WELCOME! Salam Sejahtera! Senang sekali mendapat kunjungan dari Anda. Berikan komentar Anda di akhir setiap posting (klik link: write your comment here!), komentar Anda sangat berharga bagi saya. Terima Kasih. Please Enjoy...

HOT Search

Loading...

HOT Translate

Character Building: School or Family Role?

>> Thursday, April 16, 2009

Seorang tetangga kami menjadi guru agama dan guru karakter (character building) di sebuah sekolah. Sekolah ini memiliki misi membangun karakter siswa-siswanya. Sore itu, ia bertandang ke rumah tetangga kami juga yang lain.

Setelah ngoborl sana-sini, pembicaraan tiba ke topik mendidik anak. Tetangga saya yang dikunjungi ini bertanya, "kenapa sih anak-anak di sekolahmu itu karakter dan perilakunya ga bagus?"

"Lihat tuh sih X (seorang anak SD), kelakuannya kok kayak begitu? Kok sekolahnya ga ngajarin karakternya supaya bagus sih?"
Isteri saya yang juga berada di sana, bersegera menyela, "Sekolah ga bisa disalahkan bu. Kelakuan anak-anak itu tergantung keluarga dan orang tuanya."

Benar kata isteri saya. Sebaik apapun sekolah mengajarkan karakter, tidaklah akan sebaik keluarga (orang tua) bila mereka mendidik anaknya. Walaupun sekolah memiliki visi, misi, dan program yang bagus untuk mendidik karakter siswanya, tidaklah akan seefektif orang tua bila mereka melakukannya. Mengapa demikian?

Pendidikan karakter tidak bisa disamakan dengan pengajaran matematika atau sejarah atau mata pelajaran lainnya. Pendidikan karakter bukanlah mentransfer ilmu, tetapi teladan. ia tidak memberikan pengajaran tetapi contoh hidup. Ia tidak perlu pekerjaan rumah, tapi pembiasaan diri. Ia tidak ada ulangan, tetapi ujian hidup.

Adapun sekolah yang mengajarkan Character Building di jam sekolah, hal ini tidak berarti karakter yang diajarkan terbentuk dalam diri siswa. Pengajaran CB hanya akan sampai pada tataran pengetahuan dan pemahaman. Apalagi jika diajarkan pada siswa yang menjelang dan sudah remaja. Pengajaran ini semakin tidak efektif bila hanya berupa ceramah dan aktifitas biasa. Dikarenakan hakikat karakter bersumber pada pembiasaan dan pemodelan, maka waktu menjadi kata kunci untuk melihat tumbuhnya karakter itu.

Pembiasaan berarti pelatihan secara terus menerus dan terstruktur terhadap satu karakter yang diharapkan tumbuh. Sedangkan Pemodelan dimaksudkan sebagai bukti dan sarana impartasi/inspirasi bagi siswa tentang contoh nyata karakter yang diharapkan, sehingga memberikan arah bagi siswa.

Dua hal ini sangat efektif dilakukan oleh orang tua, mengingat siswa sepenuhnya bergantung dan percaya pada orang tua di masa anak-anaknya. Semakin belia usia anak, semakin efektif orang tua melatih dan membetuk karakter anak.

Jika sekolah memiliki misi khusus untuk mengajarkan CB pada siswa, akan terlebih efektif bila sekolah dapat melakukan program-program yang lebih dinamis dan korporat. Dinamis berarti bukan berupa metode ceramah, melainkan kegiatan-kegiatan yang berorientasi tantangan atau problem solving untuk memunculkan karakter yang diharapkan. SEcara Korporat dimaksudkan sebagai pemberi energi pada teman sebaya untuk memiliki kualitas karakter yang diharapkan.

8 write(s) COMMENT(S) here!:

Anonymous April 16, 2009 at 11:32 AM  

Hallo, pak..

Saya dapet linknya dari facebook, lagi browsing waktu free time.. hehehe..blog bapak bagus2 artikelnya yah. Saya mau isi waktu, kasih pendapat aja.. hehehe

Mau bagi2 wawasan nih pak, setelah pergi ke luar negeri beda bener yang namanya character building di sini. Model CB education di indo dimana guru berbicara di depan dan murid mendengarkan, menurut saya gak jauh beda dengan pendidikan matematika, yang bersifat kognitif. Padahal, as we know character is not a cognitive skills. Pertanyaanya, seberapa efektif model pendidikan yang ada sekarang?

Di sini ada model yang menurut saya sangat bagus. Saya sedang ambil business law, dan hari pertama prof. Mccloskey buka dengan satu pernyataan menarik," did you know that Yale University made a study about human behavior. The case was two groups of rat. One of them is labeled better than another. On the test, the better one were cheered, given food, and the result was better off. The point is we all is capable of succeeding."

Quarter lalu, saya ambil statistik, dan gurunya jelasin ada satu model pendidikan di amerika dimana orang jalanan, tahanan yang dilepas, orang2 yang disebut "losers of the community". Mereka semua diambil, ditampung di fasilitas, dan di-train dengan sebutan "individualized lesson plan". Seminggu sekali mereka "student" tatap muka sama "advisor", sharing their struggles and the advisor find ways to help with their struggles. Hasilnya, banyak dari mereka yang sukses.

Seberapa efektif pendidikan CB yang ada sekarang? khususnya di dian harapan yang meng-institusionasi pendidikan CB.

Menurut pengamatan saya,selama saya di sini, walaupun banyak pengajaran yang saya terima. proses pembentukan karakter saya dimulai dari seorang role model(aku punya seperti big brother yang tinggal di sini bareng saya). Kemudian, saya masuk ke masa2 sulit dimana karakter saya di uji. Di situ saya perlu komunitas, atau seseorang dimana saya bisa share, dan kembali bertarung. Satu kualitas setiap langkah. As in the bible, from glory to glory.

Yoseph(Yos)
wee_23_wee at yahoo dot com

Anonymous April 16, 2009 at 11:37 AM  

Ternyata setelah baca lagi, bapak sudah tulis apa yang saya tulis di paragraf terakhir.

Walau agak sedikit beda, tapi daging nya tetep sama..

Well, ini cuma sekedar tambahan pak.. hehehehhehehehhe...

Anonymous April 16, 2009 at 12:19 PM  

Pendidikan karekter itu sangat penting jadi tidak boleh ditaruh sebagai sekedar program untuk sebuah lembaga pendidikan. Karena Kenyataanya karakter yang baik itu sangat dibutuhkan baik oleh pengikut maupun pemimpin. Untuk itu pendidikan karakter hanya efektif jika dijadikan gaya hidup atau life style. Ini artinya pada keluarga mulai bangun pagi sampai tidur malam harus mengaplikasikan kejujuran, keterbukaan, berani bertanggungjawab untuk setiap perbuatan, dan nilai kehidupan luhur. Demikian juga di sekolah mulai masuk sekolah hingga mengerjakan PR, suatu gaya hidup lembaga pendidikan seperti jujur, tidak mencontek, berani bertanggungjawab harus menjadi bagian integral dari gaya hidup lembaga pendidikan dan keluarga. Siapa lembaga itu, kalau di rumah ya seluruh isi rumah tangga terutama ayah sebagai sumber, kalau di sekolah guru, staff admin, keuangan hingga satpam. Ini baru effektif, jika program pasti tidak akan menghasilkan sesuatu yang berdampak dan melekat kuat. yes...(mahayoni)

Pak Guru April 16, 2009 at 12:24 PM  

@ Yos: thanks for your sharing, i don't know you have such a way of thinking. it's vey... comprehensive and mature. Hope you can be acharacter model to others.

@ mahayoni: memang berat pak mendidik karakter di sekolah. Seluruh sumber daya harus bersepakat dan berjalan seiring. Thanks untuk komentarnya...

Lucia April 16, 2009 at 4:39 PM  

Hai sir....
saya setuju sekali adanya pendidikan karakter building di sekolah tetapi satu hal yang saya pikirkan saat baca artikel mr.rudi khususnya di statement tentang hendaknya pendidikan CB sebaiknya tidak dilakukan melalui ceramah saja tetapi juga melalui problem solving
beberapa kali saya melihat bahwa problem solving juga kurang efektif khususnya untuk remaja. Kebanyakan mereka sudah bisa membedakan mana yang baik atau buruk dan saat diberikan kegiatan problem solving, mereka berhasil memutuskan yang benar tatapi kenyataannya semua hal itu baru hanya pada tatanan teori karena mereka tidak benar2 menerapkanya dalam hidup mereka. seingga pendidikan CB terkesan tinggal menjadi pendidikan teori saja....


Saya juga pernah melihat bahwa CB dinilai seperti mata pelajaran yang lainnya... Saya cuma mempertanyakan apa yang siswa pikirkan menanggapi hal ini apalagi kalau mereka nilai-oriented. Bukankah nantinya mereka hanya menjadi orang2 yang hypocrite. "Saya menjawab yang benar karena kalau saya tidak menjawabnya sesuai dengan etika yang berlaku, nilai saya akan jelek". Mereka menjwab persoalan2 dalam problem solving sekedar apa yang mereka tau apa yang sesuai etika or agama bukannya benar2 mengidupi hidup yang benar.

Howefer....ini pendapat saya, saya juga butuh pendapat dari yang lain...

gurukreatif April 16, 2009 at 4:44 PM  

ini tentang facebook pak Rudi.
Jadi tugas orang tua dan guru menjaga karakter siswa di situs pertemanan.
Wah, it's whole new world Pak Rudy, dunia maya dan dunia nyata, jadi tambah ya tugas ortu dan guru

sawali tuhusetya April 17, 2009 at 12:19 AM  

konon anak2 sekarang memang sedang mengalai kepribadian yang terbelah, mas. antara nilai2 moralyang ditanamkan di sekolah dg kenyataan yang terjadi di tengah2 masyarakat sering tdk match. ketika anak2 dilarang korupsi, tapi jutsru orang2 yang secara sosial seharusnya bisa jadi anutan, malah melakukan tindakan yang merugikan banyak orang. demikian juga halnya ketika anak dilarang bertengkar. kenyataan yang terjadi justru sebaliknya. betapa mayarakat kita demikian gampang tawuran hanya persoalan2 sepele.

Pak Guru April 17, 2009 at 7:10 AM  

@ lucia: Memang dengan diajarkannya CB di sekolah akan menjebak siswa untuk bersikap hipokrit bila penatalaksanaannya tidak seirus.
Problem solving hanyalah sebuah pemodelan dan pelatihan tentang bagaimana kita bersikap dan berespon atas tantangan hidup yang kita alami. Ini akan menjadi efektif bila direncanakan dengan baik.
Terima kasih atas pendapatnya. Pemikiran kamu berisi dan sudut pandang kamu sangat baik.

@ gurukreatif (pak agus): Wah betul juga perlu ada yang memperhatikan tentang pertemanan di dunia maya ini...

@ sawali: observasi yang bagus, saya setuju dan memang itulah yang sedang terjadi di tengah-tengah kita. Jadi siapa yang mengambil tanggungjawab untuk mendidik karakter anak-anak kita, dialah yang akan memegang masa depan...