I'm an ordinary man with a calling to be a teacher for my family, my students and my community. Here are my notes as I travel through my goal fulfillment...
WELCOME! Salam Sejahtera! Senang sekali mendapat kunjungan dari Anda. Berikan komentar Anda di akhir setiap posting (klik link:write your comment here!), komentar Anda sangat berharga bagi saya. Terima Kasih. Please Enjoy...
Pengusaha Ciputra mengatakan, akar musabab kemiskinan di Indonesia bukan semata akibat akses pendidikan, karena hal itu hanya sebagian, melainkan karena negara tidak menumbuhkembangkan entrepreneurship dan jiwa entrepreneur dengan baik pada masyarakatnya (Kompas, 2009). Dalam artikel yang sama, pengusaha di Indonesia hanyalah berjumlah 0,18 persen dari jumlah penduduknya. Bandingkan dengan AS 11,5 persen dan Singapura 7,2 persen (data tahun 2007). Untuk menjadi sebuah negara yang lebhi baik, ilmuwan AS mengatakan sebuah negara harus memiliki setidaknya 2 persen pengusaha dalam negaranya.
Dengan data di atas dapatlah kita simpulkan bahwa arah pendidikan di bangsa ini harus mengalami perubahan mendasar. Pendidikan haruslah juga berorientasi mengambangkan kewirausahaan. Pendidikan saat ini memang cenderung mengembangkan sisi pengetahuan dan keterampilan. Jiwa kewirausahaan sangat sedikit sekali di pupuk sejak dini. Sekolah cenderung menegmbangkan keterampilan-keterampilan berpikir untuk mengembangkan jiwa keilmuan.
Ini menjadi sebuah pekerjaan rumah yang besar bagi menteri pendidikan selanjutnya. Akankah wajah sistem pendidikan Indonesia mengalami perubahan mendasar pada masa jabatan kedua SBY? Kita akan cermati langkah-langkahnya. Mengingat departemen pendidikan nasional menajdi salah satu departemen berbujet sangat besar (20 persen dari total APBN), ada kemungkinan permainan politik dibalik pemilihan menteri di departemen ini. Mari kita berharap dan terus berdoa untuk yang terbaik...
Awal tahun ajaran memang merupakan waktu-waktu yang padat, kedisiplinan saya untuk menulis di sini diuji. Kali ini saya memaksakan diri untuk kembali menulis.
Syukur kepada Tuhan saya hampir menyelesaikan penulisan sebuah buku tentang parenting. Saya berharap setelah lebaran nanti bukunya dapat dinikmati oleh masyarakat. Masih ada beberapa hal teknis penting yang harus diselesaikan sebelum layak terbit. Melalui pengalaman menulis ini saya jadi menyadari betapa menulis adalah pekerjaan yang cukup rumit, khususnya penulis pemula. Proses penulisan buku dari gagasan hingga penertbitan buku adalah sebuah perjalanan yang panjang. oleh karena itu saya angkat topi kepada para penulis-penulis buku, Mereka adalah pejuang-pejuang sejati dari gagasan mereka.
Saya juga mulai bisa empati dengan para penulis yang buku-bukunya di bajak dengan mesin ajaib fotokopi atau lainnya. Satu sisi, menurut saya, penulis pasti senang bahwa bukunya bisa bermanfaat bagi banyak orang. Namun di sisi lain penulis meradang karena hak dan nafkahnya dicuri maling.
Memang ideal bila seorang guru setidaknya menulis satu buah buku dalam hidupnya. Dengan demikian gagasan dan kebijaksanaan yang diperolehnya dapat diturunkan pada generasi selanjutnya. Apakah Anda ingni menulis juga?
Dalam acara ucapan syukur seorang tetangga kami, para undangan yang adalah para tetangga di lingkungan kami, kami disuguhi dua buah film yang sangat mengesankan.
sambil mengobrol dan menikmati makanan, diputar dua buah film keluarga yanga sarat akan nilai-nilai unggul dalam kehidupan. Film pertama berjudul Facing The Giants, dan yang berikutnya adalah Faith Like Potatoes. Saya amat merekomendasikan dua film ini karena memang banyak pelajaran penting dalam kehidupan yang bisa ditarik. perlu diketahui, dua film ini diadaptasi dari kisah nyata.
Facing the Giants menceritakan tentang perjuangan seorang pelatih dan klub american football-nya yang terus terpuruk dalam suatu musim pertandingan. Sang pelatih dilanda persoalan yang ujungnya menyangkut akan hidup matinya klub ini. Persoalan bertambah berat saat keluarganya pun dihadapkan pada kenyataan bahwa mereka kesulitan memiliki anak.
namun, dalam segala persoalan yang dihadapi itu, sang pelatih mengalami titik balik saat ia kembali mengingat Tuhan dalam hidupnya. Ia menyertakan Tuhan dalam segala aspek dalam hidupnya. Cerita pun mulai berubah suasana. Sejak ia terus membangun hubungan yang intim dengan Tuhannya, kerap kali ia mendapatkan inspirasi tentang bagaimana ia harus mengelola dan memimpin timnya. Ia berhasil pula menginspirasi dan memimpin timnya untuk tidak mudah menyerah dan melakukan yang terbaik saat pertandingan.
Jalan cerita dan penataan plot yang sangat baik telah dilakukan oleh sanga sutradara, sehingga banyak kali ditemukan adegan-adegan yang sarat nilai-nilai perjuangan dan pantang menyerah. Film ini layak ditonton berulang-ulang. Para penikmat film ini di acara ucapan syukur ini kerap kali mengatakan betapa hebatnya film yang diangkat dari kisah nyata ini.
Film yang kedua yang kami tonton secara beruntun dalam acara itu adalah Faith like Potato. cerita yang mengisahkan seorang petani yang amat bersandar dan percaya kepada Tuhannya. Berkali-kali ia mengalami tantangan dalam mengembangkan pertaniannya di Afrika demi kesejahteraan orang Zambia di lingkungan pertaninannya. Sebanyak ia melakukan usahanya untuk mengembangkan pertaniannya, sebanyak itu pula kegagalan ia alami.
Dalam kegalauan hatinya, ia kembali kepada Sang Khalik. Ia sadar bahwa tanpa penyertaanNya, tak mungkin ia berhasil dalam pekerjaannya itu. Kesadaran itu memimpinnya untuk mempelajari tentang apa pesan Tuhan bagi dirinya secara pribadi dan pekerjaannya. Perjalanan menuju keberhasilan tidaklah semudah yang dibayangkan. Walaupun ia telah 'bertobat' dari cara dan sikap hati yang salah, namun tantangan terus berdatangan. Namun, semakin besar tantangan yang dihadapinya, semakin besar mujizat yang terjadi dan yang dipertontonkan pada banyak orang. Kepercayaannya kepada Tuhan menjadi modal utama saat ia memutuskan untuk menanam kentang di suatu musim tanam yang sebenarnya dilanda kekeringan panjang. Tak satu tetes airpun mengalir di ladangnya, tetapi mujizat tetap terjadi karena iman percayanya telah menjadi air dan pupuk yang subur di ladangnya.
Suatu kisah nyata yang inspiratif dan menantang iman percaya kita juga. Kemustahilan adalah pintu yang Tuhan pakai untuk kita masuk dalam kebahagiaan, asalkan kunci iman itu kita gunakan untuk membukanya. Film ini sangat layak ditonton bersama rekan-rekan sekerja dan sekeluarga.
Dua film ini menggambarkan sekolah kehidupan yang dengan keras mendidik manusia. Selamat menikmati film yang berkualitas.
Aahhh, tiba juga hari pertama sekolah, First Day of School!
Di hari ini pun anak saya masuk sekolah, kelompok bermain tepatnya. Dia sangat bersemangat sekali. Bahkan ia sempat sedikit merajuk ketika orang tuanya berlama-lama untuk berangkat dari rumah. Seragam lengkap dari topi hingga sepatu telah dipakaikan. Tas barunya telah melekat dipunggung. Dengan malu-malu ia menjawab pertanyaan tetangga sebelah yang bertanya padanya tentang hari pertama sekolahnya.
Tiba di sekolah, ia terlihat sangat bersemangat. Matanya bersinar, mukanya cerah, senyum tergantung di wajahnya sepanjang kami berjalan dari tempat parkir menuju kelasnya. Setibanya di sana, ia bertemu dengan temannya yang juga adalah tetangga kami. Ia segera menghampirinya, sayang sang teman tidak mau diajak bersama-sama. Baru habis menangis, kata bapaknya.
...
Sepulang sekolah, isteri saya bercerita tentang betapa anak kami sangat senang berada di lingkungannya yang baru, sekolah. sebgaian dari teman-teman sekelasnya memang masih ada yang belum bisa di tinggal oleh orang tuanya. Ada juga beberapa yang menangis karena orang tuanya tidak bersama mereka. namun, secara umum mereka menyukai lingkungan barunya ini.
Ini adalah fenomena umum anak masuk sekolah usia dini, mereka masih sangat bergantung pada orang tuanya di hari-hari awal pembelajaran mereka. Biasanya di minggu kedua atau setidaknya di akhir bulan pertama mereka sekolah, semua siswa sangat menyukai 'temapat bermain' mereka yang baru ini.
Sayangnya menurut penelitian, semakin anak bertumbuh besar, mereka cenderung mengaggap sekolah sebagai suatu beban. Apalagi bila ditambah guru, pelajaran atau suasana sekolah yang tidak mendukung, siswa akan cenderung malas belajar. Mungkin ada benarnya bila belajar dan bermain itu harus menjadi satu paket. Dengan kata lain belajar harus dibuat menyenangkan, agar siswa dapat terus termotivasi.
Liburan yang memabukkan dan menyibukkan, maaf kepada para pembaca setia blog ini, saya tidak konsisten mempostingkan tulisan baru. mudah-mudahan tulisan berikut memenuhi rasa 'lapar' Anda...
Saya berusaha mendapatkan data-data mengenai kehidupan remaja dan anak-anak untuk memberikan kepada Anda gambaran yang lebih jelas mengenai tantangan-tantangan apa yang sedang digumuli oleh generasi muda kita. Sebagian data yang saya tampilkan ini adalah bukan berasal dari Indonesia. Namun saya telah memilah hal-hal yang memiliki kesesuain yang kuat dengan apa yang terjadi di bangsa kita.
Saya akan memulai dengan mengajak Anda mengingat beberapa film. Film telah menjadi sebuah monumen dan cermin bagi realita sosial yang terjadi pada jamannya. Film seringkali dipakai sebagai kritik sosial atau pengungkapan hal-hal yang mungkin tidak disadari terjadi di masyarakat.
Masihkah Anda ingat sebuah film yang diangkat dari kisah nyata seorang anak yang teraniaya oleh ibu tirinya di tahun 1980an? Ya, Arie Hanggara. Kisahnya begitu memilukan dan menggegerkan di tahun 1980an, sehingga kisahnya perlu diangkat sebagai sebuah film yang mencerminkan realita sosial pada jaman itu. Apakah menurut Anda kekerasan kepada anak tidak terjadi lagi hingga saat ini? Anda bisa bertanya kepada Komnas Perlindungan Anak. Dan Anda akan terkejut, bahwa kasus-kasus serupa, bahkan lebih parah semakin banyak. Anda juga dapat membaca buku MIF. Baihaqi, Anak Indonesia Teraniaya. Saya merinding dan sedih mendengar kisah-kisahnya.
Berikutnya adalah film Virgin di tahun 2004, sebuah kisah pergulatan remaja putri yang ingin menunjukkan eksistensinya dengan cara menjual diri. Koran-koran lokal dan beberapa surat kabar beroplag kecil tidak sedikit mengangkat berita-berita mengenai remaja-remaja SMA atau ‘ayam-ayam’ kampus dengan pesan berita serupa film ini. Pada Majalah Tempo, Ketua Perhimpunan Obsterik dan Ginekolog Indonesia Nurdadi Saleh berkata, menurut penelitian WHO, di Indonesia telah terjadi 2.500.000 kasus aborsi per tahun! Yang tidak terdata tentunya lebih banyak lagi.
Belum lagi kisah ‘perdagangan’ anak yang diangkat di layar lebar dengan judul Sepuluh di tahun 2008. Kita dapat melihat bahwa anak-anak menjadi korban dalam peradaban masyarakat yang katanya semakin maju.
Pada tahun 1980an, saat saya masih di bangku sekolah. Kenakalan anak dan remaja yang umum terjadi adalah membolos untuk nongkrong bareng teman, berkelahi (satu lawan satu), makan permen karet, ngobrol di dalam kelas, menyontek, dll. Bandingkan dengan apa yang terjadi setelah dekade itu: tawuran, pornografi, membolos untuk main PS atau permainan games on-line, penganiayaan (senior pada yunior), menyogok guru untuk hasil UN yang baik, seks bebas, aborsi, dll.
Mari kita bandingkan dengan data statistik tahun 1992 di majalah Fortune mengenai apa yang terjadi di Amerika setiap hari:
· 1.000 remaja wanita menjadi ibu tanpa nikah
· 1.106 remaja wanita melakukan aborsi
· 4.219 remaja mengidap penyakit yang tertular secara seksual
· 500 remaja mulai memakai narkoba
· 1.000 remaja mulai mengkonsumsi alkohol
· 135.000 anak-anak membawa sebuah pistol atau senjata lain ke sekolah
· 3.610 remaja dilecehkan; 80 diperkosa
· 2.200 remaja berhenti dari sekolah menengah
· 7 remaja dibunuh
· 7 remaja ditangkap karena pembunuhan
· 6 remaja bunuh diri
Dengan data-data di atas dapatkah kita berkata, memang benar generasi anak muda kita berada dalam bahaya? Tidak! Generasi kita tidak sedang dalam bahaya, tetapi SANGAT BAHAYA!