WELCOME! Salam Sejahtera! Senang sekali mendapat kunjungan dari Anda. Berikan komentar Anda di akhir setiap posting (klik link: write your comment here!), komentar Anda sangat berharga bagi saya. Terima Kasih. Please Enjoy...

HOT Search

Loading...

HOT Translate

Traditional Philosophy

>> Thursday, April 23, 2009

Philosohpy Education: Bab 1 - Bab 2 - Bab 3 - Bab 4 - Bab 5 - Bab 6 - Bab 7

Pada Bab Satu dan Dua, telah dibahas mengenai konsep-konsep dasar filsafat dan kaitannya dengan pendidikan. Pada bab yang ketiga ini akan ditelaah lebih jauh mengenai salah satu kelompok filsafat, yaitu filsafat tradisional.

Dalam dunia pendidikan, terdapat hubungan langsung antara kepercayaan dasar seseorang dan bagaimana mereka memandang komponen-komponen pendidikannya, seperti hakikat siswa, peran guru, penekanan terbaik pada kurikulum, metode mengajar yang paling efisien dan fungsi sosial sekolah. Dalam Bab ini kelompok-kelompok filsafat akan diberi nama/label tertentu demi terwakilinya pemikiran-pemikiran dibalik label tersebut. Perbedaan yang terdapat dalam setiap kelompok filsafat ini lebih mudah dikenali dengan pemberian label. Pelabelan ini juga menyadarkan para pendidik bahwa praktek-pratek dalam pendidikan dibangun dan berasal dari filsafat tertentu. Bab ini akan mengungkapkan filsafat tradisional, idealisme, realisme dan neo-skolastikisme.

Idealisme
Idealisme menekankan pada realita gagasan/idea, pemikiran dan pikiran. Idealisme diformulasi pada abad keempat sebelum masehi oleh Plato. Ia mendefinisikan kebenaran sebagai sesuatu yang sempurna dan abadi. Karena dunia ini terbukti selalu berubah, maka kebenaran tidak dapat ditemukan dalam dunia yang tidak sempurna dan sementara ini. Plato percaya bahwa terdapat kebenaran universal dimana semua orang dapat menyepakatinya. Idealisme percaya bahwa dunia yang dapat diindera oleh tubuh kita dan dunia pikiran adalah dunia yang nyata.

Mengetahui realitas bukanlah pengalaman melihat, mendengar atau menyentuh, tetapi memegang gagasan atas sesuatu dan menyimpannya dalam pikiran. Kebenaran berada dalam wilayah gagasan/idea. Beberapa idealis memdalilkan bahwa ada suatu Pikiran Absolut atau Pribadi Absolut yang secara terus menerus memikirkan gaagsa-gagasan ini.

Kehidupan etis para idealis didapat dengan memlihara keharmonisan dengan alam semesta. Peran para individu adalah untuk menjadi seperti Pribadi yang Absolut itu.

Dalam hubungannya dengan pendidikan, para pembelajar dipandang sebagai pribadi mikroskopik yang berada dalam proses menjadi seperti Pribadi Absolut. Mereka harus berjuang pada kesempurnaan, karena pribadi ideal adalah sempurna. Peran guru adalah untuk meneruskan pengetahuan akan realitas dan menjadi contoh atas etika yang ideal. Penekanan kurikulum idealisme terletak pada studi humanisme, seperti sejarah, literatur, matematika dan bahasa. Perpustakaan menjadi pusat kegiatan pendidikan dan ruang-ruang kelas adalah perpanjangan pengoperasian perpustakaan. Metode mengajar yang terbaik adalah dengan ceramah secara verbal. Pada akhirnya secara sosial sekolah berfungsi sebagai penyimpan warisan dan penerus pengetahuan dari masa lalu. Ia bukan agen perubahan, tetapi penyokong 'status quo'.

Realisme
Dalam hal tertentu, realisme adalah sebuah reaksi menentang idealisme. Aristoteles adalah pendefinisi terbaik dari realisme. Menurutnya, suatu bentuk dapat hadir tanpa zat/materi tertentu, tetapi tidak akan ada zat/materi tanpa bentuk.

Realitas utama menurut para realis, realita bukan terdapat pada wilayah pikiran. Alam semesta ini dibuat dengan materi bergerak, sehingga dunia fisik dimana orang berdiam inilah yang menjadikannya realita.

Epistemologi dari realisme adalah pendekatan umum pada dunia yang mendasarkan metodenya pada persepsi yang berhubungan dengan panca indera. Kebenaran dipandang sebagai fakta yang dapat diamati. Panca indera adalah alat untuk memperoleh pengetahuan.

Hukum alam adalah dasar etika realisme, karena alam memiliki hukum moral. Bentuk seni terbaik menurut relis mencerminkan kelogisan dan keteraturan alam semesta.

Dalam pendidikan realisme memandang para siswa sebagai organisme fungsional yang dapat mengetahui keteraturan alam melalui pengalaman sensoris. Mereka adalah subyek dari hukum alam, maka itu mereka tidak bebas dalam pilihan-pilihan mereka. Guru berperan untuk memberikan informasi yang akurat mengenai realitas pada siswa dengan cara yang paling cepat dan efisien. Ilmu-ilmu alam menjadi pusat dalam kurikulum realis, selain itu matematika dan bahasa juga memiliki posisi yang sama. Pengalam belajar haruslah diatur sedemikian rupa kepada hal yang lebih luas untuk dapat memanfaatkan panca indera. Demonstrai adalah metode favorit dalam kelas, semikian juga dengan studi lapangan, dan penggunaan audio-visual. Sekolah berperan sebagai 'transmitter' pengetahuan yang telah ditetapkan oleh mereka yang telah memiliki konsep hukum alam dan pengalaman keilmuan, serta fungsinya dalam alam semesta. Sekolah ini berfokus melestarikan dan melindungi warisan pengetahuan ini.

Neo-Skolastikisme
Neo-skolastikisme adalah sebuah gerakan intelektual yang berkembang di Eropa Barat antara tahun 1050 -1350. Para pelajar skolastik tidak tertarik untuk mencari kebenaran baru, mereka lebih tertarik pada pembuktian kebenaran yang telah ada melalui proses-proses rasional. Jadi skolastikisme dapat dilihat sebagai usaha untuk merasionalisasi teologi dengan tujuan mendukung iman oleh pemikiran (reason).

Thomas aquinas adalah tokoh utama dalam masa ini. Pendekatan dasarnya adalah seseorang seharusnya memperoleh pengetahuan sebanyak mungkin melalui penggunaan pemikiran/akal budi(reason) manusia dan mempercayakannya pada iman wilayah-wilayah yang melampaui pemahaman manusia.

Pada pemikiran pendidikan abad ke-20, Neo-skolastikisme terbagi menjadi dua cabang pendidikan, yaitu cabang religius dan cabang sekuler. Cabang religius membangun struktur filsafat pendidikan Katolik Roma.

Terdapat dua akar pemikiran Neo-skolastikisme, yang pertama berakar pada Aristoteles yang meletakkan dasar realisme. Yang kedua berakar pada aquinas yang mensintesa filsafat Aristoteles dengan Kekristenan. Bagi Aristoteles pertanyaan terpenting yang dapat ditanyakan seseorang adalah mengenai tujuan mereka; dan karena manusia diberikan kemampuan untuk berpikir, maka tujuan utama manusia adalah untuk menggunakan kemampuannya itu. Menurutnya alam semesta ini memiliki rancangan dan keteraturan dan setiap akibat memiliki penyebab. Rancangan, Keteraturan dan Penyebab ini saling berhubungan di dunia dan dia menyatakan adanya Penyebab Pertama dan Penggerak yang Tidak Bergerak. Aquinas menyamakan hal itu dengan Tuhan orang kristen.

Metafisika dari Neo-skolastikisme merupakan dua sisi mata uang. Di satu sisi adlah dunia lamiah yang terbuka pada pemikiran, di sisi lain adalah wilayah supranatural yang dipahami melalui intuisi, pewahyuan dan iman.

Kebenaran didapat dari intuisi dan pernyataan sintetis. Intuisi dianggap lebih tinggi tingkatnya dari pada pernyataan sintetis. Cabang Sekuler Neo-skolastikisme menyatakan, kebenaran dapat diketahui melalui akal budi dan intuisi. Sedangkan cabang religius dari filsafat ini menambahkan pewahyuan supranatural sebagai sebuah sumber pengetahuan yang dapat meletakkan manusia yang terbatas untuk berhubungan dengan pikiran Tuhan. Kedua cabang ini sangat menekankan akal budi dan bentuk deduktif dari logika Aristoteles.

Kehidupan moral bagi Neo-skolastikisme adalah kehidupan yang harmonis dengan akal budi (reason). Manusia pada dasarnya adalah mahluk rasional dan perilaku yang baik dikontrol oleh rasionalitas. Dikarenakan Neo-skolastikisme terlalu menekankan pada rasio, maka dampaknya pada bentuk-bentuk seni tidaklah menonjol.

Dalam dunia pendidikan Neo-skolastikisme percaya bahwa siswa adalah mahluk rasional (berakal budi)yang memiliki potensi alamiah untuk memperoleh Kebenaran dan pengetahuan. Guru dipandang sebagai pengajar mental dengan kemampuan untuk mengembangkan pemikiran, daya ingat dan kekuatan kehendak dalam diri siswa. Cabang religius Neo-skolastikisme menganggap guru juga sebaagi pemimpin spiritual dan pegajar disiplin mental. Sedangkan cabang sekuler menyatakan bahwa karena manusia adalah mahluk rasional, maka kurikulum harus memprioritaskan penumbuhan aspek-aspek rasional mereka. Siswa harus dilatih untuk berpikir dan pendidikan berfokus pada penajaman intelektual, sehingga orang-orang dapat mampu memahami sang Kenebaran Absolut. Semua hal yang berhubungan dengan pengembangan logika menjadi pusat kurikulum Neo-skolastikisme, demikian juga dengan matematika dan bahasa, khususnya bahasa Latin dan Yunani. Cabang religius menambahkan studi sistematis mengenai dogma dan doktrin juga pentin gdalam kurikulum. Metode pengajarannya kebanyakan berfokus pada pelatihan kekuatan intelektual. Dalam aspek sosial, sekolah Neo-skolastikisme berfungsi sama dengan kedua filsafat tradisional lainnya.

0 write(s) COMMENT(S) here!: