WELCOME! Salam Sejahtera! Senang sekali mendapat kunjungan dari Anda. Berikan komentar Anda di akhir setiap posting (klik link: write your comment here!), komentar Anda sangat berharga bagi saya. Terima Kasih. Please Enjoy...

HOT Search

HOT Translate

A Teacher's Satisfaction

>> Thursday, May 28, 2009

Tidak ada kepuasan yang dapat mengalahkan berkembangnya kemampuan siswa dalam proses pembelajaran.

Tiga tahun lalu saya mewawancarai anak ini ketika mendaftar sebagai siswa di sekolah kami. Setelah dinyatakan diterima, saya baru sadar ternyata anak tersebut memiliki kelemahan dalam berbahasa inggris. Semakin saya melewati waktu bersamanya, semakin saya mengetahui bahwa untuk meresponi pertanyaan sederhana dalam bahasa inggris pun ia mengalami kesulitan. Terhadap hal ini, saya dan rekan-rekan berusaha menaruh perhatian khusus terhadapnya.

Singkat cerita, ia saat ini telah melewati Ujian Nasional. Menurut prediksi kami, ia lolos dengan hasil yang cukup. Hal ini membuat kami lega, karena kami dibuatnya cukup kuatir akan kemampuannya. Keraguan kami menjadi semakin sirna saat kami mengujinya dalam ujian praktek kemarin. Walau masih dengan terbata-bata dan dengan kosa kata yang terbatas, namun ia memiliki kepercayaan diri yang cukup untuk mempresentasikan laporannya dalam bahasa Inggris di depan kami, para guru penguji. Ketenangan, kepercayaan diri dan senyumnya terus melekat padanya sepanjang sesi tanya jawab. Kami dibuatnya kagum, bahkan teman-temannya yang menyaksikan presentasi itu mengupahinya dengan tepuk tangan panjang di akhir presentasi... sungguh membahagiakan.

Dan upah bagi kami sebagai guru adalah melihat dan mendengar kemajuan kemampuannya berbahasa inggris...

Teachers' Mass Divorce

>> Wednesday, May 20, 2009

Rabu, 20/05/2009 13:51 WIB
Bandung - Angka perceraian pegawai negeri sipil (PNS) khususnya guru di Bandung cukup tinggi. Wali Kota Bandung Dada Rosada mengaku hampir setiap hari menerima surat permohonan izin bercerai dari PNS. Mayoritas adalah para guru.

Sebelumnya dalam harian lokal hari ini, Dada menyatakan sejak Januari hingga Mei 2009, hampir setiap hari dia menerima satu hingga dua pengajuan izin bercerai dari PNS. Mayoritas berasal dari Dinas Pendidikan Kota Bandung.

Kutipan artikel di atas saya dapatkan dari detikBandung. Sungguh menyedihkan kondisi keluarga para guru ini. Menyedihkan karena mereka bercerai, menyedihkan juga karena sebagai role model bagi siswa, mereka gagal menjadi teladan.


Apakah perceraian kini menjadi hal yang biasa? Jika ya, maka setiap kita perlu mengevaluasi diri, pergeseran nilai apa yang telah terjadi dalam diri kita. Jika kita bandingkan beberapa dasawarsa silam, perceraian merupakan hal buruk yang sekuat mungkin ditutupi oleh pihak keluarga. Mereka tidak ingin menanggung malu karena berpisahnya kedua insan itu. Jika ini hal ini telah menjadi biasa seperti mengganti baju, maka pemerintah, masyarakat dan lembaga-lembaga terkait perlu memberikan perhatian lebih seirus terhadap hal ini.

Selain untuk membawa anak dan siswa kepada masa depannya yang terbaik, keluarga dan sekolah juga turut bertanggungjawab atas keberhasilan kehidupan berkeluarga mereka. Keluarga yang harmonis dan sehat akan mendukung karir, usaha, panggilan hidup seseorang. Perceraian menimbulkan terlalu banyak dampak negatif.

Suatu penelitian di Amerika menyatakan, bahwa perceraian mengakibatkan dampak pada kesehatan, keuangan, kehidupan sosial dan kejiwaan seseorang. Dr. Kenneth Batema dari Amber University mengeluarkan hasil penelitiannya yang menyatakan buruknya dampak yang dihasilkan oleh perceraian.

Penyebab perceraian beranekaragam, mulai dari perzinahan/perselingkuhan, maslah keluarga hingga gila kerja. Berikut ini adalah hasil penelitian
DivorceMagazine.com pada tahun 2004 dan 2003 (dalam kurung) (link):

* Extramarital affairs - 27% (29%)
* Family strains - 18% (11%)
* Emotional/physical abuse - 17% (10%)
* Mid-life crisis - 13% (not in 2003 survey)
* Addictions, e.g. alcoholism and gambling - 6% (5%)
* Workaholism - 6% (5%)

Apapun penyebabnya, semua berakar dari hilangnya cinta kasih yang sejati. Hawa nafsu telah menggantikan cinta kasih itu. Ed Cole berkata, hawa nafsu adalah keinginan untuk memuaskan diri sendiri walaupun harus mengorbankan orang lain. Sedangkan cinta kashi adalah keinginan untuk memuaskan orang lain (pasangan) walaupun harus mengorbankan diri sendiri. Pertanyaannya sekarang, seberapa banyak para suami atau isteri telah sungguh-sungguh mempraktekkan cinta kasih yang sejati itu. Semua penyebab yang terdeteksi dari penelitian di atas berakar dari tergantikannya cinta kasih dengan hawa nafsu.

Sekolah dan keluarga perlu mendisain kurikulum dan program yang khusus untuk mempersiapkan anak-anaknya menuju lembaga masyarakat terkecil ini. Pengabaian terhadap hal ini akan berdampak besar kepada moralitas dan kualitas hidup masyarakat sekitarnya. Siswa perlu belajar mengenai hubungan antar pribadi, pengelolaan konflik, pemecahan masalah, pengendalian diri, keterampilan berkomunikasi, dll. Apakah anda melihat adanya mata pelajaran seperti itu di sekolah? Apakah Anda mengajarkan anak Anda mengeani hal-hal tersebut di rumah? Ini adalah sebuah pekerjaan besar.

Teach your children to be a great person, not only a good one.

Who Will Take This Task?

>> Tuesday, May 19, 2009

"Gue sudah macarin 17 orang cewek, 7 diantaranya gue lecehkan secara seksual."
"Tujuh? Emang umur elo berap sekarang?"
"17 tahun."

"Gue kecanduan games on-line. Gue pernah sakit gara-gara dua hari penuh gue main di warnet."
"Emang elo sakit apa?"
"Ambeien. Gue juga pernah diseret pulang bokap gue, karena bolos buat maen games."

"Kapan terakhir kali elo masturbasi?"
"Kemarin malem, sebelum gue berangkat ke sini."
"Dari kapan elo ngelakuinnya?"
"Dari SMP"

"Gue suka nonton film porno. Gue juga pengedar film-film begituan. Kemana gue pergi, gue selalu bawa film untuk gue bagi-bagiin."
"Maksud elo? Elo ga jualin film itu?"
"Nggak, gue cuma bagi-bagiin aja"

"Orang tua gue sudah cerai sejak gue kecil. Bokap gue kawin lagi. Suatu hari, waktu gue SD, bokap gue bilang mau balik lagi sama keluarga. Dia emang balik lagi. Tapi ternyata dia cuma ngambil harta nyokap gue, dan dia balik lagi sama istrinya yang kedua. Jadi sampe sekarang gue benci banget sama bokap gue."

"Gue pernah pacaran sama cewek, tapi di tengah jalan cewek itu nyakitin gue dan akhirnya gue putusin. Sejak saat itu gue kalo berhubungan sama cewek gue sering nyakitin mereka. Gue belajar ilmu untuk bikin cewek cepaet lengket sama gue. Gue kasih permen atau kepulin asap rokok ke muka dia, dia pasti langsung nempel."
"Maksudnya elo guna-gunain dia?"
"Iya. Kalo gue sudah puas, gue sakitin dia dan gue tinggalin itu cewek."

_____

Ini semua adalah sedikit dari ratusan pengakuan laki-laki usia muda tentang hidup mereka yang hancur di sebuah acara yang saya ikuti. Hidup mereka hancur, tapi mereka tidak bisa keluar dari sana. Mereka sadar mereka salah, tapi mereka tidak mampu untuk bebas. Saat mendengarkan semua pengakuan itu, hati saya bergetar, dada saya sesak dan pikiran saya merenung: betapa hancurnya generasi muda saat ini.

Sebuah penelitian di majalah Tempo di awal tahun 2000-an menyatakan setidaknya ada dua juta kasus aborsi dalam setahun. Ini pun yang terdata. Data lainnya menyatakan, lebih dari 75% generasi muda di kota-kota besar di indonesia telah kehilangan keperjakaan dan keperawanannya sejak usia SMA mereka.

