WELCOME! Salam Sejahtera! Senang sekali mendapat kunjungan dari Anda. Berikan komentar Anda di akhir setiap posting (klik link: write your comment here!), komentar Anda sangat berharga bagi saya. Terima Kasih. Please Enjoy...

HOT Search

HOT Translate

Showing posts with label keluarga. Show all posts
Showing posts with label keluarga. Show all posts

Most Valuable Legacy: Example!

>> Monday, March 7, 2011

Guru kencing berdiri, murid kencing berlari.
Buah jatuh tidak pernah jauh dari pohonnya.
Air cucuran atap jatuhnya ke pelimbahan juga.
Like father like son…

Semua peribahasa di atas bertemakan satu hal: perilaku anak adalah hasil dari teladan orangtuanya. Ini adalah sebuah kunci utama dalam pendidikan: Keteladanan. Tidak ada tips, cara, teknik atau rahasia dalam mendidik anak dengan baik. Hanya keteladanan. Baik orangtua maupun guru, perlu memperhatikan kata kunci ini.

Mengapa demikian? Karena ada sebuah sifat dasar anak-anak yang menonjol, yaitu mencontoh. Anak-anak dapat dengan sangat mudah mencontoh apa saja yang dilihatnya. Entah itu baik atau buruk. Dengan kata lain, hanya dengan melihat perliku anak, kita dapat menyimpulkan seperti apa sifat dari orangtuanya.

Sebuah kisah dituturkan oleh seorang pendeta, Daniel Alexander demikian: Alkisah, seekor anak anjing sedari kecil dipelihara oleh keluarga babi. Ia tinggal di kandang babi, makan makanan babi dan bermain bersama anak-anak babi. Setelah anak anjing ini dewasa, ternyata ia tidak berperilaku seperti babi, tidak bersuara seperti babi dan tidak berkubang di lumpur seperti babi. Anjing ini akan tetap berperilaku, bersuara dan hidup seperti selayaknya seekor anjing.

Namun, berbeda dengan manusia. Jika seorang bayi tinggal di sarang penyamun, dibesarkan dan hidup di sana. Besar kemungkinan, setelah bayi ini dewasa akan berperilaku seperti penyamun. Hal ini tidaklah mengherankan bukan?

Inilah sebuah sifat dasar dari manusia: ia adalah peniru. Dan ini adalah salah satu kunci utama dalam mendidik anak dalam segala aspek, baik itu sopan santun, nilai-nilai moral, kerohanian, bahkan sampai hal-hal praktis seperti cara makan dan berkata-kata. Untuk mendidik anak yang berkomitmen tidak memerlukan resep atau formula khusus. Orangtua hanya perlu menunjukkan dengan seterang-terangnya pada anak bagaimana ia menjalankan komitmennya. Hal ini juga dapat kita lihat secara kebalikannya: jika kita menemukan anak-anak dengan komitmen yang kuat, kita dapat memastikan orangtuanya juga demikian. Dan bilamana seorang anak lemah dalam berkomitmen, kita hampir dapat memastikan, orangtuanya juga demikian.

Membesarkan anak di masa serba canggih dan wah sekarang ini tidaklah mudah. Orangtua dituntut untuk ekstra disiplin atas dirinya sendiri. Generasi muda sekarang ini membutuhkan teladan yang lebih daripada generasi sebelumnya. Mereka hidup pada jaman di mana komitmen bukanlah lagi suatu hal yang harus menjadi prioritas. Melalui media dan lingkungan, anak-anak cenderung dikondisikan untuk hidup mementingkan diri sendiri, mengabaikan hak orang lain, dan tidak menghormati orangtua.

Sejak dini, baik orangtua maupun guru perlu memberikan contoh (bukan hanya mengajarkan!) dan bukti memegang komitmen. Tunjukkan komitmen dalam hal rohani, misalnya berdoa dan membaca Kitab Suci secara konsisten, atau memberikan uang untuk kegiatan rohani. Tampilkan juga komitmen dalam hal-hal yang jasmani, seperti menjaga keharmonisan pernikahan, menjalankan tugas atau pekerjaan dengan dedikasi tinggi atau sekedar disiplin dalam berbagi pekerjaan rumah tangga.

‘Pertunjukan-pertunjukan’ komitmen yang ditonton oleh anak-anak ini akan dengan mudah dikunyah, dicerna, dan dicontoh oleh mereka. Lebih lagi, tontonan yang berulang-ulang akan semakin mematrikan pentingnya berkomitmen dalam ingatan mereka. Ingatan ini akan mereka bawa seumur hidup dan menjadi pegangan atau patokan atas mereka. Bukankah ini sebuah warisan yang berharga?

note: ditulis untuk warta jemaat 'AbbaNews'

Lambok P. Tampubolon, We Honor You...

>> Thursday, May 27, 2010

Kira-kira dua bulan yang lalu, saat saya baru menyelesaikan makan siang, seorang sahabat datang menyapa dan kami berbincang-bincang ringan. Perbincangan menuju pada apa jenis kelamin anak dalam kandungan isteri saya. "Laki-laki," jawab saya. Dia tersenyum dan menceritakan harapannya bahwa ia juga menginginkan seorang anak laki-laki. Dua anak perempuan yang dimilikinya sekarang bukan membuat dia tidak bahagia, tapi sebagai seseorang bersuku Batak, anak laki-laki memang tetap menjadi kebanggaan. "Nanti dua atau tiga tahun lagi lah," katanya, saat saya mendesak dia untuk segera memiliki anak lagi. Itu adalah perbincangan terakhir kami...

Belum sempat impiannya terwujud, ia telah dipanggil Tuhan pada hari Rabu 26 Mei 2010 pk. 07.50. Dalam usianya yang masih 35 tahun, ia meninggalkan isteri dan dua orang anaknya yang baru berusia 3 dan 1 tahun. Komplikasi penyakit paru dan hati menyerangnya dengan hebat, sehingga ia harus menderita dan berjuang melawan penyakit ini selama dua bulan.

Sepanjang yang saya tahu ia terkenal pekerja keras. Tidak cukup ia menafkahi keluarganya di sekolah tempat kami bekerja, ia mengajar les di beberapa tempat. Ia berharap dapat membahagiakan isteri dan anak-anaknya. Pergi ke kantor pagi-pagi dan pulang malam hanya dengan kendaraan roda dua, rutinitas ini tidak pernah ia keluhkan, setidaknya pada saya. Rokok dan kopi menjadi penopangnya untuk dapat mempertahankan aktifitasnya ini.Dan mungkin ini juga yang menjadi penyebab penyakitnya.

Rutinitas dan kebiasaan ini saya duga berbahan bakar kecintaan pada anaknya. Dalam album foto di akun Facebook-nya, hampir semuanya adalah foto Indah, anaknya yang paling besar. Kami, para sahabatnya senag menggodanya saat Indah masih dalam kandungan. Saat almarhum sedang mencari nama untuk anaknya, beberapa teman kami mengusulkan beberapa nama, salah satu yang paling sering kami usulkan adalah Bella karena dapat berakronim Betty (nama isterinya) dan Lambok. Namun saat bayi lahir, ia puas dengan nama Indah dan bangga atasnya.

Saya terharu dan simpati pada kedua anaknya yang masih kecil. Mereka masih belum mengerti bahwa papanya yang sangat menyayangi mereka telah pergi. Saat berada di rumah duka kemarin, teman saya menggendong Indah, dan ia bertanya, "Papaku ada di situ?" sambil menunjuk ke peti mati dengan foto papanya di depan peti. "Iya, papa lagi bobo" jawab salah seorang teman kami. "Papaku di dalam situ?" tanyanya sekali lagi, saya melihat dengan jelas sorot matanya yang penuh kebingungan. Teman-teman kami yang berkerumun di sekitar Indah dan Helga tidak bisa berkata apa-apa. Salah satu orang tua murid yang kebetulan berada di dekat kami menyatakan,"Iya, papa lagi bobo sama Tuhan Yesus, ya?" "kenapa begitu?" tanyanya.Sekali lagi kami terdiam. Dada saya agak sesak menyaksikan pemandangan ini. Segera teman-teman kami mengalihkan pembicaraan dan mengganti pakaiannya yang basah karena keringat.

Banyak cerita mengharukan lainnya yang saya tidak bisa sampaikan di sini, namun di balik semua kisah yang memancing simpati, banyak pelajaran yang saya amati dapat diambil dari hidupnya dari perbincangan dengan teman-teman. Yang pertama, saya dan teman-teman mengakui bahwa sahabat kami ini adalah sosok guru yang dicintai oleh murid-muridnya. Sejak jenasah belum masuk ke dalam peti di rumah duka, gelombang siswa berdatangan. Bukan hanya mereka yang masih menjadi siswanya saat ini, tetapi juga para alumni dari berbagai daerah menyempatkan diri untuk memberikan penghormatan terakhir pada guru kesayangan mereka ini. Bahkan ada satu orang siswa yang baru tahu kabar duka ini di sore hari memutuskan untuk langsung meninggalkan kotanya di Bandung dan berangkat menuju rumah duka di Cikini, Jakarta. Ratusan siswa yang datang menunjukkan totalitasnya dalam mengajar anak-anak dengan penuh ketulusan.


Almarhum juga saya kenal sebagai seseorang yang murah hati. Tidak sedikit teman-temannya yang diajak untuk mengajar di sekolah kami sebagai guru part-timer. Ia memberikan kesempatan untuk meraih taraf hidup yang lebih baik. Tidak hanya itu, seorang teman saya bercerita, suatu hari tiba-tiba ia mendapatkan kiriman mie ayam dari almarhum. Sesaat sebelumnya mereka terlibat perbincangan di kantin bersama teman-teman lain. Teman saya menggodanya untuk mentraktir mie ayam. Ternyata, ia memang mengirimkan tiga mangkok mie untuk makan siang mereka.

Rasa Humornya yang unik, membuat kami terkadang geli, sebal tetapi juga senang. Ada beberapa orang tertentu yang mejadi sasaran empuk bercandaanya. Bahkan di saat-saat yang sangat serius dalam rapat atau pertemuan lainnya, ia menyempatkan diri melontarkan celetukan-celetukan yang memecahkan suasana yang beku dan tegang. Kini, humor-humor itu tiada lagi...

Selamat jalan Lae, seperti kata teman saya di status Facebooknya: Anda telah mengakhiri pertandingan... Istri dan anak-anak yang ditinggalkan tidak akan menunjukkan penyesalan, tetapi syukur, karena mereka memiliki suami dan ayah yang dapat mereka teladani. Demikian juga dengan kami para sahabat, rekan sekerja dan siswanya menaruh rasa syukur dan hormat atas hidup yang telah dibagi...

THE FIRST EDUCATOR_PART THREE

>> Sunday, February 28, 2010

Ini adalah bagian terakhir tulisan saya tentang Pendidik Utama...

__________

Orangtua yang Berfungsi
Kegagalan pendidikan anak bukan hanya diakibatkan karena ketiadaan atau ketidakhadiran orangtua, tetapi juga karena adanya orangtua ‘mandul’ di dalam keluarga. Orangtua memang hadir secara fisik dan berada di dekat anak, tetapi mereka tidak berfungsi menjalankan tugas pendidikan pada anak-anaknya.

Orangtua memang berada di dekat anak saat di rumah, tetapi baik anak maupun orangtua melakukan aktifitasnya masing-masing. Sang anak bermain games, sang ayah sibuk dengan laptop-nya dan sang ibu tidak bisa lepas dari Blackberry-nya. Orangtua memang duduk satu meja di restoran, tetapi hampir tidak ada pembicaraan berkualitas di meja makan. Masing-masing sibuk dengan makanannya, handphone-nya atau majalahnya. Orangtua memang hadir secara fisik, tetapi tidak berfungsi.

Memang, tidak sedikit anak-anak yang lahir tanpa orangtua atau anak-anak yang ditinggalkan orangtuanya, berhasil dalam hidupnya dan unggul dalam kepribadiannya. Hal ini dimungkinkan karena berbagai faktor, salah satunya adalah adanya karunia khusus Tuhan atas hidup anak itu. Namun, secara umum sebagian besar anak-anak lahir dari orangtua yang lengkap dan mereka dibesarkan dengan ayah dan ibu yang sama sejak mereka lahir.

Orangtua tidak berfungsi dalam tugas-tugas pendidikan, karena mereka cenderung belajar dari kesalahan masa lalu, Thomas Gordon, seorang psikolog Amerika, dengan tepat menggambarkannya:

Para orangtua masa kini hampir selalu percaya pada metode yang sama dalam membesarkan anak-anak dan menyelesaikan masalah-masalah dalam keluarga, metode yang telah digunakan oleh orangtua mereka, oleh kakek dan nenek mereka, oleh orangtua dari kakek nenek mereka. (Gordon:1975)

Orangtua perlu meningkatkan kemampuannya dan pemahamannya mengenai pendidikan anak secara konsisten. Menjadi orangtua memang secara alamiah terjadi ketika seseorang memiliki anak, tetapi menjadi orangtua yang berfungsi membutuhkan usaha.

Orangtua yang berfungsi adalah orangtua yang setidaknya melakukan dua hal. Pertama, ia adalah yang mengerti betul mengelola pernikahannya, yaitu hubungannya dengan pasangannya. Kedua, ia adalah orangtua yang terus menerus belajar dan mempraktekkan apa yang ia telah pelajari mengenai pendidikan anak.

Orangtua Pemelihara Pernikahan
Orangtua adalah otoritas di dalam keluarga dan anak adalah wujud kasih suami isteri dan objek kasih orangtua. David Code menyatakan pesan yang jelas isi bukunya melalui judulnya: To Raise Happy Kids, Put Your Marriage First (Untuk Membesarkan Anak yang Bahagia, Utamakanlah Pernikahan Anda). Anak tidak boleh menjadi pusat dalam keluarga.

Keberadaan suami dan isteri mendahului keberadaan anak. Hubungan suami isteri adalah sumber kehidupan anak. Tanpa hubungan yang kuat antara suami isteri, bagaimanapun kerasnya orangtua mendidik anak, anak-anak tidak akan bertumbuh secara maksimal dan sehat.

Suami isteri yang tidak harmonis akan dengan mudah dilihat oleh anak. Walau mereka tidak dapat mengatakannya, namun mereka mampu menerjemahkannya sebagai: ayah dan ibuku tidak sayang padaku lagi. Ya, anak-anak akan tergoncang jiwanya melihat orang tuanya yang tidak sejalan. Saat suami memarahi isteri, atau saat isteri mengacuhkan perkataan suami, anak-anak akan menjadi bingung dan mereka akan berusaha keras memahami dan memaklumi kejadian itu. Tetapi pada dasarnya mereka mulai mengurangi kepercayaan, hormat dan cinta mereka pada orang tua.

Berdamai dengan dengan pasangan sebelum meminta anak melakukan sesuatu adalah hal yang bijak yang orangtua dapat lakukan. Melakukanlah terlebih dahulu pada pasangan hal-hal yang ingin anak lakukan juga merupakan hal yang baik untuk dipraktekkan. Orangtua adalah mata air bagi anak. Anak adalah seperti sungai. Jika mata airnya kotor, kotor pula sungai yang mengaliri airnya, tapi bila mata airnya bersih, jernih pula air yang melalui sungai itu.

Bayangkan sebuah payung dengan tudung bocor atau tangkai yang patah, percumalah siapapun yang berteduh di bawah payung itu. Anak-anak akan diserang oleh hujan dan terik panas tantangan dunia ini bila suami isteri tidak sepakat, sehati dan intim. Oleh karena itu, dengan mengevaluasi secara terus menerus dan memastikan hubungan antara suami isteri telah kokoh, Orangtua dapat mulai mendidik anak dengan penuh integritas dan percaya diri.

Orangtua Pembelajar
Orangtua yang berhenti belajar adalah orangtua yang ‘mandul’, tidak efektif. Orangtua kerap disalahkan atas keabnormalan perilaku anak, tetapi orangtua tidak pernah belajar dari kesalahan, seperti yang ditandaskan Thomas Gordon:
Orangtua disalahkan, tetapi tidak dilatih...(Gordon:1975)

Ya, orangtua perlu dilatih. Orangtua bukanlah pribadi yang maha tahu, maha mampu atau maha segalanya, sehingga ia tidak pernah belajar menjadi orangtua yang berfungsi. Berapa jumlah waktu yang orangtua sediakan untuk belajar ‘menjadi orangtua’ tiap harinya? Hampir tidak ada. Hal ini sangat memprihatinkan.

Pembelajaran dapat dimulai dari diskusi bersama pasangan. Diskusi mengenai pandangan masing-masing dalam mendidik anak sangatlah bernilai. Diskusi ini akan bermuara pada kesatuan dan kesepakatan pandangan dalam mendidik anak. Pandangan akan bertambah kaya dengan berkonsultasi dengan rohaniwan, pakar pendidikan anak atau lainnya.

Setelah kesepakatan dicapai, orangtua perlu membuat cetak biru pendidikan anaknya. Hal ini amat jarang dilakukan orangtua pada umumnya. Cobalah bertanya pada pasangan, teman dekat, tetangga atau saudara yang telah menikah, berapa banyak di antara mereka yang memiliki tujuan, visi dan misi, rencana atas pendidikan anak-anak mereka. Sebagian besar dari mereka membutuhkan waktu lama untuk menjawabnya dan tidak sedikit yang menjawab “Hmm, apa ya?”

Seorang ayah atau suami yang menjabat sebagai manajer di perusahaan tentunya tahu benar bahwa tanpa perencanaan yang matang, analisa potensi yang jeli dan pemahaman yang tajam akan konsumen, perusahaan dapat bangkrut dalam waktu singkat. Untuk pekerjaan atau profesi di perusahaan yang bukan milik sendiri, seorang ayah dapat membuat rencana atas perusahaan itu; tidakkah untuk keluarganya sendiri ia perlu melakukan hal yang sama?

Seberapa banyak waktu dalam setahun yang digunakan orangtua untuk duduk bersama pasangannya berdiskusi dan bahkan berdoa mengenai rencana pendidikan anak mereka di tahun itu. Seberapa banyak waktu dalam sebulan yang digunakan orangtua untuk mengadakan evaluasi atau refleksi dari perkembangan anak-anak mereka. Seberapa banyak waktu dalam seminggu yang orangtua sediakan untuk belajar menjadi orangtua yang lebih baik, yang lebih berfungsi. Seberapa banyak waktu dalam sehari yang orangtua sediakan untuk berada bersama-sama anaknya.

Saya mengusulkan, setidaknya orangtua perlu menyediakan waktu untuk mempelajari ketiga area berikut:
1. Pondasi Menjadi Orang Tua (Parenting Foundation), yang meliputi tujuan pernikahan, tujuan pendidikan anak, ilmu komunikasi dan nilai-nilai berkeluarga
2. Pengelolaan Sumber Daya Keluarga (Resources Management), yang meliputi pengelolaan waktu, pengelolaan keuangan, dan pengelolaan keahlian dan potensi
3. Strategi Perawatan dan Pengembangan Diri Anak (Child Nurturing and Development Strategies), bagian yang satu ini sangatlah luas, namun bagian ini dapat difokuskan kepada dua hal yaitu tentang perawatan tumbuh kembang anak dan pengembangan pola pikir, mental dan karakter anak.

Dengan menguasai ketiga area di atas bukan berarti orangtua telah menjadi orangtua yang sempurna, karena memang tidak ada orangtua yang sempurna. Berikut pernyataan Steve Chalke, seorang praktisi pelatih orangtua:

Namun, sebenarnya keluarga bahagia yang sempurna benar-benar tidak ada… bahkan tidak ada jaminan bahwa keberhasilan pada satu anak di suatu waktu akan berhasil di waktu lain pada anak yang sama atau anak lainnya. Menjadi orangtua lebih seperti berimprovisasi dalam musik, tidak seperti matematika. Ada prinsip-prinsip umum yang sangat penting, tetapi sebagian besar adalah masalah bakat dan gaya individu…
Menjadi orangtua sempurna tidak hanya di luar kemampuan Anda, tetapi di luar kemampuan semua orang. Secara sederhana, untuk menjadi orangtua yang sempurna, Anda haruslah orang sempurna dan tidak seorang pun yang seperti itu di dunia ini. (Chalke:2009)


Dengan memahami bahwa tidak ada orangtua yang sempurna, orangtua di manapun dapat dengan penuh percaya diri terus menerus belajar hanya untuk menjadi orangtua yang lebih baik dari hari sebelumnya. Inilah makna sesungguhnya dari pendidikan dalam keluarga: orangtua yang belajar dan anak yang terdidik dalam keluarga.
Semakin dini orangtua menerima anak apa adanya dan menjadi teladan bagi mereka, semakin banyaklah kesempatan orangtua untuk menemukan, membentuk dan mengembangkan jati diri atau karakter anak. Saat anak harus terjun ke dunia luar, baik itu di sekolah atau di lingkungan sekitar dan saat anak bertumbuh dewasa, ia menjadi anak panah yang siap melesat menuju sasaran yang Tuhan telah tetapkan, karena mereka telah dididik dengan benar oleh pahlawan mereka, orangtua.

Referensi:
• Chalke, Steve. How To Succeed as a Parent: Panduan Praktis Mengasuh Anak dengan Sukses. Yogyakarta: Penerbit ANDI, 2009.
• Drost, SJ. Proses Pembelajaran sebagai Proses Pendidikan. Jakarta: Penerbit Grasindo, 1999.
• Drost, SJ. Reformasi Pengajaran: Salah Asuhan Orangtua? Jakarta: Penerbit Grasindo, 2000.
• Gordon, Thomas. P.E.T. Parent Effectiveness Training. New York: A Plume Book, 1975.
• Harefa, Andrias. Menjadi Manusia Pembelajar. Jakarta: Penerbit Buku Kompas, 2000.
• Harefa, Andrias. Pembelajaran di Era Serba Otonomi. Jakarta: Penerbit Buku Kompas, 2001.
• Knight, George H. Philosophy Education. Michigan: Andrews University Press, 1998.
• Wolterstoff, Nicholas P. Educating For Life. Michigan: Baker Publishing Group, 2002.
• www.tamansiswa.org
• www.detik.com
• www.ycab.org
• www.google.co.id/trends
• catatan-guru.blogspot.com

THE FIRST EDUCATOR_PART TWO

>> Sunday, February 21, 2010

Ini adalah bagian kedua tulisan saya dengan judul Pendidik Utama.

__________

Batu Penjuru Pendidikan dalam Keluarga
Pendidikan yang dijalankan oleh orangtua haruslah bersumber dari pengertian yang benar. Pendidikan yang educere atau membawa keluar adalah pendidikan yang menerima anak apa adanya dan yang memberi teladan. Pengingkaran akan dua hal ini akan berdampak buruk pada diri anak saat dewasa.

Pater Drost menyatakan bahwa kebanyakan orangtua tidak menerima anak apa adanya. Anak telah dipaksakan untuk seperti yang orangtua mau. Harus begini dan begitu, dileskan ini dan itu. Orangtua terlambat menyadari bahwa anak harus diterima apa adanya.

Masalah-masalah dalam pendidikan anak dimulai dengan kenyataan bahwa orang tua pada umumnya tidak menerima kenyataan dari anaknya sendiri… jadi orang tua itu tidak menerima anak mereka sebagaimana adanya. Anak dipaksa menjadi manusia rekaan orang tua. (Drost:1999)

Tuhan telah menjadikan pribadi anak yang demikian adanya, karena itu anak harus diterima apa adanya oleh orangtua. Anak adalah pemberian Tuhan. Setelah anak diterima apa adanya, barulah dimulai proses pendidikan. Orangtua harus memfasilitasi dan mendidik anak bukan seperti yang ia mau, tetapi seperti yang Tuhan mau. Tentang bagaimana mengetahui apa yang Tuhan mau bagi anak, perlu disampaikan dalam tulisan tersendiri atau dengan merujuk pada buku-buku yang sesuai.

Hal yang kedua adalah menjadi teladan. Orangtua yang menabur teladan yang baik pada anak-anaknya akan menuai anak-anak yang berbahagia. Orangtua yang membuang sampah pada tempatnya, tanpa harus berbicara, memberi pesan kepada anaknya: “Nak, beginilah kamu harus menjaga kebersihan.” Orang tua yang mengaku merusak barang pecah belah di toko swalayan memberi pesan kepada anaknya: “Nak, kejujuran itu penting.” Orangtua yang meminta maaf pada orang yang dirugikan olehnya, memberi pesan kepada anaknya: “Hormatilah hak orang lain dan peliharalah hubungan baik.” Tanpa perlu kata-kata, anak merekam semua itu dalam memorinya dan ia akan meniru apa yang telah mengesankan hatinya dari teladan yang dilihatnya setiap hari.

Kebalikannya, bila anak melihat orangtua yang senantiasa saling bertengkar satu sama lain, maka anak mendapat pesan: “Perasaanmu tidak sepenting rasa berharga kami.” Bila orangtua menggosipi tetangganya dan bermuka manis di depan mereka, mengirimkan pesan pada anak: “Nak, menjadi munafik adalah hal yang biasa.” Orangtua yang terlalu sibuk mencari uang dan tidak memiliki waktu berkualitas bersama anak, mengirim pesan pada anaknya: “Uang lebih penting dari kamu, kehadiran saya dapat diganti oleh uang.” Rekaman video kehidupan ini tersimpan baik dalam pikiran anak-anak, di mana suatu saat nanti ia akan melakukan hal yang sama, bahkan lebih buruk dari yang ia alami.

Menjadi teladan adalah yang tersulit. Bila anak berbuat kesalahan atau kegagalan, marilah dengan besar hati, orang tua mengaku: “Ini terjadi karena saya tidak menjadi teladan yang terbaik.” Bila anak cenderung nakal, bersikap tidak sopan, berkarakter buruk, malas, atau lainnya: “Ini terjadi karena saya tidak tekun memberi contoh dengan tekun.” Orangtua adalah teladan pertama dan yang paling berpengaruh. Oleh karena itu, orang tua perlu berusaha keras menjadi teladan terbaik bagi anaknya, bahkan hingga orangtua dapat menjadi cerminan pribadi Tuhan bagi anak-anaknya.

Jika orangtua gagal menerima anak apa adanya dan gagal menjadi teladan yang terbaik bagi anaknya, orangtua sedang menambahkan jumlah kerusakan generasi penerus bangsa. Telah banyak korban berjatuhan akibat orangtua yang secara sengaja ataupun tidak menjadi perusak diri dan masa depan anak. Perhatikan data berikut ini:

1. Kidia mencatat bahwa pada tahun 2004, hanya terdapat 15% acara yang aman untuk anak-anak. Padahal anak-anak menghabiskan waktu 30-35 jam minggu atau 4-5 jam per hari untuk menonton TV.
2. Lyto, sebuah penerbit game online di Indonesia menyatakan bahwa penggunanya telah melebihi angka enam juta orang pada tahun 2009. Dari keterangan siswa-siswa saya, seorang anak dapat menghabiskan waktu rata-rata 3 jam untuk bermain dengan mengeluarkan uang Rp 4000 per jamnya.
3. Yayasan Cinta Anak Bangsa (YCAB), sebuah LSM yang bergerak dalam bidang pencegahan penggunaan narkoba, melakukan penelitian pada tahun 2007 di enam kota di Indonesia. Usia rata-rata pengguna narkoba ternyata adalah 14 tahun! Dan alasan terbesar mengapa mereka mengunakannya hanya karena untuk coba-coba (72%), sisanya karena frustrasi dalam masalah keluarga dan hubungan.
4. Google, sebuah mesin pencari tersohor di dunia maya menyatakan data yang mencengangkan pada tahun 2009. Indonesia adalah Negara peringkat keempat terbesar di dunia pencari konten seksual atau pornografi. Bahasa Indonesia juga merupakan bahasa terbanyak yang digunakan dalam pencarian situs-situs porno.
5. Komnas Perlindungan Anak menyatakan hasil yang mengejutkan dalam penelitiannya tentang seks bebas di 33 provinsi pada tahun 2008. Sebanyak 63% remaja wanita SMP sudah tidak perawan, bahkan sebanyak 21% telah mengaku melakukan aborsi. Bahkan WHO menyatakan telah terjadi setidaknya dua juta kasus aborsi per tahun di Indonesia!
Serangan-serangan televisi, permainan elektronik, narkoba, pornografi dan seks bebas akan mudah mempengaruhi dan merasuki anak-anak, bila orangtua tidak menyadari dan mengambil komitmen untuk menerima anak mereka apa adanya dan menjadi teladan bagi mereka. Generasi muda yang hancur selalu dengan mudah diketahui akar persoalannya, yaitu orangtua tidak menerima anak apa adanya dan tidak menjadi teladan terbaik bagi anaknya.

Di dalam proses pendidikan, orangtua dapat berperan sebagai pelatih dan pengajar anaknya. Di sinilah pengajaran dan pelatihan mendapat bentuk sebagai bagian integral dari pendidikan. Di irisan ini pulalah, orangtua berinteraksi dengan guru. Mengingat keterbatasan orangtua dalam mengajar dan melatih anaknya, guru dapat menjadi mitra orangtua dalam ‘mendidik’ anak, yaitu dalam memfasilitasi aplikasi dan refleksi proses pendidikan orangtuanya dan dalam mengajar dan melatih anak-anak dalam pengetahuan dan keterampilan.

Setelah membuat komitmen untuk menerima anak apa adanya dan menjadi teladan bagi mereka, inilah saatnya orangtua untuk mulai berfungsi dalam mendidik anak. Saya memperhatikan beberapa orangtua saat di pusat perbelanjaan. Mereka menemani anaknya bermain di arena bermain, makan bersama di restoran capat saji atau sekedar berkeliling sambil menuntun anak mereka. Apakah hal ini telah menunjukkan perhatian orangtua pada pendidikan anak? Saya pikir mungkin juga demikian, tetapi pendidikan anak yang sebenarnya tidak hanya melulu berada di dekat anak.

Berada di dekat anak adalah hal yang baik dan penting. Namun, apa yang orangtua katakan, lakukan dan teladankan saat bersama anak, itu jauh lebih penting.

THE FIRST EDUCATOR_PART ONE

>> Sunday, February 14, 2010

Ini adalah essay saya tentang Pendidikan Keluarga yang saya kirim ke Lomba penulisan tentang pendidikan di SDH Daan Mogot, Jakarta. Silahkan menikmati bagian pertama tulisan ini...
__________

Pendidik utama ialah orangtua dan mereka mendidik anak muda lewat proses yang dinamakan pendidikan dan semua pendidikan adalah proses informal, tidak ada pendidikan formal. (Drost:2000)

Sebagian besar masyarakat masih mengasosiasikan pendidikan dengan sekolah atau guru. Hal ini tidaklah salah, tetapi mengapa pendidikan tidak lebih dulu diasosiasikan dengan keluarga? Pendidikan atau education dalam bahasa Inggris berasal dari bahasa Latin educere, yang secara bebas bermakna membawa keluar. Pendidikan dapat berarti membawa keluar jati diri atau karakter yang Tuhan telah tetapkan secara istimewa pada diri anak. Pengertian ini menjadi kontras dengan apa yang sekolah dan khususnya guru lakukan di dalam kelas. Guru cenderung melakukan yang sebaliknya dengan apa yang disebut educere atau membawa keluar. Di ruang-ruang kelas, tugas utama guru adalah ‘membawa masuk’ ilmu pengetahuan dan keterampilan ke dalam diri anak.

Belajar dari Sejarah
Sepanjang sejarah, sekolah tidak pernah diperuntukkan terutama sebagai lembaga pendidikan. Sekolah adalah lembaga pengajaran dan pelatihan terbaik yang pernah ada. Perhatikanlah sekelumit sejarah sekolah berikut.

Plato, yang disebut sebagai pendiri sekolah pertama dengan Akademos-nya, menempatkan matematika, humanity (kemanusiaan) dan kesusasteraan sebagai pusat kurikulumnya (Knight: 1998). Sedangkan muridnya, Aristoteles, yang mendirikan sekolah Lyceum, menempatkan lebih banyak bidang ilmu dalam kurikulumnya, khususnya bidang sains dan matematika (Knight: 1998). Di Timur, Konfusius menempatkan kebijaksanaan dan aturan ketatalaksanaan sebagai pusat kurikulumnya (Sathern: 1997). Sekolah formal menemukan bentuk seperti yang sekarang ini dimulai kira-kira sejak abad ke 13 di Eropa oleh kaum skolastik (Harefa: 2001). Sekolah mulai memiliki standar kelas, kurikulum, pengajar dan fasilitas.

Di Indonesia sendiri, khususnya di Jawa, Padepokan, Pawiyatan dan Paguron telah dikenal sebagai tempat belajar para siswa pada waktu itu. Adapun kurikulum inti yang diajarkan lebih banyak kepada keterampilan dalam tugas hidup sehari-hari, seperti mencuci piring, menghidangkan makanan dan melayani guru bagi siswi dan keterampilan yang lebih sentral dalam kehidupan waktu itu bagi para siswa, mulai dari mencari kayu bakar, asisten guru, hingga bertapa/semedi. Selain itu materi pelajaran dalam pendidikan tradisi di Nusantara umumnya secara lisan dan bersifat umum meliputi antara lain perihal kejiwaan, kefilsafahan, kesusasteraan, kanuragan, kaprajuritan, pertanian, titi mongso, pananggalan, adat istiadat, tata krama dan perbintangan (Dwiarso: 2008).

Sekarang, sekolah formal Indonesia menerjemahkan kurikulumnya ke dalam sejumlah mata pelajaran. Sekolah Dasar setidaknya memiliki 5 mata pelajaran, SMP 10 mata pelajaran dan SMA 14 mata pelajaran. Dari sekian banyak mata pelaajran itu, saya bisa kelompokan menjadi lima bidang pelajaran: bahasa, ilmu eksakta (sains), ilmu sosial, Agama & Kewarganegaraan, dan Seni & Teknologi. Semua mata pelajaran di sekolah adalah bidang ilmu dan keterampilan yang hanya menyentuh ranah kognitif dan psikomotorik.

Dari riwayat sekolah ini, kita dapat melihat bahwa sekolah selalu membimbing siswanya untuk menguasai pengetahuan dan keterampilan tertentu. Sekolah selalu dimaksudkan sebagai lembaga pengajaran dan pelatihan untuk memperlengkapi siswanya agar dapat bereksistensi secara sosial dan menjadi profesional dalam dunia usaha, karir dan kerja mereka nanti.

Pendidikan, Terjadi dalam Sekolah atau Keluarga?
Adapun sekolah terus menerus berusaha untuk masuk dalam ranah afektif ditengarai karena keprihatinan atas mutu siswa dan lulusan yang kurang bermoral dan berakhlak mulia. Pelaksanaan berbagai program dan pelajaran karakter atau budi pekerti oleh sekolah sebenarnya kurang tepat dan sudah terbukti kurang efektif. Anak yang taat, disiplin dan sopan hampir tidak pernah datang dari pengajaran di ruang kelas. Demikian juga dengan inisiatif, kerendahan hati atau keberanian.

Guru dan lingkungan sekolah dapat menjadi sumber inspirasi pembentukan karakter anak. Namun, seberapa banyak guru yang memiliki kemampuan untuk mendidik anak dengan baik di saat ia harus mengajar? Guru cenderung telah dipenjara oleh kurikulum dan rutinitasnya dalam sekolah.

Karakter atau budi pekerti tidak dapat dipelajari secara formal seperti mata pelajaran sekolah pada umumnya. Karakter atau budi pekerti hanya diperoleh melalui jalur pendidikan, dan bukan pengajaran. Dengan kata lain, anak akan beroleh pendidikan di dalam keluarga. Sedangkan di sekolah, anak-anak lebih banyak mempraktekkan dan merefleksikan hasil didikan orangtua mereka itu.

Seperti yang dikatakan oleh Pater Drost, sekolah sebenarnya tidak bisa menjadi lembaga pendidikan. Hal ini dikarenakan pendidikan tidak pernah menempuh proses yang formal di ruang-ruang kelas dengan mata pelajaran tertentu dan dengan bentuk ujian tertentu. Pendidikan selalu mengambil tempat yang Andrias Harefa menamainya sebagai Universitas atau Sekolah Besar Kehidupan (Harefa:2000).

Sekolah dapat dikatakan sebagai lembaga pendidikan hanya karena ia bermitra dengan orangtua. Orangtua memberikan pada guru dan sekolah sebagian dari tanggung jawabnya sementara anak berada di sekolah. Bahkan kalimat ini pun kurang tepat, karena orangtua selalu menjadi pendidik anak kapan dan di mana pun. Sekolah tidak pernah menjadi penanggung jawab utama pendidikan anak. Orangtualah penanggung jawab utamanya.

Nicholas P. Wolterstoff, professor filsafat dari Calvin College menyatakan:

Guru-guru memang mempunyai hak terkait pendidikan anak – menurut saya terutama hak untuk menerapkan kompetensi profesional mereka dalam mengajar. Tetapi guru tidak mempunyai hak apapun untuk menentukan ciri-ciri pendidikan anak. Orangtualah yang mempunyai hak dan tanggung jawab itu. (Wolterstoff:2007)

Pernyataan Wolterstoff ini adalah penegasan, bahwa orangtualah kepala dari lembaga pendidikan anak dan keluarga adalah lembaga utama pendidikan anak, bukan sekolah. Oleh karena itu, perlu usaha besar untuk mengembalikan asosiasi dan peran pendidikan kepada keluarga dan orangtua di dalam masyarakat.

Kini, kita dapat sepakat bahwa pendidikan adalah hak dan tanggungjawab orangtua. Pendidikan dimaksudkan untuk menemukan, membentuk dan mengembangkan jati diri atau karakter anak.

Conflict Management

>> Friday, September 4, 2009

Entah mengapa saya menjadi tersinggung dengan komentar beberapa teman lama saya di Facebook. Rasa marah, rasa dikhianati dan kecewa bercampur jadi satu. Jantung saya mulai terasa berbeda detaknya, anggota tubuh agak gementar dan untuk sementara pikiran tidak dapat berkonsentrasi pada pekerjaan. Saya mencoba menenangkan diri, berdoa dan berpikir sejenak mengapa respon saya seperti demikian dan apa yang harus saya lakukan selanjutnya.

Dalam hidup ini masalah dan potensi konflik bisa masuk dalam hidup manusia tanpa ijin. Tiba-tiba saja dia datang dan sedikit banyak menggoyang akal budi dan hati kita. Sepanjang manusia masih hidup, ia tidak berhenti memiliki masalah. Pertanyaannya adalah berapa banyak orang yang tetap berbahagia dalam segala persoalan yang dihadapinya dan berapa banyak yang termakan oleh tantangan yang datang dan (kadang tidak) pergi seenaknya? Pertanyaan selanjutnya adalah mengapa mereka demikian?

Persoalan tersinggung bisa dilihat dari kacamata yang berbeda. Ada yang menganggapnya angin lalu, ada juga yang berujung kepada kematian, tergantung pada kedewasaan dan kematangan kepribadian seseorang. Berapa banyak orang yang memiliki dendam tersembunyi kepada orang tuanya, berapa banyak mereka yang sakit hati karena dikecewakan saudara atau teman terbaiknya dan berapa banyak orang yang kepahitan dan marah karena perlakuan buruk orang lain? Hal ini begitu sering kita temukan dalam kehidupan manusia, tapi berapa sering kita diajar atau didorong untuk menyelesaikannya?

Pengelolaan konflik adalah suatu keterampilan dasar manusia yang sejak dini seharusnya dikuasai oleh seseorang. Bila sedari kanak-kanak keterampilan ini dimiliki, maka perjalanan hidupnya di tingkat usia lebih lanjut akan menjadi lebih baik, lebih berbahasia dan lebih unggul. Manusia adalah mahluk yang komunal atau sosial. Ia selalu berhubungan dengan manusia lainnya. Hal ini adalah sangat mendasar. Tapi mengapa sekolah tidak mencantumkan pelajaran pengelolaan konflik ini dalam kurikulum utamanya? Pertanyaan besar bukan?

Saya telah menulis ini dalam artikel saya yang sebelumnya (klik di sini), bahwa sekolah pada mulanya tidak dirancang untuk menjawab persoalan-persoalan yang berhubungan dengan karakter, moral dan etika. Ia dirancang untuk memberikan pengetahuan dan keterampilan akademis saja.

Ini adalah tanggung jawab keluarga dan masyarakat untuk mendidik anak-anak hingga terampil dalam mengelola konflik yang akan ditemuinya di sepanjang hidupnya. Anak-anak yang ditempa dan dilatih ini akan menjadi manusia-manusia yang kuat, mampu berpikir lebih luas dan berjiwa lebih besar. Namun, mengingat tidak sedikit keluarga yang impoten dalam hal ini, maka sekolah perlu 'mengambil alih' peran ini. Sekolah perlu memikirkan bagaiamana cara terbaik dengan menggunakan sumebr daa terbaik demi terbangunnya menusia-manusia yang terampil dalam mengelola konflik.

FACING THEGIANTS AND FAITH LIKE POTATOES

>> Monday, August 3, 2009

Dalam acara ucapan syukur seorang tetangga kami, para undangan yang adalah para tetangga di lingkungan kami, kami disuguhi dua buah film yang sangat mengesankan.

sambil mengobrol dan menikmati makanan, diputar dua buah film keluarga yanga sarat akan nilai-nilai unggul dalam kehidupan. Film pertama berjudul Facing The Giants, dan yang berikutnya adalah Faith Like Potatoes. Saya amat merekomendasikan dua film ini karena memang banyak pelajaran penting dalam kehidupan yang bisa ditarik. perlu diketahui, dua film ini diadaptasi dari kisah nyata.

Facing the Giants menceritakan tentang perjuangan seorang pelatih dan klub american football-nya yang terus terpuruk dalam suatu musim pertandingan. Sang pelatih dilanda persoalan yang ujungnya menyangkut akan hidup matinya klub ini. Persoalan bertambah berat saat keluarganya pun dihadapkan pada kenyataan bahwa mereka kesulitan memiliki anak.

namun, dalam segala persoalan yang dihadapi itu, sang pelatih mengalami titik balik saat ia kembali mengingat Tuhan dalam hidupnya. Ia menyertakan Tuhan dalam segala aspek dalam hidupnya. Cerita pun mulai berubah suasana. Sejak ia terus membangun hubungan yang intim dengan Tuhannya, kerap kali ia mendapatkan inspirasi tentang bagaimana ia harus mengelola dan memimpin timnya. Ia berhasil pula menginspirasi dan memimpin timnya untuk tidak mudah menyerah dan melakukan yang terbaik saat pertandingan.

Jalan cerita dan penataan plot yang sangat baik telah dilakukan oleh sanga sutradara, sehingga banyak kali ditemukan adegan-adegan yang sarat nilai-nilai perjuangan dan pantang menyerah. Film ini layak ditonton berulang-ulang. Para penikmat film ini di acara ucapan syukur ini kerap kali mengatakan betapa hebatnya film yang diangkat dari kisah nyata ini.


Film yang kedua yang kami tonton secara beruntun dalam acara itu adalah Faith like Potato. cerita yang mengisahkan seorang petani yang amat bersandar dan percaya kepada Tuhannya. Berkali-kali ia mengalami tantangan dalam mengembangkan pertaniannya di Afrika demi kesejahteraan orang Zambia di lingkungan pertaninannya. Sebanyak ia melakukan usahanya untuk mengembangkan pertaniannya, sebanyak itu pula kegagalan ia alami.

Dalam kegalauan hatinya, ia kembali kepada Sang Khalik. Ia sadar bahwa tanpa penyertaanNya, tak mungkin ia berhasil dalam pekerjaannya itu. Kesadaran itu memimpinnya untuk mempelajari tentang apa pesan Tuhan bagi dirinya secara pribadi dan pekerjaannya. Perjalanan menuju keberhasilan tidaklah semudah yang dibayangkan. Walaupun ia telah 'bertobat' dari cara dan sikap hati yang salah, namun tantangan terus berdatangan. Namun, semakin besar tantangan yang dihadapinya, semakin besar mujizat yang terjadi dan yang dipertontonkan pada banyak orang. Kepercayaannya kepada Tuhan menjadi modal utama saat ia memutuskan untuk menanam kentang di suatu musim tanam yang sebenarnya dilanda kekeringan panjang. Tak satu tetes airpun mengalir di ladangnya, tetapi mujizat tetap terjadi karena iman percayanya telah menjadi air dan pupuk yang subur di ladangnya.

Suatu kisah nyata yang inspiratif dan menantang iman percaya kita juga. Kemustahilan adalah pintu yang Tuhan pakai untuk kita masuk dalam kebahagiaan, asalkan kunci iman itu kita gunakan untuk membukanya. Film ini sangat layak ditonton bersama rekan-rekan sekerja dan sekeluarga.

Dua film ini menggambarkan sekolah kehidupan yang dengan keras mendidik manusia. Selamat menikmati film yang berkualitas.

Positive and Negative

>> Monday, June 22, 2009

Wah, liburan itu memang enak...! Waktu dihabiskan bersama orang-orang yang terkasih: istri dan anak. Inilah salah satu keuntungan menjadi guru, kala anak libur, guru juga ikut. Walau tidak sebanyak siswanya, tetapi tetap menguntungkan. Hampir saja saya libur menulis di blog ini akibat atmosfir libur. Saya berharap saya tetap konsisten menulis.

Sejak sebelum libur, kami sudah merencanakan hal-hal yang akan dikerjakan selama libur. Kami berencana berenang sekeluarga, membantu istri berbenah rumah dan juga menolongnya membuat makanan-makanan ringan. Seru! Saya pribadi mengagendakan sebuah proyek perdana saya, mudah-mudahan target dapat tercapai. Terima kasih buat isteri dan beberapa rekan yang mendukung. Selain itu, saya berkomitmen untuk lari pagi setiap hari selama liburan ini.

Ada hal menarik yang terjadi ketika saya memulai lari pagi di wilayah perumahan saya. Jarak yang saya tempuh tidak begitu jauh, hanya berkeliling satu blok saja. Setiap hari saya berniat menambah satu jumlah putaran. Namun sepertinya tidak sanggup. Sesudah empat hari saya memulai ini saya masih bertahan di dua putaran saja. Mungkin ini karena usia.

Dalam dua hari pertama saya berlari pagi, saya lari tanpa disertai pemandangan lain kecuali rumah-rumah yang masih tertutup dan orang-orang yang masih terlelap di tempat tidurnya. Terkecuali warung di dekat rumah yang tengah bersiap-siap menyambut pelanggannya. Namun pada hari ketiga ketika saya bangun sedikit kesiangan untuk memulai aktifitas saya ini, saya berjumpa dengan tetangga-tetangga saya yang sudah mulai keluar rumah di pagi itu.

Mereka tersenyum ramah dan dan memberikan beberapa komentar berikut:
"Wah, pak Rudi sudah mulai tua ya? jadi olahraga pagi?"(dengan melempar senyum lebar)
"Lari pagi pak? ini acara rutin setahun sekali ya?" (sambil tertawa)
"Pak Rudi larinya setahun sekali, waktu liburan sekolah aja" (sambil tertawa juga)

Tidak ada masalah dengan komentar mereka yang spontan itu, karena memang kenyataannya saya jarang berolah raga. Sekalinya saya kedapatan berolah raga, saya bertemu dengan mereka ini. Saya pun mungkin akan berespon yang sama bila melihat seseorang melakukan hal yang sama seperti saya. Inilah kecenderungan spontan manusia untuk berkomentar negatif, walaupun sebenarnya bermaksud berbasa-basi atau bercanda.

Dalam Buku Quantum Learning karangan Bobbi de Porter, penulis menunjukkan sebuah hasil survey yang menarik. SEdari kecil seorang anak hanya menerima rata-rata tujuh komentar negatif dari delapan komentar mengenai diri atau perbuatannya setiap hari. Tidak heran kita menjadi terlatih untuk melemparkan komentar-komentar negatif bahkan dalam bentuk bercanda dan basa-basi. Ekstremnya, ada sebagian orang yang melihat sisi negatif lebih cepat dan mudah dari pada sisi positif.

Dalam hal inilah, baik kepada siswa maupun orang lain, kita perlu belajar sungguh-sungguh untuk berpikir, berkata-kata dan bertindak dengan positif. Mengapa sungguh-sungguh? karena yang baik itu harus dilatih, sedangkan yang tidak baik tidaklah perlu demikian. Kata teman saya, untuk menjadikan ruangan itu bersih kita perlu mengusahakannya. tetapi untuk menjadikan sebuah ruangn berdebu kita cukup membiarkannya saja.

Mari kita berusaha melakukan yang baik dan positif demi kebaikan orang lain...

Parents' Partner

>> Tuesday, June 2, 2009

Apakah Anda cenderung berpikir sekolah dapat mendewasakan anak Anda? Apakah Anda berpikir sekolah akan membentuk kepribadian dan membangun potensi dirinya? Apakah benar bahwa sekolah yang sangat tinggi kedisiplinan ilmunya akan membawa keberhasilan dalam kehidupan mereka sesungguhnya?

Sampai sejauh ini sekolah formal pada umumnya menerjemahkan kurikulumnya ke dalam sejumlah mata pelajaran. Sekolah Dasar setidaknya memiliki 5 mata pelajaran, SMP 10 mata pelajaran dan SMA 14 mata pelajaran. Dari sekian banyak mata pelajran itu, saya bisa kelompokan menjadi lima bidang pelajaran: bahasa, ilmu eksakta (sains), ilmu sosial, Agama & Kewarganegaraan, dan Seni & Teknologi.

Dalam pandangan lain, kebanyakan sekolah formal - khususnya sekolah swasta, apalagi sekolah nasional plus dan internasional - mengedepankan keunggulan sekolahnya baik dari sisi fasilitas, sumber daya manusia maupun program tambahannya. Yang terakhir ini dapat berupa program akademik atau non-akademik. Ada sekolah yang mengunggulkan kewirausahaan, ada juga pendidikan karakter, keterampilan hidup, dll. Namun yang jelas, program-program ini hanyalah berupa tambahan dan bukan merupakan kurikulum inti. Percaya atau tidak, menurut pengamatan saya, kebanyakan siswa yang terlibat aktif dalam program tambahan ini cenderung lebih berhasil dalam hidupnya. Atau setidaknya mereka dapat lebih siap dalam menghadapi dan menyelesaikan tantangan-tantangan hidup mereka.

Mari kita bandingkan dengan apa yang menjadi isi kurikulum pada mulanya. Plato, yang disebut sebagai pendiri sekolah pertama dengan Akademos-nya, menempatkan matematika, humanity(kemanusiaan) dan kesusasteraan sebagai pusat kurikulumnya (Knight: 1998; p.45). Sedangkan muridnya, Aristoteles, yang mendirikan sekolah Lyceum, menempatkan lebih banyak bidang ilmu dalam kurikulumnya, khususnya bidan sains dan matematika (Knight:1998; p.49). Di Timur, Konfusius menempatkan kebijaksanaan dan aturan ketatalaksanaan sebagai pusat kurikulumnya(Sathern:).

Di Indonesia sendiri, khususnya di jawa, Padepokan, Pawiyatan dan Paguron telah dikenal sebagai tempat belajar para siswa pada waktu itu. Adapun kurikulum inti yang diajarkan lebih banyak kepada keterampilan dalam tugas hidup sehari-hari, seperti mencuci piring, menghidangkan makanan dan melayani guru bagi siswi dan keterampilan yang lebih sentral dalam kehidupan waktu itu bagi para siswa, mulai dari mencari kayu bakar, asisten guru, hingga bertapa/semedi. Selain itu materi pelajaran dalam pendidikan tradisi di Nusantara umumnya secara lisan dan bersifat umum meliputi antara lain perihal kejiwaan, kefilsafahan, kesusasteraan, kanuragan, kaprajuritan, pertanian, titi mongso, pananggalan, adat istiadat, tata krama dan perbintangan (Dwiarso: 2008).

Dari sini, saya mengajak Anda untuk merefleksikan dengan kebutuhan siswa di masa selepas sekolah. Ia akan dihadapkan oleh dunia pekerjaan/profesinya dan dunia berkeluarga. Suatu dunia yang lebih banyak berbicara tentang kemandirian, tanggung jawab, manajemen waktu, keterampilan mengelola keuangan, keberanian mengambil resiko, ketekunan, keterampilan membangun hubungan, dll.

Jelas sekolah telah dengan teliti mempersiapkan para siswa untuk masuk dalam dunia pekerjaan/profesinya. Namun jika kita mau jujur, seberapa banyak usaha yang dilakukan oleh sekolah untuk mempersiapkan siswa ke dalam dunia keluarga? Dunia keluarga yang mencakup tahap pranikah, pernikahan dan pascanikah. Jika ini bukan tanggungjawab sekolah, dan memang sebaiknya seperti itu, maka hal ini merupakan tanggung jawab keluarga.

Pertanggungjawaban orang tua terhadap masa depan kehidupan berkeluarga dan bermasyarakat (Life Skill) anak-anaknya adalah salah satu peran orang tua yang utama. Orang tua perlu merumuskan kebijakan yang sesuai dengan nilai-nilai yang dianutnya untuk mendidik anak-anaknya dalam perkara ini. Sejauh pengamatan saya, pendidikan terhadap hal-hal yang menyangkut life skill diajarkan secara informal dalam keluarga. Diturunkan dari orang tua kepada anak melalui teladan, pelatihan, pengalaman dan refleksi atas kehidupan. Jika orang tua mengajarkan semua 'mata pelajaran' kehidupan ini tentunya setiap anak akan hidup bahagia dan aman.

Kenyataan berkata lain, seperti yang saya bisa kutip dari tulisan saya sebelumnya mengenai Who Will Take This Task? Generasi sekarang tengah mengalami kehancuran moral dan fisik dalam arti yang sesungguhnya. Hal ini bersumber dari cacatnya keluarga dan lumpuhnya peran orang tua dalam mendidik anak. Kejadian ini tidak boleh terulang, para orang tua sekarang harus belajar kembali bagaimana menjadi orang tua yang efektif. Orang tua yang efektif yang akan menyelamatkan generasi yang baru. Oleh karena itu saya anggap perlu untuk dibentuk suatu lembaga pendukung keluarga yang akan memfasilitasi dan melatih orang tua dalam mendidik anaknya dan mengelola keluarganya secara utuh dan sadar. Utuh berarti mencakup jasmani dan jiwani, sedangkan sadar berarti ada upaya terstruktur dan sistematis dalam membangun keluarganya.

Lembaga ini akan menjadi mitra keluarga untuk melakukan upaya-upaya pemulihan dan pembangunan hubungan & kualitas kehidupan. Di sini, para orang tua akan belajar mengenai membangun komunikasi yang efektif dan intim antara suami istri, mengelola keuangan keluarga, mengelola konflik, merencanakan pendidikan anak, manajemen waktu, mengajarkan anak untuk memiliki jiwa wira usaha dan etos kerja yang baik, mengelola media, dll. Apakah lembaga ini akan berdiri sendiri atau juga bermitra dengan sekolah akan memiliki kelemahan dan kekuatannya masing-masing.

Nah, apakah pendapat Anda?

Teachers' Mass Divorce

>> Wednesday, May 20, 2009

Rabu, 20/05/2009 13:51 WIB
Bandung - Angka perceraian pegawai negeri sipil (PNS) khususnya guru di Bandung cukup tinggi. Wali Kota Bandung Dada Rosada mengaku hampir setiap hari menerima surat permohonan izin bercerai dari PNS. Mayoritas adalah para guru.

Sebelumnya dalam harian lokal hari ini, Dada menyatakan sejak Januari hingga Mei 2009, hampir setiap hari dia menerima satu hingga dua pengajuan izin bercerai dari PNS. Mayoritas berasal dari Dinas Pendidikan Kota Bandung.

Kutipan artikel di atas saya dapatkan dari detikBandung. Sungguh menyedihkan kondisi keluarga para guru ini. Menyedihkan karena mereka bercerai, menyedihkan juga karena sebagai role model bagi siswa, mereka gagal menjadi teladan.


Apakah perceraian kini menjadi hal yang biasa? Jika ya, maka setiap kita perlu mengevaluasi diri, pergeseran nilai apa yang telah terjadi dalam diri kita. Jika kita bandingkan beberapa dasawarsa silam, perceraian merupakan hal buruk yang sekuat mungkin ditutupi oleh pihak keluarga. Mereka tidak ingin menanggung malu karena berpisahnya kedua insan itu. Jika ini hal ini telah menjadi biasa seperti mengganti baju, maka pemerintah, masyarakat dan lembaga-lembaga terkait perlu memberikan perhatian lebih seirus terhadap hal ini.

Selain untuk membawa anak dan siswa kepada masa depannya yang terbaik, keluarga dan sekolah juga turut bertanggungjawab atas keberhasilan kehidupan berkeluarga mereka. Keluarga yang harmonis dan sehat akan mendukung karir, usaha, panggilan hidup seseorang. Perceraian menimbulkan terlalu banyak dampak negatif.

Suatu penelitian di Amerika menyatakan, bahwa perceraian mengakibatkan dampak pada kesehatan, keuangan, kehidupan sosial dan kejiwaan seseorang. Dr. Kenneth Batema dari Amber University mengeluarkan hasil penelitiannya yang menyatakan buruknya dampak yang dihasilkan oleh perceraian.

Penyebab perceraian beranekaragam, mulai dari perzinahan/perselingkuhan, maslah keluarga hingga gila kerja. Berikut ini adalah hasil penelitian
DivorceMagazine.com pada tahun 2004 dan 2003 (dalam kurung) (link):

* Extramarital affairs - 27% (29%)
* Family strains - 18% (11%)
* Emotional/physical abuse - 17% (10%)
* Mid-life crisis - 13% (not in 2003 survey)
* Addictions, e.g. alcoholism and gambling - 6% (5%)
* Workaholism - 6% (5%)

Apapun penyebabnya, semua berakar dari hilangnya cinta kasih yang sejati. Hawa nafsu telah menggantikan cinta kasih itu. Ed Cole berkata, hawa nafsu adalah keinginan untuk memuaskan diri sendiri walaupun harus mengorbankan orang lain. Sedangkan cinta kashi adalah keinginan untuk memuaskan orang lain (pasangan) walaupun harus mengorbankan diri sendiri. Pertanyaannya sekarang, seberapa banyak para suami atau isteri telah sungguh-sungguh mempraktekkan cinta kasih yang sejati itu. Semua penyebab yang terdeteksi dari penelitian di atas berakar dari tergantikannya cinta kasih dengan hawa nafsu.

Sekolah dan keluarga perlu mendisain kurikulum dan program yang khusus untuk mempersiapkan anak-anaknya menuju lembaga masyarakat terkecil ini. Pengabaian terhadap hal ini akan berdampak besar kepada moralitas dan kualitas hidup masyarakat sekitarnya. Siswa perlu belajar mengenai hubungan antar pribadi, pengelolaan konflik, pemecahan masalah, pengendalian diri, keterampilan berkomunikasi, dll. Apakah anda melihat adanya mata pelajaran seperti itu di sekolah? Apakah Anda mengajarkan anak Anda mengeani hal-hal tersebut di rumah? Ini adalah sebuah pekerjaan besar.

Teach your children to be a great person, not only a good one.

Who Will Take This Task?

>> Tuesday, May 19, 2009

"Gue sudah macarin 17 orang cewek, 7 diantaranya gue lecehkan secara seksual."
"Tujuh? Emang umur elo berap sekarang?"
"17 tahun."

"Gue kecanduan games on-line. Gue pernah sakit gara-gara dua hari penuh gue main di warnet."
"Emang elo sakit apa?"
"Ambeien. Gue juga pernah diseret pulang bokap gue, karena bolos buat maen games."

"Kapan terakhir kali elo masturbasi?"
"Kemarin malem, sebelum gue berangkat ke sini."
"Dari kapan elo ngelakuinnya?"
"Dari SMP"

"Gue suka nonton film porno. Gue juga pengedar film-film begituan. Kemana gue pergi, gue selalu bawa film untuk gue bagi-bagiin."
"Maksud elo? Elo ga jualin film itu?"
"Nggak, gue cuma bagi-bagiin aja"

"Orang tua gue sudah cerai sejak gue kecil. Bokap gue kawin lagi. Suatu hari, waktu gue SD, bokap gue bilang mau balik lagi sama keluarga. Dia emang balik lagi. Tapi ternyata dia cuma ngambil harta nyokap gue, dan dia balik lagi sama istrinya yang kedua. Jadi sampe sekarang gue benci banget sama bokap gue."

"Gue pernah pacaran sama cewek, tapi di tengah jalan cewek itu nyakitin gue dan akhirnya gue putusin. Sejak saat itu gue kalo berhubungan sama cewek gue sering nyakitin mereka. Gue belajar ilmu untuk bikin cewek cepaet lengket sama gue. Gue kasih permen atau kepulin asap rokok ke muka dia, dia pasti langsung nempel."
"Maksudnya elo guna-gunain dia?"
"Iya. Kalo gue sudah puas, gue sakitin dia dan gue tinggalin itu cewek."

_____

Ini semua adalah sedikit dari ratusan pengakuan laki-laki usia muda tentang hidup mereka yang hancur di sebuah acara yang saya ikuti. Hidup mereka hancur, tapi mereka tidak bisa keluar dari sana. Mereka sadar mereka salah, tapi mereka tidak mampu untuk bebas. Saat mendengarkan semua pengakuan itu, hati saya bergetar, dada saya sesak dan pikiran saya merenung: betapa hancurnya generasi muda saat ini.

Sebuah penelitian di majalah Tempo di awal tahun 2000-an menyatakan setidaknya ada dua juta kasus aborsi dalam setahun. Ini pun yang terdata. Data lainnya menyatakan, lebih dari 75% generasi muda di kota-kota besar di indonesia telah kehilangan keperjakaan dan keperawanannya sejak usia SMA mereka.

Masa depan bangsa ini sedang diancam oleh kehancuran hidup generasi mudanya. Televisi, Narkoba, rokok, pornografi, permainan internet on-line, dll telah mencuri waktu mereka dari hal-hal yang lebih bernilai untuk hidup mereka. Ada suatu 'kekuatan laten' yang menginginkan generasi muda sekarang ini jatuh ke berbagai hal yang hanya berpusat pada menyenangkan diri sendiri. Semua hal di atas itu dilakukan hanya untuk melampiaskan kemarahan yang tersembunyi dengan rapi.

Mereka marah dengan lingkungannya, keluarganya, orang tuanya. Mereka marah karena mereka tidak melihat sebuah contoh yang berintegritas, sebuah model yang dapat dipanut. Mereka marah karena mereka di-dua-kan. Harapan yang mereka gantungkan pada orang terdekat mereka dicabut sehingga meninggalkan luka kekecewaan yang tidak mampu mereka atasi dan berujung pada kemarahan dan kepahitan. Kemarahan dan kepahitan adalah kekuatan atau modal yang cukup bagi mereka untuk lari dari orang-orang yang mengecewakan mereka. Mereka berlari kepada tawaran-tawaran di dunia ini yang senantiasa memanjakan dan meninabobokan ego mereka. Mereka butuh kepuasan setelah sekian lama ego itu tidak pernah terpuaskan.

Apa jadinya masa depan dengan orang-orang yang hanya berpusat pada ego masing-masing? Apa jadinya bangsa ini dengan orang-orang yang menyimpan kemarahan tersembunyi?

Apa yang dapat negara, masyarakat, sekolah dan keluarga lakukan bagi mereka.? Mereka yang seharusnya menjadi kebanggaan di masa tua kita, telah terperangkap dalam jebakan 'kekuatan laten'. Pemerintah telah mengusahakan pendidikan budi pekerti; tidak sedikit masyarakat yang mengembangkan program-program pendidikan karakter; sebagian sekolah-sekolah pun menjual 'nilai-nilai unggul'; dan sebagian keluarga telah berusaha dengan keras mendidik anak-anaknya di jalan yang lurus, namun kenyataannya terlalu banyak yang terjebak daripada yang bisa ditangani.

Ini adalah tugas pendidikan sesungguhnya: memastikan generasi muda hidup benar dan memaksimalkan potensi mereka.

Dan ini yang jadi perenungan saya: Siapa yang sanggup mengemban tugas berat ini? dan Bagaimana?

65+'s Best Friend is TV?

>> Thursday, May 7, 2009

Percaya atau tidak, menurut National Statistic, United Kingdom, jumlah penonton TV yang berusia 65 tahun ke atas menghabiskan waktu rata-rata 3 jam 45 menit per harinya(link to source)! dan hanya menghabiskan waktu kira-kira 1 jam 50 menit untuk bersosialisasi. Apakah ini pertanda bahwa satu-satunya teman setia seorang tua renta adalah televisi?

Bandingkan dengan statistik lainnya dari sumber yang sama(link to source): rata-rata 2 jam 30 menit perharinya dihabiskan untuk menonton TV oleh orang berusia 16 tahun ke atas. Ini adalah kegiatan yang menempati peringkat pertama dalam kategori leisure (kesenangan).

Hal yang menarik dari data-data yang ditunjukkan oleh statistik itu adalah kegiatan membaca menjadi pilihan ketiga bagi para senior, setelah menonton TV dan bersosialisasi. Sedangkan bagi mereka yang berusia 16 tahun ke atas hanya menghabiskan rata-rata 25 menit saja per hari untuk membaca dan kegiatan ini berada pada urutan ke dua terakhir dari lima kategori leisure.

Saya pernah mendengar sebuah seminar dimaan pembicaranya kurang lebih berbicara demikian: ada sebuah berhala modern yang hadir di setiap rumah. Berhala ini bahkan menempati posisi terhormat dan ditempatkan di tempat yang layak. Semua posisi tempat duduk berkiblat searah posisi dimana ia berada. Ia bernama televisi. Ia senantiasa diposisikan ditempat yang terbaik, di ruang tamu, ruang keluarga atau di kamar tidur dan semua posisi tempat duduk tidak ada yang tidak menghadap wajahnya yang menghibur. Inilah berhala modern itu, ia telah mencuri waktu dan hubungan di ruang tamu, ruang keluarga dan tempat tidur.

Saya sendiri telah memutuskan untuk tidak memiliki TV di rumah saya sejak saya menikah enam tahun lalu. Saya tidak anti televisi, saya bahkan telah merencanakan untuk membeli satu (hanya satu).... beberapa tahun lagi. Saya meyakini adanya hal yang baik dan bermanfaat dengan memiliki televisi.

Taufik Ismail pernah berkata Indonesia adalah sebuah bangsa yang terlalu buta untuk membaca dan terlalu lumpuh untuk menulis. Dengan segala hormat, saya akan menambahkan pernyataannya: Indonesia juga sebuah bangsa yang terlalu jeli untuk menonton TV dan terlalu aktif untuk berbicara. Statistik yang saya tunjukkan diatas adalah terjadi di sebuah negara maju yang telah terlebih dahulu melewati era membaca dan menulis, sebelum era menonton TV. Akibatnya, walaupun gempuran televisi cukup mempengaruhi budaya membaca masyarakatnya, membaca masih tetap menjadi salah satu aktivitas favorit bagi mereka. ABgi yang berusia 65+ menggunakan 1 jam 15 menit untuk membaca dan yang berusia 16+ menggunakan 25 menit.

Tanpa survey sejenis dan hanya berdasarkan pengamatan, saya yakin Anda bisa menilai berapa jumlah waktu yang digunakan masyarakat Indonesia untuk membaca? Di daerah perkotaan saya yakin besarannya akan cukup baik, namun di daerah? dan bagaimana bila di rata-rata untuk seluruh nusantara ini? Berapa jumlah waktu dan uang yang Anda dan keluarga habiskan untuk membaca dibanding dengan menonton TV?

Masyarakat, khususnya keluarga dan sekolah harus mengambil alih pimpinan dan berada di garda depan penyelamatan anak-anak bangsa ini dari pengaruh buruk TV. Perlu ada usaha sistematis dan upaya terstruktur untuk menggalang gerakan membaca secara nasional. Dengan membaca kita mendidik anak-anak lebih baik dibanding dengan menyerahkannya pada TV. Kita memang memiliki TPI, Televisi Pendidikan Indonesia, namun benarkah televisi ini bermuatan pendidikan? Televisi tidak lagi dikuasai roh pendidikan, tetapi komersialisasi.

Komersialisasi ini tentunya berakibat apa yang laku akan saya jual tidak perduli apa isinya. Ketika acara Empat Mata memiliki rating yang tinggi, produser acara tidak lagi mempedulikan isi, hingga muncul hal-hal yang menyimpang yang berujung pada pencekalan program tersebut oleh KPI. Dalam berita terkini, KPI bahkan telah melansir 7 program acara bermasalah saat ini, dan salah satunya adalah program Bukan Empat Mata(link to source). Ini barulah program bermasalah versi KPI, bagaimana dengan versi anak-anak? Mereka belum dapat memilih apalagi mencekal. Mereka menonton apa yang menyenangkan buat mereka. Bahkan, sekalipun dengan pendampingan orang tua, belum tentu program yang ditonton oleh anak memang benar-benar baik buat mereka.

Dalam artikel saya sebelumnya mengenai membaca(link to source), banyak komentar yang masuk yang mempersoalkan kesulitan mereka menolong anak-anaknya dari aktifitas menonton TV. Oleh karena keadaan mereka tidak cukup mampu untuk mengarahkan anak-anaknya kepada aktifitas membaca. Penyelesaian atas masalah ini sebenarnya hanya berbicra mengenai prioritas. Bila anak kita merupakan seseorang yang penting, maka kita akan menempatkannya pada prioritas terbaik dan melakukan apapun untuk menyelamatkan dan menjamin masa depannya. Secara detail saya akan coba memberikan beberapa tips untuk mengalihkan anak-anak dari menonon TV kepada membaca buku di artikel berikutnya.

Tidak ada tokoh yang berpengaruh di dunia ini dididik oleh apa yang ia tonton di TVnya, hanya apa yang ia baca di bukunya....

Another Obituary (for this year) ...

>> Tuesday, April 28, 2009

Good people leave an inheritance to their grandchildren, but the wealth of sinners is stored away for a righteous person. [GWT version]
...

A good life gets passed on to the grandchildren; ill-gotten wealth ends up with good people. [TM version]
...
A good [man] leaves an inheritance to his children's children, But the wealth of the sinner is stored up for the righteous. [NKJ version]
...
Orang baik meninggalkan warisan bagi anak cucunya, tetapi kekayaan orang berdosa disimpan bagi orang benar.


Demikianlah pepatah bijak Nabi Sulaiman. Orang yang baik pasti meninggalkan warisan bagi anak cucunya (versi bhs. Inggris: bagi cucunya) . Riwayat kebaikan seseorang yang telah meninggal berbicara lantang dan nyaring kepada orang-orang yang masih hidup. Kebaikan itu juga merupakan warisan yang mencukupi kebutuhan para cucunya kelak. Hanya di akhir hidup seseorang kita mulai berpikir tentang apa yang baik yang telah ia wariskan kepada kita.

Farewell my sister, Yulia Wijaya... you are always in my heart and your goodness remains in my mind. I believe we meet again in eternity...

Character Building: School or Family Role?

>> Thursday, April 16, 2009

Seorang tetangga kami menjadi guru agama dan guru karakter (character building) di sebuah sekolah. Sekolah ini memiliki misi membangun karakter siswa-siswanya. Sore itu, ia bertandang ke rumah tetangga kami juga yang lain.

Setelah ngoborl sana-sini, pembicaraan tiba ke topik mendidik anak. Tetangga saya yang dikunjungi ini bertanya, "kenapa sih anak-anak di sekolahmu itu karakter dan perilakunya ga bagus?"

"Lihat tuh sih X (seorang anak SD), kelakuannya kok kayak begitu? Kok sekolahnya ga ngajarin karakternya supaya bagus sih?"
Isteri saya yang juga berada di sana, bersegera menyela, "Sekolah ga bisa disalahkan bu. Kelakuan anak-anak itu tergantung keluarga dan orang tuanya."

Benar kata isteri saya. Sebaik apapun sekolah mengajarkan karakter, tidaklah akan sebaik keluarga (orang tua) bila mereka mendidik anaknya. Walaupun sekolah memiliki visi, misi, dan program yang bagus untuk mendidik karakter siswanya, tidaklah akan seefektif orang tua bila mereka melakukannya. Mengapa demikian?

Pendidikan karakter tidak bisa disamakan dengan pengajaran matematika atau sejarah atau mata pelajaran lainnya. Pendidikan karakter bukanlah mentransfer ilmu, tetapi teladan. ia tidak memberikan pengajaran tetapi contoh hidup. Ia tidak perlu pekerjaan rumah, tapi pembiasaan diri. Ia tidak ada ulangan, tetapi ujian hidup.

Adapun sekolah yang mengajarkan Character Building di jam sekolah, hal ini tidak berarti karakter yang diajarkan terbentuk dalam diri siswa. Pengajaran CB hanya akan sampai pada tataran pengetahuan dan pemahaman. Apalagi jika diajarkan pada siswa yang menjelang dan sudah remaja. Pengajaran ini semakin tidak efektif bila hanya berupa ceramah dan aktifitas biasa. Dikarenakan hakikat karakter bersumber pada pembiasaan dan pemodelan, maka waktu menjadi kata kunci untuk melihat tumbuhnya karakter itu.

Pembiasaan berarti pelatihan secara terus menerus dan terstruktur terhadap satu karakter yang diharapkan tumbuh. Sedangkan Pemodelan dimaksudkan sebagai bukti dan sarana impartasi/inspirasi bagi siswa tentang contoh nyata karakter yang diharapkan, sehingga memberikan arah bagi siswa.

Dua hal ini sangat efektif dilakukan oleh orang tua, mengingat siswa sepenuhnya bergantung dan percaya pada orang tua di masa anak-anaknya. Semakin belia usia anak, semakin efektif orang tua melatih dan membetuk karakter anak.

Jika sekolah memiliki misi khusus untuk mengajarkan CB pada siswa, akan terlebih efektif bila sekolah dapat melakukan program-program yang lebih dinamis dan korporat. Dinamis berarti bukan berupa metode ceramah, melainkan kegiatan-kegiatan yang berorientasi tantangan atau problem solving untuk memunculkan karakter yang diharapkan. SEcara Korporat dimaksudkan sebagai pemberi energi pada teman sebaya untuk memiliki kualitas karakter yang diharapkan.

Marriage Education...

>> Saturday, April 4, 2009

Seorang teman saya bertengkar dengan isterinya, lalu isterinya menelepon teman saya yang lain untuk meminta bantuan, karena suaminya ini berkeinginan meninggalkan dirinya dan hendak bunuh diri. Teman saya yang di telepon hanya bisa menguatkan isteri temannya ini dan memintanya tetap berdoa.

Teman saya yang bermasalah dengan isterinya ini bukan dari latar belakang yang berada. Hidupnya sulit, anaknya sempat terkena kecelakaan beberapa tahun lalu dan masih dalam perawatan sampai hari ini. Ketidakcukupan menjadi penyebab sekunder pertengkaran itu. Untungnya ia berada dalam suatu komunitas persahabatan yang kuat dengan beberapa teman saya, sehingga dengan segera ia dapat 'ditangani'. Jika ia tidak tergabung dalam komunitas ini, dan masih hidup seperti dulu, mungkin hal yang buruk akan terjadi.

Sejumlah keributan, pertengkaran, perselisihan, ketidaksepahaman antara suami isteri memang hal yang normal terjadi. Menyatukan dua manusia yang berbeda adalah hal yang membutuhkan proses dan rumit. Hal ini tidak mudah. Sayangnya untuk hal yang amat penting ini, sebagian keluarga dan hampir semua sekolah di bangsa ini tidak mempersiapkan generasi mudanya untuk menghadapi kehidupan dalam pernikahan.

Pendidikan yang terjadi hanyalah untuk mempersiapkan individu yang kuat dan super, tapi tidak siap untuk membangun dan menjalani kehidupan bersama yang komunal, apalagi di lingkungan perkotaan.

Hal ini penting untuk disadari semua orang mengingat bangsa yang kuat tergantung pada keluarga yang kuat. Perhatian terhadap hal ini akan meningkatkan kualitas SDM bangsa. Perhatian pada keluarga dimulai dari bagaimana mempersiapkan para calon-calon pasutri dengan matang. Persiapan yang baik akan menghasilkan hasil yang baik.

Sekolah juga dapat mengambil peran dalam hal ini. Sejak dini anak-anak dapat diperkenalkan, diajar dan dilatih untuk bertanggungjawab terhadap sesama. Sedangkan bagi siswa yang lebih dewasa mereka dapat diperkenalkan dan diajar mengenai seluk beluk kehidupan berumahtangga dan isu-isu parenting. Sekolah yang menekankan pada hal ini akan menjadi aset masyarakat dan bangsa yang bernilai tinggi. Karena melaluinya, keluarga-keluarga yang kuat akan dibangun.

'Bangsa yang kuat bergantung pada kekuatan elemen dasarnya: keluarga'

An Obituary...

>> Tuesday, March 3, 2009

"Better to go to the house of mourning Than to go to the house of feasting, For that [is] the end of all men; And the living will take [it] to heart.
...
The heart of the wise [is] in the house of mourning, But the heart of fools [is] in the house of mirth." (NKJ Version)

You learn more at a funeral than at a feast--After all, that's where we'll end up. We might discover something from it.
...
Sages invest themselves in hurt and grieving. Fools waste their lives in fun and games. (TM Version)

"Pergi ke rumah duka lebih baik dari pada pergi ke rumah pesta, karena di rumah dukalah kesudahan setiap manusia; hendaknya orang yang hidup memperhatikannya.
...
Orang berhikmat senang berada di rumah duka, tetapi orang bodoh senang berada di rumah tempat bersukaria."


Demikianlah kata-kata bijak yang disampaikan oleh nabi Sulaiman atau raja Salomo. Orang yang bijaksana lebih senang berada di rumah duka, di mana kita dapat merenungkan hidupnya yang sementara dan menarik pelajaran untuk hidup yang lebih baik. Orang yang bodoh lebih senang berada di rumah pesta, di mana ia membohongi dirinya sendiri: ia berpikir hidupnya abadi dan menikmati apa yang didapatnya saat itu.

Hanya di rumah dukalah kita dapat menarik pelajaran-pelajaran penting tentang hidup. Dan hanya di rumah pesta kita dapat menarik pelajaran-pelajaran tentang kematian...

Farewell Brother Billy Winata, may God meet us together in eternity...

Give Your Mouth and Ears...

>> Wednesday, February 25, 2009

Kemarin, setelah seharian bekerja, badan terasa penat, pikiran terasa padat dan hati terasa berat. Memarkir motor di garasi, melepaskan alas kaki, berganti pakaian, mencuci tangan lalu menyeruput segelas air; rasanya hal yang terbaik yang bisa dilakukan berikutnya adalah berbaring dengan nyaman di tempat tidur sambil memutar musik.

Kenyataan berkata lain. Sebelum saya bisa menghabiskan air di gelas saya, dua orang perempuan di rumah saya meminta perhatian saya. Yang satu dengan berteriak meminta keinginannya dipenuhi: menonton video di HP saya, yang satunya meminta telinga saya untuk mendengar berita hangat seputar isu-isu keluarga kami dan bertetangga. Hal ini berlanjut hingga jarum jam menunjuk lebih dari jam 9 malam, tanpa henti. Hanya diselingi beberapa 'perang' kecil antara kedua perempuan ini untuk merebut telinga dan perhatian saya. Seperti yang bisa diduga, perempuan yang kecil selalu kalah 'perang' dan mencari aktifitasnya sendiri. Sedangkan perempuan yang besar seolah tidak menyadari apa yang terjadi, tetap melanjutkan hasrat hatinya berbicara. Sampai saya harus mengingatkan yang besar, bahwa yang kecil belum mendapat bagiannya sedari saya pulang kerja. Akhirnya dia mengalah...

Di sekolah, guru 'memberikan' mulutnya untuk memenuhi kebutuhan siswanya. Di rumah, ia harus 'memberikan' telinganya bagi pasangan dan anaknya...

Love Is to Give And to Sacrifice...

"I'm sorry, i think Su Min can't have another lesson with you. She is very stubborn!"
Kalimat itulah yang disampaikan Mrs. Ahn, beberapa saat setelah saya berada di ruang tamunya. Ia mengalami kesulitan dan mengatur anaknya. Telah beberapa kali terjadi 'perang' orang tua-anak sejak saya mulai memberikan les privat kepada kedua anaknya beberapa bulan terakhir ini. Seringkali anaknya yang 'memenangi' peperangan, demikian juga dengan yang terakhir ini. Anaknya meminta tidak diberikan pelajaran tambahan sepulang sekolah. Yang pertama, ia berhenti dari les piano, lalu kali ini les bahasa inggris. Saya tidak terlalu terkejut dengan pernyataan ibu ini, mengingat saya pun pernah mencoba 'membantu' mengatasi perlawanan anak TK besar ini.

Yang pertama, ibunya berkata demikian, "I'm afraid this is the last time you will have lesson with her. She is upstair and doesn't want to come down. You better asked her to study. If she doesn't want, it means this is the last day for her." Setelah menyanggupi permintaannya, saya segera naik ke kamar orang tuanya untuk membujuknya. Tanpa kekerasan saya membawanya turun ke ruang belajar setelah 30 menit berbicara dengannya.

Yang kedua, saat saya tiba di rumahnya dan duduk di ruang belajar, anak tersebut tidak segera muncul seperti biasanya. Hal ini terjadi kemarin lusa. Saya meminta kakaknya, yang sedang sibuk bermain lego untuk memanggil adiknya. Kakaknya berteriak memanggil adiknya. Suaranya sangat keras, dan saya yakin pasti terdengar oleh ibunya yang berada di dapur yang letaknya persis di samping ruang tamu. Namun adiknya tidak datang dan ibunya pun tidak memberikan respon apa-apa. Akhirnya saya meminta kakaknya memanggil adiknya kembali. Kakaknya melakukannya berulang-ulang dengan berteriak dari ruang tamu. Akhirnya muncul suara dari ruang belakang, tepatnya di kamar pembantu. Mereka bersahut-sahutan dalam bahasa korea... lima menit kemudian adiknya datang dengan wajah merenggut, alis nyaris menyatu dan tubuh yang gontai. Saya tidak menghiraukannya dan seperti biasay menyapa dan mulai menyiapkan materi pelajaran. Melihat dia yang memalingkan muka dan duduk sambil menundukkan muka, saya mengeluarkan HP saya dan bertanya, "do you want to see my daughter video? She is dancing in here. She loves to dance". Lima menit kemudian, kami telah memulai pelajaran dan menikmati waktu belajar bersama.

Saya sangat kagum pada kerja keras dan kegigihan orang tua korea dalam mendidik anak-anaknya. Bayangkan, anak seusia TK telah dijejali dengan berbagai les. Bahkan saya mengenal seorang remaja korea yang tidak berhenti belajar dari jam 7 pagi hingga jam 9 malam, dari senin hingga jumat... Saya belum mendalami filosofi apa yang diyakini para orang tua korea ini sehingga mereka sangat peduli pada pendidikan formal anaknya. Dalam beberapa keluarga korea yang saya temui, orang tua cenderung keras kepada anak-anaknya dalam hal pendidikan, khususnya mereka yang tinggal di Indonesia ini dan notabene adalah para orang tua dengan kelas ekonomi tinggi.

Namun dalam saat yang bersamaan saya juga melihat beberapa orang tua yang 'kalah' dalam 'pertempuran' dengan anaknya di rumah. Hal ini mungkin saja terjadi dalam beberapa kasus, dan tidak hanya terjadi pada orang tua korea, tapi juga sebagian orang tua di dunia. TApi bila hal ini terjadi dengan intensitas yang cukup banyak, saya pikir orang tua harus merendahkan diri dan mengevaluasi ulang tentang pola pendidikannya.

Saya sendiri mengalami hal ini dengan anak saya. Walau ia baru berumur 2,5 tahun, dalam beberapa kesempatan dia sempat menunjukkan bendera perang dan meminta keinginannya untuk dipenuhi dengan teriakan dan tangisan. Saya dan istri berkeputusan untuk tidak terpancing dengan kelakuannya ini, tapi tetap tegas tapi lemah lembut berdiri atas komitmen kami yang semula.
Kami berpikir, anak hanya tahu apa yang ia mau, tapi kami orang tua tahu apa yang terbaik bagi anak. Bukan kami bertujuan menjadi otoriter dan tidak pernah mendengar permintaan anak, tapi kami akan memberikan hanya yang terbaik bagi dia. Jika permnitaanya adalah baik bagi dia, kami pun tak segan untuk memenuhinya. Ini pekerjaan sulit, namun prinsipnya jika orang tua tahu yang terbaik bagi anaknya, ia akan berkorban demi anaknya.

Karena kasih adalah kerelaan untuk memberi walaupun harus mengorbankan diri sendiri. Lawannya adalah nafsu, yaitu keinginan untuk mendapat walaupun harus mengorbankan orang lain (anak/pasangan).

Domestic Resposibility...

>> Friday, December 5, 2008

Kembali lagi! Setelah long weekend, badan bukan terasa segar, tetapi malah agak capek. Semalam tidak bisa tidur nyenyak gara-gara nyamuk jahanam yang datang ga habis-habis. Padahal kemarin sore habis meeting dari Karawang dan malamnya main badminton, rubber set, kalah lagi!

Niatnya sih memeriksa hasil ulangan siswa selama libur, kenyataannya dari empat kelas, cuma dapet dua. Waktunya habis untuk belanja ke pasar, bermain bersama anak, masak, nyuci baju, merapikan taman, dan semua tugas domestik...

Tantangan bagi guru pria yang sudah menikah ternyata berat juga. Berada di rumah tidak bisa bersantai. Jangankan untuk berleha-leha, untuk memeriksa ulangan siswa saja waktunya hampir tidak ada! Untung istri saya pengertian, saya masih punya sedikit waktu tidur siang di hari minggu. Imbalannya lumayan: tenaga ekstra untuk merapikan taman di hari Senin!

Tanggung jawab untuk menyelesaikan tugas-tugas di kantor yang belum tuntas ternyata tidak bisa dijadikan alasan untuk berkelit dari tanggung jawab untuk menyelesaikan tugas-tugas di rumah. Saya akan menjadi orang yang egois jika mencuri waktu bersama keluarga, walaupun untuk menyelesaikan tugas kantor, yang notabene adalah kewajiban saya. Akhirnya saya mencuri waktu di malam hari setelah istri dan anak saya tidur... Keluarga adalah prioritas!