WELCOME! Salam Sejahtera! Senang sekali mendapat kunjungan dari Anda. Berikan komentar Anda di akhir setiap posting (klik link: write your comment here!), komentar Anda sangat berharga bagi saya. Terima Kasih. Please Enjoy...

HOT Search

HOT Translate

Showing posts with label rangkuman. Show all posts
Showing posts with label rangkuman. Show all posts

The Post Modern Impulse

>> Wednesday, May 6, 2009

Philosohpy Education: Bab 1 - Bab 2 - Bab 3 - Bab 4 - Bab 5 - Bab 6 - Bab 7

Bab ini secara khusus membahas tentang postmodernisme, apa penyebab munculnya dan hal-hal apa saja yang terkait di dalamnya. Ini adalah bab ke lima dari buku Philosophy Education oleh George R. Knight.

Hati dari modernisme adalah keinginan untuk memahami dunia melalui akal budi. Asumsi dasar dari para modernis awalnya adalah dunia merupakan tempat yang masuk akal dan realitas yang ada hanya dapat dipahami oleh pikiran manusia. Modernisme juga memandang pengetahuan adalah hal yang baik secara alamiah.

Postmodernisme adalah bagian besar dari penolakan terhadap bagaimana modernisme melihat sesuatu. Dari permukaan, dapatlah dilihat bahwa Postmodernisme bukan merupakan wawasan yang memiliki kesatuan, namun Postmodernisme memiliki kesatuan dalam hal penolakannya terhadap modernisme. Sebagian orang percaya bahwa Postmodernisme mewakili sebuah periode sejarah yang orang hadapi, sedangkan lainnya memandang bahwa Postmodernisme adalah perpanjangan dari beebrapa konsep dasar modernisme itu sendiri.

Postmodernisme bukanlah sebuah produk dari para filsuf, tetapi lebih banyak berasal dari berbagai rentang bidang dari seni, kesusastraan hingga arsitektur. Menurut Friedrich Nietzsche, yang mencetuskan dasar Postmodernisme, tidak ada dasar untuk meletakkan kepercayaan. Kebenaran sudah mati dan orang tidak memiliki pilihan selain menciptakan dunianya sendiri. Tiga gerakan filsafat yang mempengaruhi Postmodernisme adalah pragmatisme, eksistensialisme dan pikiran-pikiran Marxis. Perlu dikenali bahwa gerakan-gerakan ini mewakili penolakan atas behaviorisme, posistivisme dan analisis filsafat. Di samping itu teori-teori Postmodernisme sangat mendukung analisis filsafat tertentu yang berhubungan dengan bahasa dan pemahaman atas makna bahasa.

Landasan bagi semua filsafat pendidikan Postmodernisme melingkupi hal-hal berikut:
1. Adalah tidak mungkin utnuk menentukan kebenaran obyektif
2. Bahasa tidak menolong kita bersentuhan dengan realitas
3. Bahasa dan makna dikonstruksi secara sosial
4. cerita
5. pengetahuan adalah kekuatan
6. Sekolah telah berperan secara trasional sebagai agen kekuasaan untuk kontrol sosial dengan memanipulasi penegtahuan
7. Pentingnya pemahaman atas pluralitas dari perspektif yang berbeda.

Sekolah tidaklah menjadi agen penyimpan dan penerus masa lalu, seperti yang disarankan filsafat tradisional, tetapi sebagai agen perubahan. Tujuan kurikulum dari pandangan Postmodernisme adalah rekonstruksi pengetahuan sebagai sebuah dasar untuk merekonstruksi budaya yang lebih besar dan kekuatan hubungannya. Sebuha konsensus umum bagi para teoritis Postmodernisme mengatakan, pendidikan di masa datang tidak berdasar pada kurikulm dan metode masa lalu. Mereka menyarankan bahwa siswa dan guru harus belajar untuk membuat pengetahuannya sendiri.

John Zahorik menunjukkan pengajaran teori konstruktivisme didasarkan pada tiga proposisi:
1. Pengetahuan dikonstruksi oleh manusia
2. Pengetahuan bersifaat dugaan dan dapat salah/keliru
3. Pengetahuan bertumbuh melalui penelaahan
Poin ketiga memunculkan dua isu yang berhubungan dengan banyak perhatian para teoris Postmodernisme. yang pertama adalah pentingnya bahasa dalam semua aspek dan yang kedua adalah penuhnya potensi kurikulum postmodern merupakan ide penelaahan.

Pendidikan Postmodernisme secara umum memandang guru sebagai aktivis sosial yang keluar untuk mengubah status quo dengan menolong siswa mengambil tanggung jawab pribadi dan sosial untuk masa depannya. Guru haruslah menjadi seseorang ayng dapat merespon dalam konteks yang selalu berubah-ubah. Jadi, pelatihan guru harus menghasilkan 'guru pemikir' dan bukan teknisi.

Modern Philosophy

>> Friday, May 1, 2009

Philosohpy Education: Bab 1 - Bab 2 - Bab 3 - Bab 4 - Bab 5 - Bab 6 - Bab 7

Setelah melihat perkembangan filsafat tradisional di Bab Tiga buku "Philosohpy Education" karangan George R. Knight, berikut ini akan dipaparkan perkembangan filsafat di era modern.

Filsafat tradisional sanagt memperhatikan aspek metafisik, yaitu isu realitas. Filsafat modern tidaklah demikian. Hal ini dipicu dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan diikuti oleh terobosan revolusi industri. Oleh karena itu, banyak orang di abad ke 19 dan 20 menolak realitas absolut yang statis. Dari sisi kemanusiaan, kelihatan bagi banyak orang bahwa kebenaran, juga pengetahuan manusia atas kebenaran menjadi relatif dan tidak terdapat ketentuan yang universal.

Kesimpulan ini memimpin filsafat modern menghindari isu realitas dan berfokus pada relativitas kebenaran dan nilai dari sudut pandang kelompok-kelompok sosial (pragmatisme) dan individu (eksistensialisme). Pada tahapan metafisik, pragmatisme lebih mengarahkan epistemology sebagai pusat persoalan filsafat dan eksistensialisme berfokus pada aksiologi.

PRAGMATISME
Pragmatisme adalah kontribusi Amerika pada sejarah pemikiran filsafat. Hal ini menjadi menonjol pada 100 tahun terakhir dan diasosiasikan dengan mana-nama seperti charles s. Pierce, William James dan John Dewey. Pragmatisme (disebut juga eksperimentalisme, dan instrumentalisme) adalah reaksi filosofis pada perubahan dunia. William James mendefinisikan pragmatisme sebagai sebuah sikap memalingkan diri dari hal yang utama, prinsip-prinsip, kategori,kebutuhan yang seharusnya dan mengarahkan diri pada hasil akhir, buah-buah, konsekuensi dan fakta-fakta.

Beberapa pragmatis menyangkal bahwa filsafat mereka memiliki sebuah metafisika. Mereka menyatakan bahwa jika ada keteraturan realitas seperti filsafat traditional, orang tidak memiliki jalan untuk mengetahuinya. DAri sudut pandang mereka, pikiran dan zat bukanlah dua hal yang terpisah dan substansi yang berdiri sendiri. Orang mengetahui zathanya jika mereka mengalaminya dan mencerminkan pengalamannya di pikiran mereka. Realitas bukanlah sebuah hal yang abstrak. Tetapi adalah sebuah pengalaman transaksional yang secara tetap mengalami perubahan. Maka itu, realitas tidaklah tetap tetapi berada dalam sebuah kondisi perubahan terus menerus selama pengalaman kemanusiaan semakin meluas. Apa yang nyata hari ini bisa menjadi tidak nyata di masa datang.

Pragmatisme pada dasarnya adalah suatu pelaku epistemologi. Pengetahuan berakar pada pengalaman. Individu tidak dapat secara langsung menerima pengetahuan, mereka membuatnya saat mereka berhubungan dengan lingkungan. Menurut Dewey, proses pemikiran reflektif dapat dilihat dalam lima tahap:
1. Individu menjumpai masalah atau situati yang mengganggu yang secara sementara menghalangi kemajuan mereka.
2. Intelektualisasi dari apa yang pada awalnya sebuah respon emosional untuk menrintangi aktifitas.
3. Penyimpanan solusi-solusi yang memungkinkan
4. Latihan mempertimbangkan solusi-solusi di tahap tiga dengan menduga kemungkinan konsekuensi yang terjadi bila dilakukan.
5. Mencoba hipotesa yang paling masuk akal dengan melihat konsekuensi yang telah diduga memang terjadi.
Bila seseorang tidak dapat membuktikan atau menjalankan hipotesanya, maka orang tersebut harus kembali lagi setidaknya ke tahap empat dan mencari kebenaran bagi hipotesa lainnya.

Sampai di sini, sangatlah penting untuk mengenal bahwa pengetahuan dalam perspektif pragmatisme harus dibedakan dengan kepercayaan. Kepercayaan adalah hal yang pribadi sedangkan pengetahuan selalu menjadi hal yang umum.

Nilai-nilai dalam pragmatisme sangatlah relatif dan tidak ada prinsip absolut yang mana kita dapat bersandar. Sebagaimana kebudayaan berubah demikian juga nilai-nilai. Apa yang secara etika baik adalah yang 'bekerja'. Harus di catat, sama seperti ujian pada epistemologi harus dilakukan oleh publik secara alamiah, demikian juga ujian terhadap etika berdasarkan pada apa yang baik dalam masyarakat dan tidak pada apa yang baik pada individu. Konsep keindahan bergantung pada apa yang seseorang rasakan ketika mereka mendapatkan pengalaman estetika.

Dalam pendidikan, pragmatisme menganggap siswa adalah individu yang 'mengalami' yang berkemampuan untuk menyelesaikan masalah. Menurut mereka, pengalaman dalam sekolah adalah bagian dari kehidupan dari pada sebuah persiapan kehidupan. Guru dapat dipandang sebagai rekan siswa dalam pengalaman kependidikan, sebgaimana seluruh kelas mereka menghadapi dunia yang terus berubah. Namun demikian guru adalah 'petualang' yang lebih berpengalaman dan karenanya dapat dipandanga sebagai pemandu atau pengarah proyek. siswa dan minatnya diletakkan sebagai pusat pendidikan, mata pelajaran sebaiknya ditentukan dengan pandangan untuk memenuhi kebutuhan siswa. Menurut Dewey, kurikulum seharusnya tidak dipisahkan menjadi wilayah-wilayah pokok yang terbatas dan tidak alamiah. Metode yang terbaik adalah bagaimana memberikan siswa suatu kebebasan memilih yang besar untuk mendapatkan situasi pengalaman belajar yang bermakna bagi mereka. Field Trip dan metode 'project' adalah teknik favorit para pragmatis.

Lagi menurut Dewey, anak-anak ahrus secara bertahap berpindah dari pembelajaran yang berdasar pada pengalaman langsung kepada metode pengalaman pembelajaran. tujuan sekolah adalah bukan untuk meminta siswa menghafalkan isi, tetapi meminta mereka belajar cara belajar, sehingga mereka dapat menyesuaikan diri pada dunia yang berubah secara konsta di masa kini dan masa datang. Dari sudut pandang ini, dapatlah di katakan bahwa kurikulum sekolah pragmatik lebih memperhatikan proses dari pada isi.

Sudut pandang politik pragmatisme adalah demokrasi. Mereka melihat sekolah sebagai lingkungan ideal untuk kehidupan dan pembelajaran demokratis, dimana setiap orang berpartisipasi dalam proses pembuatan keputusan dalam mempersiapkan partisipasi yang lebih besar dalam masyarakat yang lebih luas.

EKSISTENSIALISME
Eksistensialisme tidak diragukan lagi sangat memperhatikan emosi individu dari pada sisi intelektual. Walter Kaufmann mengidentifikasi eksistensialisme sebagai:
1. Penolakan terhadap penggolongan bentuk pemikiran apapun.
2. Penyangkalan terhadap kecukupan sistem filsafat dan kerangka kepercayaan
3. Menandai ketidakpuasan atas filsafat tradisional sebagai kepalsuan, akademis dan jauh dari kehidupan.
Individualisme adalah pilar utama eksistensialisme. Eksistensialism tidak mencari tujuan dari alam semesta, hanya individu yang memiliki tujuan. Eksistensialisme tidak mengkomunikasikan pada pendidik seperangkat aturan untuk dikuasai atau sebuah program yang dilembagakan. Melainkan ia menyediakansebuah semangat dan sikap yang dapat diterapkan dalam dunia pendidikan. Mereka juga tidak merumuskan pemikiran mereka dalam istilah-istilah metafisik, epistemologi dan aksiologi.

Keberadaan individu merupakan pusat utama pandangan eksistensialisme atas realitas. Keberadaan mendahului esensi atau hakikat. Seseorang ada dahulu baru kemudian ia dapat mendefinisikan ke-apa-annya dan esensinya. Tindakan dalam keseharian adalah proses untuk mendefinisika esensi pribadi. Saat individu menjalani kehidupan, ia membuat pilihan-pilihan dan mengembangkan kesukaan dan ketidaksukaan. Melalui kegiatan inilah seseorang akan merealisasi apa yang ia pilih akan menjadi. Bagi mereka kehidupan tidak harus memenuhi unsur intelektual, bahkan boleh dikatakan absurd.

Orang memiliki keinginan ntuk mempercayai makna eksternal dan sebagai hasilnya, individu memilih untuk mempercayai apa yang mereka mau percaya. Jika keberadaan mendahului esensi, maka muncullah seorang individu dan kemudian datanglah gagasan yang diciptakan oleh individu itu.

Individu masuk ke dalam kehidupan tanpa persetujuan sang individu dan setiap mereka bebas untuk menjadi apapun yang mereka inginkan. Individu tidaklah memutuskan atau menetapkan sesuatu. Karena kemerdekaan ini, setiap orang bertanggungjawab atas semua pilihan dan tindakannya. SEtiap orang memiliki pengalaman sendiri untujk membuat keputusan pribadi yang berwewenang. Dalam wilayah etika, tidak ada hal yang absolut dan tidak ada orang yang dapat menyatakan kelakuan yang baik dengan alamiah. Adalah penting untuk bertindak tanpa memperhatikan konsekuensinya. Tidak bertindak adalah menjadi tidak bertanggung jawab.

DAlam hubungannya dengan pendidikan eksistensialisme tidak banyak menyinggung wilayah ini. Mereka menyatakan apa yang telah berjalan saat ini dalam pendidikan adalah sangat berbahaya, karena sekolah mempersiapkan siswa untuk konsumerisme dan membuat mereka menjadi roda penggerak dalam mesin teknologi industri dan birokrasi modern. Sebagi ganti menolong orang mengeluarkan individualitas dan kreatifitasnya, banyak pendidikan mencurangi dan merusak atribut manusia yang hakiki ini.

Van Cleve Morris menyatakan pendidikan eksistensialis berfokus pada menolong individu menjadi penuh dalam perealisiasian hal-hal berikut:
1. Sebagai Agen Pemilih (Choosing Agent); tidak dapat menghindar dari memilih jalan hidupnya sendiri
2. Sebagai Agen Kebebasan (Free Agent); sangat bebas untuk menetapkan tujuan hidupnya
3. Sebagai Agen yang Bertanggung jawab (Responsible Agent); bertanggung jawab secara pribadi atas pilihan-pilihan bebasnya sebagaimana tercermin di dalam bagaimana ia menjalani hidupanya

Guru menjadi seseorang yang berkeinginan untuk menolong siswa menjelajahi jawaban-jawaban yang mungkin. Ia akan memeperhatikan keunikan individu dari setiap siswa. Ia memperlakukan siswa sebagai individu yang dapat dikenalinya dari pada menjadi sesuatu yang harus di arahkan dan diisi oleh pengetahuan. guru disebut sebagai fasilitator. dalam perannya ini guru akan menghormati emosi dan aspek-aspek irasional individu dan akan berusaha keras untuk memimpin siswa kepada pemahaman diri mereka yang lebih baik. Kurikulum dalam sekolah eksistensialis sangat terbuka terhadap perubahan, karena konsep kebenaran eksistensialisme selalu berkembang dan berubah. Eksistensialisme sejalan dan sepakat dengan dasar-dasar pendidikan tradisional, seperti sains, ilmu sosial, harus dipelajari. Metode pengajaran yang digunakan sangatlah bervariasi. Mereka menentak keseragaman materi, kurikulum dan pengajaran dan menyatakan bahwa seharusnya terdapat banyak pilihan terbuka bagi siswa yang ingin belajar. Metode berpusat pada konsep 'ketidakpaksaan' dan metode itu dapat menolong siswa untuk menemukan dan menjadi diri sendiri.

Traditional Philosophy

>> Thursday, April 23, 2009

Philosohpy Education: Bab 1 - Bab 2 - Bab 3 - Bab 4 - Bab 5 - Bab 6 - Bab 7

Pada Bab Satu dan Dua, telah dibahas mengenai konsep-konsep dasar filsafat dan kaitannya dengan pendidikan. Pada bab yang ketiga ini akan ditelaah lebih jauh mengenai salah satu kelompok filsafat, yaitu filsafat tradisional.

Dalam dunia pendidikan, terdapat hubungan langsung antara kepercayaan dasar seseorang dan bagaimana mereka memandang komponen-komponen pendidikannya, seperti hakikat siswa, peran guru, penekanan terbaik pada kurikulum, metode mengajar yang paling efisien dan fungsi sosial sekolah. Dalam Bab ini kelompok-kelompok filsafat akan diberi nama/label tertentu demi terwakilinya pemikiran-pemikiran dibalik label tersebut. Perbedaan yang terdapat dalam setiap kelompok filsafat ini lebih mudah dikenali dengan pemberian label. Pelabelan ini juga menyadarkan para pendidik bahwa praktek-pratek dalam pendidikan dibangun dan berasal dari filsafat tertentu. Bab ini akan mengungkapkan filsafat tradisional, idealisme, realisme dan neo-skolastikisme.

Idealisme
Idealisme menekankan pada realita gagasan/idea, pemikiran dan pikiran. Idealisme diformulasi pada abad keempat sebelum masehi oleh Plato. Ia mendefinisikan kebenaran sebagai sesuatu yang sempurna dan abadi. Karena dunia ini terbukti selalu berubah, maka kebenaran tidak dapat ditemukan dalam dunia yang tidak sempurna dan sementara ini. Plato percaya bahwa terdapat kebenaran universal dimana semua orang dapat menyepakatinya. Idealisme percaya bahwa dunia yang dapat diindera oleh tubuh kita dan dunia pikiran adalah dunia yang nyata.

Mengetahui realitas bukanlah pengalaman melihat, mendengar atau menyentuh, tetapi memegang gagasan atas sesuatu dan menyimpannya dalam pikiran. Kebenaran berada dalam wilayah gagasan/idea. Beberapa idealis memdalilkan bahwa ada suatu Pikiran Absolut atau Pribadi Absolut yang secara terus menerus memikirkan gaagsa-gagasan ini.

Kehidupan etis para idealis didapat dengan memlihara keharmonisan dengan alam semesta. Peran para individu adalah untuk menjadi seperti Pribadi yang Absolut itu.

Dalam hubungannya dengan pendidikan, para pembelajar dipandang sebagai pribadi mikroskopik yang berada dalam proses menjadi seperti Pribadi Absolut. Mereka harus berjuang pada kesempurnaan, karena pribadi ideal adalah sempurna. Peran guru adalah untuk meneruskan pengetahuan akan realitas dan menjadi contoh atas etika yang ideal. Penekanan kurikulum idealisme terletak pada studi humanisme, seperti sejarah, literatur, matematika dan bahasa. Perpustakaan menjadi pusat kegiatan pendidikan dan ruang-ruang kelas adalah perpanjangan pengoperasian perpustakaan. Metode mengajar yang terbaik adalah dengan ceramah secara verbal. Pada akhirnya secara sosial sekolah berfungsi sebagai penyimpan warisan dan penerus pengetahuan dari masa lalu. Ia bukan agen perubahan, tetapi penyokong 'status quo'.

Realisme
Dalam hal tertentu, realisme adalah sebuah reaksi menentang idealisme. Aristoteles adalah pendefinisi terbaik dari realisme. Menurutnya, suatu bentuk dapat hadir tanpa zat/materi tertentu, tetapi tidak akan ada zat/materi tanpa bentuk.

Realitas utama menurut para realis, realita bukan terdapat pada wilayah pikiran. Alam semesta ini dibuat dengan materi bergerak, sehingga dunia fisik dimana orang berdiam inilah yang menjadikannya realita.

Epistemologi dari realisme adalah pendekatan umum pada dunia yang mendasarkan metodenya pada persepsi yang berhubungan dengan panca indera. Kebenaran dipandang sebagai fakta yang dapat diamati. Panca indera adalah alat untuk memperoleh pengetahuan.

Hukum alam adalah dasar etika realisme, karena alam memiliki hukum moral. Bentuk seni terbaik menurut relis mencerminkan kelogisan dan keteraturan alam semesta.

Dalam pendidikan realisme memandang para siswa sebagai organisme fungsional yang dapat mengetahui keteraturan alam melalui pengalaman sensoris. Mereka adalah subyek dari hukum alam, maka itu mereka tidak bebas dalam pilihan-pilihan mereka. Guru berperan untuk memberikan informasi yang akurat mengenai realitas pada siswa dengan cara yang paling cepat dan efisien. Ilmu-ilmu alam menjadi pusat dalam kurikulum realis, selain itu matematika dan bahasa juga memiliki posisi yang sama. Pengalam belajar haruslah diatur sedemikian rupa kepada hal yang lebih luas untuk dapat memanfaatkan panca indera. Demonstrai adalah metode favorit dalam kelas, semikian juga dengan studi lapangan, dan penggunaan audio-visual. Sekolah berperan sebagai 'transmitter' pengetahuan yang telah ditetapkan oleh mereka yang telah memiliki konsep hukum alam dan pengalaman keilmuan, serta fungsinya dalam alam semesta. Sekolah ini berfokus melestarikan dan melindungi warisan pengetahuan ini.

Neo-Skolastikisme
Neo-skolastikisme adalah sebuah gerakan intelektual yang berkembang di Eropa Barat antara tahun 1050 -1350. Para pelajar skolastik tidak tertarik untuk mencari kebenaran baru, mereka lebih tertarik pada pembuktian kebenaran yang telah ada melalui proses-proses rasional. Jadi skolastikisme dapat dilihat sebagai usaha untuk merasionalisasi teologi dengan tujuan mendukung iman oleh pemikiran (reason).

Thomas aquinas adalah tokoh utama dalam masa ini. Pendekatan dasarnya adalah seseorang seharusnya memperoleh pengetahuan sebanyak mungkin melalui penggunaan pemikiran/akal budi(reason) manusia dan mempercayakannya pada iman wilayah-wilayah yang melampaui pemahaman manusia.

Pada pemikiran pendidikan abad ke-20, Neo-skolastikisme terbagi menjadi dua cabang pendidikan, yaitu cabang religius dan cabang sekuler. Cabang religius membangun struktur filsafat pendidikan Katolik Roma.

Terdapat dua akar pemikiran Neo-skolastikisme, yang pertama berakar pada Aristoteles yang meletakkan dasar realisme. Yang kedua berakar pada aquinas yang mensintesa filsafat Aristoteles dengan Kekristenan. Bagi Aristoteles pertanyaan terpenting yang dapat ditanyakan seseorang adalah mengenai tujuan mereka; dan karena manusia diberikan kemampuan untuk berpikir, maka tujuan utama manusia adalah untuk menggunakan kemampuannya itu. Menurutnya alam semesta ini memiliki rancangan dan keteraturan dan setiap akibat memiliki penyebab. Rancangan, Keteraturan dan Penyebab ini saling berhubungan di dunia dan dia menyatakan adanya Penyebab Pertama dan Penggerak yang Tidak Bergerak. Aquinas menyamakan hal itu dengan Tuhan orang kristen.

Metafisika dari Neo-skolastikisme merupakan dua sisi mata uang. Di satu sisi adlah dunia lamiah yang terbuka pada pemikiran, di sisi lain adalah wilayah supranatural yang dipahami melalui intuisi, pewahyuan dan iman.

Kebenaran didapat dari intuisi dan pernyataan sintetis. Intuisi dianggap lebih tinggi tingkatnya dari pada pernyataan sintetis. Cabang Sekuler Neo-skolastikisme menyatakan, kebenaran dapat diketahui melalui akal budi dan intuisi. Sedangkan cabang religius dari filsafat ini menambahkan pewahyuan supranatural sebagai sebuah sumber pengetahuan yang dapat meletakkan manusia yang terbatas untuk berhubungan dengan pikiran Tuhan. Kedua cabang ini sangat menekankan akal budi dan bentuk deduktif dari logika Aristoteles.

Kehidupan moral bagi Neo-skolastikisme adalah kehidupan yang harmonis dengan akal budi (reason). Manusia pada dasarnya adalah mahluk rasional dan perilaku yang baik dikontrol oleh rasionalitas. Dikarenakan Neo-skolastikisme terlalu menekankan pada rasio, maka dampaknya pada bentuk-bentuk seni tidaklah menonjol.

Dalam dunia pendidikan Neo-skolastikisme percaya bahwa siswa adalah mahluk rasional (berakal budi)yang memiliki potensi alamiah untuk memperoleh Kebenaran dan pengetahuan. Guru dipandang sebagai pengajar mental dengan kemampuan untuk mengembangkan pemikiran, daya ingat dan kekuatan kehendak dalam diri siswa. Cabang religius Neo-skolastikisme menganggap guru juga sebaagi pemimpin spiritual dan pegajar disiplin mental. Sedangkan cabang sekuler menyatakan bahwa karena manusia adalah mahluk rasional, maka kurikulum harus memprioritaskan penumbuhan aspek-aspek rasional mereka. Siswa harus dilatih untuk berpikir dan pendidikan berfokus pada penajaman intelektual, sehingga orang-orang dapat mampu memahami sang Kenebaran Absolut. Semua hal yang berhubungan dengan pengembangan logika menjadi pusat kurikulum Neo-skolastikisme, demikian juga dengan matematika dan bahasa, khususnya bahasa Latin dan Yunani. Cabang religius menambahkan studi sistematis mengenai dogma dan doktrin juga pentin gdalam kurikulum. Metode pengajarannya kebanyakan berfokus pada pelatihan kekuatan intelektual. Dalam aspek sosial, sekolah Neo-skolastikisme berfungsi sama dengan kedua filsafat tradisional lainnya.

Philosophic Issues in Education

>> Friday, April 17, 2009

Philosohpy Education: Bab 1 - Bab 2 - Bab 3 - Bab 4 - Bab 5 - Bab 6 - Bab 7

Berikut ini adalah lanjutan rangkuman, buku Phylosophy Education oleh George R. Knight. Bab kedua ini berjudul "Philosophic Issues in Education". Berikut ini adalah ulasannya...

Filsafat Pendidikan tidak dibedakan dengan filsafat pada umumnya. Sebelum kita memahami struktur filsafat pendidikan, sangatlah penting untuk mempelajari garis besar filsafat. Oleh karena itu kita perlu mempelajari kategori-kategori yang terdapat dalam metafisika, epistemologi dan aksiologi.

Metafisik adalah cabang filsafat yang berhubungan dengan hakikat atau natur realitas (kenyataan). Metafisik berasal dari bahasa Yunani yang secara literal berarti diluar (beyond) fisik. Kebanyakan teori sains sangat berhubungan dengan teori realitas. Terdapat empat bagian metafisik yaitu:
1. Aspek kosmologi, yaitu studi tentang asal muasal, alam dan perkembangan alam semsta sebaagi sistem yang teratur.
2. Aspek teologi, yaitu teori religius yang berhubungan dengan konsep Ke-Tuhan-an.
3. Aspek antropologi, yaitu studi yang berhubungan dengan manusia.
4. Aspek ontologi, yaitu studi tentang hakikat ke-ada-an.; atau studi yang menentukan apa yang kita maksudkan ketika sesuatau itu ada.

Metafisik adalah isu sentral dalam dunia pendidikan karena semua program sekolah harus berdasar pada fakta dan realita dari pada impian, ilusi atau imajinasi. Setiap pendidik harus memiliki konsep yang sama tentang hakikat manusia, kepribadian dan kebutuhan sosialnya, dan pribadi idealnya.

Epistemologi adalah cabang filasafat lain yang mengkaji tentang hakikat, sumber dan keabsahan dari pengetahuan. Beberapa dimensi dari pengetahuan ini adalah:
1. Apakah realitas dapat diketahui?
2. Apakah kebenaran realtif atau absolut?
3. Apakah pengetahuan itu subyektif atau obyektif?
4. Apakah kebenaran itu terpisah dari pengalaman manusia?

Dari dimensi-dimensi pengetahuan itu, maka dapat diketahui beberapa sumber pengetahuan, diantaranya:
1. Indera. Empirisisme adalah pandangan bahwa pengetahuan didapat melalui indera.
2. Pewahyuan. Pengetahuan yang diwahyukan menjadi pengetahuan yang primer dalam bidang keagamaan.
3. Otoritas. Pengetahuan yang otoritatif dapat diterima sebagai kebenaran karena datang dati para ahli atau telah dibakukan dalam suatu tradisi.
4. Akal Budi. Pandangan bahwa berpikir, berlogika adalah faktor utama dalam pengetahuan yang dikenal dengan rasionalisme.
5. Intuisi. Ini adalah pemahaman lansung atas pengethuan yang tidak berasal dari pemikiran yang sadar.

Sejarah menunjukkan bahwa kepercayaan atas satu hal tertentu yang diterima sebagai kebenaran, menjadi suatu hal yang salah di kemudian hari. Bagaimana kita dapat mengatakan bahwa kepercayaan yang satu adalah benar sedangkan yang lain salah? Para filsuf telah mempercayai tiga ujian kebenaran ini: teori koresponden, koherensi dan pragmatis.
1. teori koresponden adalah sebuah ujian yang menggunakan kesepakatan dengan fakta sebagai dasar pendapat.
2. teori koherensi percaya pada konsistensi atau harmoni pendapat semua orang.
3. Teori pragmatis melihat ujian pada kebenaran dalam akibat penggunaan, kinerja atau tingkat kepuasannya.

Dilema dalam metafisik dan epistemologi ini adalah tidak mungkin untk membuat pernyataan tentang realitas tanpa memiliki sebuah teori kebenaran pada awlnya; dan sebaliknya, sebuah tero tentang kebenaran tidak dapat dikembangkan tanpa pertama-tama memiliki teori tentang realitas. Posisi yang dapat diterima mengenai persoalan ini adalah sebuah 'pilihan iman' yang dibuat oleh pada individu dan hal ini memerlukan sebuah komitment atas jalan hidup. Jadi kesimpulannya, semua orang hidup oleh iman dalam kepercayaan dasar yang mereka telah pilih.

Aksiologi adalah cabang filsafa yang mencari jawaban atas pertanyaan 'Apa yang bernilai?'. Terdapat sebuah penekanan yang jelas dalam nilai-nilai, sebuah penekanan antara apa yang orang katakan bernilai bagi mereka dan apa yang mereka lakukan dalam kehidupan kesehariannya. Isu yang paling krusial bagi para pendidik adalah membedakan apa yang orang-orang seharusnya pilih dari pada mendefinisikan dan menjelaskan pilihan-pilihan mereka yang mereka lakukan atau katakan itu. Aksiologi beridiri di dasar utama dalam proses pendidikan dan aspek terbesar dalam pendidikan adalah pengembangan pilihan-pilihan (preferensi). Dua Cabang utama dari aksiologi adalah Etika dan Estetika.

Etika adalah studi tentang nilai-nilai moral dan pelaksanaannya. Teori etika memperhatikan penyediaan nilai-nilai yang benar sebagai dasar bagi tindakan yang benar. Masyarakat dunia telah membuat kemajuan-kemajuan teknologi yang luar biasa, tetapi belum memajukan secara signifikan konsep-konsep moral dan etika.
Sangatlah tidak mungkin untuk melarikan diri dari pengajaran konsep-konsep etika di sekolah. Namun persoalannya adalah masyarakat membedakan dasar-dasar etikanya dan merasa sangat kuat dalam membiarkan anak-anak mereka 'diindoktrinasi' oleh sebuah nilai-nilai moral yang asing bagi kepercayaan fundamental mereka.

Estetika adalah wilayah nilai yang mencari prinsip-prinsip yang berlaku pada penciptaan dan penghayatan keindahan dan seni. Karena etetika sangat berhubungan dengan imajinasi dan kreatifitas, maka ia cenderung sangat pribadi dan subyektif. Penilaian estetik adalah bagian dari kehidupan sehari-hari dan tidak dapat terhindarkan. Pengalaman estetik memimpin kepada pengindraan yang tinggi atas persepsi, kemampuan untuk memahami makna yang baru, pengembangan perasaan dan perluasan sensitifitas. Hal ini membutuhkan pemahaman intelektual dan bahkan bekerja melampaui wilayah afektif dengan fokusnya pada perasaan dan emosi.
Sekolah dan agen-agen pendidikan lainnya juga memiliki tanggung jawab untuk menolong para sisaw melihat dimensi estetik dalam lingkungan pendidikan seperti dalam area arsitektur, lapangan sekolah, kerapihan pribadi dan kerapihan menulis di buku. Setiap individu perlu mengingat bahwa kepercayaan estetik berhubungan langsung dengan aspek lainnya dalam filsafat yang mereka anut.

Studi aksiologi selalu menjadi penting, tetapi ia memiliki hubungan yang istimewa bagi para pendidik di jaman ini. Abad yang terakhir ini telah memperlihatkan perubahan yang besar atas struktur nilai dan sekarang kita hidup di dalam waktu ketika posisi aksiologi kemanusiaan dapat digambarkan dengan kata-kata degenerasi dan berubah total.

The Nature of Philosphy and Education

>> Tuesday, April 14, 2009

Philosohpy Education: Bab 1 - Bab 2 - Bab 3 - Bab 4 - Bab 5 - Bab 6 - Bab 7

Phylosophy Education adalah sebuah buku yang ditulis oleh George R. Knighth, seorang sejarawan dan pendidik. Buku ini menjadi pegangan yang baik bagi mahasiswa FKIP, guru, dosen dan semua orang yang bergelut dalam dunia pendidikan.


Saya mencoba membuat suatu rangkuman dari pokok-pokok bahasannya. Semoga bermanfaat bagi referensi Anda. Berikut ini adalah rangkuman dari bab pertamanya, Hakikat Filsafat dan Pendidikan...

"Mindlessness" atau ketiadaanakal adalah kata pertama yang muncul di awal paragraf bab ini. Kata ini dimaksudkan pada pendidikan di AS yang tidak memperhatikan aspek tujuan atau alasan pendidikan dilangsungkan dan hanya menekankan pada aspek pelaksanaan praktis saja. Para pendidik di sana dianggap telah terlalu banyak menghabiskan waktu untuk menciptakan teknik-teknik, metode dan strategi mengajar/belajar tercanggih dan mengalpakan pentingnya menrumuskan arah dah tujuan pendidikan itu sendiri.

Kebutuhan untuk menghasilkan tenaga-tenaga pendidik profesional yang dapat berfokus pada pemikiran tentang tujuan, memikirkan tentang apa yang mereka sedang kerjakan dan mengapa mereka melakukannya menjadi sangat penting dan mendesak. Saat tujuan dan arah telah berada dalam kepala mereka, secara independen mereka dapat menilai sendiri metodologi apa yang akan membantu menggapai tujuan pembelajaran.

Studi filsafat pendidikan ini bertujuan:
1. menolong pendidik untuk lebih 'familiar' dengan masalah-masalah dasar pendidikan;
2. memampukan mereka untuk mengevaluasi lebih baik saran-saran untuk menyelesaikan persoalan-persoalan pendidikan
3. mendampingi mereka dalam memperjelas tujuan kehidupan dan pendidikan
4. membimbing mereka dalam mengembangkan sudut pandang yang konsisten dan program yang berhubungan secara nyata dengan konteks dunia yang lebih luas.

Penulis membagi filsafat menjadi tiga aspek: sebuah aktifitas, sekumpulan sikap dan sebentuk isi. Aktifitas atau kegiatan dalam filsafat terbagi menjadi enam tahap, yaitu examining (pemahaman), analyzing (analisa), synthesizing (sintesa), speculating (pengumpulan data), prescripting (perumusan pernyataan) dan evaluating (evaluasi). Seorang yang berpikir secara filsafat biasanya memiliki sikap self-awareness (kesadaran diri), comprehensiveness (keutuhan), penetration (penggalian yang mendalam) dan flexibility (keluwesan). Terdapat tiga kategori bidang bahasan filsafat, yaitu metafisik, kajian tentang realitas; epistemology, kajian tentang kebenaran dan pengetahuan; dan aksiology, kajian tentang nilai.

Pembelajaran, pendidikan, persekolahan dan pelatihan adalah empat hal yang berbeda yang coba diuraikan oleh penulis. Pembelajaran (learning) adalah sebuah proses seumur hidup yang memampukan seseorang untuk menghasilkan atau menampilkan perilaku perubahan atau pembahauran manusia.

Penulis menegaskan bahwa pendidikan (education) adalah sebuah sub atau bagian dari pembelajaran. Pendidikan dibedakan dengan pembelajaran dalam: usaha sadar sang pelajar atau oleh orang lain untuk mengontrol, membimbing, mengarahkan, mempengaruhi atau mengelola suatu situasi pembelajaran dengan tujuan untuk memenuhi tujuan pembelajaran.

Pelatihan (training) tidak lebih dari dasar pengembangan pemahaman. Pelatihan dapat dilakukan pada hewan, namun pendidikan hanya untuk manusia. Namun dalam pendidikan bisa saja terdapat aspek pelatihan.

Sedangkan Persekolahan (schooling) adalah pendidikan yang dibuat secara formal dengan mempertemukan guru dan murid dalam waktu dan tempat tertentu. Hal inilah yang membedakannya dengan pendidikan dan pelatihan yang tidak terbatas pada tempat dan waktu.

Hal menarik yang dikupas diakhir bab ini adalah bahwa sekolah bukanlah satu-satunya agen pembelajaran, pendidikan dan pelatihan. Keluarga, Media, teman sebaya dan gereja(institusi keagamaan lainnya) juga berbagi tangung jawab dalam hal ini. Bahkan, sekolah merupakan minoritas dibanding dengan keluarga dan media dalam proses pendidikan anak.