WELCOME! Salam Sejahtera! Senang sekali mendapat kunjungan dari Anda. Berikan komentar Anda di akhir setiap posting (klik link: write your comment here!), komentar Anda sangat berharga bagi saya. Terima Kasih. Please Enjoy...

HOT Search

Loading...

HOT Translate

Love Is to Give And to Sacrifice...

>> Wednesday, February 25, 2009

"I'm sorry, i think Su Min can't have another lesson with you. She is very stubborn!"
Kalimat itulah yang disampaikan Mrs. Ahn, beberapa saat setelah saya berada di ruang tamunya. Ia mengalami kesulitan dan mengatur anaknya. Telah beberapa kali terjadi 'perang' orang tua-anak sejak saya mulai memberikan les privat kepada kedua anaknya beberapa bulan terakhir ini. Seringkali anaknya yang 'memenangi' peperangan, demikian juga dengan yang terakhir ini. Anaknya meminta tidak diberikan pelajaran tambahan sepulang sekolah. Yang pertama, ia berhenti dari les piano, lalu kali ini les bahasa inggris. Saya tidak terlalu terkejut dengan pernyataan ibu ini, mengingat saya pun pernah mencoba 'membantu' mengatasi perlawanan anak TK besar ini.

Yang pertama, ibunya berkata demikian, "I'm afraid this is the last time you will have lesson with her. She is upstair and doesn't want to come down. You better asked her to study. If she doesn't want, it means this is the last day for her." Setelah menyanggupi permintaannya, saya segera naik ke kamar orang tuanya untuk membujuknya. Tanpa kekerasan saya membawanya turun ke ruang belajar setelah 30 menit berbicara dengannya.

Yang kedua, saat saya tiba di rumahnya dan duduk di ruang belajar, anak tersebut tidak segera muncul seperti biasanya. Hal ini terjadi kemarin lusa. Saya meminta kakaknya, yang sedang sibuk bermain lego untuk memanggil adiknya. Kakaknya berteriak memanggil adiknya. Suaranya sangat keras, dan saya yakin pasti terdengar oleh ibunya yang berada di dapur yang letaknya persis di samping ruang tamu. Namun adiknya tidak datang dan ibunya pun tidak memberikan respon apa-apa. Akhirnya saya meminta kakaknya memanggil adiknya kembali. Kakaknya melakukannya berulang-ulang dengan berteriak dari ruang tamu. Akhirnya muncul suara dari ruang belakang, tepatnya di kamar pembantu. Mereka bersahut-sahutan dalam bahasa korea... lima menit kemudian adiknya datang dengan wajah merenggut, alis nyaris menyatu dan tubuh yang gontai. Saya tidak menghiraukannya dan seperti biasay menyapa dan mulai menyiapkan materi pelajaran. Melihat dia yang memalingkan muka dan duduk sambil menundukkan muka, saya mengeluarkan HP saya dan bertanya, "do you want to see my daughter video? She is dancing in here. She loves to dance". Lima menit kemudian, kami telah memulai pelajaran dan menikmati waktu belajar bersama.

Saya sangat kagum pada kerja keras dan kegigihan orang tua korea dalam mendidik anak-anaknya. Bayangkan, anak seusia TK telah dijejali dengan berbagai les. Bahkan saya mengenal seorang remaja korea yang tidak berhenti belajar dari jam 7 pagi hingga jam 9 malam, dari senin hingga jumat... Saya belum mendalami filosofi apa yang diyakini para orang tua korea ini sehingga mereka sangat peduli pada pendidikan formal anaknya. Dalam beberapa keluarga korea yang saya temui, orang tua cenderung keras kepada anak-anaknya dalam hal pendidikan, khususnya mereka yang tinggal di Indonesia ini dan notabene adalah para orang tua dengan kelas ekonomi tinggi.

Namun dalam saat yang bersamaan saya juga melihat beberapa orang tua yang 'kalah' dalam 'pertempuran' dengan anaknya di rumah. Hal ini mungkin saja terjadi dalam beberapa kasus, dan tidak hanya terjadi pada orang tua korea, tapi juga sebagian orang tua di dunia. TApi bila hal ini terjadi dengan intensitas yang cukup banyak, saya pikir orang tua harus merendahkan diri dan mengevaluasi ulang tentang pola pendidikannya.

Saya sendiri mengalami hal ini dengan anak saya. Walau ia baru berumur 2,5 tahun, dalam beberapa kesempatan dia sempat menunjukkan bendera perang dan meminta keinginannya untuk dipenuhi dengan teriakan dan tangisan. Saya dan istri berkeputusan untuk tidak terpancing dengan kelakuannya ini, tapi tetap tegas tapi lemah lembut berdiri atas komitmen kami yang semula.
Kami berpikir, anak hanya tahu apa yang ia mau, tapi kami orang tua tahu apa yang terbaik bagi anak. Bukan kami bertujuan menjadi otoriter dan tidak pernah mendengar permintaan anak, tapi kami akan memberikan hanya yang terbaik bagi dia. Jika permnitaanya adalah baik bagi dia, kami pun tak segan untuk memenuhinya. Ini pekerjaan sulit, namun prinsipnya jika orang tua tahu yang terbaik bagi anaknya, ia akan berkorban demi anaknya.

Karena kasih adalah kerelaan untuk memberi walaupun harus mengorbankan diri sendiri. Lawannya adalah nafsu, yaitu keinginan untuk mendapat walaupun harus mengorbankan orang lain (anak/pasangan).

2 write(s) COMMENT(S) here!:

Mr. Freeday May 29, 2009 at 1:39 PM  

saya setuju dengan kedisplinan!, saya melihat malah kebanyakan orang kristen lebih menggunakan tools "kasih" yang terlalu berlebihan sehingga anak malah tidak mengerti kata TAAT. Disiplin dan kasih mesti Balance. Seagai refferensi bisa baca buku judul "Strong will child" karangan James C. Dobson.

Pak Guru June 5, 2009 at 2:54 PM  

From Facebook:

>> Hendrikus David:
wah kurang pa... ada kisah era sekitar thn 1993-1999 sekolah2 di jakarta pusat terkenal pembajakan bus dan penyerbuan anarkis ke sekolah lain oleh para pelajar abu2nya...kemudian di bentuk aliiansi pelajar jakrta yang hasilnya pun tak mampu meredam kondisi itu..

dan akhirnya masalah itu berlalu seiring waktu dengan sendirinya...mereka mulai berpikir dan meluruskan hidupnya...sampai akhirnya mereka memilki sikap kerja keras dalam mengapai cita2nya....(sedikit info tentang pelajar masa lalu)JBU

>>Denny Lee:
memang pada masa pencarian jati diri, adalah masa yg kritis utk remaja. dibutuhkan pengayoman & keteladanan dari generasi sebelumnya dan juga pengkondisian yg koundusif. namun sayangnya peran dari generasi sebelumnya tidak ada dikarenakan mereka tidak mendapatkan dari angkatan di atasnya. ini adalah lingkaran setan yg mesti diputus. perlu kesadaran dari semua pihak, pemerintah, orang tua, kakak, pembina rohani, ulama, dll.

>>Budi Darma:
tapi pada kenyataanya amerika sangat peduli pada hak asasi dan mereka sangat maju disegala bidang ,terkadang survey belum tentu bisa dipakai acuan kedepan...

>> Denny Lee:
paling tidak itu memberi gambaran bapak budi

>>Sundawa Sanjaya:
Lalu bagaimana dengan siswa SMA kita ?

>>Niek Budhiastuti:
apakah bapak pernah menjadi pengawas silang dalam suatu ujian (UASBN, UAN)? kalau pernah, you will know how BAD our education is. hampir di semua sekolah ada yang namanya TIM SUKSES UJIAN. yang tugasnya adalah ensuring that their students pass the test dengan CARA APAPUN, termasuk memberikan jawaban. mulai dari yang sembunyi2 hingga yang vulgar. ... Read MoreMurid belajar dari GURU bukan? bila guru yang seharusnya memberi teladan justru menodai keteladanannya?! mau jadi apa generasi muda kita? Untuk apa semua TES dan UJIAN itu bila gurunya sendiri merusak tujuan dari tes tersebut....
warung kejujuran dipajang dimana2 hanya sebagai simbol belaka tanpa ada tindakan nyata.
smoga hal ini tidak terjadi lagi dan lagi dan lagi.....
selamat menabur.... selamat melayani .... selamat membangun... Tuhan memberkati

___

@david: memang klo di indonesia kategorinya perlu ditambah satu... tawuran!

@ sundawa: sejauh mata saya memandang dan telinga saya mendengar ada hal yang membanggakan tapi ada juga yang perlu dihawatirkan pak....

@niek: silahkan cek ke tulisan saya di http://catatan-guru.blogspot.com/2009/04/un-on-fall.html