A National Challange: Scientific Journal
>> Wednesday, February 8, 2012
I'm an ordinary man with a calling to be a teacher for my family, my students and my community. Here are my notes as I travel through my goal fulfillment...
Judul di atas memang provokatif, saya sengaja menuliskannya, karena ini adalah propaganda dari hampir semua industri makanan di jaman ini. Walau mereka tidak menyatakannya secara langsung, tapi ini adalah fakta yang sebenarnya: mereka ingin membunuh pelan-pelan anak Anda dengan cara yang 'manis'!
Sebuah media cetak nasional kemarin menerbitkan suplemen mengenai gizi anak. Hal ini amat langka dilakukan oleh media, karena topiknya kurang menggigit dan menjual. Namun saya sangat mengapresiasi penerbitan ini; dikarenakan isu nutrisi, khususnya pada anak, di negeri ini telah kalah pamor dengan berita-berita korupsi, politik dan lainnya.
![]() |
| fattest man in the world, 600kg |
Mengapa obesitas jadi sorotan para pakar nutrisi dan medis? Obesitas bisa dikatakan sebagai 'pintu' masuk penyakit-penyakit berbahaya seperti diabetes, darah tinggi, gangguan penafasan dan jantung, bahkan bisa berujung pada stroke atau kanker. semua penyakit tersebut adalah penyakit pembunuh umat manusia paling berbahaya saat ini menurut WHO. Bila anak-anak tidak mendapatkan nutrisi yang terbaik, kita akan kehilangan sebuah generasi, atau setidaknya kehilangan generasi yang bermutu. Sayangnya, sebagian besar masyarakat belum paham benar mengenai obesitas ini, khususnya penyebab dan penanggulangannya.
Idealnya, konsumsi gula harian untuk anak adalah 12 gr/ 3 sendok teh per hari. Sedangkan untuk dewasa bisa hingga 3 kalinya. Namun coba kita lihat contoh kasus si Dodo yang berusia 5 tahun, pagi hari ibunya membuatkan susu yang ditambah gula 2 sendok makan (16 gr), ibunya juga memberikan sebungkus biskuit sebagai teman sarapan yang di kemasannya tertulis mengandung gula 11 gr. Menjelang siang yang panas terik, Dodo mampir ke warung untuk membeli sekaleng minuman ringan yang mengandung gula 40gr dan meminumnya sampai habis. Ia kurang tertarik dengan makan siangnya, sehingga makan sedikit. Karenaya dua jam kemudian ia kembali lapar dan mengambil dua bungkus coklat di kulkas, yang masing-masing mengandung gula setidaknya 10gr.Dalam pengamatan saya, tidak sedikit ibu, khususnya kaum kelas menengah, yang turut berkarir atau bekerja. Jabatan ibu rumah tangga semakin sedikit ditemui tercantum di KTP perempuan yang sudah menikah. Banyak alasan yang dikemukakan, mulai dari ingin membantu suami meningkatkan taraf dan gaya hidup keluarga, hingga alasan tak betah atau tak kuat di rumah mengurus rumah tangga dan anak.
Fenomena abad 21 ini patut dicermati. Di satu sisi, kedua orang tua yang bekerja patut di acungi jempol. Hal ini salah satunya berangkat dari keinginan untuk memberikan kehidupan yang lebih baik bagi keluarga, khususnya anak. Namun hal ini menjadi persoalan besar bila dilihat dari sisi peran orangtua dalam mendidik anak. Sepanjang anak membuka mata dalam tiap harinya, mereka nyaris tidak bertemu dengan orangtua atau bila pun bertemu waktu efektif yang tercipta nyaris tidak ada. Masalah ini menjadi semakin buruk ketika usia anak masih tergolong balita, di mana pembentukan pola pikir, tingkah laku dan sikap dasar terbentuk.
Para ahli pendidikan anak menyatakan usia balita adalah usia emas. Di usia ini, anak sangat membutuhkan peran orangtuanya secara nyata. Kehadiran adalah satu hal dan berfungsi atau berperan sebagai orangtua adalah hal lain.Anak usia ini membutuhkan orang tua yang hadir dan berfungsi. Pengalihan peran kepada pihak lain, baik itu pembantu atau anggota keluarga lain akan berdampak pada perbedaan signifikan atas tumbuh kembang anak. Saya mempercayai anak yang bertumbuh dan berkembang dengan baik hanya diperoleh dari kerja keras orangtuanya dalam mendidik anak.
Tidak sedikit orangtua yang bekerja keras dalam mencari nafkah, tetapi sedikit orangtua yang bekerja keras dalam mendidik anaknya. Mungkin Anda bertanya, bukankah dengan bekerja orangtua juga sedang memberikan kehidupan bagi anaknya? Saya berpikir, bekerja adalah bukan tujuan dalam mendidik anak, tetapi hanya salah satu jalan dalam mendidik anak. Anak memang perlu melihat teladan orangtuanya dalam bekerja dengan rajin dan pantang menyerah. Tapi tentunya bukan hanya itu teladan yang ia perlu lihat. Ia juga perlu melihat dan mengalami kepedulian orangtuanya secara langsung dan nyata.
Ada tarik menarik yang sangat kuat bagi sebagian orangtua di jaman ini. Apakah salah satu orangtua saja yang bekerja dan satunya di rumah; atau keduanya bekerja dan berharap dapat berperan sebagai orangtua sepulang kerja atau di akhir minggu. Salah satu orangtua di rumah tidak menjamin anak terdidik dengan seharusnya. Adakalanya orangtua yang bekerja bersikap lepas tangan terhadap pendidikan anak dan menyerahkan tanggung jawab pada pasangannya yang di rumah. Di samping itu orangtua yang keduanya bekerja berharap dengan uang yang dimilikinya bisa mengganti peran atau memenuhi kebutuhan ekstra bagi anaknya. Anak diserahkan pada anggota keluarga yang dipercaya atau pada pembantu yang berusia remaja. Hal ini menimbulkan dilema, karena di lain pihak sebagian orangtua merasa sangat bahagia bisa melihat perkembangan anaknya tahap demi tahap atau menyirami anak dengan nilai-nilai hidup yang akan menjadi bagian hidupnya dimasa datang.
Jadi hal apa yang paling bijaksana yang harus diputuskan sebagai orangtua muda di jaman ini?
Berawal dari seorang Sukiyat yang peduli dengan pendidikan, SMKN 1 Kediri di Jawa Tengah kini menjadi buah bibir di media-media nasional. Keberhasilan siswa merakit mobil yang 80%-nya adalah komponen lokal telah mempengaruhi paradigma para pengambil keputusan di pemerintahan.
Sebuah media bahkan mempertanyakan mengapa Badan Riset Negara yang dibiayai triliunan rupiah selama bertahun-tahun tidak mampu melakukan sedikitpun dari apa yang telah dilakukan para siswa SMK itu. Di lain pihak, para politisi tengah mencari celah untuk menguntungkan dirinya dalam situasi ini, dari memberikan komentar hingga memakai mobil yang diberi nama Kiat Esemka ini. Kementrian pendidikan pun tidak kalah heboh 'merawat' prestasi sekolah ini.