Masa depan bangsa ini sedang diancam oleh kehancuran hidup generasi mudanya. Televisi, Narkoba, rokok, pornografi, permainan internet on-line, dll telah mencuri waktu mereka dari hal-hal yang lebih bernilai untuk hidup mereka. Ada suatu 'kekuatan laten' yang menginginkan generasi muda sekarang ini jatuh ke berbagai hal yang hanya berpusat pada menyenangkan diri sendiri. Semua hal di atas itu dilakukan hanya untuk melampiaskan kemarahan yang tersembunyi dengan rapi.

Mereka marah dengan lingkungannya, keluarganya, orang tuanya. Mereka marah karena mereka tidak melihat sebuah contoh yang berintegritas, sebuah model yang dapat dipanut. Mereka marah karena mereka di-dua-kan. Harapan yang mereka gantungkan pada orang terdekat mereka dicabut sehingga meninggalkan luka kekecewaan yang tidak mampu mereka atasi dan berujung pada kemarahan dan kepahitan. Kemarahan dan kepahitan adalah kekuatan atau modal yang cukup bagi mereka untuk lari dari orang-orang yang mengecewakan mereka. Mereka berlari kepada tawaran-tawaran di dunia ini yang senantiasa memanjakan dan meninabobokan ego mereka. Mereka butuh kepuasan setelah sekian lama ego itu tidak pernah terpuaskan.

Apa jadinya masa depan dengan orang-orang yang hanya berpusat pada ego masing-masing? Apa jadinya bangsa ini dengan orang-orang yang menyimpan kemarahan tersembunyi?

Apa yang dapat negara, masyarakat, sekolah dan keluarga lakukan bagi mereka.? Mereka yang seharusnya menjadi kebanggaan di masa tua kita, telah terperangkap dalam jebakan 'kekuatan laten'. Pemerintah telah mengusahakan pendidikan budi pekerti; tidak sedikit masyarakat yang mengembangkan program-program pendidikan karakter; sebagian sekolah-sekolah pun menjual 'nilai-nilai unggul'; dan sebagian keluarga telah berusaha dengan keras mendidik anak-anaknya di jalan yang lurus, namun kenyataannya terlalu banyak yang terjebak daripada yang bisa ditangani.

Ini adalah tugas pendidikan sesungguhnya: memastikan generasi muda hidup benar dan memaksimalkan potensi mereka.

Dan ini yang jadi perenungan saya: Siapa yang sanggup mengemban tugas berat ini? dan Bagaimana?

A Priority: Mother Language

>> Thursday, May 14, 2009

JAKARTA, KOMPAS.com - Institusi pendidikan yang menggunakan konsep dwibahasa (bilingual) harus didukung penuh oleh sekolah, guru, serta kurikulum dan metode pengajaran yang tepat. Jika tidak, selain berakibat pada sisi akademis dan keterampilan siswa, longgarnya ikatan terhadap penggunaan bahasa nasional bisa berpengaruh buruk pada nasionalisme mereka.

Hal tersebut dikatakan oleh Antarina S.F. Amir, Ketua High/Scope Indonesia, kemarin (13/5) dalam jumpa pers dan seminar "Dual Language Essentials for Teachers and Administrastors" di Jakarta. Acara sosialisasi konsep dual language tersebut menghadirkan pembicara Dr. David Freeman dan Dr. Yvone Freeman, "pasutri linguistik" dari Universitas Arizona, Amerika Serikat.

Untuk itulah, tambah Antarina, keinginan orang tua membekali anak-anaknya dengan Bahasa Inggris sebaiknya harus dengan berbagai pertimbangan matang. Khususnya, ketika mereka membidik sekolah-sekolah favorit yang menawarkan konsep tersebut. Alasannya, konsep dwibahasa tidak sekedar mengubah bahasa pengantar dari Bahasa Indonesia ke Bahasa Inggris.

Antarina mengatakan, aplikasi konsep tersebut harus didukung penuh oleh sekolah, guru, serta kurikulum dan metode pengajaran yang tepat. "Kalau tidak akibatnya bisa berpengaruh besar pada sisi akademis dan keterampilan siswa. Selain itu, kian minimnya penggunaan bahasa nasional atau Indonesia juga akan berpengaruh buruk pada nasionalisme siswa terhadap bahasa ibunya sendiri," tandas Antarina.


Saya sendiri setuju dengan pernyataan sang nara sumber pada berita di atas. Tanpa penguasaan yang kuat terhadap bahasa ibu, anak akan mengalami kesulitan dalam masa dewasanya nanti.

