WELCOME! Salam Sejahtera! Senang sekali mendapat kunjungan dari Anda. Berikan komentar Anda di akhir setiap posting (klik link: write your comment here!), komentar Anda sangat berharga bagi saya. Terima Kasih. Please Enjoy...

HOT Search

Loading...

HOT Translate

Parentless Children of the 21st Century - PART 1

>> Wednesday, January 11, 2012

Dalam pengamatan saya, tidak sedikit ibu, khususnya kaum kelas menengah, yang turut berkarir atau bekerja. Jabatan ibu rumah tangga semakin sedikit ditemui tercantum di KTP perempuan yang sudah menikah. Banyak alasan yang dikemukakan, mulai dari ingin membantu suami meningkatkan taraf dan gaya hidup keluarga, hingga alasan tak betah atau tak kuat di rumah mengurus rumah tangga dan anak.

Fenomena abad 21 ini patut dicermati. Di satu sisi, kedua orang tua yang bekerja patut di acungi jempol. Hal ini salah satunya berangkat dari keinginan untuk memberikan kehidupan yang lebih baik bagi keluarga, khususnya anak. Namun hal ini menjadi persoalan besar bila dilihat dari sisi peran orangtua dalam mendidik anak. Sepanjang anak membuka mata dalam tiap harinya, mereka nyaris tidak bertemu dengan orangtua atau bila pun bertemu waktu efektif yang tercipta nyaris tidak ada. Masalah ini menjadi semakin buruk ketika usia anak masih tergolong balita, di mana pembentukan pola pikir, tingkah laku dan sikap dasar terbentuk.

Para ahli pendidikan anak menyatakan usia balita adalah usia emas. Di usia ini, anak sangat membutuhkan peran orangtuanya secara nyata. Kehadiran adalah satu hal dan berfungsi atau berperan sebagai orangtua adalah hal lain.Anak usia ini membutuhkan orang tua yang hadir dan berfungsi. Pengalihan peran kepada pihak lain, baik itu pembantu atau anggota keluarga lain akan berdampak pada perbedaan signifikan atas tumbuh kembang anak. Saya mempercayai anak yang bertumbuh dan berkembang dengan baik hanya diperoleh dari kerja keras orangtuanya dalam mendidik anak.

Tidak sedikit orangtua yang bekerja keras dalam mencari nafkah, tetapi sedikit orangtua yang bekerja keras dalam mendidik anaknya. Mungkin Anda bertanya, bukankah dengan bekerja orangtua juga sedang memberikan kehidupan bagi anaknya? Saya berpikir, bekerja adalah bukan tujuan dalam mendidik anak, tetapi hanya salah satu jalan dalam mendidik anak. Anak memang perlu melihat teladan orangtuanya dalam bekerja dengan rajin dan pantang menyerah. Tapi tentunya bukan hanya itu teladan yang ia perlu lihat. Ia juga perlu melihat dan mengalami kepedulian orangtuanya secara langsung dan nyata.

Ada tarik menarik yang sangat kuat bagi sebagian orangtua di jaman ini. Apakah salah satu orangtua saja yang bekerja dan satunya di rumah; atau keduanya bekerja dan berharap dapat berperan sebagai orangtua sepulang kerja atau di akhir minggu. Salah satu orangtua di rumah tidak menjamin anak terdidik dengan seharusnya. Adakalanya orangtua yang bekerja bersikap lepas tangan terhadap pendidikan anak dan menyerahkan tanggung jawab pada pasangannya yang di rumah. Di samping itu orangtua yang keduanya bekerja berharap dengan uang yang dimilikinya bisa mengganti peran atau memenuhi kebutuhan ekstra bagi anaknya. Anak diserahkan pada anggota keluarga yang dipercaya atau pada pembantu yang berusia remaja. Hal ini menimbulkan dilema, karena di lain pihak sebagian orangtua merasa sangat bahagia bisa melihat perkembangan anaknya tahap demi tahap atau menyirami anak dengan nilai-nilai hidup yang akan menjadi bagian hidupnya dimasa datang.

Jadi hal apa yang paling bijaksana yang harus diputuskan sebagai orangtua muda di jaman ini?

3 write(s) COMMENT(S) here!:

Anonymous January 11, 2012 at 2:45 PM  

tidak semua kaum ibu mempunyai pilihan untuk tidak bekerja.....beberapa dari mereka mau tidak mau harus bekerja meski untuk meninggalkan rumah mereka harus meneteskan air mata...beberapa dari ibu yang membantu mengasuh anak saya (demikian saya menyebutnya), juga tidak mempunyai pilihan ketika mereka harus meninggalkan rumah demi merawat anak orang lain....bolehkah kami memilih?

Anonymous January 11, 2012 at 5:32 PM  

bagus

Meicky January 14, 2012 at 7:32 PM  

Pada prinsipnya,1)Kita ga bisa dapat semua yang kita mau atau yang kita butuh 2) KIta bisa dapatkan itu semua tapi tidak pada waktu yang sama. Hal lain yang perlu dicermati adalah masalah panggilan hidup. Ada ibu yang secara akademis sangat pintar dan potensial punya karir tinggi tapi secara sadar menjadi ibu rumah tangga walaupun ilmu yang dia tekuni bisa dipakai dengan lebih mendalam kalau dia bekerja di luar rumah. Ada juga ibu yang biasa-biasa aja, dalam arti kalo dia milih kerja di luar rumah, karirnya pasti mentok karena kemampuan komunikasi dan kemampuan berpikirnya pas-pasan tapi dia milih untuk kerja di luar rumah.Hal lain, tentu saja masalah finansial. Betul emamng dari segi uang tak ada kata puas. Tapi harus diakui bahwa memang ada istilah 'orang miskin' di dunia ini. Dengan terpaksa, mereka ya ninggalin anak di rumah, seperti yang dilakukan banyak pembantu rumah tangga atau TKW. Kalau saya sih bekerja di luar karena memang saya punya panggilan yang ga bisa saya tolak, yaitu mengajar. Saya sangat percaya panggilan itu dari Tuhan jadi kalaupun suatu saat suami saya jadi kaya-raya, jadi konglomerat, jadi milyarder, saya akan tetap mengajar. Hal lain yang mungkin dialami ibu-ibu adalah keperluan untuk aktualisasi diri. Jika mereka dari kalangan menengah atas, mereka sudah bisa memenuhi kebutuhan primer dan sekunder. Kebutuhan berikut adalah aktualisasi diri (ingat bagan Maslow atau Marlow, gitu ya Pak?). Untuk sebagian orang, aktualisasi diri mengambil format bekerja di luar rumah. Untuk sebagian orang lainnya mungkin bisa melukis di rumah atau buka katering, jadi dari rumah juga. Yahhh...Macam-macamlah, tergantung minat dan sejarah pribadi orang tersebut. Untuk anonymous, komentarnya adalah "tidak semua kaum ibu mempunyai pilihan untuk tidak bekerja". Saya percaya semua ibu adalah pekerja. Hanya saja sebagian total bekerja di dalam rumah, sebagian lainnya bekerja di dalam dan juga di luar rumah. Saya rasa begitu. Bagus Pak Rudi artikelnya, well done.