WELCOME! Salam Sejahtera! Senang sekali mendapat kunjungan dari Anda. Berikan komentar Anda di akhir setiap posting (klik link: write your comment here!), komentar Anda sangat berharga bagi saya. Terima Kasih. Please Enjoy...

HOT Search

HOT Translate

Reading Read Aloud Handbook

>> Monday, January 25, 2010

Inspirasional!

Sebuah kata yang bisa saya rangkum dari buku international best-seller: Read-Aloud Handbook yang ditulis oleh Jim Trelease. Buku yang sedang saya baca ini memberikan pencerahan kepada masyarakat, khususnya orangtua dan guru mengenai betapa pentingnya menularkan minat baca dan memulai kegitan membaca pada anak sedini mungkin. Saya pikir buku ini wajib dibaca oleh pada pendidik di bangsa ini, mulai dari para politisi hingga para orangtua dan guru di pelosok tanah air.

Saya teringat dengan tulisan saya tahun lalu: Dad, read me Cinderella dan National Reading Movement. Buku ini seakan menyulutkan bara yang mulai padam dalam diri saya untuk melakukan sesuatu pada anak-anak di negeri ini: membacakan mereka buku!

beberapa kutipan favorit saya dalam buku ini adalah sebagai berikut:

"...membaca adalah jantungnya pendidikan. Membaca adalah hal yang terpenting. Pengetahuan dari hampir semua mata pelajaran di sekolah mengalir dari membaca. Orang harus mampu membaca soal cerita dalam pelajaran matematika untuk bica memahaminya. Kalau Anda tidak bisa memahami bab tentang ilmu alam atau ilmu sosial, Anda tidak dapat menjawab pertanyaan di akhir bab itu. Manual komputer harus dibaca, bukan hanya dipandangi."

"Semakin banyak Anda membaca, semakin bagus Anda dalam hal ini; semakin baik Anda membaca, semakin Anda suka membaca; dan semakin Anda suka membaca semakin sering Anda melakukan ini."

"Semakin banyak yang Anda baca, semkin banyak yang Anda tahu; semakin banyak yang Anda tahu, semakin cerdas Anda jadinya."

"...anak-anak dari tingkat sosial ekonomi yang lebih rendah lebih mungkin mulasi bersekolah dengan kosakata yang lebih sedikit (tertinggal 12 sampai 14 bulan) dan mereka jarang mampu mengejar ketinggalan ini ketika mereka tumbuh dewasa."

"Bukannya banyak mainan yang ada di rumahlah yang membuat perbedaan dalam kehidupan anak-anak ini, melainkan perbendaharaan kata-kata. Hal yang paling murah yang bisa kita berikan kepada seorang anak selain pelukan ternyata menjadi hal yang paling berharga: kata-kata."


Masih banyak fakta, data statistik, bukti sejarah dan hasil penelitian yang diungkapkan di buku ini. semuanya merujuk pada satu hal, yaitu membaca buuk dan membacakan buku pada anak adalah hal yang penting yang bisa dilakukan seseorang dalam meyokong kesuksesan hidupnya.

Ayo membaca dan membacakan buku!

Happy New Year, UN Is Still A Big Issue

>> Friday, January 8, 2010

Selamat tahun baru! terima kasih atas kesediaan par apembaca untuk tetap mengunjungi blog ini walau postingannya tidak seagresif dulu. Mohon maklum akhir semester, banyak pekerjaan yang harus diselesaikan. mari kita mulai lagi dengan semangat yang baru dalam mengamati, mengkritisi, membangun dan menginspirasi dunia pendidikan indonesia...

UN
Akhirnya UN tetap berlangsung, walau bukan sebagai penentu kelulusan-begitu kata pak menteri. Aturan mencampur siswa peserta UN pun dibatalkan, karena mustahil dilakukan, khususnya di pedesaan. Debat publik di media masa pun surut, walau masih menyisakan ganjalan mengenai 'proyek' pemerintah ini. Bahkan presiden menegaskan kembali pernyataan pak menteri pada rapat terbatas kemarin. lebih jauh lagi, pak presiden meminta pak menteri untuk meninjau ulang pelaksanaan evaluasi dibuat seperti format Ebtanas...

Mungkin ini adalah salah satu bukti ketidakjelasan visi pendidikan Indonesia. kebijakan-kebijakan mengenai pendidikan di negeri ini diambil secara pragmatis, bukan idealis. Sudah saatnya pak Nuh meninjau ulang ketercapaian Indonesia selama 65 tahun ini dalam membangun mutu manusia Indonesia. Tambahan kekuatan dengan adanya pak wakil menteri, mudah-mudahan memberi tenaga ekstra untuk menunjukkan hal ini dan tidak kontraproduktif.

Government Status On 'UN'

>> Tuesday, December 1, 2009

Pemerintah telah membuat beberapa keputusan yang kontroversial dalam masa 100 hari masa kerjanya di departemen pendidikan. Walau telah diputus oleh MA, bahwa UN ditiadakan, namun pemerintah tetap ngotot mengajukan PK (Peninjauan Kembali) untuk tetap melangsungkan UN. Sementara itu, jadwal UN pun dimajukan satu bulan dari tahun sebelumnya, yaitu di bulan Maret 2010, dengan alasan soal sudah terlanjur dibuat.

Namun, pernyataan dari Menteri Pendidikan, M. Nuh sepertinya berlawanan dengan kenyataan di atas. Beliau menyatakan bahwa penentu kelulusan adalah guru dan UN hanya berfungsi sebagai alat pemetaan satuan pendidikan dan seleksi masuk ke satuan pendidikan yang lebih tinggi (baca: Mendiknas: UN Akan Berubah...).

Dua hal membingungkan ini sebaiknya segera ditegaskan oleh jendral departemen pendidikan, sehingga tidak menimbulkan opini publik yang terus menerus menyerang gerak gerik depertemen ini. Sepertinya belum ada kesesuaian keinginan pak menteri dengan para jajarannya. Mudah-mudahan demikian adanya. kita akan lihat beritanya beberapa minggu ke depan... jika tidak ada keputusan tegas yang mengarah pada perbaikan, maka penderitaan siswa yang terjadi di tahun lalu dan tahun-tahun sebelumnya aka terulang (baca: UN on the Fall)

National Education Leader

>> Wednesday, October 21, 2009

Presiden Terpilih 2009-20014, Bapak Susilo Bambang Yudhoyono menjatuhkan pilihan menteri Pendididikan Nasional kepada Prof. Dr. Ir. KH. Mohammad Nuh, DEA. Beliau adalah mantan menteri komunikasi dan informatika pada kabinet sebelumnya dan juga seorang mantan rektor ITS.

Berikut adalah profil singkatnya yang dapat dilihat di situs wikipedia.com:

Mohammad Nuh adalah anak ketiga dari 10 bersaudara. Ayahnya H. Muchammad Nabhani, adalah pendiri Pondok Pesantren Gununganyar Surabaya. Ia melanjutkan studi di Jurusan Elektro Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya, dan lulus tahun 1983.

Mohammad Nuh mengawali karirnya sebagai dosen Teknik Elektro ITS pada tahun 1984. Ia kemudian mendapat beasiswa menempuh magister di Universite Science et Technique du Languedoc (USTL) Montpellier, Perancis. Mohammad Nuh juga melanjutkan studi S3 di universitas tersebut.

Nuh menikah dengan drg. Layly Rahmawati, dan ia dikaruniai seorang puteri bernama Rachma Rizqina Mardhotillah, yang lahir di Perancis.

Pada tahun 1997, Mohammad Nuh diangkat menjadi direktur Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS) ITS. Berkat lobi dan kepemimpinannya, PENS menjadi rekanan terpercaya Japan Industrial Cooperation Agency (JICA) sejak tahun 1990.

Pada tanggal 15 Februari 2003, Mohammad Nuh dikukuhkan sebagai rektor ITS. Pada tahun yang sama, Nuh dikukuhkan sebagai guru besar (profesor) bidang ilmu Digital Control SystemStartegi dan Arah Kebijakan Pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi dengan spesialisasi Sistem Rekayasa Biomedika. Ia adalah rektor termuda dalam sejarah ITS, yakni berusia 42 tahun saat menjabat. Semasa menjabat sebagai rektor, ia menulis buku berjudul (disingkat Indonesia-SAKTI).

Selain sebagai rektor, Mohammad Nuh juga menjabat sebagai Ketua Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Jawa Timur,Pengerus PCNU Surabaya, Sekretaris Yayasan Dana Sosial Al Falah Surabaya, Anggota Pengurus Yayasan Rumah Sakit Islam Surabaya, serta Ketua Yayasan Pendidikan Al Islah Surabaya. Muhammad Nuh juga dikenal sebagai seorang Kiayi, sering memberi ceramah dan khutbah jumat di berbagai masjid di Surabaya dan dikenal sebagai Ulama.

Harapan warga dunia pendidikan Indonesia digantungkan pada Cak Nuh untuk lima tahun ke depan. Semoga tanggapan positif Rektor UI, Gumilar R. Somantri pada Kantor Berita Antara sungguh dapat menjadi jaminan. Beliau menyatakan, "Saya rasa bapak M Nuh memiliki jiwa kepemimpinan yang baik, apabila beliau memang terpilih maka kita berharap ia akan menjalankan tugasnya dengan optimal."

Conflict Management

>> Friday, September 4, 2009

Entah mengapa saya menjadi tersinggung dengan komentar beberapa teman lama saya di Facebook. Rasa marah, rasa dikhianati dan kecewa bercampur jadi satu. Jantung saya mulai terasa berbeda detaknya, anggota tubuh agak gementar dan untuk sementara pikiran tidak dapat berkonsentrasi pada pekerjaan. Saya mencoba menenangkan diri, berdoa dan berpikir sejenak mengapa respon saya seperti demikian dan apa yang harus saya lakukan selanjutnya.

Dalam hidup ini masalah dan potensi konflik bisa masuk dalam hidup manusia tanpa ijin. Tiba-tiba saja dia datang dan sedikit banyak menggoyang akal budi dan hati kita. Sepanjang manusia masih hidup, ia tidak berhenti memiliki masalah. Pertanyaannya adalah berapa banyak orang yang tetap berbahagia dalam segala persoalan yang dihadapinya dan berapa banyak yang termakan oleh tantangan yang datang dan (kadang tidak) pergi seenaknya? Pertanyaan selanjutnya adalah mengapa mereka demikian?

Persoalan tersinggung bisa dilihat dari kacamata yang berbeda. Ada yang menganggapnya angin lalu, ada juga yang berujung kepada kematian, tergantung pada kedewasaan dan kematangan kepribadian seseorang. Berapa banyak orang yang memiliki dendam tersembunyi kepada orang tuanya, berapa banyak mereka yang sakit hati karena dikecewakan saudara atau teman terbaiknya dan berapa banyak orang yang kepahitan dan marah karena perlakuan buruk orang lain? Hal ini begitu sering kita temukan dalam kehidupan manusia, tapi berapa sering kita diajar atau didorong untuk menyelesaikannya?

Pengelolaan konflik adalah suatu keterampilan dasar manusia yang sejak dini seharusnya dikuasai oleh seseorang. Bila sedari kanak-kanak keterampilan ini dimiliki, maka perjalanan hidupnya di tingkat usia lebih lanjut akan menjadi lebih baik, lebih berbahasia dan lebih unggul. Manusia adalah mahluk yang komunal atau sosial. Ia selalu berhubungan dengan manusia lainnya. Hal ini adalah sangat mendasar. Tapi mengapa sekolah tidak mencantumkan pelajaran pengelolaan konflik ini dalam kurikulum utamanya? Pertanyaan besar bukan?

Saya telah menulis ini dalam artikel saya yang sebelumnya (klik di sini), bahwa sekolah pada mulanya tidak dirancang untuk menjawab persoalan-persoalan yang berhubungan dengan karakter, moral dan etika. Ia dirancang untuk memberikan pengetahuan dan keterampilan akademis saja.

Ini adalah tanggung jawab keluarga dan masyarakat untuk mendidik anak-anak hingga terampil dalam mengelola konflik yang akan ditemuinya di sepanjang hidupnya. Anak-anak yang ditempa dan dilatih ini akan menjadi manusia-manusia yang kuat, mampu berpikir lebih luas dan berjiwa lebih besar. Namun, mengingat tidak sedikit keluarga yang impoten dalam hal ini, maka sekolah perlu 'mengambil alih' peran ini. Sekolah perlu memikirkan bagaiamana cara terbaik dengan menggunakan sumebr daa terbaik demi terbangunnya menusia-manusia yang terampil dalam mengelola konflik.