WELCOME! Salam Sejahtera! Senang sekali mendapat kunjungan dari Anda. Berikan komentar Anda di akhir setiap posting (klik link: write your comment here!), komentar Anda sangat berharga bagi saya. Terima Kasih. Please Enjoy...

HOT Search

HOT Translate

Hectic Month...

>> Friday, March 26, 2010

Saking sibuknya beberapa minggu belakangan, saya sampai meninggalkan penulisan di blog ini.Dua acara penting sangat menyita waktu, tenaga, pikiran dan emosi saya. Khususnya yang kedua, membuat kepala saya mau pecah rasanya...

Bermula dari pelaksanaan Book Week di awal bulan ini telah menyibukkan saya dan seluruh sekolah dalam merayakan kegiatan membaca. Seluruh siswa dari Playgroup hingga SMA mengambil bagian dalam kegiatan ini. dari dua kali penyelenggaraan sebelumnya, panitia telah mengemas acara Pekan Buku tahu ini dengan sedikit berbeda, namun tetap menyenangkan bagi siswa. Dan bagi kami, walaupun pekerjaan sangat berat, kami menjalaninya masih dengan penuh tawa yang larut dalam kegembiraan berlangsungnya Book Week ini.

Mengambil tema dari buku karangan Mark Twain: The Prince and The Pauper, sekolah kami mengadakan beberapa program seperti Read Aloud, SSR Session, Watching the Movie Version, Book Fair, Reading Buddy dan yang tak kalah seru adalah acara puncak: Work Like A Pauper, Eat Like A Prince. Dalam kegiatan puncak, siswa mengadakan kegiatan 'bersih-bersih' di dalam dan di sekitar sekolah dengan pakaian gembel dan pada sesi kedua di hari itu, mereka menyiapkan perjamuan makan dengan berpakaian prince atau princess serta makan dengan menggunakan table manner.

Book Week, bukan hanya satu-satunya sumber kesibukan yang membuat saya hampir tidak menulis di bulan ini. Hal lainnya juga adalah program sertifikasi guru. Yang satu ini benar-benar menguras pikiran dan emosi. berulang kali saya dan teman-teman merasa gugup, parno, naik darah, bingung, marah-marah bahkan kesal dibuatnya. sayangnya saya tidak dapat merincinya di sini sekarang. Pastinya, mempersiapkan dokumen yang dibutuhkan untuk program ini sangatlah merepotkan. Tugas utama hampir-hampir terbengkalai, sangat jauh berbeda emosi yang saya alami kali ini dibanding dengan penyelenggaraan Book Week. Perlu ada perbaikan dalam mempersiapkan dan merampungkan dokumen sertifikasi guru ini, baik dari pemerintah, maupun dari sisi saya secara pribadi.

Memang benar sepertinya kata sebuah buku yang saya baca, pekerjaan adalah tempat seseorang menunjukkan dan membentuk karakter sebenarnya. Di dunia kerjalah, karakter seseorang diuji. Nampaknya, saya maih perlu banyak belajar dalam hal ini.

Well, sepertinya sampai di sini dulu... semangat!

THE FIRST EDUCATOR_PART THREE

>> Sunday, February 28, 2010

Ini adalah bagian terakhir tulisan saya tentang Pendidik Utama...

__________

Orangtua yang Berfungsi
Kegagalan pendidikan anak bukan hanya diakibatkan karena ketiadaan atau ketidakhadiran orangtua, tetapi juga karena adanya orangtua ‘mandul’ di dalam keluarga. Orangtua memang hadir secara fisik dan berada di dekat anak, tetapi mereka tidak berfungsi menjalankan tugas pendidikan pada anak-anaknya.

Orangtua memang berada di dekat anak saat di rumah, tetapi baik anak maupun orangtua melakukan aktifitasnya masing-masing. Sang anak bermain games, sang ayah sibuk dengan laptop-nya dan sang ibu tidak bisa lepas dari Blackberry-nya. Orangtua memang duduk satu meja di restoran, tetapi hampir tidak ada pembicaraan berkualitas di meja makan. Masing-masing sibuk dengan makanannya, handphone-nya atau majalahnya. Orangtua memang hadir secara fisik, tetapi tidak berfungsi.

Memang, tidak sedikit anak-anak yang lahir tanpa orangtua atau anak-anak yang ditinggalkan orangtuanya, berhasil dalam hidupnya dan unggul dalam kepribadiannya. Hal ini dimungkinkan karena berbagai faktor, salah satunya adalah adanya karunia khusus Tuhan atas hidup anak itu. Namun, secara umum sebagian besar anak-anak lahir dari orangtua yang lengkap dan mereka dibesarkan dengan ayah dan ibu yang sama sejak mereka lahir.

Orangtua tidak berfungsi dalam tugas-tugas pendidikan, karena mereka cenderung belajar dari kesalahan masa lalu, Thomas Gordon, seorang psikolog Amerika, dengan tepat menggambarkannya:

Para orangtua masa kini hampir selalu percaya pada metode yang sama dalam membesarkan anak-anak dan menyelesaikan masalah-masalah dalam keluarga, metode yang telah digunakan oleh orangtua mereka, oleh kakek dan nenek mereka, oleh orangtua dari kakek nenek mereka. (Gordon:1975)

Orangtua perlu meningkatkan kemampuannya dan pemahamannya mengenai pendidikan anak secara konsisten. Menjadi orangtua memang secara alamiah terjadi ketika seseorang memiliki anak, tetapi menjadi orangtua yang berfungsi membutuhkan usaha.

Orangtua yang berfungsi adalah orangtua yang setidaknya melakukan dua hal. Pertama, ia adalah yang mengerti betul mengelola pernikahannya, yaitu hubungannya dengan pasangannya. Kedua, ia adalah orangtua yang terus menerus belajar dan mempraktekkan apa yang ia telah pelajari mengenai pendidikan anak.

Orangtua Pemelihara Pernikahan
Orangtua adalah otoritas di dalam keluarga dan anak adalah wujud kasih suami isteri dan objek kasih orangtua. David Code menyatakan pesan yang jelas isi bukunya melalui judulnya: To Raise Happy Kids, Put Your Marriage First (Untuk Membesarkan Anak yang Bahagia, Utamakanlah Pernikahan Anda). Anak tidak boleh menjadi pusat dalam keluarga.

Keberadaan suami dan isteri mendahului keberadaan anak. Hubungan suami isteri adalah sumber kehidupan anak. Tanpa hubungan yang kuat antara suami isteri, bagaimanapun kerasnya orangtua mendidik anak, anak-anak tidak akan bertumbuh secara maksimal dan sehat.

Suami isteri yang tidak harmonis akan dengan mudah dilihat oleh anak. Walau mereka tidak dapat mengatakannya, namun mereka mampu menerjemahkannya sebagai: ayah dan ibuku tidak sayang padaku lagi. Ya, anak-anak akan tergoncang jiwanya melihat orang tuanya yang tidak sejalan. Saat suami memarahi isteri, atau saat isteri mengacuhkan perkataan suami, anak-anak akan menjadi bingung dan mereka akan berusaha keras memahami dan memaklumi kejadian itu. Tetapi pada dasarnya mereka mulai mengurangi kepercayaan, hormat dan cinta mereka pada orang tua.

Berdamai dengan dengan pasangan sebelum meminta anak melakukan sesuatu adalah hal yang bijak yang orangtua dapat lakukan. Melakukanlah terlebih dahulu pada pasangan hal-hal yang ingin anak lakukan juga merupakan hal yang baik untuk dipraktekkan. Orangtua adalah mata air bagi anak. Anak adalah seperti sungai. Jika mata airnya kotor, kotor pula sungai yang mengaliri airnya, tapi bila mata airnya bersih, jernih pula air yang melalui sungai itu.

Bayangkan sebuah payung dengan tudung bocor atau tangkai yang patah, percumalah siapapun yang berteduh di bawah payung itu. Anak-anak akan diserang oleh hujan dan terik panas tantangan dunia ini bila suami isteri tidak sepakat, sehati dan intim. Oleh karena itu, dengan mengevaluasi secara terus menerus dan memastikan hubungan antara suami isteri telah kokoh, Orangtua dapat mulai mendidik anak dengan penuh integritas dan percaya diri.

Orangtua Pembelajar
Orangtua yang berhenti belajar adalah orangtua yang ‘mandul’, tidak efektif. Orangtua kerap disalahkan atas keabnormalan perilaku anak, tetapi orangtua tidak pernah belajar dari kesalahan, seperti yang ditandaskan Thomas Gordon:
Orangtua disalahkan, tetapi tidak dilatih...(Gordon:1975)

Ya, orangtua perlu dilatih. Orangtua bukanlah pribadi yang maha tahu, maha mampu atau maha segalanya, sehingga ia tidak pernah belajar menjadi orangtua yang berfungsi. Berapa jumlah waktu yang orangtua sediakan untuk belajar ‘menjadi orangtua’ tiap harinya? Hampir tidak ada. Hal ini sangat memprihatinkan.

Pembelajaran dapat dimulai dari diskusi bersama pasangan. Diskusi mengenai pandangan masing-masing dalam mendidik anak sangatlah bernilai. Diskusi ini akan bermuara pada kesatuan dan kesepakatan pandangan dalam mendidik anak. Pandangan akan bertambah kaya dengan berkonsultasi dengan rohaniwan, pakar pendidikan anak atau lainnya.

Setelah kesepakatan dicapai, orangtua perlu membuat cetak biru pendidikan anaknya. Hal ini amat jarang dilakukan orangtua pada umumnya. Cobalah bertanya pada pasangan, teman dekat, tetangga atau saudara yang telah menikah, berapa banyak di antara mereka yang memiliki tujuan, visi dan misi, rencana atas pendidikan anak-anak mereka. Sebagian besar dari mereka membutuhkan waktu lama untuk menjawabnya dan tidak sedikit yang menjawab “Hmm, apa ya?”

Seorang ayah atau suami yang menjabat sebagai manajer di perusahaan tentunya tahu benar bahwa tanpa perencanaan yang matang, analisa potensi yang jeli dan pemahaman yang tajam akan konsumen, perusahaan dapat bangkrut dalam waktu singkat. Untuk pekerjaan atau profesi di perusahaan yang bukan milik sendiri, seorang ayah dapat membuat rencana atas perusahaan itu; tidakkah untuk keluarganya sendiri ia perlu melakukan hal yang sama?

Seberapa banyak waktu dalam setahun yang digunakan orangtua untuk duduk bersama pasangannya berdiskusi dan bahkan berdoa mengenai rencana pendidikan anak mereka di tahun itu. Seberapa banyak waktu dalam sebulan yang digunakan orangtua untuk mengadakan evaluasi atau refleksi dari perkembangan anak-anak mereka. Seberapa banyak waktu dalam seminggu yang orangtua sediakan untuk belajar menjadi orangtua yang lebih baik, yang lebih berfungsi. Seberapa banyak waktu dalam sehari yang orangtua sediakan untuk berada bersama-sama anaknya.

Saya mengusulkan, setidaknya orangtua perlu menyediakan waktu untuk mempelajari ketiga area berikut:
1. Pondasi Menjadi Orang Tua (Parenting Foundation), yang meliputi tujuan pernikahan, tujuan pendidikan anak, ilmu komunikasi dan nilai-nilai berkeluarga
2. Pengelolaan Sumber Daya Keluarga (Resources Management), yang meliputi pengelolaan waktu, pengelolaan keuangan, dan pengelolaan keahlian dan potensi
3. Strategi Perawatan dan Pengembangan Diri Anak (Child Nurturing and Development Strategies), bagian yang satu ini sangatlah luas, namun bagian ini dapat difokuskan kepada dua hal yaitu tentang perawatan tumbuh kembang anak dan pengembangan pola pikir, mental dan karakter anak.

Dengan menguasai ketiga area di atas bukan berarti orangtua telah menjadi orangtua yang sempurna, karena memang tidak ada orangtua yang sempurna. Berikut pernyataan Steve Chalke, seorang praktisi pelatih orangtua:

Namun, sebenarnya keluarga bahagia yang sempurna benar-benar tidak ada… bahkan tidak ada jaminan bahwa keberhasilan pada satu anak di suatu waktu akan berhasil di waktu lain pada anak yang sama atau anak lainnya. Menjadi orangtua lebih seperti berimprovisasi dalam musik, tidak seperti matematika. Ada prinsip-prinsip umum yang sangat penting, tetapi sebagian besar adalah masalah bakat dan gaya individu…
Menjadi orangtua sempurna tidak hanya di luar kemampuan Anda, tetapi di luar kemampuan semua orang. Secara sederhana, untuk menjadi orangtua yang sempurna, Anda haruslah orang sempurna dan tidak seorang pun yang seperti itu di dunia ini. (Chalke:2009)


Dengan memahami bahwa tidak ada orangtua yang sempurna, orangtua di manapun dapat dengan penuh percaya diri terus menerus belajar hanya untuk menjadi orangtua yang lebih baik dari hari sebelumnya. Inilah makna sesungguhnya dari pendidikan dalam keluarga: orangtua yang belajar dan anak yang terdidik dalam keluarga.
Semakin dini orangtua menerima anak apa adanya dan menjadi teladan bagi mereka, semakin banyaklah kesempatan orangtua untuk menemukan, membentuk dan mengembangkan jati diri atau karakter anak. Saat anak harus terjun ke dunia luar, baik itu di sekolah atau di lingkungan sekitar dan saat anak bertumbuh dewasa, ia menjadi anak panah yang siap melesat menuju sasaran yang Tuhan telah tetapkan, karena mereka telah dididik dengan benar oleh pahlawan mereka, orangtua.

Referensi:
• Chalke, Steve. How To Succeed as a Parent: Panduan Praktis Mengasuh Anak dengan Sukses. Yogyakarta: Penerbit ANDI, 2009.
• Drost, SJ. Proses Pembelajaran sebagai Proses Pendidikan. Jakarta: Penerbit Grasindo, 1999.
• Drost, SJ. Reformasi Pengajaran: Salah Asuhan Orangtua? Jakarta: Penerbit Grasindo, 2000.
• Gordon, Thomas. P.E.T. Parent Effectiveness Training. New York: A Plume Book, 1975.
• Harefa, Andrias. Menjadi Manusia Pembelajar. Jakarta: Penerbit Buku Kompas, 2000.
• Harefa, Andrias. Pembelajaran di Era Serba Otonomi. Jakarta: Penerbit Buku Kompas, 2001.
• Knight, George H. Philosophy Education. Michigan: Andrews University Press, 1998.
• Wolterstoff, Nicholas P. Educating For Life. Michigan: Baker Publishing Group, 2002.
• www.tamansiswa.org
• www.detik.com
• www.ycab.org
• www.google.co.id/trends
• catatan-guru.blogspot.com

Children Literature: A Dream...

>> Monday, February 22, 2010

Sabtu kemarin, saya terpaku di depan layar notebook, tidak tahu lagi apa yang harus saya ketik untuk melanjutkan penyelesaian makalah saya bertemakan ‘Membaca pada anak-anak’. Saya membutuhkan referensi lebih banyak mengenai topik yang saya coba tulis.

Tepat di sebelah kiri saya berdiri satu-satunya rak buku di rumah saya. Saya menoleh dan mencoba memperhatikan satu demi satu buku yang tersusun di rak itu. Pandangan saya tertuju pada buku ‘Membuka Masa Depan Anak-anak Kita’, sebuah kumpulan essay mengenai pendidikan terbitan Kanisius. Saya telah lama memiliki buku itu. Kira-kira sepuluh tahun lalu saya membelinya dan membacanya hingga habis dalam waktu yang cukup singkat. Isinya sangat berbobot, karena para penulis adalah pakar pada bidangnya masing-masing. Saya tidak pernah membacanya lagi sejak saat itu.

Saya mulai melihat-lihat lagi daftar isi buku itu. Mata saya langsung tertuju pada judul esai Murti Bunanta berjudul ‘Perjuangan untuk Bacaan Anak yang Layak’. Beliau adalah seorang doktor yang berkonsentrasi pada isu sastra anak. Saya mulai membuka halaman yang terkait. Entah mengapa tulisan ibu Murti yang sepuluh tahun lalu saya baca, saat itu seperti membelah isi kepala saya dan membanjiri dengan jawaban segala pertanyaan yang ada di benak saya selama ini. Bahkan tidak berhenti sampai di sana, hati saya merasa antara terkoyak, tersulut dan ingin meledak saat membaca tiap baris tulisannya.

Apa yang ibu Murti tuliskan sepuluh tahun lalu, itulah yang saya rasakan saat ini. Saya sangat bisa memahami kerisauan sang penulis mengenai kondisi bahan bacaan atau ia menyebutnya sastra anak di Indonesia. Bukan hanya sastra anak secara sempit berupa buku bacaan anak, tetapi secara menyeluruh, mulai dari penulis naskah anak, proses produksi  hingga kritikus sastra anak.

Perhatikan beberapa petikan dari tulisannya ini yang menunjukkan kerisauannya:
-    Gerakan meningkatkan dan memelihara kebiasaan dan minat membaca masyarakat belum dikonsep dengan baik oleh pemerintah yang terdahulu maupun pemerintah yang sekarang yang sedang mengatur negara ini. Kalau tumbuh minat membaca pada bangsa Indonesia, itu karena dia tumbuh sendiri melalui pengalaman dan kesadaran pribadi.
-    Saya tidak sepaham dengan pendapat yang menyatakn bahwa seorang pengarang cerita anak harus mempertimbangkan tingkat intelektualitas dan daya imajinasi anak-anak sebagai pembacanya.
-    …tema-tema (sastra anak) yang ditulis masih diutamakan untuk kepentingan ‘mendidik’ saja (dalam arti sempit), kepentingan financial, dan kepentingan ideologis.
-    …perpustakaan sekolah, apalagi perpustakaan umum, bukanlah akses bagi anak untuk mendapatkan dan membaca cerita. Paling banyak adalah yang membeli buku sendiri, termasuk pula bagi mereka yang jarang-jarang dibelikan buku.
-    Penelitian saya menunujukkan bahwa waktu luang atau libur kebanyakan digunakan untuk pergi ke mal dari pada ke toko buku atau ke perpustakaan. Orang tua belum menjadi idola sebagai pembaca buku sastra. Ibu membaca buku masak dan majalah, sedangkan ayah membaca koran.
-    Jadi, tidaklah heran kalau sejak 2 April 1966 sampai dengan 13 Februari 2000, saya dapat mengumpulkan 40 artikel tentang komik, tetapi tidak satu pun artikel mengenai ilustrasi (untuk sastra anak).


Mengapa saya tertarik untuk menulis makalah tentang membaca pada anak-anak, karena saya bekerja dalam lingkungan yang justru kaya akan karya sastra anak, tetapi semuanya adalah produk impor. Setelah kurang lebih 5 tahun saya bergulat dengan sastra anak, saya menyadari bahwa masyarakat Indonesia telah tertinggal jauh dalam hal minat dan kebiasaan membaca. Saya memiliki impian yang boleh dikatakan kebetulan hampir sama dengan apa yang tertulis dalam esai ibu Murti:
“Saya berandai-andai. Setiap hari, di semua saluran televise dan radio di Indonesia ada cerita-cerita yang dibacakan dan dibahas. Cerita yang dipentaskan oleh teater anak dan sinetron diambil dari buku sastra anak. Penghargaan untuk penulisan dan penelitian sastra anak diselenggarakan oleh banyak lembaga yang bergengsi untk menghargai pengarang. Media masa banyak yang membuat resensi buku yang kritis. Universitas pendidikan menyelenggarakan kuliah sastra anak untuk calon guru yang diberikan oleh pengajar yang berkualitas. Ada jurnal ilmiah dan seminar akademis yang cukup. Ada lomba untuk meningkatkan gairah membaca anak didik. Ada pelatihan untuk para pengarang. Ada cukup dana untuk membeli buku-buku lokal yang bermutu dan menerjemahkan buku asing berkualitas yang dipilih oleh tim ahli di bidang sastra anak untuk mengimbangi buku-buku yang ada di pasaran yang kurang layak dikonsumsi.”

Saya sampai berdoa, dari mana saya bisa memulai? Sekali lagi, sang penulis memberikan jawaban: dari mana saja. Yang penting, memulainya.

THE FIRST EDUCATOR_PART TWO

>> Sunday, February 21, 2010

Ini adalah bagian kedua tulisan saya dengan judul Pendidik Utama.

__________

Batu Penjuru Pendidikan dalam Keluarga
Pendidikan yang dijalankan oleh orangtua haruslah bersumber dari pengertian yang benar. Pendidikan yang educere atau membawa keluar adalah pendidikan yang menerima anak apa adanya dan yang memberi teladan. Pengingkaran akan dua hal ini akan berdampak buruk pada diri anak saat dewasa.

Pater Drost menyatakan bahwa kebanyakan orangtua tidak menerima anak apa adanya. Anak telah dipaksakan untuk seperti yang orangtua mau. Harus begini dan begitu, dileskan ini dan itu. Orangtua terlambat menyadari bahwa anak harus diterima apa adanya.

Masalah-masalah dalam pendidikan anak dimulai dengan kenyataan bahwa orang tua pada umumnya tidak menerima kenyataan dari anaknya sendiri… jadi orang tua itu tidak menerima anak mereka sebagaimana adanya. Anak dipaksa menjadi manusia rekaan orang tua. (Drost:1999)

Tuhan telah menjadikan pribadi anak yang demikian adanya, karena itu anak harus diterima apa adanya oleh orangtua. Anak adalah pemberian Tuhan. Setelah anak diterima apa adanya, barulah dimulai proses pendidikan. Orangtua harus memfasilitasi dan mendidik anak bukan seperti yang ia mau, tetapi seperti yang Tuhan mau. Tentang bagaimana mengetahui apa yang Tuhan mau bagi anak, perlu disampaikan dalam tulisan tersendiri atau dengan merujuk pada buku-buku yang sesuai.

Hal yang kedua adalah menjadi teladan. Orangtua yang menabur teladan yang baik pada anak-anaknya akan menuai anak-anak yang berbahagia. Orangtua yang membuang sampah pada tempatnya, tanpa harus berbicara, memberi pesan kepada anaknya: “Nak, beginilah kamu harus menjaga kebersihan.” Orang tua yang mengaku merusak barang pecah belah di toko swalayan memberi pesan kepada anaknya: “Nak, kejujuran itu penting.” Orangtua yang meminta maaf pada orang yang dirugikan olehnya, memberi pesan kepada anaknya: “Hormatilah hak orang lain dan peliharalah hubungan baik.” Tanpa perlu kata-kata, anak merekam semua itu dalam memorinya dan ia akan meniru apa yang telah mengesankan hatinya dari teladan yang dilihatnya setiap hari.

Kebalikannya, bila anak melihat orangtua yang senantiasa saling bertengkar satu sama lain, maka anak mendapat pesan: “Perasaanmu tidak sepenting rasa berharga kami.” Bila orangtua menggosipi tetangganya dan bermuka manis di depan mereka, mengirimkan pesan pada anak: “Nak, menjadi munafik adalah hal yang biasa.” Orangtua yang terlalu sibuk mencari uang dan tidak memiliki waktu berkualitas bersama anak, mengirim pesan pada anaknya: “Uang lebih penting dari kamu, kehadiran saya dapat diganti oleh uang.” Rekaman video kehidupan ini tersimpan baik dalam pikiran anak-anak, di mana suatu saat nanti ia akan melakukan hal yang sama, bahkan lebih buruk dari yang ia alami.

Menjadi teladan adalah yang tersulit. Bila anak berbuat kesalahan atau kegagalan, marilah dengan besar hati, orang tua mengaku: “Ini terjadi karena saya tidak menjadi teladan yang terbaik.” Bila anak cenderung nakal, bersikap tidak sopan, berkarakter buruk, malas, atau lainnya: “Ini terjadi karena saya tidak tekun memberi contoh dengan tekun.” Orangtua adalah teladan pertama dan yang paling berpengaruh. Oleh karena itu, orang tua perlu berusaha keras menjadi teladan terbaik bagi anaknya, bahkan hingga orangtua dapat menjadi cerminan pribadi Tuhan bagi anak-anaknya.

Jika orangtua gagal menerima anak apa adanya dan gagal menjadi teladan yang terbaik bagi anaknya, orangtua sedang menambahkan jumlah kerusakan generasi penerus bangsa. Telah banyak korban berjatuhan akibat orangtua yang secara sengaja ataupun tidak menjadi perusak diri dan masa depan anak. Perhatikan data berikut ini:

1. Kidia mencatat bahwa pada tahun 2004, hanya terdapat 15% acara yang aman untuk anak-anak. Padahal anak-anak menghabiskan waktu 30-35 jam minggu atau 4-5 jam per hari untuk menonton TV.
2. Lyto, sebuah penerbit game online di Indonesia menyatakan bahwa penggunanya telah melebihi angka enam juta orang pada tahun 2009. Dari keterangan siswa-siswa saya, seorang anak dapat menghabiskan waktu rata-rata 3 jam untuk bermain dengan mengeluarkan uang Rp 4000 per jamnya.
3. Yayasan Cinta Anak Bangsa (YCAB), sebuah LSM yang bergerak dalam bidang pencegahan penggunaan narkoba, melakukan penelitian pada tahun 2007 di enam kota di Indonesia. Usia rata-rata pengguna narkoba ternyata adalah 14 tahun! Dan alasan terbesar mengapa mereka mengunakannya hanya karena untuk coba-coba (72%), sisanya karena frustrasi dalam masalah keluarga dan hubungan.
4. Google, sebuah mesin pencari tersohor di dunia maya menyatakan data yang mencengangkan pada tahun 2009. Indonesia adalah Negara peringkat keempat terbesar di dunia pencari konten seksual atau pornografi. Bahasa Indonesia juga merupakan bahasa terbanyak yang digunakan dalam pencarian situs-situs porno.
5. Komnas Perlindungan Anak menyatakan hasil yang mengejutkan dalam penelitiannya tentang seks bebas di 33 provinsi pada tahun 2008. Sebanyak 63% remaja wanita SMP sudah tidak perawan, bahkan sebanyak 21% telah mengaku melakukan aborsi. Bahkan WHO menyatakan telah terjadi setidaknya dua juta kasus aborsi per tahun di Indonesia!
Serangan-serangan televisi, permainan elektronik, narkoba, pornografi dan seks bebas akan mudah mempengaruhi dan merasuki anak-anak, bila orangtua tidak menyadari dan mengambil komitmen untuk menerima anak mereka apa adanya dan menjadi teladan bagi mereka. Generasi muda yang hancur selalu dengan mudah diketahui akar persoalannya, yaitu orangtua tidak menerima anak apa adanya dan tidak menjadi teladan terbaik bagi anaknya.

Di dalam proses pendidikan, orangtua dapat berperan sebagai pelatih dan pengajar anaknya. Di sinilah pengajaran dan pelatihan mendapat bentuk sebagai bagian integral dari pendidikan. Di irisan ini pulalah, orangtua berinteraksi dengan guru. Mengingat keterbatasan orangtua dalam mengajar dan melatih anaknya, guru dapat menjadi mitra orangtua dalam ‘mendidik’ anak, yaitu dalam memfasilitasi aplikasi dan refleksi proses pendidikan orangtuanya dan dalam mengajar dan melatih anak-anak dalam pengetahuan dan keterampilan.

Setelah membuat komitmen untuk menerima anak apa adanya dan menjadi teladan bagi mereka, inilah saatnya orangtua untuk mulai berfungsi dalam mendidik anak. Saya memperhatikan beberapa orangtua saat di pusat perbelanjaan. Mereka menemani anaknya bermain di arena bermain, makan bersama di restoran capat saji atau sekedar berkeliling sambil menuntun anak mereka. Apakah hal ini telah menunjukkan perhatian orangtua pada pendidikan anak? Saya pikir mungkin juga demikian, tetapi pendidikan anak yang sebenarnya tidak hanya melulu berada di dekat anak.

Berada di dekat anak adalah hal yang baik dan penting. Namun, apa yang orangtua katakan, lakukan dan teladankan saat bersama anak, itu jauh lebih penting.

Awaken The Nasionalism

>> Wednesday, February 17, 2010

Pagi tadi saya mendapatkan kehormatan sebagai inspektur upacara pada upacara bendera bulanan di sekolah. Untuk pertama kalinya dalam sejarah hidup saya, saya menjadi seorang inspektur upacara.Sungguh suatu pengalaman menarik.

Dulu, saat upacara berlangsung saya berdiri di barisan peserta upacara. Dengan hikmat saya mengikuti jalannya upacara. selain karena takut dihukum guru bila tidak tertib, saya mengikuti upacara juga karena suatu kesadaran yang penuh bahwa saya adalah seorang warga negara Indonesia yang memiliki nasionalisme. Saya juga melihat rekan-rekan saya menunjukkan kesadaran dan semangat yang sama saat mengikuti upacara bendera.

Namun, saya cukup prihatin dengan generasi saat ini. Apakah mereka memiliki rasa nasionalisme yang sama dengan para pendahulu mereka? Deddy Mizwar, dalam perannya sebagai Nagabonar dalam Nagabonar jadi 2, telah menunjukkan cermin kepada kita. Nasionalisme para generasi penerus kemerdekaan sangat berbeda jauh dengan para pejuang kemerdekaan.

Keprihatinan bertambah dengan para pemimpin di bangsa ini yang tidak memberikan contoh sebagai pemimpin dan bapak-bapak bangsa. Mereka sibuk dengan istilah-istilah kursi, posisi, jabatan, uang dan kekayaan dari pada rakyat, pengorbanan, peduli atau pemberdayaan. Berbagai contoh praktek korupsi, politik kotor atau sekedar ketiadaan kesantunan dalam berbicara di depan umum telah menjadi contoh yang buruk bagi generasi penerus. Bangsa ini memang telah merdeka dari penjajahan asing, tetapi sekarang tengah digerogoti oleh bangsanya sendiri oleh karena keegoisan mereka.

Sejak ditiadakannya pelajaran Pendidikan Pancasila dan diganti dengan Pendidikan Kewarganegaraan, ada perubahan atmosfir nasionalisme, terlebih sejak era reformasi. entah mengapa era reformasi malah cenderung menadirkan cita rasa nasionalime dalam pendidikan di sekolah. Terlebih lagi pada sekolah-sekolah swasta dan nasional plus, wawasan kebangsaan telah bergeser kepada wawasan sebagai warga negara global, yang malah cenderung kebarat-baratan.

Pemerintah dan masyarakat perlu mengambil sikap dan tindakan untuk mengembalikan pendidikan kewarganegaraan yang memiliki cita rasa nasionalisme yang kental. Ini adalah tugas berat para pendidik. Siapa yang mau turun tangan?