WELCOME! Salam Sejahtera! Senang sekali mendapat kunjungan dari Anda. Berikan komentar Anda di akhir setiap posting (klik link: write your comment here!), komentar Anda sangat berharga bagi saya. Terima Kasih. Please Enjoy...

HOT Search

Loading...

HOT Translate

THE FIRST EDUCATOR_PART ONE

>> Sunday, February 14, 2010

Ini adalah essay saya tentang Pendidikan Keluarga yang saya kirim ke Lomba penulisan tentang pendidikan di SDH Daan Mogot, Jakarta. Silahkan menikmati bagian pertama tulisan ini...
__________

Pendidik utama ialah orangtua dan mereka mendidik anak muda lewat proses yang dinamakan pendidikan dan semua pendidikan adalah proses informal, tidak ada pendidikan formal. (Drost:2000)

Sebagian besar masyarakat masih mengasosiasikan pendidikan dengan sekolah atau guru. Hal ini tidaklah salah, tetapi mengapa pendidikan tidak lebih dulu diasosiasikan dengan keluarga? Pendidikan atau education dalam bahasa Inggris berasal dari bahasa Latin educere, yang secara bebas bermakna membawa keluar. Pendidikan dapat berarti membawa keluar jati diri atau karakter yang Tuhan telah tetapkan secara istimewa pada diri anak. Pengertian ini menjadi kontras dengan apa yang sekolah dan khususnya guru lakukan di dalam kelas. Guru cenderung melakukan yang sebaliknya dengan apa yang disebut educere atau membawa keluar. Di ruang-ruang kelas, tugas utama guru adalah ‘membawa masuk’ ilmu pengetahuan dan keterampilan ke dalam diri anak.

Belajar dari Sejarah
Sepanjang sejarah, sekolah tidak pernah diperuntukkan terutama sebagai lembaga pendidikan. Sekolah adalah lembaga pengajaran dan pelatihan terbaik yang pernah ada. Perhatikanlah sekelumit sejarah sekolah berikut.

Plato, yang disebut sebagai pendiri sekolah pertama dengan Akademos-nya, menempatkan matematika, humanity (kemanusiaan) dan kesusasteraan sebagai pusat kurikulumnya (Knight: 1998). Sedangkan muridnya, Aristoteles, yang mendirikan sekolah Lyceum, menempatkan lebih banyak bidang ilmu dalam kurikulumnya, khususnya bidang sains dan matematika (Knight: 1998). Di Timur, Konfusius menempatkan kebijaksanaan dan aturan ketatalaksanaan sebagai pusat kurikulumnya (Sathern: 1997). Sekolah formal menemukan bentuk seperti yang sekarang ini dimulai kira-kira sejak abad ke 13 di Eropa oleh kaum skolastik (Harefa: 2001). Sekolah mulai memiliki standar kelas, kurikulum, pengajar dan fasilitas.

Di Indonesia sendiri, khususnya di Jawa, Padepokan, Pawiyatan dan Paguron telah dikenal sebagai tempat belajar para siswa pada waktu itu. Adapun kurikulum inti yang diajarkan lebih banyak kepada keterampilan dalam tugas hidup sehari-hari, seperti mencuci piring, menghidangkan makanan dan melayani guru bagi siswi dan keterampilan yang lebih sentral dalam kehidupan waktu itu bagi para siswa, mulai dari mencari kayu bakar, asisten guru, hingga bertapa/semedi. Selain itu materi pelajaran dalam pendidikan tradisi di Nusantara umumnya secara lisan dan bersifat umum meliputi antara lain perihal kejiwaan, kefilsafahan, kesusasteraan, kanuragan, kaprajuritan, pertanian, titi mongso, pananggalan, adat istiadat, tata krama dan perbintangan (Dwiarso: 2008).

Sekarang, sekolah formal Indonesia menerjemahkan kurikulumnya ke dalam sejumlah mata pelajaran. Sekolah Dasar setidaknya memiliki 5 mata pelajaran, SMP 10 mata pelajaran dan SMA 14 mata pelajaran. Dari sekian banyak mata pelaajran itu, saya bisa kelompokan menjadi lima bidang pelajaran: bahasa, ilmu eksakta (sains), ilmu sosial, Agama & Kewarganegaraan, dan Seni & Teknologi. Semua mata pelajaran di sekolah adalah bidang ilmu dan keterampilan yang hanya menyentuh ranah kognitif dan psikomotorik.

Dari riwayat sekolah ini, kita dapat melihat bahwa sekolah selalu membimbing siswanya untuk menguasai pengetahuan dan keterampilan tertentu. Sekolah selalu dimaksudkan sebagai lembaga pengajaran dan pelatihan untuk memperlengkapi siswanya agar dapat bereksistensi secara sosial dan menjadi profesional dalam dunia usaha, karir dan kerja mereka nanti.

Pendidikan, Terjadi dalam Sekolah atau Keluarga?
Adapun sekolah terus menerus berusaha untuk masuk dalam ranah afektif ditengarai karena keprihatinan atas mutu siswa dan lulusan yang kurang bermoral dan berakhlak mulia. Pelaksanaan berbagai program dan pelajaran karakter atau budi pekerti oleh sekolah sebenarnya kurang tepat dan sudah terbukti kurang efektif. Anak yang taat, disiplin dan sopan hampir tidak pernah datang dari pengajaran di ruang kelas. Demikian juga dengan inisiatif, kerendahan hati atau keberanian.

Guru dan lingkungan sekolah dapat menjadi sumber inspirasi pembentukan karakter anak. Namun, seberapa banyak guru yang memiliki kemampuan untuk mendidik anak dengan baik di saat ia harus mengajar? Guru cenderung telah dipenjara oleh kurikulum dan rutinitasnya dalam sekolah.

Karakter atau budi pekerti tidak dapat dipelajari secara formal seperti mata pelajaran sekolah pada umumnya. Karakter atau budi pekerti hanya diperoleh melalui jalur pendidikan, dan bukan pengajaran. Dengan kata lain, anak akan beroleh pendidikan di dalam keluarga. Sedangkan di sekolah, anak-anak lebih banyak mempraktekkan dan merefleksikan hasil didikan orangtua mereka itu.

Seperti yang dikatakan oleh Pater Drost, sekolah sebenarnya tidak bisa menjadi lembaga pendidikan. Hal ini dikarenakan pendidikan tidak pernah menempuh proses yang formal di ruang-ruang kelas dengan mata pelajaran tertentu dan dengan bentuk ujian tertentu. Pendidikan selalu mengambil tempat yang Andrias Harefa menamainya sebagai Universitas atau Sekolah Besar Kehidupan (Harefa:2000).

Sekolah dapat dikatakan sebagai lembaga pendidikan hanya karena ia bermitra dengan orangtua. Orangtua memberikan pada guru dan sekolah sebagian dari tanggung jawabnya sementara anak berada di sekolah. Bahkan kalimat ini pun kurang tepat, karena orangtua selalu menjadi pendidik anak kapan dan di mana pun. Sekolah tidak pernah menjadi penanggung jawab utama pendidikan anak. Orangtualah penanggung jawab utamanya.

Nicholas P. Wolterstoff, professor filsafat dari Calvin College menyatakan:

Guru-guru memang mempunyai hak terkait pendidikan anak – menurut saya terutama hak untuk menerapkan kompetensi profesional mereka dalam mengajar. Tetapi guru tidak mempunyai hak apapun untuk menentukan ciri-ciri pendidikan anak. Orangtualah yang mempunyai hak dan tanggung jawab itu. (Wolterstoff:2007)

Pernyataan Wolterstoff ini adalah penegasan, bahwa orangtualah kepala dari lembaga pendidikan anak dan keluarga adalah lembaga utama pendidikan anak, bukan sekolah. Oleh karena itu, perlu usaha besar untuk mengembalikan asosiasi dan peran pendidikan kepada keluarga dan orangtua di dalam masyarakat.

Kini, kita dapat sepakat bahwa pendidikan adalah hak dan tanggungjawab orangtua. Pendidikan dimaksudkan untuk menemukan, membentuk dan mengembangkan jati diri atau karakter anak.

0 write(s) COMMENT(S) here!: