WELCOME! Salam Sejahtera! Senang sekali mendapat kunjungan dari Anda. Berikan komentar Anda di akhir setiap posting (klik link: write your comment here!), komentar Anda sangat berharga bagi saya. Terima Kasih. Please Enjoy...

HOT Search

Loading...

HOT Translate

No Best School, only Best Student

>> Monday, December 15, 2008

Well, liburan dua hari cukup menyegarkan setelah melalui minggu tersibuk di akhir tahun ini. ngorbol denga istri dan bermain dengan anak, walau diselingi dengan aktifitas meeting di gereja, tapi cukup puas dengan weekend kemarin. Next week end, tetangga ngajakin liburan bareng ke gunung bunder... hmmm... nostalgia. Dulu pernah ke sini tapi untuk sebuah acara penyiksaan: pelantikan anggota pencinta alam...

Jumat lalu, waktu komsel ada seorang ibu anggota komsel yang juga orang tua siswa mengeluh tentang anaknya. Anaknya akan segera melanjutkan ke SMA, namun dia tidak mau meneruskan di sekolahnya yang sekarang, karena dia berpikir sekolahnya kurang pas dengan maunya dia. Ia cenderung anak yang pintar dengan IQ kira-kira 135. Sangat kompeten dalam kemampuan matematika dan visual. Dalam pelajaran saya sendiri ia dapat mengikuti walau tidak sangat menonjol. Secara kasat mata, di dalam kelas ia selalu terlihat lesu, tidak bersemangat. Cenderung terlihat mengantuk dan tidak antusias. Penilaian ini ternyata tidak hanya saya yang membuat, beebrapa guru lain turut memberikan konfirmasi. Ibunya menjelaskan, dia menyatakan ketidakpuasannya belajar di sekolah ini, singkatnya, kamampuannya tidak tertantang. Anak ini mengikuti sejenis kelas pembinaan iman di salah satu gereja berlairan reformed, kata ibunya ia sangat rajin mengikutinya. Bahkan marah jika waktunya diganggu di saat itu. Ia pun sering bersoal jawab dengan ibunya dan membuat ibunya agak kewalahan menjawab pertanyaan dan pernyataan anaknya ini. Di ujung keluhannya ia menyatakan kebingungannya untuk mengikuti keinginan anaknya ini. Karena ia sudah mencoba mendaftakan anaknya ke sekolah favorit di kelapa gading agar anakny ini dapat tersalurkan bakat dan minatnya.

Saya sendiri hanya menyarankan agar pertimbangan untuk memindahnkan anaknya itu sungguh-sungguh diputuskan dengan matang. Mengingat pengalaman dua orang mantan siswa saya yang kasusnya mirip:
Anak yang pertama ber-IQ tinggi juga, kreatif, supel, dan cenderung aktif dan yang kedua IQ-nya biasa saja, namun rajin, tekun, pendiam dan cenderung emosional. Ketika keduanya pindah ke SMA favorit yang sama di jakarta, yang konon berisi anak-anak berkemampuan di atas rata-rata, siswa yang ber-IQ tinggi tidak dapat mengikuti pelajaran di sana, karena sangat disiplin dan padat drilling, sedangkan yang satunya dengan ebrmodalkan ketekunan mampu mengikuti, bahkan ranking di sekolah tersebut.
Anak sang ibu teman komsel saya ini berada di keduanya: ber-IQ tinggi, pendiam dan cenderung emosional. Saya menyarankan agar dia mempertimbangkan kemabali masak-masak. Saya sendiri tidak bisa menahannya di sekolah yang sekarang, karena memang ia memiliki kemampuan di atas rata-rata dalam bidang tertentu. Ia perlu mencari sekolah yang beriklim kondusif bagi dirinya.

Sekolah tempat saya mengajar bukannya tidak bagus, kurang prestasidan berkualitas lulusan rendah, tetapi saya percaya, seperti kata kepala sekolah saya, setiap anak memiliki gaya belajarnya dan minatnya masing-masing. Anak akan berkembang bila ia berada dalam atmosfir yang tepat di sekolah yang tepat. Tidak sedikit siswa di sekolah saya yang berkembang dan berprestasi, namun bagi anak-anak tertentu tidak.

Pada intinya orang tua adalah pribadi yang bertanggung jawab untuk menolong perkembangan anaknya. Karena ia adalah titipan Tuhan. Orang tua harus senantiasa mencari kehendak Tuhan bagi anaknya. Agar rencanaNya terjadi pada diri anak tersebut.

"Parent, not School who is responsible to children's future"

0 write(s) COMMENT(S) here!: