WELCOME! Salam Sejahtera! Senang sekali mendapat kunjungan dari Anda. Berikan komentar Anda di akhir setiap posting (klik link: write your comment here!), komentar Anda sangat berharga bagi saya. Terima Kasih. Please Enjoy...

HOT Search

Loading...

HOT Translate

65+'s Best Friend is TV?

>> Thursday, May 7, 2009

Percaya atau tidak, menurut National Statistic, United Kingdom, jumlah penonton TV yang berusia 65 tahun ke atas menghabiskan waktu rata-rata 3 jam 45 menit per harinya(link to source)! dan hanya menghabiskan waktu kira-kira 1 jam 50 menit untuk bersosialisasi. Apakah ini pertanda bahwa satu-satunya teman setia seorang tua renta adalah televisi?

Bandingkan dengan statistik lainnya dari sumber yang sama(link to source): rata-rata 2 jam 30 menit perharinya dihabiskan untuk menonton TV oleh orang berusia 16 tahun ke atas. Ini adalah kegiatan yang menempati peringkat pertama dalam kategori leisure (kesenangan).

Hal yang menarik dari data-data yang ditunjukkan oleh statistik itu adalah kegiatan membaca menjadi pilihan ketiga bagi para senior, setelah menonton TV dan bersosialisasi. Sedangkan bagi mereka yang berusia 16 tahun ke atas hanya menghabiskan rata-rata 25 menit saja per hari untuk membaca dan kegiatan ini berada pada urutan ke dua terakhir dari lima kategori leisure.

Saya pernah mendengar sebuah seminar dimaan pembicaranya kurang lebih berbicara demikian: ada sebuah berhala modern yang hadir di setiap rumah. Berhala ini bahkan menempati posisi terhormat dan ditempatkan di tempat yang layak. Semua posisi tempat duduk berkiblat searah posisi dimana ia berada. Ia bernama televisi. Ia senantiasa diposisikan ditempat yang terbaik, di ruang tamu, ruang keluarga atau di kamar tidur dan semua posisi tempat duduk tidak ada yang tidak menghadap wajahnya yang menghibur. Inilah berhala modern itu, ia telah mencuri waktu dan hubungan di ruang tamu, ruang keluarga dan tempat tidur.

Saya sendiri telah memutuskan untuk tidak memiliki TV di rumah saya sejak saya menikah enam tahun lalu. Saya tidak anti televisi, saya bahkan telah merencanakan untuk membeli satu (hanya satu).... beberapa tahun lagi. Saya meyakini adanya hal yang baik dan bermanfaat dengan memiliki televisi.

Taufik Ismail pernah berkata Indonesia adalah sebuah bangsa yang terlalu buta untuk membaca dan terlalu lumpuh untuk menulis. Dengan segala hormat, saya akan menambahkan pernyataannya: Indonesia juga sebuah bangsa yang terlalu jeli untuk menonton TV dan terlalu aktif untuk berbicara. Statistik yang saya tunjukkan diatas adalah terjadi di sebuah negara maju yang telah terlebih dahulu melewati era membaca dan menulis, sebelum era menonton TV. Akibatnya, walaupun gempuran televisi cukup mempengaruhi budaya membaca masyarakatnya, membaca masih tetap menjadi salah satu aktivitas favorit bagi mereka. ABgi yang berusia 65+ menggunakan 1 jam 15 menit untuk membaca dan yang berusia 16+ menggunakan 25 menit.

Tanpa survey sejenis dan hanya berdasarkan pengamatan, saya yakin Anda bisa menilai berapa jumlah waktu yang digunakan masyarakat Indonesia untuk membaca? Di daerah perkotaan saya yakin besarannya akan cukup baik, namun di daerah? dan bagaimana bila di rata-rata untuk seluruh nusantara ini? Berapa jumlah waktu dan uang yang Anda dan keluarga habiskan untuk membaca dibanding dengan menonton TV?

Masyarakat, khususnya keluarga dan sekolah harus mengambil alih pimpinan dan berada di garda depan penyelamatan anak-anak bangsa ini dari pengaruh buruk TV. Perlu ada usaha sistematis dan upaya terstruktur untuk menggalang gerakan membaca secara nasional. Dengan membaca kita mendidik anak-anak lebih baik dibanding dengan menyerahkannya pada TV. Kita memang memiliki TPI, Televisi Pendidikan Indonesia, namun benarkah televisi ini bermuatan pendidikan? Televisi tidak lagi dikuasai roh pendidikan, tetapi komersialisasi.

Komersialisasi ini tentunya berakibat apa yang laku akan saya jual tidak perduli apa isinya. Ketika acara Empat Mata memiliki rating yang tinggi, produser acara tidak lagi mempedulikan isi, hingga muncul hal-hal yang menyimpang yang berujung pada pencekalan program tersebut oleh KPI. Dalam berita terkini, KPI bahkan telah melansir 7 program acara bermasalah saat ini, dan salah satunya adalah program Bukan Empat Mata(link to source). Ini barulah program bermasalah versi KPI, bagaimana dengan versi anak-anak? Mereka belum dapat memilih apalagi mencekal. Mereka menonton apa yang menyenangkan buat mereka. Bahkan, sekalipun dengan pendampingan orang tua, belum tentu program yang ditonton oleh anak memang benar-benar baik buat mereka.

Dalam artikel saya sebelumnya mengenai membaca(link to source), banyak komentar yang masuk yang mempersoalkan kesulitan mereka menolong anak-anaknya dari aktifitas menonton TV. Oleh karena keadaan mereka tidak cukup mampu untuk mengarahkan anak-anaknya kepada aktifitas membaca. Penyelesaian atas masalah ini sebenarnya hanya berbicra mengenai prioritas. Bila anak kita merupakan seseorang yang penting, maka kita akan menempatkannya pada prioritas terbaik dan melakukan apapun untuk menyelamatkan dan menjamin masa depannya. Secara detail saya akan coba memberikan beberapa tips untuk mengalihkan anak-anak dari menonon TV kepada membaca buku di artikel berikutnya.

Tidak ada tokoh yang berpengaruh di dunia ini dididik oleh apa yang ia tonton di TVnya, hanya apa yang ia baca di bukunya....

2 write(s) COMMENT(S) here!:

ivan May 7, 2009 at 1:25 PM  

Pak, diganti dong warna background halamannya.. Background hitam tulisan putih, seperti menatap lampu senter di tempat yang gelap gulita..

tulisannya enak, tapi saya gak kuat bacanya..

thank you..

Ndoro Seten May 8, 2009 at 8:11 PM  

tv memang menjadikan orang serba berpikir instan, terutama utk acara yang sama sekali tidak mendidik....

adakah pemangku kepentingan tv yang membuat acara bermanfaat bagi masyarakat, ataukah sesungguhnya mereka hanya mengejar keuntungan semata....kemana nasib negeri ini?