WELCOME! Salam Sejahtera! Senang sekali mendapat kunjungan dari Anda. Berikan komentar Anda di akhir setiap posting (klik link: write your comment here!), komentar Anda sangat berharga bagi saya. Terima Kasih. Please Enjoy...

HOT Search

HOT Translate

Showing posts with label emosi. Show all posts
Showing posts with label emosi. Show all posts

I Learn When I Teach...

>> Wednesday, February 11, 2009

Ternyata guru tidak hanya harus pandai mengajarkan materi domainnya, tetapi mereka perlu menguasai, bagaimana mendidik karakter siswanya dan menguasai emosi dirinya.

Senin lalu dengan jelas saya meminta para siswa untuk membawa beberapa buku yang akan digunakan dalam acara book week dan sebuah foto diri mereka. Hingga saat ini ternyata tidak semua siswa melakukan tugasnya dengan baik. Di kelas 9 ada beberapa siswa yang tidak membawa buku. Hal ini membuat saya cukup marah, karena saya telah mengingatkan mereka berulang-ulang untuk membawa bukunya. Namun yang terburuk adalah ketika saya berhadapan dengan kelas 11. Hampir semua siswa tidak membawa perlengkapan yang saya minta. Hal ini membuat saya semakin 'panas'. Syukur kepada Tuhan, saya dimampukan untuk menguasai diri.

Saya sampaikan pada mereka bahwa saya kecewa degan sikap mereka. Hal berikutnya, saya menyatakan bahwa kejadian ini merefleksikan tingkat kedewasaan mereka dalam menerima tanggung jawab. Karena sebenarnya siswa kelas 11 telah mendapatkan satu hari ekstra untuk mereka bekerja, melengkapi tugas mereka. Namun mereka tidak melakukannya. Saya tandaskan bahwa mereka belum bisa menerima tanggungjawab yang lebhi besar dari sekedar membawa buku ysang saya minta.

Saya pikr, perkara ini lebih banyak mengajar saya dari pada siswa saya. Saya belajar untuk menguasai diri dan tidak emosional terhadap habit mereka. Saya juga belajar untuk menyampaikan teguran pada meerka dengan cara yang lebih 'manusiawi' namun tetap tepat sasaran.

Sekali lagi, tidak mudah menjadi guru.... Menegur itu bukan perkara mudah, apalagi menegur dengan menahan emosi...

nb. i love 10 graders, sebagian besar dari mereka melakukan apa yan saya minta...

The Joy of Teaching...

>> Monday, December 1, 2008

Sebelum memasuki tahun ajaran baru, saya mengikuti training-training dan rapat-rapat yang diselenggarakan oleh sekolah. Training dan rapat itu sepertinya tak habis-habis, padahal berlangsung selama 2-3 minggu. Setelah itu dilanjutkan dengan persiapan di unit masing-masing: mempersiapkan lesson plan, menata ruang kelas, menyiapkan acara hari pertama sekolah, dll.

Sejak detik pertama di hari pertama sekolah, perjalanan panjang dimulai untuk satu semester. Mempersiapkan rencana pengajaran, mengajar, menyiapkan latihan, membuat soal ulangan, memeriksa hasil ulangan siswa, memasukkan nilai ke daftar nilai serta serangkaian aktifitas tambahan seperti menyiapkan kegiatan siswa, membuat budget kegiatan, mengawasi pelaksanaan kegiatan dan membuat laporan kegiatan; semua itu terus berputar silih berganti sepanjang tahun. Sesekali ada tugas tambahan untuk mengkonseling siswa bermasalah, membantu memberi masukan untuk kebijakan sekolah dan mengadakan rapat-rapat rutin. Hal ini terus berlangsung sepanjang tahun dan terus kembali berlangung di tahun berikutnya dan di tahun berikutnya dan terus dan terus....

Itu semua adalah sisi aktifitasnya...

Dalam hal emosional, seluruh rangkaian pekerjaan itu membawa emosi saya naik turun seperti roller coaster. Bahkan mungkin lebhi banyak di naiknya dari pada turunnya. Semua di pacu oleh waktu, seringkali harus sedikit terburu-buru. Terkadang harus menyesuaikan langkah dengan teman-teman seprofesi, agar tidak terlalu cepat atau sebaliknya, tertinggal jauh. Repot memang. Malangnya, di atas semua pekerjaan yang super ribet itu dan karena siswa tidak mengetahui apa yang terjadi di balik 'dapur', ada saja kejadian atau siswa yang mendatangkan tekanan darah tinggi. Mulai dari mesin fotokopi yang tidak berfungsi, pemadaman listrik bergilir, tinta printer habis, siswa lupa mengerjakan tugasnya, perilaku yang tidak menunjukkan sopan santun, dicela murid, dsb.

Semua kerumitan, keruwetan, keribetan, kepusingan, kebingungan, kemarahan, kegentaran, kekuatiran dan keletihan akibat semua pekerjaan itu tidaklah mengurangi sukacita saya sebagai guru. Seandainya saya tidak melakukan itu semua atau bahkan saya tidak menjadi guru, saya akan jauh lebih menderita. Saya senang menempuh semuanya itu, karena saya terpanggil untuk itu. dimana ada panggilan di sana tersedia kekuatan. Saya mencintai panggilan ini. Saya rela berkorban atas apa yang saya cintai. Saya berharap padaNya, agar saya dapat terus diberi kekuatan untuk mencintai panggilan ini.

"The joy of teaching doesn't come from what we do as teacher, but from the understanding of our calling."