Contohnya saya sendiri, saya teringat dengan kejadian beebrapa tahun lalu. Saya dan beberapa orang teman yang berada dalam forum 'think tank', bermaksud mendirikan sebuah organisasi nirlaba untuk kemajuan lingkungan kami. Dalam masa-masa perumusan visi dan misi, kami banyak sekali mengalami benturan dengan penggunaan bahasa. Apa yang ada di benak kami dan apa yang menjadi cita-cita kami, kami coba tuangkan dalam rumusan visi, misi dan strategi. Ternyata pekerjaan ini tidak mudah. Membutuhkan waktu berminggu-minggu sampai akhirnya rumusan visi dan misi ini tertulis dengan baik.

Dalam kesempatan lain saya dipercaya oleh atasan untuk memimpin sebuah kegiatan. Dalam kegiatan ini kami ingin melibatkan pihak ketiga sebagai sponsor acara ini. Saya pun akhirnya tidak bisa menunjuk orang lain untuk membuat isi proposal kegiatan. Saya harus mengerjakannya sendiri. Saya mendapati, ternyata ntuk memnyusun kata-kata dan kalimat-kalimat yang efektif dan formal tidaklah mudah. Proposal bisa diselesaikan dalam waktu beberapa hari.

Walaupun saya adalah seorang yang mampu berbahasa inggris, bahkan sebagai guru bahasa inggris, namun penguasaan bahasa ibu tidak bisa dikesampingkan. Saya masih harus banyak belajar. Dengan menulis di blog ini saya harap pembelajaran saya dapat terus berlangsung.

My Limp Eye Glasses

>> Tuesday, May 12, 2009

Memasuki hari-hari terakhir mengajar kepala saya semakin pusing. Beberapa ujian siswa masih teronggok di depan meja saya, menanti untuk diperiksa. Beberapa pekerjaan administrasi lainnya masih menunggu: memasukkan nilai ke daftar nilai siswa, membuat ujian akhir semester, menyiapkan rencana pengajaran untuk beberapa minggu ke depan, membuat materi pembelajaran, dll.

Hal bertambah ruwet dengan patahnya tangkai kacamata saya. Secara pribadi saya tidak memiliki masalah, ini hanya masalah kenyamanan saja. Tetapi saya harus berdiri dan lalu lalang di hadapan ratusan siswa dan rekan sekerja yang terkadang melihat saya dengan wajah heran, ini yang membuat saya terganggu. Belum lagi saat di rumah, kedekatan kami antar tetangga membuat 'kecacatan' penampilan saya menjadi semakin populer. Sabtu lalu, saya dan isteri menyempatkan diri untuk pergi ke toko optik dan membuat kacamata baru. Syukur kepada Tuhan, saya mendapatkan yang terbaik dengan harga yang relatif murah. Dengan membayar DP terlebih dahulu kami dijanjikan untuk mengambil kacamata dalam waktu seminggu.

Tanpa kacamata saya tidak dapat bekerja dengan efektif, namun dengan kacamata yang 'tidak lengkap' ini juga saya tidak dapat konsentrasi. Mengapa penampilan menjadi masalah? Menurut Harry K. Wong dalam bukunya The First Day Of School, penampilan adlah hal yang penting bagi seorang guru. Ia bahkan menuliskan satu bab khusus tentang bagaimana seorang guru harus berpakaian.

Ia menyatakan bahwa Anda tidak akan mendapatkan kesempatan kedua untuk membuat kesan pertama! Sebagaimana Anda berpakaian, demikian Anda akan dipandang dan sebagaimana Anda dipandang, demikianlah Anda akan diperlakukan. Roxette dalam lagunya di era 90-an mengatakan dengan tepat: Dressed for Success!

Dengan kata lain, siswa Anda akan memperlakukan Anda dengan baik, bilamana Anda juga bersikap dengan baik pada mereka. Dan hal ini dimulai dengan mengenakan pakaian yang tepat. Saya tentunya tidak perlu membicarakan dengan detil tentang pakaian apa yang cocok untuk mengajar. Prinsipnya adalah perlakukan diri Anda sendiri dengan memakai kacamata siswa. Guru seperti apa mereka bisa banggakan dalam hal berpakaian. Bandingkan dengan ini: Tidak ada pengemis jalanan berpakaian necis dan rapi. Tidak ada seorang perenang memakai pakaian yang menghalangi gerak tubuhnya. berpakaianlah sesuai dengan fungsi Anda sebagai guru. Berpakaianlah dengan pemikiran: Saya akan berhasil dalam mengajar anak-anak hari ini, seperti seorang salesman yang akan bertemu dengan klien terbesarnya.

Penampilan saya masih harus seperti ini setidaknya sampai seminggu ke depan. Terima Kasih Tuhan atas 'ujian' ini, saya belajar untuk menahan rasa malu...