WELCOME! Salam Sejahtera! Senang sekali mendapat kunjungan dari Anda. Berikan komentar Anda di akhir setiap posting (klik link: write your comment here!), komentar Anda sangat berharga bagi saya. Terima Kasih. Please Enjoy...

HOT Search

Loading...

HOT Translate

Modern Philosophy

>> Friday, May 1, 2009

Philosohpy Education: Bab 1 - Bab 2 - Bab 3 - Bab 4 - Bab 5 - Bab 6 - Bab 7

Setelah melihat perkembangan filsafat tradisional di Bab Tiga buku "Philosohpy Education" karangan George R. Knight, berikut ini akan dipaparkan perkembangan filsafat di era modern.

Filsafat tradisional sanagt memperhatikan aspek metafisik, yaitu isu realitas. Filsafat modern tidaklah demikian. Hal ini dipicu dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan diikuti oleh terobosan revolusi industri. Oleh karena itu, banyak orang di abad ke 19 dan 20 menolak realitas absolut yang statis. Dari sisi kemanusiaan, kelihatan bagi banyak orang bahwa kebenaran, juga pengetahuan manusia atas kebenaran menjadi relatif dan tidak terdapat ketentuan yang universal.

Kesimpulan ini memimpin filsafat modern menghindari isu realitas dan berfokus pada relativitas kebenaran dan nilai dari sudut pandang kelompok-kelompok sosial (pragmatisme) dan individu (eksistensialisme). Pada tahapan metafisik, pragmatisme lebih mengarahkan epistemology sebagai pusat persoalan filsafat dan eksistensialisme berfokus pada aksiologi.

PRAGMATISME
Pragmatisme adalah kontribusi Amerika pada sejarah pemikiran filsafat. Hal ini menjadi menonjol pada 100 tahun terakhir dan diasosiasikan dengan mana-nama seperti charles s. Pierce, William James dan John Dewey. Pragmatisme (disebut juga eksperimentalisme, dan instrumentalisme) adalah reaksi filosofis pada perubahan dunia. William James mendefinisikan pragmatisme sebagai sebuah sikap memalingkan diri dari hal yang utama, prinsip-prinsip, kategori,kebutuhan yang seharusnya dan mengarahkan diri pada hasil akhir, buah-buah, konsekuensi dan fakta-fakta.

Beberapa pragmatis menyangkal bahwa filsafat mereka memiliki sebuah metafisika. Mereka menyatakan bahwa jika ada keteraturan realitas seperti filsafat traditional, orang tidak memiliki jalan untuk mengetahuinya. DAri sudut pandang mereka, pikiran dan zat bukanlah dua hal yang terpisah dan substansi yang berdiri sendiri. Orang mengetahui zathanya jika mereka mengalaminya dan mencerminkan pengalamannya di pikiran mereka. Realitas bukanlah sebuah hal yang abstrak. Tetapi adalah sebuah pengalaman transaksional yang secara tetap mengalami perubahan. Maka itu, realitas tidaklah tetap tetapi berada dalam sebuah kondisi perubahan terus menerus selama pengalaman kemanusiaan semakin meluas. Apa yang nyata hari ini bisa menjadi tidak nyata di masa datang.

Pragmatisme pada dasarnya adalah suatu pelaku epistemologi. Pengetahuan berakar pada pengalaman. Individu tidak dapat secara langsung menerima pengetahuan, mereka membuatnya saat mereka berhubungan dengan lingkungan. Menurut Dewey, proses pemikiran reflektif dapat dilihat dalam lima tahap:
1. Individu menjumpai masalah atau situati yang mengganggu yang secara sementara menghalangi kemajuan mereka.
2. Intelektualisasi dari apa yang pada awalnya sebuah respon emosional untuk menrintangi aktifitas.
3. Penyimpanan solusi-solusi yang memungkinkan
4. Latihan mempertimbangkan solusi-solusi di tahap tiga dengan menduga kemungkinan konsekuensi yang terjadi bila dilakukan.
5. Mencoba hipotesa yang paling masuk akal dengan melihat konsekuensi yang telah diduga memang terjadi.
Bila seseorang tidak dapat membuktikan atau menjalankan hipotesanya, maka orang tersebut harus kembali lagi setidaknya ke tahap empat dan mencari kebenaran bagi hipotesa lainnya.

Sampai di sini, sangatlah penting untuk mengenal bahwa pengetahuan dalam perspektif pragmatisme harus dibedakan dengan kepercayaan. Kepercayaan adalah hal yang pribadi sedangkan pengetahuan selalu menjadi hal yang umum.

Nilai-nilai dalam pragmatisme sangatlah relatif dan tidak ada prinsip absolut yang mana kita dapat bersandar. Sebagaimana kebudayaan berubah demikian juga nilai-nilai. Apa yang secara etika baik adalah yang 'bekerja'. Harus di catat, sama seperti ujian pada epistemologi harus dilakukan oleh publik secara alamiah, demikian juga ujian terhadap etika berdasarkan pada apa yang baik dalam masyarakat dan tidak pada apa yang baik pada individu. Konsep keindahan bergantung pada apa yang seseorang rasakan ketika mereka mendapatkan pengalaman estetika.

Dalam pendidikan, pragmatisme menganggap siswa adalah individu yang 'mengalami' yang berkemampuan untuk menyelesaikan masalah. Menurut mereka, pengalaman dalam sekolah adalah bagian dari kehidupan dari pada sebuah persiapan kehidupan. Guru dapat dipandang sebagai rekan siswa dalam pengalaman kependidikan, sebgaimana seluruh kelas mereka menghadapi dunia yang terus berubah. Namun demikian guru adalah 'petualang' yang lebih berpengalaman dan karenanya dapat dipandanga sebagai pemandu atau pengarah proyek. siswa dan minatnya diletakkan sebagai pusat pendidikan, mata pelajaran sebaiknya ditentukan dengan pandangan untuk memenuhi kebutuhan siswa. Menurut Dewey, kurikulum seharusnya tidak dipisahkan menjadi wilayah-wilayah pokok yang terbatas dan tidak alamiah. Metode yang terbaik adalah bagaimana memberikan siswa suatu kebebasan memilih yang besar untuk mendapatkan situasi pengalaman belajar yang bermakna bagi mereka. Field Trip dan metode 'project' adalah teknik favorit para pragmatis.

Lagi menurut Dewey, anak-anak ahrus secara bertahap berpindah dari pembelajaran yang berdasar pada pengalaman langsung kepada metode pengalaman pembelajaran. tujuan sekolah adalah bukan untuk meminta siswa menghafalkan isi, tetapi meminta mereka belajar cara belajar, sehingga mereka dapat menyesuaikan diri pada dunia yang berubah secara konsta di masa kini dan masa datang. Dari sudut pandang ini, dapatlah di katakan bahwa kurikulum sekolah pragmatik lebih memperhatikan proses dari pada isi.

Sudut pandang politik pragmatisme adalah demokrasi. Mereka melihat sekolah sebagai lingkungan ideal untuk kehidupan dan pembelajaran demokratis, dimana setiap orang berpartisipasi dalam proses pembuatan keputusan dalam mempersiapkan partisipasi yang lebih besar dalam masyarakat yang lebih luas.

EKSISTENSIALISME
Eksistensialisme tidak diragukan lagi sangat memperhatikan emosi individu dari pada sisi intelektual. Walter Kaufmann mengidentifikasi eksistensialisme sebagai:
1. Penolakan terhadap penggolongan bentuk pemikiran apapun.
2. Penyangkalan terhadap kecukupan sistem filsafat dan kerangka kepercayaan
3. Menandai ketidakpuasan atas filsafat tradisional sebagai kepalsuan, akademis dan jauh dari kehidupan.
Individualisme adalah pilar utama eksistensialisme. Eksistensialism tidak mencari tujuan dari alam semesta, hanya individu yang memiliki tujuan. Eksistensialisme tidak mengkomunikasikan pada pendidik seperangkat aturan untuk dikuasai atau sebuah program yang dilembagakan. Melainkan ia menyediakansebuah semangat dan sikap yang dapat diterapkan dalam dunia pendidikan. Mereka juga tidak merumuskan pemikiran mereka dalam istilah-istilah metafisik, epistemologi dan aksiologi.

Keberadaan individu merupakan pusat utama pandangan eksistensialisme atas realitas. Keberadaan mendahului esensi atau hakikat. Seseorang ada dahulu baru kemudian ia dapat mendefinisikan ke-apa-annya dan esensinya. Tindakan dalam keseharian adalah proses untuk mendefinisika esensi pribadi. Saat individu menjalani kehidupan, ia membuat pilihan-pilihan dan mengembangkan kesukaan dan ketidaksukaan. Melalui kegiatan inilah seseorang akan merealisasi apa yang ia pilih akan menjadi. Bagi mereka kehidupan tidak harus memenuhi unsur intelektual, bahkan boleh dikatakan absurd.

Orang memiliki keinginan ntuk mempercayai makna eksternal dan sebagai hasilnya, individu memilih untuk mempercayai apa yang mereka mau percaya. Jika keberadaan mendahului esensi, maka muncullah seorang individu dan kemudian datanglah gagasan yang diciptakan oleh individu itu.

Individu masuk ke dalam kehidupan tanpa persetujuan sang individu dan setiap mereka bebas untuk menjadi apapun yang mereka inginkan. Individu tidaklah memutuskan atau menetapkan sesuatu. Karena kemerdekaan ini, setiap orang bertanggungjawab atas semua pilihan dan tindakannya. SEtiap orang memiliki pengalaman sendiri untujk membuat keputusan pribadi yang berwewenang. Dalam wilayah etika, tidak ada hal yang absolut dan tidak ada orang yang dapat menyatakan kelakuan yang baik dengan alamiah. Adalah penting untuk bertindak tanpa memperhatikan konsekuensinya. Tidak bertindak adalah menjadi tidak bertanggung jawab.

DAlam hubungannya dengan pendidikan eksistensialisme tidak banyak menyinggung wilayah ini. Mereka menyatakan apa yang telah berjalan saat ini dalam pendidikan adalah sangat berbahaya, karena sekolah mempersiapkan siswa untuk konsumerisme dan membuat mereka menjadi roda penggerak dalam mesin teknologi industri dan birokrasi modern. Sebagi ganti menolong orang mengeluarkan individualitas dan kreatifitasnya, banyak pendidikan mencurangi dan merusak atribut manusia yang hakiki ini.

Van Cleve Morris menyatakan pendidikan eksistensialis berfokus pada menolong individu menjadi penuh dalam perealisiasian hal-hal berikut:
1. Sebagai Agen Pemilih (Choosing Agent); tidak dapat menghindar dari memilih jalan hidupnya sendiri
2. Sebagai Agen Kebebasan (Free Agent); sangat bebas untuk menetapkan tujuan hidupnya
3. Sebagai Agen yang Bertanggung jawab (Responsible Agent); bertanggung jawab secara pribadi atas pilihan-pilihan bebasnya sebagaimana tercermin di dalam bagaimana ia menjalani hidupanya

Guru menjadi seseorang yang berkeinginan untuk menolong siswa menjelajahi jawaban-jawaban yang mungkin. Ia akan memeperhatikan keunikan individu dari setiap siswa. Ia memperlakukan siswa sebagai individu yang dapat dikenalinya dari pada menjadi sesuatu yang harus di arahkan dan diisi oleh pengetahuan. guru disebut sebagai fasilitator. dalam perannya ini guru akan menghormati emosi dan aspek-aspek irasional individu dan akan berusaha keras untuk memimpin siswa kepada pemahaman diri mereka yang lebih baik. Kurikulum dalam sekolah eksistensialis sangat terbuka terhadap perubahan, karena konsep kebenaran eksistensialisme selalu berkembang dan berubah. Eksistensialisme sejalan dan sepakat dengan dasar-dasar pendidikan tradisional, seperti sains, ilmu sosial, harus dipelajari. Metode pengajaran yang digunakan sangatlah bervariasi. Mereka menentak keseragaman materi, kurikulum dan pengajaran dan menyatakan bahwa seharusnya terdapat banyak pilihan terbuka bagi siswa yang ingin belajar. Metode berpusat pada konsep 'ketidakpaksaan' dan metode itu dapat menolong siswa untuk menemukan dan menjadi diri sendiri.

0 write(s) COMMENT(S) here!: