WELCOME! Salam Sejahtera! Senang sekali mendapat kunjungan dari Anda. Berikan komentar Anda di akhir setiap posting (klik link: write your comment here!), komentar Anda sangat berharga bagi saya. Terima Kasih. Please Enjoy...

HOT Search

Loading...

HOT Translate

Philosophic Issues in Education

>> Friday, April 17, 2009

Philosohpy Education: Bab 1 - Bab 2 - Bab 3 - Bab 4 - Bab 5 - Bab 6 - Bab 7

Berikut ini adalah lanjutan rangkuman, buku Phylosophy Education oleh George R. Knight. Bab kedua ini berjudul "Philosophic Issues in Education". Berikut ini adalah ulasannya...

Filsafat Pendidikan tidak dibedakan dengan filsafat pada umumnya. Sebelum kita memahami struktur filsafat pendidikan, sangatlah penting untuk mempelajari garis besar filsafat. Oleh karena itu kita perlu mempelajari kategori-kategori yang terdapat dalam metafisika, epistemologi dan aksiologi.

Metafisik adalah cabang filsafat yang berhubungan dengan hakikat atau natur realitas (kenyataan). Metafisik berasal dari bahasa Yunani yang secara literal berarti diluar (beyond) fisik. Kebanyakan teori sains sangat berhubungan dengan teori realitas. Terdapat empat bagian metafisik yaitu:
1. Aspek kosmologi, yaitu studi tentang asal muasal, alam dan perkembangan alam semsta sebaagi sistem yang teratur.
2. Aspek teologi, yaitu teori religius yang berhubungan dengan konsep Ke-Tuhan-an.
3. Aspek antropologi, yaitu studi yang berhubungan dengan manusia.
4. Aspek ontologi, yaitu studi tentang hakikat ke-ada-an.; atau studi yang menentukan apa yang kita maksudkan ketika sesuatau itu ada.

Metafisik adalah isu sentral dalam dunia pendidikan karena semua program sekolah harus berdasar pada fakta dan realita dari pada impian, ilusi atau imajinasi. Setiap pendidik harus memiliki konsep yang sama tentang hakikat manusia, kepribadian dan kebutuhan sosialnya, dan pribadi idealnya.

Epistemologi adalah cabang filasafat lain yang mengkaji tentang hakikat, sumber dan keabsahan dari pengetahuan. Beberapa dimensi dari pengetahuan ini adalah:
1. Apakah realitas dapat diketahui?
2. Apakah kebenaran realtif atau absolut?
3. Apakah pengetahuan itu subyektif atau obyektif?
4. Apakah kebenaran itu terpisah dari pengalaman manusia?

Dari dimensi-dimensi pengetahuan itu, maka dapat diketahui beberapa sumber pengetahuan, diantaranya:
1. Indera. Empirisisme adalah pandangan bahwa pengetahuan didapat melalui indera.
2. Pewahyuan. Pengetahuan yang diwahyukan menjadi pengetahuan yang primer dalam bidang keagamaan.
3. Otoritas. Pengetahuan yang otoritatif dapat diterima sebagai kebenaran karena datang dati para ahli atau telah dibakukan dalam suatu tradisi.
4. Akal Budi. Pandangan bahwa berpikir, berlogika adalah faktor utama dalam pengetahuan yang dikenal dengan rasionalisme.
5. Intuisi. Ini adalah pemahaman lansung atas pengethuan yang tidak berasal dari pemikiran yang sadar.

Sejarah menunjukkan bahwa kepercayaan atas satu hal tertentu yang diterima sebagai kebenaran, menjadi suatu hal yang salah di kemudian hari. Bagaimana kita dapat mengatakan bahwa kepercayaan yang satu adalah benar sedangkan yang lain salah? Para filsuf telah mempercayai tiga ujian kebenaran ini: teori koresponden, koherensi dan pragmatis.
1. teori koresponden adalah sebuah ujian yang menggunakan kesepakatan dengan fakta sebagai dasar pendapat.
2. teori koherensi percaya pada konsistensi atau harmoni pendapat semua orang.
3. Teori pragmatis melihat ujian pada kebenaran dalam akibat penggunaan, kinerja atau tingkat kepuasannya.

Dilema dalam metafisik dan epistemologi ini adalah tidak mungkin untk membuat pernyataan tentang realitas tanpa memiliki sebuah teori kebenaran pada awlnya; dan sebaliknya, sebuah tero tentang kebenaran tidak dapat dikembangkan tanpa pertama-tama memiliki teori tentang realitas. Posisi yang dapat diterima mengenai persoalan ini adalah sebuah 'pilihan iman' yang dibuat oleh pada individu dan hal ini memerlukan sebuah komitment atas jalan hidup. Jadi kesimpulannya, semua orang hidup oleh iman dalam kepercayaan dasar yang mereka telah pilih.

Aksiologi adalah cabang filsafa yang mencari jawaban atas pertanyaan 'Apa yang bernilai?'. Terdapat sebuah penekanan yang jelas dalam nilai-nilai, sebuah penekanan antara apa yang orang katakan bernilai bagi mereka dan apa yang mereka lakukan dalam kehidupan kesehariannya. Isu yang paling krusial bagi para pendidik adalah membedakan apa yang orang-orang seharusnya pilih dari pada mendefinisikan dan menjelaskan pilihan-pilihan mereka yang mereka lakukan atau katakan itu. Aksiologi beridiri di dasar utama dalam proses pendidikan dan aspek terbesar dalam pendidikan adalah pengembangan pilihan-pilihan (preferensi). Dua Cabang utama dari aksiologi adalah Etika dan Estetika.

Etika adalah studi tentang nilai-nilai moral dan pelaksanaannya. Teori etika memperhatikan penyediaan nilai-nilai yang benar sebagai dasar bagi tindakan yang benar. Masyarakat dunia telah membuat kemajuan-kemajuan teknologi yang luar biasa, tetapi belum memajukan secara signifikan konsep-konsep moral dan etika.
Sangatlah tidak mungkin untuk melarikan diri dari pengajaran konsep-konsep etika di sekolah. Namun persoalannya adalah masyarakat membedakan dasar-dasar etikanya dan merasa sangat kuat dalam membiarkan anak-anak mereka 'diindoktrinasi' oleh sebuah nilai-nilai moral yang asing bagi kepercayaan fundamental mereka.

Estetika adalah wilayah nilai yang mencari prinsip-prinsip yang berlaku pada penciptaan dan penghayatan keindahan dan seni. Karena etetika sangat berhubungan dengan imajinasi dan kreatifitas, maka ia cenderung sangat pribadi dan subyektif. Penilaian estetik adalah bagian dari kehidupan sehari-hari dan tidak dapat terhindarkan. Pengalaman estetik memimpin kepada pengindraan yang tinggi atas persepsi, kemampuan untuk memahami makna yang baru, pengembangan perasaan dan perluasan sensitifitas. Hal ini membutuhkan pemahaman intelektual dan bahkan bekerja melampaui wilayah afektif dengan fokusnya pada perasaan dan emosi.
Sekolah dan agen-agen pendidikan lainnya juga memiliki tanggung jawab untuk menolong para sisaw melihat dimensi estetik dalam lingkungan pendidikan seperti dalam area arsitektur, lapangan sekolah, kerapihan pribadi dan kerapihan menulis di buku. Setiap individu perlu mengingat bahwa kepercayaan estetik berhubungan langsung dengan aspek lainnya dalam filsafat yang mereka anut.

Studi aksiologi selalu menjadi penting, tetapi ia memiliki hubungan yang istimewa bagi para pendidik di jaman ini. Abad yang terakhir ini telah memperlihatkan perubahan yang besar atas struktur nilai dan sekarang kita hidup di dalam waktu ketika posisi aksiologi kemanusiaan dapat digambarkan dengan kata-kata degenerasi dan berubah total.

0 write(s) COMMENT(S) here!: