WELCOME! Salam Sejahtera! Senang sekali mendapat kunjungan dari Anda. Berikan komentar Anda di akhir setiap posting (klik link: write your comment here!), komentar Anda sangat berharga bagi saya. Terima Kasih. Please Enjoy...

HOT Search

Loading...

HOT Translate

Pull the Ear Off...

>> Tuesday, January 20, 2009

Sekali lagi, sebuah kasus kekerasan dalam sekolah terjadi di Probolinggo. Seorang guru komputer tidak tetap dengan ceroboh menjewer telinga siswanya sampai nyaris putus (http://www.kompas.com/read/xml/2009/01/20/08241224/Telinga.Rofi.Nyaris.Putus.Dijewer.Gurunya). Parahnya sang guru merasa tidak bersalah dengan melengos begitu saja setelah menjewer anak tersebut.

Otoritas. Guru memang memiliki otoritas di sekolah. Namun perlu digaris bawahi bahwah otoritas paling absolut atas seorang siswa adalah orang tuanya. Orang tua memang telah meneyrahkan pendidikan (pengajaran) anaknya ke sekolah. Namun demikian, tanggung jawab harus tetap dikembalikan kepada siswa atas segala perilaku maupun pembelajaran dalam proses pendidikan. Adapun guru adalah mitra orangtua yang merupakan pribadi dimana orang tua mempercayakan anaknya untuk diajar. Namun sekali-kali tidak dengan pengertian, bahwa guru mengambil alih peranan orangtua di wilayah sekolah. Guru hanyalah sebagai pengajar bagi sang anak, dengan otoritas yang lebih terbatas dari orang tua. Seorang guru tidak dapat memaksakan nilai-nilai hidupnya kepada siswa, karena itu adalah bagian dari peranan orang tua.

Jadi, melakukan keekrasan adalah salah. Apalagi dilakukan kepada anak orang. ANak sendiri saja mendidiknya tidak boleh dengan kekerasan. Jadi ada apa dibalik jiwa sang guru itu?

0 write(s) COMMENT(S) here!: