan dengan cara yang demikian. Lebih ekstrem, biarkan sekolah membuat ujian dan nilai akhirnya sendiri untuk para siswanya. Pemerintah cukup membuiat sejenis SAT yang dilakukan oleh pemerintah AS.
Entah mengapa saya menjadi tersinggung dengan komentar beberapa teman lama saya di Facebook. Rasa marah, rasa dikhianati dan kecewa bercampur jadi satu. Jantung saya mulai terasa berbeda detaknya, anggota tubuh agak gementar dan untuk sementara pikiran tidak dapat berkonsentrasi pada pekerjaan. Saya mencoba menenangkan diri, berdoa dan berpikir sejenak mengapa respon saya seperti demikian dan apa yang harus saya lakukan selanjutnya.
Dalam hidup ini masalah dan potensi konflik bisa masuk dalam hidup manusia tanpa ijin. Tiba-tiba saja dia datang dan sedikit banyak menggoyang akal budi dan hati kita. Sepanjang manusia masih hidup, ia tidak berhenti memiliki masalah. Pertanyaannya adalah berapa banyak orang yang tetap berbahagia dalam segala persoalan yang dihadapinya dan berapa banyak yang termakan oleh tantangan yang datang dan (kadang tidak) pergi seenaknya? Pertanyaan selanjutnya adalah mengapa mereka demikian?
Persoalan tersinggung bisa dilihat dari kacamata yang berbeda. Ada yang menganggapnya angin lalu, ada juga yang berujung kepada kematian, tergantung pada kedewasaan dan kematangan kepribadian seseorang. Berapa banyak orang yang memiliki dendam tersembunyi kepada orang tuanya, berapa banyak mereka yang sakit hati karena dikecewakan saudara atau teman terbaiknya dan berapa banyak orang yang kepahitan dan marah karena perlakuan buruk orang lain? Hal ini begitu sering kita temukan dalam kehidupan manusia, tapi berapa sering kita diajar atau didorong untuk menyelesaikannya?
Pengelolaan konflik adalah suatu keterampilan dasar manusia yang sejak dini seharusnya dikuasai oleh seseorang. Bila sedari kanak-kanak keterampilan ini dimiliki, maka perjalanan hidupnya di tingkat usia lebih lanjut akan menjadi lebih baik, lebih berbahasia dan lebih unggul. Manusia adalah mahluk yang komunal atau sosial. Ia selalu berhubungan dengan manusia lainnya. Hal ini adalah sangat mendasar. Tapi mengapa sekolah tidak mencantumkan pelajaran pengelolaan konflik ini dalam kurikulum utamanya? Pertanyaan besar bukan?
Saya telah menulis ini dalam artikel saya yang sebelumnya (klik di sini), bahwa sekolah pada mulanya tidak dirancang untuk menjawab persoalan-persoalan yang berhubungan dengan karakter, moral dan etika. Ia dirancang untuk memberikan pengetahuan dan keterampilan akademis saja.
Ini adalah tanggung jawab keluarga dan masyarakat untuk mendidik anak-anak hingga terampil dalam mengelola konflik yang akan ditemuinya di sepanjang hidupnya. Anak-anak yang ditempa dan dilatih ini akan menjadi manusia-manusia yang kuat, mampu berpikir lebih luas dan berjiwa lebih besar. Namun, mengingat tidak sedikit keluarga yang impoten dalam hal ini, maka sekolah perlu 'mengambil alih' peran ini. Sekolah perlu memikirkan bagaiamana cara terbaik dengan menggunakan sumebr daa terbaik demi terbangunnya menusia-manusia yang terampil dalam mengelola konflik.
Aahhh, tiba juga hari pertama sekolah, First Day of School!
Di hari ini pun anak saya masuk sekolah, kelompok bermain tepatnya. Dia sangat bersemangat sekali. Bahkan ia sempat sedikit merajuk ketika orang tuanya berlama-lama untuk berangkat dari rumah. Seragam lengkap dari topi hingga sepatu telah dipakaikan. Tas barunya telah melekat dipunggung. Dengan malu-malu ia menjawab pertanyaan tetangga sebelah yang bertanya padanya tentang hari pertama sekolahnya.
Tiba di sekolah, ia terlihat sangat bersemangat. Matanya bersinar, mukanya cerah, senyum tergantung di wajahnya sepanjang kami berjalan dari tempat parkir menuju kelasnya. Setibanya di sana, ia bertemu dengan temannya yang juga adalah tetangga kami. Ia segera menghampirinya, sayang sang teman tidak mau diajak bersama-sama. Baru habis menangis, kata bapaknya.
...
Sepulang sekolah, isteri saya bercerita tentang betapa anak kami sangat senang berada di lingkungannya yang baru, sekolah. sebgaian dari teman-teman sekelasnya memang masih ada yang belum bisa di tinggal oleh orang tuanya. Ada juga beberapa yang menangis karena orang tuanya tidak bersama mereka. namun, secara umum mereka menyukai lingkungan barunya ini.
Ini adalah fenomena umum anak masuk sekolah usia dini, mereka masih sangat bergantung pada orang tuanya di hari-hari awal pembelajaran mereka. Biasanya di minggu kedua atau setidaknya di akhir bulan pertama mereka sekolah, semua siswa sangat menyukai 'temapat bermain' mereka yang baru ini.
Sayangnya menurut penelitian, semakin anak bertumbuh besar, mereka cenderung mengaggap sekolah sebagai suatu beban. Apalagi bila ditambah guru, pelajaran atau suasana sekolah yang tidak mendukung, siswa akan cenderung malas belajar. Mungkin ada benarnya bila belajar dan bermain itu harus menjadi satu paket. Dengan kata lain belajar harus dibuat menyenangkan, agar siswa dapat terus termotivasi.
Saking sibuknya beberapa hari menjelang akhir tahun ajaran, saya tidak memiliki waktu yang cukup untuk menulis di sini. Sebenarnya selepas saya menulis ini pun ada dua pekerjaan besar yang saya harus selesaikan. Namun dalam waktu yang sempit ini saya ingin mengomentari satu hal yang sedang hangat yaitu mengenai UN ulangan.
UN ulangan atau UN pengganti yang dilakukan di beberapa sekolah di jawa tengah baru-baru ini sangatlah memiriskan hati. Masa depan siswa dipermainkan hanya karena pelaksanaan UN yang dicurigai berbau kecurangan. Kecurangan ini tentu saja patut diselidiki. Namun bila kita mau jujur, bukan hanya sekolah di Jawa Tengah itu saja yang patut di ulang ujiannya, namun hampir semua sekolah di Indonesia! Kecurangan pelaksanaan UN ini terjadi di mana-mana, sayangnya sekolah-sekolah yang mengulang UN itu sedang apes, merekalah yang jadi tumbal. Silahkan baca artikel saya yang menyinggung hal ini di 'UN on the Fall'.
Pelaksanaan UN yang sudah jelas-jelas memancing terjadinya praktek-praktek kecurangan seharusnya menjadi bahan evaluasi pemerintah mengenai keefektifan pelaksanaanya. Walau saya belum memiliki kecenderungan untuk memilih pasangan Mega-Pro yang mengusung program penghapusan UN, saya setuju dengan programnya yang satu ini.
Atau setidaknya UN dapat tetap berjalan namun bukanlah salah satu penentu kelulusan siswa. Guru dan sekolahlah yang memahami kemampuan siswa, merekalah yang telah memproses anak didiknya. Oleh karena itu baiklah sekolah secara otonomi yang menentukan kelulusan siswa. Sedangkan UN dapat dipakai sebagai alat pemetaan mutu pendidikan secara nasional atau sebagai alat sekolah yang lebih tinggi untuk menyeleksi siswa/mahasiswanya. Hal ini dilakukan pada era orde baru dan saya pikir cukup efektif.
Dengan demikian penyakit-penyakit yang selama ini menjangkiti UN dan yang membuat berdosa siswa, guru, sekolah dan aparat dapat dikurangi. Saya pikir setidaknya sebagian guru di Indonesia mengharapkan dihentikannya UN dengan sistem yang sekarang ini.
Apakah Anda cenderung berpikir sekolah dapat mendewasakan anak Anda? Apakah Anda berpikir sekolah akan membentuk kepribadian dan membangun potensi dirinya? Apakah benar bahwa sekolah yang sangat tinggi kedisiplinan ilmunya akan membawa keberhasilan dalam kehidupan mereka sesungguhnya?
Sampai sejauh ini sekolah formal pada umumnya menerjemahkan kurikulumnya ke dalam sejumlah mata pelajaran. Sekolah Dasar setidaknya memiliki 5 mata pelajaran, SMP 10 mata pelajaran dan SMA 14 mata pelajaran. Dari sekian banyak mata pelajran itu, saya bisa kelompokan menjadi lima bidang pelajaran: bahasa, ilmu eksakta (sains), ilmu sosial, Agama & Kewarganegaraan, dan Seni & Teknologi.
Dalam pandangan lain, kebanyakan sekolah formal - khususnya sekolah swasta, apalagi sekolah nasional plus dan internasional - mengedepankan keunggulan sekolahnya baik dari sisi fasilitas, sumber daya manusia maupun program tambahannya. Yang terakhir ini dapat berupa program akademik atau non-akademik. Ada sekolah yang mengunggulkan kewirausahaan, ada juga pendidikan karakter, keterampilan hidup, dll. Namun yang jelas, program-program ini hanyalah berupa tambahan dan bukan merupakan kurikulum inti. Percaya atau tidak, menurut pengamatan saya, kebanyakan siswa yang terlibat aktif dalam program tambahan ini cenderung lebih berhasil dalam hidupnya. Atau setidaknya mereka dapat lebih siap dalam menghadapi dan menyelesaikan tantangan-tantangan hidup mereka.
Mari kita bandingkan dengan apa yang menjadi isi kurikulum pada mulanya. Plato, yang disebut sebagai pendiri sekolah pertama dengan Akademos-nya, menempatkan matematika, humanity(kemanusiaan) dan kesusasteraan sebagai pusat kurikulumnya (Knight: 1998; p.45). Sedangkan muridnya, Aristoteles, yang mendirikan sekolah Lyceum, menempatkan lebih banyak bidang ilmu dalam kurikulumnya, khususnya bidan sains dan matematika (Knight:1998; p.49). Di Timur, Konfusius menempatkan kebijaksanaan dan aturan ketatalaksanaan sebagai pusat kurikulumnya(Sathern:).
Di Indonesia sendiri, khususnya di jawa, Padepokan, Pawiyatan dan Paguron telah dikenal sebagai tempat belajar para siswa pada waktu itu. Adapun kurikulum inti yang diajarkan lebih banyak kepada keterampilan dalam tugas hidup sehari-hari, seperti mencuci piring, menghidangkan makanan dan melayani guru bagi siswi dan keterampilan yang lebih sentral dalam kehidupan waktu itu bagi para siswa, mulai dari mencari kayu bakar, asisten guru, hingga bertapa/semedi. Selain itu materi pelajaran dalam pendidikan tradisi di Nusantara umumnya secara lisan dan bersifat umum meliputi antara lain perihal kejiwaan, kefilsafahan, kesusasteraan, kanuragan, kaprajuritan, pertanian, titi mongso, pananggalan, adat istiadat, tata krama dan perbintangan (Dwiarso: 2008).
Dari sini, saya mengajak Anda untuk merefleksikan dengan kebutuhan siswa di masa selepas sekolah. Ia akan dihadapkan oleh dunia pekerjaan/profesinya dan dunia berkeluarga. Suatu dunia yang lebih banyak berbicara tentang kemandirian, tanggung jawab, manajemen waktu, keterampilan mengelola keuangan, keberanian mengambil resiko, ketekunan, keterampilan membangun hubungan, dll.
Jelas sekolah telah dengan teliti mempersiapkan para siswa untuk masuk dalam dunia pekerjaan/profesinya. Namun jika kita mau jujur, seberapa banyak usaha yang dilakukan oleh sekolah untuk mempersiapkan siswa ke dalam dunia keluarga? Dunia keluarga yang mencakup tahap pranikah, pernikahan dan pascanikah. Jika ini bukan tanggungjawab sekolah, dan memang sebaiknya seperti itu, maka hal ini merupakan tanggung jawab keluarga.
Pertanggungjawaban orang tua terhadap masa depan kehidupan berkeluarga dan bermasyarakat (Life Skill) anak-anaknya adalah salah satu peran orang tua yang utama. Orang tua perlu merumuskan kebijakan yang sesuai dengan nilai-nilai yang dianutnya untuk mendidik anak-anaknya dalam perkara ini. Sejauh pengamatan saya, pendidikan terhadap hal-hal yang menyangkut life skill diajarkan secara informal dalam keluarga. Diturunkan dari orang tua kepada anak melalui teladan, pelatihan, pengalaman dan refleksi atas kehidupan. Jika orang tua mengajarkan semua 'mata pelajaran' kehidupan ini tentunya setiap anak akan hidup bahagia dan aman.
Kenyataan berkata lain, seperti yang saya bisa kutip dari tulisan saya sebelumnya mengenai Who Will Take This Task? Generasi sekarang tengah mengalami kehancuran moral dan fisik dalam arti yang sesungguhnya. Hal ini bersumber dari cacatnya keluarga dan lumpuhnya peran orang tua dalam mendidik anak. Kejadian ini tidak boleh terulang, para orang tua sekarang harus belajar kembali bagaimana menjadi orang tua yang efektif. Orang tua yang efektif yang akan menyelamatkan generasi yang baru. Oleh karena itu saya anggap perlu untuk dibentuk suatu lembaga pendukung keluarga yang akan memfasilitasi dan melatih orang tua dalam mendidik anaknya dan mengelola keluarganya secara utuh dan sadar. Utuh berarti mencakup jasmani dan jiwani, sedangkan sadar berarti ada upaya terstruktur dan sistematis dalam membangun keluarganya.
Lembaga ini akan menjadi mitra keluarga untuk melakukan upaya-upaya pemulihan dan pembangunan hubungan & kualitas kehidupan. Di sini, para orang tua akan belajar mengenai membangun komunikasi yang efektif dan intim antara suami istri, mengelola keuangan keluarga, mengelola konflik, merencanakan pendidikan anak, manajemen waktu, mengajarkan anak untuk memiliki jiwa wira usaha dan etos kerja yang baik, mengelola media, dll. Apakah lembaga ini akan berdiri sendiri atau juga bermitra dengan sekolah akan memiliki kelemahan dan kekuatannya masing-masing.
Nah, apakah pendapat Anda?
Rabu, 20/05/2009 13:51 WIB
Bandung - Angka perceraian pegawai negeri sipil (PNS) khususnya guru di Bandung cukup tinggi. Wali Kota Bandung Dada Rosada mengaku hampir setiap hari menerima surat permohonan izin bercerai dari PNS. Mayoritas adalah para guru.
Sebelumnya dalam harian lokal hari ini, Dada menyatakan sejak Januari hingga Mei 2009, hampir setiap hari dia menerima satu hingga dua pengajuan izin bercerai dari PNS. Mayoritas berasal dari Dinas Pendidikan Kota Bandung.
Kutipan artikel di atas saya dapatkan dari detikBandung. Sungguh menyedihkan kondisi keluarga para guru ini. Menyedihkan karena mereka bercerai, menyedihkan juga karena sebagai role model bagi siswa, mereka gagal menjadi teladan.
Apakah perceraian kini menjadi hal yang biasa? Jika ya, maka setiap kita perlu mengevaluasi diri, pergeseran nilai apa yang telah terjadi dalam diri kita. Jika kita bandingkan beberapa dasawarsa silam, perceraian merupakan hal buruk yang sekuat mungkin ditutupi oleh pihak keluarga. Mereka tidak ingin menanggung malu karena berpisahnya kedua insan itu. Jika ini hal ini telah menjadi biasa seperti mengganti baju, maka pemerintah, masyarakat dan lembaga-lembaga terkait perlu memberikan perhatian lebih seirus terhadap hal ini.
Selain untuk membawa anak dan siswa kepada masa depannya yang terbaik, keluarga dan sekolah juga turut bertanggungjawab atas keberhasilan kehidupan berkeluarga mereka. Keluarga yang harmonis dan sehat akan mendukung karir, usaha, panggilan hidup seseorang. Perceraian menimbulkan terlalu banyak dampak negatif.
Suatu penelitian di Amerika menyatakan, bahwa perceraian mengakibatkan dampak pada kesehatan, keuangan, kehidupan sosial dan kejiwaan seseorang. Dr. Kenneth Batema dari Amber University mengeluarkan hasil penelitiannya yang menyatakan buruknya dampak yang dihasilkan oleh perceraian.
Penyebab perceraian beranekaragam, mulai dari perzinahan/perselingkuhan, maslah keluarga hingga gila kerja. Berikut ini adalah hasil penelitian DivorceMagazine.com pada tahun 2004 dan 2003 (dalam kurung) (link):
* Extramarital affairs - 27% (29%)
* Family strains - 18% (11%)
* Emotional/physical abuse - 17% (10%)
* Mid-life crisis - 13% (not in 2003 survey)
* Addictions, e.g. alcoholism and gambling - 6% (5%)
* Workaholism - 6% (5%)
Apapun penyebabnya, semua berakar dari hilangnya cinta kasih yang sejati. Hawa nafsu telah menggantikan cinta kasih itu. Ed Cole berkata, hawa nafsu adalah keinginan untuk memuaskan diri sendiri walaupun harus mengorbankan orang lain. Sedangkan cinta kashi adalah keinginan untuk memuaskan orang lain (pasangan) walaupun harus mengorbankan diri sendiri. Pertanyaannya sekarang, seberapa banyak para suami atau isteri telah sungguh-sungguh mempraktekkan cinta kasih yang sejati itu. Semua penyebab yang terdeteksi dari penelitian di atas berakar dari tergantikannya cinta kasih dengan hawa nafsu.
Sekolah dan keluarga perlu mendisain kurikulum dan program yang khusus untuk mempersiapkan anak-anaknya menuju lembaga masyarakat terkecil ini. Pengabaian terhadap hal ini akan berdampak besar kepada moralitas dan kualitas hidup masyarakat sekitarnya. Siswa perlu belajar mengenai hubungan antar pribadi, pengelolaan konflik, pemecahan masalah, pengendalian diri, keterampilan berkomunikasi, dll. Apakah anda melihat adanya mata pelajaran seperti itu di sekolah? Apakah Anda mengajarkan anak Anda mengeani hal-hal tersebut di rumah? Ini adalah sebuah pekerjaan besar.
Teach your children to be a great person, not only a good one.
"Gue sudah macarin 17 orang cewek, 7 diantaranya gue lecehkan secara seksual."
"Tujuh? Emang umur elo berap sekarang?"
"17 tahun."
"Gue kecanduan games on-line. Gue pernah sakit gara-gara dua hari penuh gue main di warnet."
"Emang elo sakit apa?"
"Ambeien. Gue juga pernah diseret pulang bokap gue, karena bolos buat maen games."
"Kapan terakhir kali elo masturbasi?"
"Kemarin malem, sebelum gue berangkat ke sini."
"Dari kapan elo ngelakuinnya?"
"Dari SMP"
"Gue suka nonton film porno. Gue juga pengedar film-film begituan. Kemana gue pergi, gue selalu bawa film untuk gue bagi-bagiin."
"Maksud elo? Elo ga jualin film itu?"
"Nggak, gue cuma bagi-bagiin aja"
"Orang tua gue sudah cerai sejak gue kecil. Bokap gue kawin lagi. Suatu hari, waktu gue SD, bokap gue bilang mau balik lagi sama keluarga. Dia emang balik lagi. Tapi ternyata dia cuma ngambil harta nyokap gue, dan dia balik lagi sama istrinya yang kedua. Jadi sampe sekarang gue benci banget sama bokap gue."
"Gue pernah pacaran sama cewek, tapi di tengah jalan cewek itu nyakitin gue dan akhirnya gue putusin. Sejak saat itu gue kalo berhubungan sama cewek gue sering nyakitin mereka. Gue belajar ilmu untuk bikin cewek cepaet lengket sama gue. Gue kasih permen atau kepulin asap rokok ke muka dia, dia pasti langsung nempel."
"Maksudnya elo guna-gunain dia?"
"Iya. Kalo gue sudah puas, gue sakitin dia dan gue tinggalin itu cewek."
_____
Ini semua adalah sedikit dari ratusan pengakuan laki-laki usia muda tentang hidup mereka yang hancur di sebuah acara yang saya ikuti. Hidup mereka hancur, tapi mereka tidak bisa keluar dari sana. Mereka sadar mereka salah, tapi mereka tidak mampu untuk bebas. Saat mendengarkan semua pengakuan itu, hati saya bergetar, dada saya sesak dan pikiran saya merenung: betapa hancurnya generasi muda saat ini.
Sebuah penelitian di majalah Tempo di awal tahun 2000-an menyatakan setidaknya ada dua juta kasus aborsi dalam setahun. Ini pun yang terdata. Data lainnya menyatakan, lebih dari 75% generasi muda di kota-kota besar di indonesia telah kehilangan keperjakaan dan keperawanannya sejak usia SMA mereka.
Masa depan bangsa ini sedang diancam oleh kehancuran hidup generasi mudanya. Televisi, Narkoba, rokok, pornografi, permainan internet on-line, dll telah mencuri waktu mereka dari hal-hal yang lebih bernilai untuk hidup mereka. Ada suatu 'kekuatan laten' yang menginginkan generasi muda sekarang ini jatuh ke berbagai hal yang hanya berpusat pada menyenangkan diri sendiri. Semua hal di atas itu dilakukan hanya untuk melampiaskan kemarahan yang tersembunyi dengan rapi.
Mereka marah dengan lingkungannya, keluarganya, orang tuanya. Mereka marah karena mereka tidak melihat sebuah contoh yang berintegritas, sebuah model yang dapat dipanut. Mereka marah karena mereka di-dua-kan. Harapan yang mereka gantungkan pada orang terdekat mereka dicabut sehingga meninggalkan luka kekecewaan yang tidak mampu mereka atasi dan berujung pada kemarahan dan kepahitan. Kemarahan dan kepahitan adalah kekuatan atau modal yang cukup bagi mereka untuk lari dari orang-orang yang mengecewakan mereka. Mereka berlari kepada tawaran-tawaran di dunia ini yang senantiasa memanjakan dan meninabobokan ego mereka. Mereka butuh kepuasan setelah sekian lama ego itu tidak pernah terpuaskan.
Apa jadinya masa depan dengan orang-orang yang hanya berpusat pada ego masing-masing? Apa jadinya bangsa ini dengan orang-orang yang menyimpan kemarahan tersembunyi?
Apa yang dapat negara, masyarakat, sekolah dan keluarga lakukan bagi mereka.? Mereka yang seharusnya menjadi kebanggaan di masa tua kita, telah terperangkap dalam jebakan 'kekuatan laten'. Pemerintah telah mengusahakan pendidikan budi pekerti; tidak sedikit masyarakat yang mengembangkan program-program pendidikan karakter; sebagian sekolah-sekolah pun menjual 'nilai-nilai unggul'; dan sebagian keluarga telah berusaha dengan keras mendidik anak-anaknya di jalan yang lurus, namun kenyataannya terlalu banyak yang terjebak daripada yang bisa ditangani.
Ini adalah tugas pendidikan sesungguhnya: memastikan generasi muda hidup benar dan memaksimalkan potensi mereka.
Dan ini yang jadi perenungan saya: Siapa yang sanggup mengemban tugas berat ini? dan Bagaimana?
Sebelum acara tutup peti kakak saya, anak bungsunya berjanji di hadapan jenasah, bahwa ia akan dengan sunguh-sungguh mengembangkan usaha restorannya. Ia ingin agar suatu saat nanti ia dapat membiayai orang-orang yang mengalami penyakit kanker. Penyakit yang telah mengambil nyawa ibunya.
---
Terry Fox adalah seorang remaja yang sangat enerjik. Sejak remaja hingga masa kuliahnya di Universitas Simon Fraser di Vancouver ia sangat menyenagi olahraga basket dan menjadi anggota tim di sana. Namun kesenangannya ini tidak bertahan lama karena diketahuinya penyakit kanker tulang yang menyerang kaki kanannya. Kala itu tidak ada pilihan lain selain amputasi. Maka dengan penuh kesedihan, Terry harus kehilangan kaki kanannya di akhir dekade 1970an.
Beruntung Terry memiliki keluarga yang senantiasa menyemangatinya saat ia telah putus asa atas hidupnya. Dalam refleksi pribadinya, ia mendapat gagasan untuk melakukan sebuah Marathon of Hope melintasi Kanada sejauh 5000 mil. Ia ingin menunjukkan harapan dan semangatnya kepada dunia. Walau mengalami banyak tantangan, ia memulai maratonnya itu pada 12 April 1980 dari St John, Newfoundland. Dengan kaki kanan palsunya ia, mulai berlari dan masyarakat mulai menunjukkan perhatiannya pada usaha Terry ini. Namun sayang, ia tidak dapat menyelesaikan mimpinya, ia meninggal di usia 22 tahun setelah berlari 5.373 km.
Seorang tetangga kami menjadi guru agama dan guru karakter (character building) di sebuah sekolah. Sekolah ini memiliki misi membangun karakter siswa-siswanya. Sore itu, ia bertandang ke rumah tetangga kami juga yang lain.
Setelah ngoborl sana-sini, pembicaraan tiba ke topik mendidik anak. Tetangga saya yang dikunjungi ini bertanya, "kenapa sih anak-anak di sekolahmu itu karakter dan perilakunya ga bagus?"
"Lihat tuh sih X (seorang anak SD), kelakuannya kok kayak begitu? Kok sekolahnya ga ngajarin karakternya supaya bagus sih?"
Isteri saya yang juga berada di sana, bersegera menyela, "Sekolah ga bisa disalahkan bu. Kelakuan anak-anak itu tergantung keluarga dan orang tuanya."
Benar kata isteri saya. Sebaik apapun sekolah mengajarkan karakter, tidaklah akan sebaik keluarga (orang tua) bila mereka mendidik anaknya. Walaupun sekolah memiliki visi, misi, dan program yang bagus untuk mendidik karakter siswanya, tidaklah akan seefektif orang tua bila mereka melakukannya. Mengapa demikian?
Pendidikan karakter tidak bisa disamakan dengan pengajaran matematika atau sejarah atau mata pelajaran lainnya. Pendidikan karakter bukanlah mentransfer ilmu, tetapi teladan. ia tidak memberikan pengajaran tetapi contoh hidup. Ia tidak perlu pekerjaan rumah, tapi pembiasaan diri. Ia tidak ada ulangan, tetapi ujian hidup.
Adapun sekolah yang mengajarkan Character Building di jam sekolah, hal ini tidak berarti karakter yang diajarkan terbentuk dalam diri siswa. Pengajaran CB hanya akan sampai pada tataran pengetahuan dan pemahaman. Apalagi jika diajarkan pada siswa yang menjelang dan sudah remaja. Pengajaran ini semakin tidak efektif bila hanya berupa ceramah dan aktifitas biasa. Dikarenakan hakikat karakter bersumber pada pembiasaan dan pemodelan, maka waktu menjadi kata kunci untuk melihat tumbuhnya karakter itu.
Pembiasaan berarti pelatihan secara terus menerus dan terstruktur terhadap satu karakter yang diharapkan tumbuh. Sedangkan Pemodelan dimaksudkan sebagai bukti dan sarana impartasi/inspirasi bagi siswa tentang contoh nyata karakter yang diharapkan, sehingga memberikan arah bagi siswa.
Dua hal ini sangat efektif dilakukan oleh orang tua, mengingat siswa sepenuhnya bergantung dan percaya pada orang tua di masa anak-anaknya. Semakin belia usia anak, semakin efektif orang tua melatih dan membetuk karakter anak.
Jika sekolah memiliki misi khusus untuk mengajarkan CB pada siswa, akan terlebih efektif bila sekolah dapat melakukan program-program yang lebih dinamis dan korporat. Dinamis berarti bukan berupa metode ceramah, melainkan kegiatan-kegiatan yang berorientasi tantangan atau problem solving untuk memunculkan karakter yang diharapkan. SEcara Korporat dimaksudkan sebagai pemberi energi pada teman sebaya untuk memiliki kualitas karakter yang diharapkan.
Sebuah penelitian di Amerika yang dipublikasikan pada tahun 1966 oleh Canergie Council on children menyatakan bahwa: pada usia 18 tahun rata-rata anak Amerika telah menghabiskan waktu lebih banyak menonton televisi dari pada sekolah atau keluarganya.
Teknologi media, khususnya TV, internet, Handphone dan permainan elektronik telah berkembang sangat pesat di masa kini. Saya percaya bila Lembaga tersebut mengadakan penelitian yang sama, besaran angkanya akan meningkat semakin tajam.
Josh McDowell, dalam bukunya Father Connection menyatakan bahwa para ayah di Amerika hanya memiliki waktu efektif bersama anak sebanyak 33 detik setiap harinya! Hal ini menggambarkan betapa waktu efektif bersama keluarga telah hilang dan digantikan oleh hal yang lain.
Agen pendidikan tidaklah hanya sekolah, melainkan juga keluarga, media, teman sebaya dan lembaga keagamaan. Dari semuanya itu. Keluarga dan media mengambil peran yang lebih besar, demikian dinyatakan oleh George R. Knight. Namun dengan melihat hasil penelitian di atas, media adalah yang terdekat dalam kehidupan anak-anak.
Hal ini sungguh mencemaskan, karena fungsi kontrol atas media tidak dapat dilakukan oleh siapa pun selain diri sendiri. TV, internet, Handphone, dll tidak dapat membatasi penggunanya. Baik hal yang baik maupun yang buruk akan ditampilkan bagi kesenangan dan kenyamanan penggunanya. Sayangnya anak-anak belum secara baik dapat membatasi mana hal yang baik bagi dirinya. Media berhasil merebut waktu anak-anak karena daya tariknya. Medialah yang mendidik anak-anak generasi ini.
Keluarga, khususnya orang tua perlu mengambil langkah tegas untuk merebut kembali anak-anak dari media. Media telah mencuri waktu mereka, membunuh hubungan dalam keluarga, dan membinasakan masa depan mereka yang seharusnya. Anak-anak harus didik hingga mereka memiliki kekuatan yang cukup untuk mengatakan tidak pada hal-hal yang merusak diri mereka.
"If you(parents) don't teach your children others will and when you see they are not what you want to be, you are already too late"
Foto ini diambil dari kompas.com hasil jepretan Lis Dhaniati.
Seorang ayah yang cacat mengantar anaknya untuk pergi sekolah di Bandung. di dalam keterbatasannya sebagai penyandang cacat, hatinya tidaklah seperti kakinya. Ia mengirim pesan kepada anknya: Nak, engkau sangat berharga. Ayah ingin kamu menjadi orang yang lebih baik dari ayah. Ayah akan lakukan apa saja demi keberhasilan sekolahmu...
Jika Anda seorang ayah, apakah Anda mengantar anak Anda ke sekolah? atau Anda menyerahkannya pada pembantu atau isteri Anda? Seberapa peduli Anda kepada anak Anda?
Pesan dari foto yang kuat untuk mengingatkan dan mengajar kita tentang kasih oarng tua pada anak...
Pada mulanya tidak ada pendidikan formal, hanya ada keluarga dan komunitas. Anak-anak belajar dari orang tuanya dan lingkungan sekitarnya. Setiap anak percaya pada apa yang dikatakan dan dimodelkan orang tuanya, sekiranya ada keraguan mereka tidak bisa berbuat banyak karena dunia pengetahuan belum terstruktur dengan baik. Pengetahuan masih terbatas pada kepercayaan-kepercayaan agamawi, mitologi dan hal-hal metafisika lainnya. Mereka 'terpaksa' percaya pada semua hal itu, karena demikianlah adanya dunia dan peradaban pada saat itu. Kepercayaan kepada ketuhanan dan sistem kehidupan bermasyarakat diturunkan dari generasi ke generasi bulat-bulat. Itulah batas pendidikan termulia, selain dari keterampilan-keterampilan bertahan hidup yang juga diturunkan dari masa ke masa. Keluarga menjadi pusat belajar utama bagi anak-anak.
Hingga tiba pada jaman kebudayaan yang dianggap lebih maju, yaitu Babylonia, Mesir Kuno, Cina dan Yunani Kuno. Di sana mulai berpendar pusat-pusat belajar lain selain keluarga, khususnya untuk mendalami pengetahuan tertentu. Diluar itu, keluarga tetap memegang peranan besar dalam mendidik anak untuk kepercayaan hidup dan keterampilan dasar kehidupan.
Di Babylonia, para siswa banyak belajar tentang astronomi. Di Mesir Kuno, mereka banyak belajar mengenai matematika, arsitektur, dan seni. Di Cina, para siswa dididik teologia, pengolahan sutera, ilmu pemerintahan dan seni. Di Yunani, akademos ciptaan Plato di percaya menajdi sekolah formal pertama, yang ditandingi oleh Lyceum-nya Aristoteles. Di sini mereka banyak belajar mengenai filsafat, ilmu pemerintahan, biologi, kimia, dan lain-lain. Bidang ilmu yang dipelajari meledak menjadi berbagai cabang sejak jaman Aristoteles. Semua ini adalah cikal bakal sekolah formal di jaman sekarang. Peran keluarga di era ini tetap sama seperti sebelumnya, namun di masa remaja, anak-anak cenderung mulai membentuk jalan hidup sendiri sesuai pengetahuan dan 'sekolah' yang mereka ikuti.
Inilah sejarah singkat asal muasal sekolah hingga jaman sebelum masehi...
Seorang teman saya bertengkar dengan isterinya, lalu isterinya menelepon teman saya yang lain untuk meminta bantuan, karena suaminya ini berkeinginan meninggalkan dirinya dan hendak bunuh diri. Teman saya yang di telepon hanya bisa menguatkan isteri temannya ini dan memintanya tetap berdoa.
Teman saya yang bermasalah dengan isterinya ini bukan dari latar belakang yang berada. Hidupnya sulit, anaknya sempat terkena kecelakaan beberapa tahun lalu dan masih dalam perawatan sampai hari ini. Ketidakcukupan menjadi penyebab sekunder pertengkaran itu. Untungnya ia berada dalam suatu komunitas persahabatan yang kuat dengan beberapa teman saya, sehingga dengan segera ia dapat 'ditangani'. Jika ia tidak tergabung dalam komunitas ini, dan masih hidup seperti dulu, mungkin hal yang buruk akan terjadi.
Sejumlah keributan, pertengkaran, perselisihan, ketidaksepahaman antara suami isteri memang hal yang normal terjadi. Menyatukan dua manusia yang berbeda adalah hal yang membutuhkan proses dan rumit. Hal ini tidak mudah. Sayangnya untuk hal yang amat penting ini, sebagian keluarga dan hampir semua sekolah di bangsa ini tidak mempersiapkan generasi mudanya untuk menghadapi kehidupan dalam pernikahan.
Pendidikan yang terjadi hanyalah untuk mempersiapkan individu yang kuat dan super, tapi tidak siap untuk membangun dan menjalani kehidupan bersama yang komunal, apalagi di lingkungan perkotaan.
Hal ini penting untuk disadari semua orang mengingat bangsa yang kuat tergantung pada keluarga yang kuat. Perhatian terhadap hal ini akan meningkatkan kualitas SDM bangsa. Perhatian pada keluarga dimulai dari bagaimana mempersiapkan para calon-calon pasutri dengan matang. Persiapan yang baik akan menghasilkan hasil yang baik.
Sekolah juga dapat mengambil peran dalam hal ini. Sejak dini anak-anak dapat diperkenalkan, diajar dan dilatih untuk bertanggungjawab terhadap sesama. Sedangkan bagi siswa yang lebih dewasa mereka dapat diperkenalkan dan diajar mengenai seluk beluk kehidupan berumahtangga dan isu-isu parenting. Sekolah yang menekankan pada hal ini akan menjadi aset masyarakat dan bangsa yang bernilai tinggi. Karena melaluinya, keluarga-keluarga yang kuat akan dibangun.
'Bangsa yang kuat bergantung pada kekuatan elemen dasarnya: keluarga'
Minggu depan sekolah kami meliburkan siswa dan guru untuk menghormati hari raya paskah, dan kebetulan juga bertepatan dengan libur pemilu. tepat dua minggu setelahnya para siswa SMA menghadapi UN selama satu minggu.
Saya melihat bahwa hari-hari ini mereka tampak berusaha membahagiakan diri dengan mentertawakan setiap soal-soal Try-Out yang diberikan. Sebagian dari mereka belajar cukup serius dan merelakan waktu bermain mereka hilang. Namun sebagian lagi yang tidak tahan dengan tekanan ini tetap menyediakan waktu untuk bersenang-senang.
Sebagai guru, kami tidak punya pilihan selain terus mendorong mereka untuk terus belajar dengan keras. Hari-hari kerja para guru pembimbing pun bertambah panjang untuk memberikan pemantapan atau drilling. Bahkan beberapa rekan guru saya merelakan waktu liburnya minggu depan untuk tetap datang ke sekolah melakukan pemantapan dengan siswanya.
Semua kesibukan dan pengorbanan ini dilakukan demi sebuah nilai rata-rata UN di atas 5,50 seluruh siswa, guru dan sekolah di Nusantara ini sedang disibukkan dengan perhelatan akbar tahunan ini. Angka-angka yang muncul diharapkan lebih baik dari tahun sebelumnya, demikian kata pemerintah.
Pemerintah mengharapkan rata-rata nilai UN yang lebih baik, sekolah dan guru mengharapkan tingkat kelulusan yang lebih baik, orang tua mengharapkan kecerdasan yang lebih baik, siswa mengharapkan... "yang penting gue lulus!" atas kegiatan akbar ini. Saya berharap pemerintah, sekolah, guru dan siswa tidak berfokus pada kelulusan atau ketidaklulusan, nilai rata-rata yang lebih baik atau buruk tapi pada mutu siswa yang dapat bersaing di lingkup regional maupun global.
Kemarin siang, sekolah kami 'ketempatan' untuk penyelenggaraan try-ot UN bagi siswa SD-SMA. Hadir di sana para manager toko buku, penerbit dan lembaga kursus. Dalam kesempatan itu saya berbincang-bincang dengan mereka, terutama dengan seorang manager toko buku.
Ia menceritakan tantangan-tantangan yang ia hadapi sebagai pengelola toko buku. Dalam bersaing dengan penerbit dan toko buku besar di negara ini, perusahaannya terpaksa harus lebih mawas diri dan jeli untuk bergerak di pasar luar ibukota dan daerah. Khusus dalam hubungannya dengan sekolah sebagai salah satu konsumen terbesar, toko buku ini mengalami kompetitor bukan haya dengan sesama toko buku, tetapi juga dengan para penerbit yang agak 'nakal' dengan menjual buku langsung ke sekolah. Ia dan seorang manager penerbit buku menawarkan beberapa kerjasama strategis untuk keuntungan masing-masing pihak.
Satu misi idealisme yang terkadang tidak tersentuh dari irisan sekolah, penerbit dan toko buku ini adalah mengembangkan budaya membaca di tengah gempuran teknologi internet, permainan elektronik dan tontonan televisi. Seandainya misi ini terus dikedepankan dan digarap secara serius oleh ketiga institusi ini secara konsisten tentunya wajah generasi muda indonesia akan berubah. Saya tidak tahu seberapa besar budget penerbit atau toko buku yang disediakan untuk membuat usaha-usaha sistematis mewujudkan misi tersebut dan tidak hanya memperhatikan sisi bisnis. Bila minat baca ini terus digarap, tentu mereka juga yang diuntungkan.
Pemerintah pun perlu menajdikannya sebuah gerakan nasional yang setara dengan gerakan wajib sekolah atau visit indonesia year. Kealpaan dalam bidang ini memberikan kesempatan pada media elektronik yang serakah untuk mengambil alih keintelektualan generasi muda.
Sekolah saya sendiri mewajibkan setiap siswa untuk membaca setiap hari dengan menyediakan waktu khusus. Setiap siswa wajib membawa buku bacaan mereka, yang umumnya berbahasa inggris dan membacanya secara teratur di sekolah. Guru juga mendorong setiap anak untuk terus menambah koleksi bacaan mereka dan membacanya di rumah masing-masing. SEtiap tahunnya kami menyelenggarakan pekan buku sebagai momentum dan perayaan kegiatan membaca ini.
Di rumah, saya menjadi model bagi istri dan anak dalam hal membaca. Setidaknya saya harus membaca satu buku baru dalam satu bulan. Walau isteri saya lebih suka majalah, koran dan tabloid dari pada buku; saya mendukung aktifitasnya itu dengan harapan ia akan membaca buku lebih banyak di kemudian hari. Anak saya sendiri, di usianya yang ke 2 saat ini sangat tergila-gila pada buku(orang tuanya yang membacakan tentunya). Sampai-sampai istri saya kelelahan untuk melayani anak kami saat ia ingin membaca. Ia suka sekali dengan buku-buku bertema binatang, melihat gambar-gambarnya dan mendengar orang tuanya membacakan buku yang sama berulang-ulang...
"If you dont read you will be got rid..."